MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 05 - First Day



Hari yang baru telah tiba. Aishia memandang langit yang berangsur - angsur berubah warna menjadi biru. Pagi ini Aishia bangun lebih pagi dari biasanya karena alasan pekerjaan. Tentunya Aishia tidak ingin ada satu pun yang terlewatkan di hari pertamanya bekerja.


Setelah membasuh diri. Aishia turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Ia menuju dapur yang berada di lantai utama. Tidak tahu apa yang akan Aishia lakukan hari ini, setidaknya hal pertama yang akan dia lakukan adalah sarapan.


Sejak kemarin, Aishia sudah mengelilingi mansion. Tidak banyak pelayan yang dipekerjakan, seolah Shceneider bersaudara ingin segalanya tertutup rapat. Mereka membatasi jumlah pekerja yang ada karena beberapa dari mereka agak risih dengan orang asing.


Tentang Kei. Aishia belum bertatap muka secara langsung dengannya.


"Hum... aroma ini cukup familiar."


Aishia menghirup aroma manis dari arah dapur. Saat Aishia memeriksa tempat tujuannya itu, dia menemukan sosok Arsene yang sedang memanggang pancake. Dia bahkan memakai apron dengan corak polkadot, entah dari mana dia mendapatkannya.


"Oh, jadi sarapan hari ini pancake?" Tanya Aishia yang mendadak nimbrung di belakang Arsene.


"Um."


Hebatnya, Arsene sama sekali tidak bergeming seolah kedatangan Aishia sudah diketahuinya lebih awal. Sehalus apa pun langkah kakinya, Arsene punya pendengaran yang bagus untuk mampu mendengarnya.


"Ada yang bisa kubantu?"


Aishia menawarkan diri.


Arsene melirik Aishia tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya dengan lihai membalikkan adonan pancake agar kematangannya lebih merata. Di sampingnya sendiri sudah ada lapisan pancake yang siap saji.


"Kenapa tidak bangunkan Kei?"


"He? Apakah itu salah satu dari pekerjaanku?"


Arsene mengedikkan bahu acuh.


"Kak Al tak mengatakan sesuatu kepadamu tentang itu?" Tanya Arsene.


"Yah, Alba hanya bilang bahwa aku harus mengantar jemput Kei di sekolahnya juga beberapa hal yang bersifat pribadi, kurasa?"


Ashia mulai menggerakkan tangannya untuk menata piring dan peralatan makanan di meja. Tidak lupa juga dia mengambil botol madu dari lemari es. Ia dengan sigap dan cepat menyelesaikan tugasnya.


Setelah Arsene menyelesaikan semua lapisan. Aishia meletakkannya satu demi satu di piring porselen. Sementara Arsene hanya menatap kegiatan Aishia dengan diam.


"Tambahkan dua lagi untuk piring Kei. Dan lebih banyak madu untuk Elvan." Ingat Arsene.


Aishia mengangguk tanpa menoleh.


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Shceneider bersaudara terlihat turun satu demi satu. Hanya Alba saja yang sudah siap dengan seragam kantornya. Sedangkan saudara lain hanya memakai kaos polos.


Alba tampak memandang ke segala penjuru.


"Apa Louis lembur lagi di tokonya?" Tanyanya.


Arsene mengangguk dengan mulut penuh potongan pancake.


"Seharusnya dia berhenti menjadi workaholic. Apa yang membuatnya berubah seperti itu?" Alba menghela napas gusar.


Sedangkan Nichol menyantap pancake nya dalam diam, merasa tidak perlu ikut bicara. Arsene melirik kecil Nichol sebelum kembali melanjutkan menyantap sarapan buatannya.


Alba memandang Aishia yang sedang sarapan di kursi paling ujung, tepatnya di sebelah Arsene. Gadis itu dengan cepat menghabiskan sarapannya sebab harus mengantarkan Kei untuk sekolah.


"Aishia, kau sudah punya SIM bukan?"


"Hm? Iya. Aku mendapatkannya tahun lalu."


"Bagus! Berarti kau sudah cukup ahli dalam mengemudi. Untuk mengantar jemput Kei, pakai saja mobil yang ada di garasi. Itu sudah lama tidak dipakai, tapi mesinnya masih terawat, kok."


Aishia mengangguk paham. Sejujurnya dia jarang mengemudi meskipun sudah memiliki SIM. Alasannya karena dia sangat sibuk berlatih beladiri di dojo. Untuk ke dojo pun dia berjalan kaki, karena dia tidak punya mobil lagi.


"Siapa kau...?"


Semua perhatian mendadak tertuju pada seorang remaja pria yang mengenakan seragam musim seminya. Matanya menatap tajam pada penghuni baru yang sedang duduk diantara para saudaranya.


Kemudian dia menatap Alba sama tajamnya.


"Jangan katakan padaku ini adalah lelucon Kak Al lagi?" Tanyanya dengan nada dingin.


Meski aura yang dikeluarkannya tidak mengenakkan. Namun Alba dapat mengatasinya dengan santai. Ia tersenyum pada adik bungsu kesayangannya.


"Aku tidak pernah melawak dan kau tahu itu. Gadis ini yang akan menggantikan para pekerja yang telah berhasil kau keluarkan, Kei."


Kei mendelik tajam pada Aishia yang membuat gadis itu bergidik halus. Dengan segera Kei memakai tas sekolahnya dan pergi dari dapur tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun.


Seketika aura horor muncul dari sisi Arsene.


"Hee..."


Aishia bergerak sigap mengambil kotak bekal di rak piring dan memasukkan pancake yang sudah dilumuri madu itu ke dalamnya. Tak lupa ia meminta kunci mobil kepada Alba sebelum berlari kencang menuju garasi.


Alba, Nichol, Rio dan Elvan yang duduk di sana tanpa mengatakan apa - apa. Mereka sudah terbiasa dengan sikap bar - bar Kei. Sedangkan Arsene mendengus pelan sebelum meletakkan piring kotor Kei ke wastafel.


...****...


Aishia bisa bernapas lega saat dirinya melihat Kei yang sudah duduk di dalam mobil meskipun dengan wajah ditekuk. Aishia menghidupkan mobil dan menjalakannya ke luar garasi.


Dalam perjalanan menuju sekolah, tidak ada suara bising apa pun selain deru mobil. Aishia memakluminya karena Kei yang sedang dalam suasana hati buruk.


Aishia pun sudah sedikit diceritakan tentang kebrutalan Kei agar dia bisa membuat para pekerjanya mengundurkan diri. Mungkin Aishia akan menjadi target berikutnya dalam aksi brutal Kei.


"Jangan pernah sekalipun kau berpikir untuk menggantikan Paman Mo. Aku sangat jijik pada orang - orang sepertimu. Baik kepadaku karena diberi upah. Menjijikkan."


Lama terdiam. Kei bergumam pelan sambil terus mengatakan kalimat yang sangat menohok. Apabila Aishia tidak memasang kesabaran level dewa, tentunya ia sudah siap menjadikan Kei samsak tinju seperti latihannya di dojo.


Memang benar apa yang dikatakan Kei. Faktanya, Aishia bekerja di bawah perintah Alba untuk menjaga keselamatan Kei. Ditambah pria itu sudah mengetahui jika Aishia seorang karateka. Aishia bisa dengan mudahnya mendisiplinkan Kei dengan kekuatannya.


Akan tetapi, Aishia tidak suka menggunakan kekerasan dalam mendidik seseorang.


"Kudengar kau sangat menyayanginya, sosok yang selalu menjagamu sejak kecil. Aku juga punya satu yang seperti itu. Dia adalah nenekku." Ujar Aishia berupaya memecah keheningan.


Namun Kei malah berdecak kesal saat Aishia mulai mendongeng. Dia sama sekali tidak suka mendengar seorang pengganti mengucapkan sepatah kata pun. Apalagi jika membawa - bawa sosok Paman Mo yang sangat disayangi Kei.


"Kita tidak akrab. Jangan bicara padaku." Ucap Kei dengan dingin.


"Baiklah." Jawab Aishia dengan senyum lebar.


"Kubilang jangan bicara padaku!"


Aishia menghembuskan napas lelah. Ternyata menghadapi seorang remaja pubertas sesusah ini. Padahal saudaranya sendiri tidak pernah separah ini.


Sesampainya di gerbang sekolah. Kei yang seakan enggan berlama - lama bersama Aishia bergegas keluar dari mobil. Padahal awalnya dia ingin bolos, sial sekali Nichol sedang ada di rumah.


Aishia berlari kecil menghampiri Kei, sebab kalau hanya dipanggil saja, Kei takkan menoleh padanya. Aishia menarik ujung kerah lengan seragam Kei membuat Kei mengumpat kesal karenanya.


"Apa?!"


Kei menghempaskan tangannya dari pegangan Aishia dengan tatapan jengkel. Dia terlihat ingin menendang gadis di hadapannya kalau dia lupa ini masih di lingkungan sekolah. Kei akan diundang konselor kesayangannya kalau dia berulah lagi. Ini sudah tahun terakhirnya, dia tidak boleh membuat masalah.


"Kau melupakan sarapanmu. Tadi pagi kau tidak sarapan. Jangan membuat kakakmu sedih karena kau tidak memakan masakannya." Ujar Aishia, ia ingat betul ekspresi Arsene saat Kei tidak menyentuh pancake buatannya.


"Dia takkan sedih. Memangnya dia bisa sedih?" Ucap Kei dengan nada menyindir.


"Kau tidak mau?"


"Jangan harap."


Kei meninggalkan Aishia yang berdiri membisu di gerbang sekolah. Gadis itu menatap kotak bekal berwarna ungu tersebut tanpa ekspresi. Jika dia pulang dengan pancake yang masih utuh, maka Arsene akan menelannya hidup - hidup.


"Huft... tidak ada cara lain lagi."


...****...


Saat ini, Alba sedang dalam masa istirahatnya. Dia selalu mengambil jam istirahat secara acak sesuai kemampuan tubuhnya. Kalau sudah tidak mampu bertahan di depan komputer, maka Alba akan ke taman kota untuk cari angin segar.


"Hm? Bukankah itu..."


Alba menatap selidik pada seorang gadis yang sedang makan di bangku taman sendirian. Alba berjalan menghampirinya. Tentu ia berani melakukannya karena Alba mengenalinya.


"Aishia, hanya sendirian saja?"


Gadis itu, Aishia mendongak dan menemukan Alba yang tersenyum memandangnya. Tanpa sadar Aishia refleks menoleh ke sana ke mari seakan mencari sesuatu.


"Apa yang sedang kau cari, hm?" Tanya Alba sambil mendaratkan tubuhnya pada bangku taman yang sama yang diduduki Aishia.


"Gedung kantormu." Ujar Aishia dengan raut wajah seriusnya.


Alba tersenyum simpul.


"Itu ada di balik gedung rumah sakit depan sana. Lagipula, kenapa kau mendadak mencarinya?"


"Tidak ada. Hanya kaget saja melihat Alba yang berada disini pada saat jam kantor. Itu berarti kantormu seharusnya berada di sekitar sini."


"Penalaran yang bagus."


Alba mengintip isi kotak bekal yang dipangku Aishia. Ia hanya bisa berekspresi kaku ketika mengetahui itu adalah pancake buatan Arsene yang awalnya akan diberikan pada Kei. Anak itu melewatkan sarapan pagi hanya karena geram dengan kehadiran Aishia.


"Dia menolaknya...?" Alba bertanya ragu - ragu.


Aishia mengangguk.


"Disertai umpatan kasar...?" Alba semakin berhati - hati dalam pertanyaannya.


Aishia kembali mengangguk.


"Yah, aku minta maaf untukmu. Dia ternyata tidak terlalu parah di hari pertamamu bekerja." Cicit Alba.


Aishia mengangkat sebelah alisnya, merasa heran karena Alba mengatakan sesuatu yang ambigu. Bukankah itu berarti sebelumnya Kei sudah melakukan hal lain yang lebih parah kepada mantan pekerjanya?


Membayangkannya saja membuat Aishia bergidik ngeri.


"Apa kau langsung ke sini setelah mengantarkan Kei?"


"Iya. Aku merasa takut jika Arsene marah seperti pagi ini. Dia menakutiku walau hanya beberapa detik." Aishia memeluk tubuhnya yang berkeringat dingin.


"Ahaha... begitu." Alba tertawa garing.


"Oh, tapi sebelumnya aku berbelanja ke supermarket. Arsene menitipkan banyak barang kepadaku. Dan sebelum aku kembali, niatku menghabiskan pancake ini dulu." Jelas Aishia.


"Begitu."


Alba menghadap taman kota yang sangat luas. Pemandangan yang asri di tengah kepadatan ibukota selalu bisa menjadi penyembuh di kala kejenuhan.


Ia tidak berniat membantu Aishia menghabiskan pancake itu. Kei punya pengecap yang manis hingga kebanyakan yang dimakannya adalah manisan, itu membuat Alba merasa ngilu walau tidak ikut memakannya. Alba enggan mencicipi sarapan penuh cairan madu itu.


Tubuh Alba tiba - tiba menegang saat mendapati sosok yang amat sangat dikenalnya sedang bergandengan mesra dengan sosok lain yang pernah Alba temui sebelumnya.


Ketika kedok perselingkuhan itu tersibak.


Tanpa disadari, Alba terus memandangi kedua sejoli yang sedang memadu kasih itu. Mereka tak segan memamerkan kemesraan, lupa jika di taman ini ada banyak orang.


Alba mengepalkan kedua tangannya erat.


Merasa diperhatikan, si wanita menoleh ke arah Alba. Alba mendadak semakin tegang, amarah dalam dirinya memuncak. Ia melirik kecil Aishia yang sibuk melahap sarapan manis itu.


"...?!"


Aishia terkejut ketika Alba menyambar garpu berisi potongan sarapan yang sedang terbang masuk ke mulutnya. Sekarang garpu itu telah sempurna berada di dalam mulut Alba. Pria itu mengunyah dengan santai sambil mengecap madu yang bergerumul di sekitar bibirnya.


"Um... apa Alba mau?"


Aishia dengan sedikit ragu menyodorkan kotak bekalnya pada Alba. Namun Alba tak bergeming, ia mencuri lihat ke arah sepasang kekasih yang sedari tadi saling bermesraan.


Bisa Alba tangkap ekspresi terkejut dari si wanita.


"Suapi aku."


Aishia mengerutkan dahinya.


"Apa?"


Otak Aishia mendadak lag.


Alba menunjuk ke mulutnya yang sedang terbuka lebar menanti suapan selanjutnya. Aishia jadi tambah bingung dengan perubahan tiba - tiba Alba. Di awal pertemuan mereka, Aishia tidak menduga bahwa Alba seperti ini.


"Aah..."


Tapi, melihat Alba yang sejak tadi membuka lebar mulutnya membuat Aishia mau tak mau menyuapinya. Juga, tidak ada ruginya bagi Aishia untuk melakukannya.


Dan Aishia berakhir memakan isi kotak bekal bersama Alba. Dia bergantian menyuapi dirinya dan Alba dengan garpu yang sama. Sebenarnya ini memalukan, ditambah mereka melakukannya di depan publik. Maka dari itu, Aishia hanya bisa tertunduk malu sambil berbagi garpu yang sama dengan Alba.


Ada apa dengan Alba hari ini?


TBC