MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 10 - Kei Shceneider



Alba terkejut ketika ia membuka pintu mansion, matanya menemukan sosok Aishia yang sedang menjinjing kotak kue yang sama dengan yang dibelikannya untuk Arsene pagi ini.


"Ai..shia?" Alba mendadak gagu.


"Oh, Alba. Sepertinya Kei sudah pulang duluan, ya?" Aishia mengusap tengkuknya sambil tersenyum canggung.


Baru saja mengalami keterkejutan karena kedatangan Aishia yang ingin Alba jemput. Kini, Alba terdiam murung. Menundukkan kepalanya dalam - dalam membuat Aishia penasaran.


Tak jauh darisana, Arsene memperhatikan walau tidak berniat menghampiri mereka. Ia memasang telinganya baik - baik agar tidak ketinggalan satu kata pun. Sebab jujur saja, dia lebih mengandalkan mata daripada telinganya.


"Aku benar - benar minta maaf soal Kei." Alba menundukkan kepalanya dalam.


"He?" Aishia terkejut. "Itu bukanlah masalah besar. Biasanya remaja memang tidak suka dikekang. Dan lagi, kalau aku harus dijaga oleh orang asing, mungkin reaksiku akan sama dengannya."


Alba melirik Arsene di sofa yang dia diketahui sedang diam - diam mendengarkan percakapan mereka entah sengaja ataupun tidak. Insting Alba berkata begitu. Lagipula, apa yang tidak diketahui oleh Arsene di rumah ini? Tidak ada.


"Oh ya! Aku mendapat surat dari wali kelasnya sebelum pulang kemari."


Alba mengernyit, sementara di sisi Arsene dia semakin menajamkan pendengarannya. Aishia mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan menyerahkannya kepada Alba.


Entah bagaimana, Alba merasa bahwa ini sudah berkali - kali terjadi sebelumnya.


"Hum, sudah kuduga." Gumam Alba setelah selesai membaca surat dari atas ke bawah.


"Apa itu?" Aishia bertanya penasaran.


"Dia dipanggil konselor lagi karena memukuli adik kelasnya, begitu katanya. Aku harus datang besok." Alba menoleh pada Aishia. "Temani aku."


"Heh? Oke." Aishia mengangguk menyetujui.


Semasa sekolah, Aishia belum pernah masuk ke ruang konseling kecuali jika wali kelasnya meminta memanggilkan guru konseling di sana. Makanya, Aishia belum pernah sama sekali curhat masalahnya kepada sang guru konseling.


Kali ini dia kesana untuk menemani Alba karena ulah Kei. Ternyata Kei adalah orang yang ringan tangan. Alba menceritakan bahwa lima dari tujuh panggilan yang ada karena masalah pertengkaran hingga salah satunya mengalami luka berat.


"Kenapa dia menyalahgunakan karatenya begitu?" Alba hanya bisa mengelus dada setelah pertengkarannya dengan Kei barusan.


"Karate?" Aishia yang tahu pun sedikit tertarik.


"Ya. Saat sekolah dasar, aku memasukkan Kei ke dalam klub karate supaya dia tahu cara menjaga dirinya. Tidak kusangka, akhirnya malah begini." Alba menghela napas gusar.


"Ouh..."


Aishia diam merenung. Tiba - tiba ia ingat ucapan Kei pagi ini yang meminta dijemput setelah periode keenam selesai. Anehnya, Aishia malah ditinggalkan begitu saja olehnya.


Hati para remaja memang mudah berubah - ubah. Mereka terlalu labil untuk sekedar tahu apa yang mereka inginkan.


"Aishia."


"Ya?" Aishia tersentak saat Alba menyebut namanya.


"Besok setelah mengantar Kei, kau jangan pulang dulu ke mansion. Tunggu saja aku di gerbang sekolah. Aku akan datang dalam sepuluh menit." Pinta Alba yang lalu diangguki oleh Aishia.


Arsene yang masih setia bersandar di balik dinding untuk mendengarkan percakapan mereka semakin diam. Dia mencengkeram dadanya kuat.


...****...


Keesokkan harinya, Kei seperti biasa diantar Aishia. Pria itu menatap jendela dengan tatapan tajam yang seharusnya dia tujukan kepada gadis di sebelahnya.


"Karena kau, aku dimarahi Kak Al." Gerutunya.


Aishia tersenyum kecut, "Maafkan aku tentang yang kemarin."


"Diamlah. Aku tak mau mendengar suara jelekmu." Ketus Kei.


Aishia akhirnya memutuskan diam daripada hubungannya dengan Kei semakin buruk lagi. Padahal semenjak bekerja di sini, Kei tak pernah menunjukkan respon positif apa pun terhadapnya. Aishia tidak boleh mengacau.


Di gerbang sekolah, sesuai permintaan Alba, Aishia menunggu di sana sampai Alba datang. Sedangkan Kei sudah masuk ke kelasnya, mungkin. Anak itu tampak tak punya ikatan pertemanan dengan siapa pun di sekolahnya. Itu pasti sulit.


Tepat sepuluh menit, Alba datang dengan mengendarai mobilnya. Satpam yang sudah terbiasa akan kedatangannya menyapa Alba dengan akrabnya. Aishia jadi ngeri sendiri karena Kei berkali - kali membuat masalah tapi tidak segera dikeluarkan dari sekolahnya.


Oh, mungkin...


Aishia melirik pada Alba yang masih menyapa sang satpam dengan senyum ramahnya.


Alasan Kei tak segera juga dikeluarkan dari sekolah sangat simpel. Dia adalah adik bungsu dari kepala keluarga Shceneider yang memiliki andil besar dalam perkembangan teknologi di kota bahkan negara ini.


Ini terlalu mudah untuk ditebak.


"Ayo masuk, Aishia."


Aishia terbangun dari lamunannya kemudian berlari kecil menyamai langkah Alba. Anehnya, dia merasakan tatapan rumit dari satpam barusan lalu tersenyum ketika Aishia menengok ke arahnya.


Ada apa dengan satpam itu? Dia tersenyum aneh kepadaku dan Alba.


Aishia menelan salivanya berat.


Bahkan sekolahnya dulu tidak ada yang sebesar ini. Sekolah menengah paling bagus di kampung halamannya dulu mungkin besarnya hanya sepertiga dari gedung besar ini.


Luar biasa. Apalagi ini adalah sekolah swasta. Benar - benar mengerikan! Dana mereka mengalir terus...


Di perjalanan, Aishia sadar bahwa banyak murid yang memperhatikan Alba, bukan dirinya. Tentu saja karena Alba itu wajahnya terkenal. Coba kalau yang datang Arsene, mereka akan menatapnya hanya karena memiliki wajah tampan bukan betapa terkenalnya ia.


Dengan sabar pula Aishia mengabaikan tatapan sinis dari para siswi yang melihatnya berjalan beriringan dengan Alba. Jujur, ia baru sadar kalau perempuan iri atau cemburu, mereka berubah menjadi sangat menakutkan.


Akhirnya Aishia bisa bernapas lega ketika mendapati ruangan dengan tulisan 'Ruang BK' di pintunya. Alba mengetuk pintu, ketika dipersilahkan oleh orang di dalam barulah ia membukanya.


Di dalam ruang konseling, seorang pria paruh baya duduk di belakang meja. Kacamata bulatnya menambah kesan kepada orang bahwa dia adalah orang tua yang perlu dihormati di sini.


Duduk di samping meja, seorang guru wanita yang mungkin berada di pertengahan tiga puluhan tampak sedang menanti kedatangan seseorang.


"Tuan Alba Shceneider, lagi - lagi merepotkan anda untuk datang." Ucap sang wanita sambil tersenyum maaf.


"Tidak perlu. Saya ke sini karena adik saya yang lagi - lagi bermasalah. Saya tidak tahu lagi kenapa dia berbuat demikian."


Pria paruh baya di sebelah wanita itu menghela napasnya, "Saat saya bertanya alasannya memukuli adik kelasnya, dia malah diam saja."


Wanita itu yang adalah wali kelas Kei tampak memegangi dagunya.


"Oh, saya ingat kalau adik kelasnya mengatakan sesuatu seperti dia mengatakan hal yang membuat Kei tersinggung."


Nah, aku takkan heran soalnya Kei punya temperamen yang buruk.


"Benarkah?" Tanya Alba dengan khawatir.


Wali kelas Kei mengangguk.


"Hanya karena sebuah kalimat dan dia langsung membuat orang itu masuk rumah sakit." Ucap sang konselor.


Aishia mengerti posisi konselor tersebut berada. Meski Alba bukanlah orang yang suka menyalahgunakan kekuasaannya, namun konselor ini tampak takut untuk mengeluarkan surat keputusan mengeluarkan Kei dari sekolah.


Ditambah, mungkin karena ia belum mendengar cerita lengkapnya jadi tidak bisa asal memberi keputusan sepihak. Masalahnya adalah, Kei tutup mulut dan tidak diketahui apakah ada saksi atau tidak atas kejadian ini.


Aishia mengernyit lalu memegangi perutnya. Mendadak ia merasa mual. Dia ingat kemarin malam menelan banyak sekali makan malam karena Kei yang tidak mau turun untuk makan.


Sial. Terus pagi ini juga aku menghabiskan dua porsi. Aku mau muntah.


Ketika Alba sibuk berbincang dengan konselor dan wali kelas. Aishia malah sibuk mengatur agar isi perutnya tidak ke luar semua. Dia tidak ingin meninggalkan kesan buruk di sini.


Melihat pergerakan aneh Aishia, Alba melirik pada gadis itu.


"Kenapa?"


Aishia menoleh pada dengan ekspresi menahan kesakitan, "Sepertinya aku mau mengeluarkan isi perutku."


"Huh?"


Konselor dan wali kelas menatap mereka dengan penasaran mengapa Aishia sejak tadi memegangi perutnya. Aishia minta izin ke toilet setelah menanyakan tempat toilet berada.


Sepeninggal Aishia, Alba menghembuskan napasnya mendadak merasa sangat lelah.


"Apakah dia sedang hamil muda?" Tanya sang wali kelas.


Mata Alba membelalak, rasa lelah dan kantuk hilang dalam sekejap mata. Dia terkejut karena kedua orang di depannya ini ternyata berasumsi salah pada Aishia. Gadis itu hanya ingin memuntahkan isi perutnya yang terlalu penuh.


"Tidak. Dia hanya ingin muntah saja." Jawab Alba sambil tersenyum canggung.


"Itu adalah gejala hamil! Seharusnya anda tak perlu membawanya ikut kemari." Ucap konselor sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Saya tidak tahu bahwa anda sudah menikah."


"Eh, kami itu bukan pasangan su-"


Bruk!


Kalimat Alba terpotong karena pintu yang dibuka dengan kasar dari luar. Aishia di sana berdiri sambil mengatur napasnya yang tercekat karena berlari kesini.


"Aishia! Ketuklah pintu sebelum kau-"


"Ini tentang Kei."


Semua yang ada di dalam ruangan menjadi terdiam.


"Dia bertengkar dengan seseorang!"


TBC