MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 07 - Shceneider Bersaudara



Malam pun tiba. Matahari telah tergelincir di ufuk barat. Semua orang menghentikan aktivitas masing - masing untuk makan malam atau sekedar beristirahat dari lelahnya pekerjaan.


Di dapur, Arsene tengah bergelut sendirian dengan makan malam. Sial sekali karena tidak ada dari saudaranya yang bisa memasak dan membutuhkan banyak waktu untuk memasak banyak porsi makanan.


Arsene melirik Aishia yang sedang sibuk membereskan keperluan Kei besok di sekolah. Arsene menghampiri Aishia dan menepuk pundak Aishia pelan agar gadis itu menyadarinya.


"Hm? Ada apa Arsene?"


"Bantu aku dengan makan malamnya."


"Baiklah." Aishia menyetujuinya dan menaruh tas Kei di ruang tamu. Karena Kei pasti tidak suka jika Aishia masuk ke kamarnya.


Aishia menggulung baju lengannya dan memakai apron polos yang tersedia. Dia segera membantu Arsene menyiapkan salad kentang dan susu hangat. Menu susu ini agak aneh untuk makan malam menurutnya. Tapi tidak dipungkiri bahwa meminum susu dapat membuat seorang cepat tertidur.


"Bagaimana dengan menu sampingan?" Tanya Aishia setelah selesai memotong kentangnya berbentuk dadu.


"Aku tidak tahu, mungkin puding? Ada puding jadi yang kusimpan di lemari es." Jawab Arsene.


"Baiklah."


Aishia membuka lemari es dan benar saja ada puding alpukat di wadah yang lumayan besar duduk manis di sana. Aishia mengambilnya dan memotongnya dengan ukuran yang sama besar delapan bagian. Puding yang tersisa dia masukkan kembali ke dalam lemari es.


"Apa menurutmu menu ini nyambung?" Tanya Aishia memandang salad kentang, puding dan susu yang sudah dituangkan ke dalam gelas.


"Mereka tidak peduli pada hal sedetail itu. Yang penting perut terisi."


Arsene membuka apron miliknya dan menaruhnya kembali di lemari kayu diikuti Aishia. Seperti biasa, dia akan duduk di meja makan bersampingan dengan Arsene.


"Apa kau kenal Kak Louis sebelumnya?" Tanya Arsene tanpa menatap Aishia.


Aishia tersentak pelan, dia melirik Arsene kemudian mendengus samar.


"Kau bisa menebaknya sendiri."


"Begitu. Jadi, aku boleh berspekulasi yang tidak - tidak terhadap kalian?"


"Terserahmu saja."


...****...


Di balkon. Aishia sendirian menatap langit malam. Matanya mengagumi keindahan bintang meski tidak bisa menghitung jumlah pastinya. Bintang yang berkerlip bertaburan di setiap sisi langit.


"Aishia?"


Aishia tersentak, dia menoleh ke belakangnya di mana ada Louis. Tanpa sadar, Aishia menatap kembali langit seakan mengacuhkan keberadaan Louis.


"Apa yang membuatmu datang kemari?"


"Kerja."


"Menjadi penjaga Kei? Itu bukan pekerjaan mudah-"


"Aku tahu. Tetapi aku membutuhkan uang untuk hidupku sendiri." Aishia memotong kalimat Louis.


Louis mengernyit bingung.


"Sendiri? Bagaimana dengan orang tuamu-"


"Louis, kumohon. Jangan akrab kepadaku hanya karena aku mirip dengannya. Aku sama sekali bukan dia yang kau rindukan," Kembali Aishia memotong Louis sebelum pria itu selesai bicara.


"Aku minta maaf soal perasaanmu. Seperti katamu, kau bukanlah dia. Meski kalian mirip, kalian adalah dua orang yang berbeda," Louis berkata dengan nada mendalam.


"Karena itu aku memintamu tidak akrab denganku."


"Masuklah, angin malam tidak bagus untuk kesehatanmu." Ujar Louis.


Aishia diam di tempat tak bersuara.


"Aku memang tidak punya hak untuk mengurusi kehidupanmu. Tapi jangan membenciku, kau dan Ai adalah orang yang penting dalam hidupku."


Setelah mengatakannya, Louis mundur perlahan. Meninggalkan Aishia dalam lamunannya, memandang langit malam dengan sendu. Seharusnya, Louis berpura - pura tidak kenal dirinya.


"Harusnya aku tak pernah memberikannya izin bertemu denganmu."


...****...


"Yaho, aku kembali bersama Elvan!"


Nichol menghampiri Arsene dan Kei di ruang tamu dengan gaya hebohnya. Dia memang terbiasa untuk memeriahkan suasana hanya dengan berteriak.


Kei menutup kedua telinganya kesal.


"Nichol, kau sangat berisik!" Hardik Kei.


"Hei! Panggil aku kakak!" Kesal Nichol.


"Kau sangat kekanakan, sulit melakukannya!"


"Apa di kamarmu tidak ada cermin?" Nichol balik menyindir.


Perdebatan diantara Kei dan Nichol kalau sudah dimulai sangat sulit ditemukan ujungnya. Sebab Elvan terlalu payah untuk melerai. Rio dan Louis hanya bisa menonton. Alba di kantor. Sedangkan Arsene malah fokus menyaksikan siaran TV.


Saat semakin parah, barulah Arsene melempar bantal sofa ke arah mereka berdua dengan ekspresi jengkel. Sorot matanya menajam. Walau Arsene tak mengatakan apapun, Nichol dan Kei sepakat untuk berdamai.


Mereka hanya enggan membuat Arsene marah.


"Apa Kak Al baru memborong satu toko?" Elvan menaikkan sebelah alisnya.


"Ini hari ulang tahunnya." Potong Arsene.


Seketika Elvan, Rio, Louis, Nichol dan Kei paham kenapa Alba mendadak membawa banyak sekali toothbag dengan hiasan yang manis. Nichol yang paling heboh, dia malah membuka satu persatu untuk melihat isinya.


Alba sendiri karena terlanjur kelelahan dia langsung ke kamarnya tanpa mengatakan apa - apa. Arsene juga dengan cuek melanjutkan tayangan televisi kesukaannya.


"Kak Al sangat populer, huh. Kapan Kak Al akan menikah setelah dia putus dari pacarnya?" Bisik Elvan pada Rio.


Rio menggeleng pelan, "Tapi aku merasa aneh karena Kak Al bisa - bisanya dibuat patah hati. Padahal Kak Al adalah role model untuk pria yang nyaris sempurna."


"Biasalah wanita, dia benar - benar dibutakan oleh cinta." Nichol ikut nimbrung sembari melahap kue cokelat hadiah dari para pegawai wanita untuk Alba.


"Kupikir karena Kak Al tidak punya banyak waktu untuknya. Wanita 'kan ingin selalu diperhatikan dan menjadi prioritas paling utama kekasihnya. Aku heran, pria itu bagi mereka kayaknya bukan manusia yang butuh mencari uang." Elvan menggeleng - gelengkan kepalanya pusing.


Louis tidak banyak berkomentar. Baginya yang sudah merasakan manis pahitnya bersama sang kekasih membuatnya lebih berpengalaman. Elvan yang seorang idol punya perjanjian dengan agensinya untuk tidak punya kekasih agar tidak terjadi sebuah skandal.


Untuk Rio, anak rumahan sepertinya lebih sulit lagi mendapatkan kekasih. Nichol? Pria itu terlihat enggan memiliki ikatan semacam pacaran karena Nichol mencintai kebebasannya.


Kei yang temperamental pun sama saja, wanita mana yang mau dengannya? Kalaupun ada, dia harus punya kesabaran luar biasa. Dan Arsene... skip.


Intinya, di antara para saudaranya. Hanya Louis dan Alba yang benar - benar sudah menyelami dunia percintaan dengan baik. Sementara yang lain tidak diperbolehkan, sulit merasakan atau memang sudah pilihan.


"Sudahlah, kalian berhenti menggosip. Kak Al juga bukannya mau terus memikirkan mantan kekasihnya. Mungkin suatu saat akan ada wanita yang mengisi kekosongannya." Louis menengahi ketika konservasi semakin meliar.


...****...


"Woah, Alba. Apa ada acara besar di kantormu?"


Aishia yang baru saja mau turun tertahan oleh pemandangan Alba yang terlihat cukup melelahkan di matanya. Terlebih dengan kantung hitam di matanya, dia butuh istirahat.


"Tidak ada."


"Tapi Alba terlihat kelelahan. Biasanya juga pekerjaan itu tidak memberatkanmu, bukan?" Tanya Aishia.


Alba menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada banyak hal yang kupikirkan dan itu sangat menyita perhatianku. Padahal aku punya banyak pekerjaan."


"Nichol tidak membantumu?"


"Dia pulang sesuai jadwalnya. Nichol benci lembur kerja."


Dengan setengah tertawa Alba mengatakannya. Setelah itu, dia menghela napas lelah. Hari ini lumayan melelahkan dengan segala file, dokumen dan juga presentasi. Seolah tidak ada habisnya.


Melihat ekspresi Alba, Aishia mencoba mengambil inisiatif.


"Mau kusiapkan air hangatmu? Sementara menunggu untuk mandi, akan kubuat makanan untuk sekedar pengganjal perutmu. Alba belum makan malam 'kan?" Tanya gadis itu.


"Ah, belum..."


"Tolong tunggu saja di kamarmu dan aku akan membawa makanan. Alba pasti lapar." Kata Aishia.


Gadis itu mengucap permisi saat memasuki kamar Alba. Tanpa pikir panjang, dia bertanya letak kamar mandinya dan menyiapkan air hangat untuk mandi. Sambil menunggu suhunya naik, Aishia ke dapur dan membuat roti isi daging panggang untuk Alba.


"Ini dia, roti isinya."


"Terima kasih."


Aishia memberikan sepiring roti isi kepada Alba. Ia tidak menyadari jika belum melepas apron. Aishia kembali memasuki kamar mandi Alba untuk memeriksa suhu airnya.


"Alba, suhunya sudah bagus. Apa sudah selesai dengan roti isimu?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Ya." Alba menjawab singkat.


"Baguslah, aku akan bawa piringnya ke dapur. Nikmati waktumu."


Alba menatap kepergian Aishia dengan bingung. Pasalnya, ia baru saja membiarkan wanita yang bukan kekasihnya ke dalam kamarnya bahkan kamar mandinya. Wanita itu juga menyiapkan air panasnya. Bukankah ini luar biasa?


"Dia disini bukan bekerja sebagai pembantu 'kan? Bagaimana caranya mengurus Kei? Aku belum dengar banyak tentang itu darinya." Ucap Alba sambil mengusap tengkuknya penasaran.


...****...


Ah, aku berakhir membantunya lagi! Parah sekali saat aku masuk ke kamarnya. Pikirkan lagi Aishia, sejak tadi Alba tidak mengatakan apa - apa tentang itu. Apakah aku telah melewati batasan di mansion ini?!


"Kenapa kau berdiri diluar kamar Kak Al?"


Aishia terkejut saat melihat Louis yang berdiri di depannya dengan tatapan tanya. Mungkin dia merasa heran karena Aishia berdiri di depan pintu kamar Alba. Tak heran Louis menanyakannya.


"Ada urusan, itu saja."


Louis tersenyum tipis.


"Kau cukup dekat dengan Kak Al."


Kini Aishia terdiam cukup lama, membuat Louis paham betul bahwa kehadirannya tak diinginkan oleh gadis itu. Ketika ia melangkah pergi, suara lembut dari belakangnya terdengar.


"Aku tidak membencimu atas apa yang terjadi. Pada perasaanku atau pada Ai. Tetapi, aku lebih suka kita bersikap asing. Maaf." Aishia berucap samar kemudian memutuskan kembali lagi ke kamarnya.


Louis diam mematung di depan kamar Alba. Itu benar. Aishia sangat benar. Tidak ada yang salah di antara mereka, makanya Aishia tidak memiliki seseorang untuk dibenci. Akan tetapi, mungkin ini konsekuensi atas apa yang pernah terjadi.


TBC