
Sesuai janji, ketika sore tiba. Alba menunggu di kafe. Ia menanti kedatangan Aishia dan Rio. Katanya, Aishia ingin bertemu dengannya dan bicara empat mata. Alba tidak tahu apa yang akan dibicarakan Aishia, hanya saja Rio telah menebak - nebak sejak meneleponnya.
"Ah, itu mereka."
Alba menatap Rio yang sedang mendorong kursi roda yang dinaiki Aishia. Ketika kursi roda tepat berhadapan dengan tempat duduk Alba, Aishia meminta ruang untuk bicara empat mata pada Rio sehingga dia memutuskan memberi Aishia dan Alba ruang sejenak.
"Hal penting apa yang ingin kau bicarakan, Aishia?"
Aishia diam termenung, dia mengaitkan kesepuluh jarinya sambil menunduk. Aishia juga mengginggit bibirnya, tanda bahwa dia gugup akan apa yang dibicarakannya.
"Alba Shceneider."
"Ya?"
Karena Aishia memanggil nama lengkap Alba membuat pria itu refleks mengambil sikap sempurna dengan duduk tegak dan kedua tangan dikepal di atas paha.
Aishia memejamkan kedua matanya, lalu memandang lurus Alba dengan tatapan serius.
"Aku pikir, aku harus mundur dari pekerjaan ini."
Tebakan Rio mungkin tidak sepenuhnya salah.
...****...
"Woah, Alicia! Performa kinerjamu lagi - lagi meningkat. Kau mengesankan di bulan pertamamu bekerja di sini." Puji Nichol sambil menunjukkan senyuman lebarnya.
Sedangkan gadis dengan pakaian kasual yang berdiri menghadap Nichol juga tampak senang akan pujian pria itu. Dia merasa sudah mendapat apresiasi besar dari sekretaris bosnya itu.
Sebab bagaimanapun, posisi Nichol di sini bukan sekedar kepala divisi. Jika Nichol sudah berani memuji bawahannya, berarti performa mereka memang bukan kualitas abal - abal.
"Terima kasih banyak, Pak!"
Nichol membaca lebih teliti lagi hasil dokumen dari Alicia, pekerja barunya yang mempunyai kualitas mengesankan. Di bulan pertama saja dia sudah memperlihatkan hasil memuaskan, bagaimana di bulan - bulan berikutnya. Alicia nampak meyakinkan.
Tanpa sadar Nichol menarik sudut bibirnya, membentuk senyum simpul. Hal itu membuat Alicia sedikit tertegun sebab aura yang dikeluarkan Nichol kelihatan sedikit berbeda.
Bagi orang - orang di perusahaan, Nichol adalah sosok ceria yang senantiasa membagikan senyum semangat paginya ketika ia datang ke kantor.
Nichol juga selalu memberikan support terbaiknya untuk para pekerja. Ia juga memiliki reputasi baik di kalangan para karyawan karena kepribadiannya yang secerah matahari.
Namun kali ini, senyum yang diperlihatkan Nichol begitu berbeda dari biasanya. Dia hanya tersenyum simpul. Yang mana membuat dirinya terlihat seperti orang kalem yang misterius.
Ternyata Nichol punya sisi seperti ini.
Lama Nichol terdiam sambil membaca keseluruhan dokumen yang ada. Membuat Alicia kebingungan karena Nichol sudah diam selama lebih dari sepuluh menit. Ditambah, Alicia mulai pegal berdiri terus sejak tadi.
"Pak? Pak? Pak Nicholas!"
Ketika mendengar teriakan Alicia, barulah Nichol kembali tersadar. Dia terlihat linglung saat kesadarannya balik lagi. Namun, beberapa saat kemudian dia berekspresi seperti biasa dan memberikan dokumen Alicia kembali pada gadis itu.
"Ambil ini, kau bisa langsung memberikannya pada Kak Al. Dia akan terkesan dengan hasil kerjamu ini. Jangan lupa presentasinya lusa."
Alicia mengangguk semangat. Masih merasa tidak menyangka akan hasil kerjanya yang dipuji oleh Nichol. Hari ini mungkin akan ia ingat sebagai hari paling menyenangkan selama ini bekerja di sini.
Nichol menyangga dagunya, entah kenapa ekspresinya kembali gamang. Ia lagi - lagi memperlihatkan Alicia senyuman simpul yang terkesan misterius itu.
"Yah, aku senang ada yang bisa menyamaiku."
"Huh?" Tanya Alicia.
"Maksudku, mungkin kau bisa menggantikan aku menjadi sekretaris Kak Al!" Terang Nichol, kali ini ia tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya.
"Eh? Memangnya Pak Nicholas mau lepas jabatan?" Alicia semakin dibuat kebingungan.
Kini Nichol tersenyum tipis.
"Siapa yang tahu?"
...****...
"Apa maksudmu, Aishia?"
Aishia menatap kearah lain, "Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku pikir untuk berhenti dari pekerjaan ini. Maksudku, lihatlah aku. Duduk di kursi roda dan tak bisa bergerak dengan leluasa. Ini hanya menjadi beban."
Alba membenarkan dalam hatinya. Dengan kondisi Aishia yang sekarang, dia takkan bisa mengawasi Kei dan pekerjaan tambahan lainnya. Semua itu mustahil dilakukan.
Apa sampai sini saja kerjasama di antara mereka?
Aishia tersenyum tertawa kecil. Membuat Alba yang awalnya harap cemas malah kebingungan. Ia menunggu jawaban Aishia, tapi gadis ini malah tertawa.
"Kenapa?"
"Tidak ada. Kita seperti mengulang pertemuan kedua kita. Saat aku berada di rumah sakit dan Alba menawarkanku pekerjaan."
Alba tersadar, kemudian ia tersenyum kecil.
"Kau benar."
Lalu Alba kembali dalam mode seriusnya. Sebab dia membutuhkan jawaban Aishia. Gadis ini akan memakan waktu yang sangat lama hingga pulih sepenuhnya. Apa ada kesempatan memulai dari awal lagi?
"Jadi, jawabanmu?"
Aishia menggeleng pelan.
Itu sudah final.
Alba mengepal erat tangannya. Padahal ia mengira bahwa Aishia adalah sosok yang paling mendekati Paman Mo. Ia sangat berharap Aishia terus lanjut bekerja sampai Kei sedikit lebih lunak.
Tapi, alasan Aishia tidak bisa terbantahkan. Gadis itu takkan bisa melakukan apa pun saat dirinya sendiri membutuhkan orang lain.
"Aku akan kembali ke dojo."
Baru saja Alba menundukkan kepalanya dalam, mendengar Aishia mengatakan itu membuatnya kembali mendongak. Itu mengejutkan menurutnya. Namun sekali lagi, dia bukanlah penyihir yang mampu menyembuhkan Aishia sekejap mata. Ia butuh waktu untuk memulihkan diri.
"Baiklah, Aishia. Kerjasama kita berhenti sampai disini." Ujar Alba sambil menatap nanar dan memaksakan diri untuk tetap tersenyum.
Alba mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Aishia. Ini adalah kali kedua setelah kerjasama mereka baru saja dimulai. Belum dua minggu dan semuanya sudah berakhir.
Sebenarnya Aishia termasuk dalam rekor karena dirinya mampu bertahan hingga selama ini apabila dibadingkan dengan penjaga - penjaga Kei yang sebelumnya.
"Semoga setelah ini kau bisa cepat pulih dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
Aishia kembali terkekeh.
"Ini adalah pekerjaan terbaik yang pernah ada."
"Haha! Benarkah?"
Kini Aishia mengangguk.
"Aku akan mengirimkan gajimu. Kau punya rekening bank, kan?"
"Tentu saja! Di zaman sekarang, orang mana yang tidak punya? Soalnya aku sudah pernah mencoba bekerja di industri." Aishia nyengir kuda.
"Lalu, kenapa kau keluar? Tidak betah? Atau dipecat?"
"Bukan! Masa kontrakku sudah habis."
Alba hanya ber'oh ria. Hal biasa ketika sebuah industri melakukan sistem pekerja kontrak. Tapi, ada sebagian industri yang tidak menggunakan sistem ini dan langsung memberlakukan pekerja tetap. Sama seperti di kantornya, yang masuk langsung menjadi karyawan tetap.
"Apa aku boleh tahu alamat dojomu?"
"Tentu saja!"
Seperti kantong doraemon, Alba mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari sakunya. Aishia terkejut, dia tidak menduga bahwa Alba akan membawanya ke mana - mana.
Ketika Alba memberikannya, Aishia langsung menulis alamat dojonya. Dan setelah selesai, ia memberikannya kembali pada Alba. Alba terlihat memasukkannya lagi ke tempat semula.
"Boleh aku mengunjungimu kapan - kapan?"
"Kapan?"
"Yah, kapan - kapan."
"Boleh saja! Sebut saja namaku pada mereka yang berjaga. Mereka akan langsung tahu dan memanggilku. Jangan takut! Walau badan mereka semua berotot, mereka tidak akan memukul atau menendangmu sembarangan."
"Oh... oke."
Alba memandang ke jam tangannya. Dia sudah menghabiskan waktu istirahat yang cukup lama. Jadi dia meminta Rio mengantarkan Aishia sementara dirinya kembali ke kantor.
TBC