MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 18 - Kondisi Psikis



Alba berdiri di depan pintu kamar Kei, sibuk merenung. Louis yang melihatnya hanya bisa diam, sebab penyesalan seorang kakak yang tidak bisa melindungi adiknya bukan cuma dirasakan oleh Alba.


"Kata psikiater, Kei tidak bisa pulih sepenuhnya dari trauma ini." Alba bergumam penuh sesal.


"Itu karena waktu tidak mampu menyembuhkan, dia hanya memberi ruang bagi luka untuk beradaptasi. Aku paham apa yang kau rasakan. Sekarang kita hanya bisa berharap agar Kei kembali meski tidak seperti semula." Ujar Louis.


Mereka berdua turun ke lantai bawah di mana ternyata Arsene dan Rio sudah kembali dari rumah sakit. Tapi tidak ada Nichol di sana. Alba paham kalau Nichol akan menjaga Aishia sampai gadis itu siuman.


"Rio, apa kata dokter mengenai Aishia?"


Rio menggeleng pelan.


"Bahkan setelah kami menunggu selama berjam - jam, dokter ataupun perawat tak kunjung keluar. Karena Arsene sudah lewat waktu tidurnya maka kami kembali. Di sana ada Nichol yang berjaga 24 jam." Jelas Rio.


"Begitu."


Raut wajah Alba berubah khawatir. Karena bagaimanapun juga alasan Aishia tertembak adalah demi melindungi Kei. Gadis itu berjuang mati - matian melawan para preman agar tidak mendekati dan melukai Kei lagi.


Arsene menguap lebar.


"Kemungkinannya 90% seseorang akan mati setelah tertembak di bagian kepala. Kurang dari 5% mereka mampu pulih kembali." Tutur Arsene.


Itu tidak bohong karena menurut beberapa artikel yang dibaca Arsene, ada yang mampu selamat dari luka fatal tersebut.


"Apa Aishia bisa beruntung menjadi bagian dari kurang 5% itu, dia benar - benar diberkati keberuntungan." Sambung Arsene.


Dengan malas pria itu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Akan menyebalkan kalau wajahnya baru menempel ke bantal namun sinar mentari sudah menyapa lebih dulu. Tadinya dia ingin tidur di sofa, tapi tidak jadi karena tidak selembut bantal di kamarnya.


Sepeninggal Arsene, di ruang tamu tersisa Alba, Louis dan Rio. Sesuai pesan terakhir Elvan, dia akan kembali di malam hari entah kapan waktu tepatnya. Tapi yang pasti, Elvan akan kembali malam ini.


"Apa Elvan sudah mengirim pesan lagi? Mungkin dia ingin dijemput." Tanya Louis.


Alba menggeleng, "Kali ini dia meminta Manajer Sato untuk mengantarnya. Kita tak perlu repot."


"Ah, akhirnya dia tahu cara menggunakan pria pendiam itu." Cetus Louis.


Alba menghempas dirinya ke sofa, ia mengacak rambutnya frustrasi. Trauma Kei, Aishia yang koma serta kedatangan Elvan yang mereka tidak berikan berita apa pun. Dalam beberapa waktu, mansion akan menjadi kapal pecah.


"Ini bukan kali pertama kita berdebat. Jangan khawatir, semua akan kembali lagi dalam waktu dekat." Louis menenangkan.


Namun Alba tidak setuju atas ucapan Louis. Pertengkaran di antara mereka sudah pernah terjadi dua kali, dan sekali di antaranya cukup hebat sampai - sampai mereka semua ke luar dari mansion kecuali Arsene.


Ia tidak mau hal yang sama terjadi lagi di sini.


"Jangan berkata dengan mudahnya seperti itu, Louis. Bagaimanapun, jika itu terjadi, maka aku telah menjadi kakak yang gagal berkali - kali. Kakak yang tidak mampu memperbaiki kegagalannya."


Louis terdiam, dalam hati membenarkan ucapan Alba. Kemudian dia pergi ke kamarnya. Sekarang di ruang tamu hanya tersisa Alba dan Rio. Berharaplah jika mereka berdua saja cukup untuk menenangkan Elvan.


Pintu bel rumah berbunyi nyaring. Tidak perlu melihat interkom pun, Alba tahu siapa yang datang. Rio bergegas bergerak membukakan pintu.


Elvan sudah kembali.


...****...


Nichol memerhatikan screentouch di ponselnya.


"Jadi ini malam Minggu? Kenapa aku tidak sadar?"


Biasanya, malam Minggu adalah waktu yang pas bagi Nichol serta kolega - koleganya untuk bersantai dan mengunjungi bar untuk sekedar minum dan melepaskan rasa penat. Tak jarang mereka yang lepas kendali mulai membocorkan rahasia kelam masing - masing.


Dan entah bagaimana pula, Nichol berhasil mengingat semua rahasia itu meski dia tidak berniat membuka dan membagikannya.


Bosan hanya dengan main dinosaurus lompat saja, Nichol mendekati ranjang Aishia. Gadis itu terlelap pulas. Nichol ingin juga tidur selelap itu. Akan tetapi, ternyata sangat sulit padahal Nichol selalu kerja lembur.


Dia membaringkan kepalanya pada ranjang Aishia dan meletakkannya pada lipatan tangan. Namun sedetik kemudian, Nichol kembali terbangun.


"Ini benar - benar keras! Leherku sakit!"


Tanpa disadari, Nichol menatap perut Aishia yang bergerak naik turun, sedang mendengkur halus. Ia masih bernapas hingga detik ini, dia bahkan ada kemungkinan pulih. Bukankah Aishia adalah sosok yang sangat beruntung?


Nichol mengernyit.


"Kau mengingatkanku pada seseorang, dia begitu mirip denganmu."


...****...


"Halo semuanya- eh? Di mana semua orang? Kei dan Kak Nichol juga tidak ada? Bahkan Kak Arsene dan Kak Louis..."


Ketika baru membuka pintu, Elvan merasa aneh karena mansion ini begitu sepi. Biasanya, selarut apa pun itu, mereka akan menunggunya pulang di sini sambil menonton.


"Mereka terlalu lelah jadi langsung tidur."


"Benar juga," Elvan memandang sekeliling. "Bahkan Ai-nee juga tidak nampak batang hidungnya."


Alba tersentak. Entah mengapa dia merasa mansion ini kosong. Ternyata ketidakhadiran Aishia memiliki pengaruh besar. Pantas saja rasa bubur malam ini juga sangat gosong.


Mendadak dia ingat pada percakapannya dengan sang psikiater. Dan juga ucapan Louis padanya. Pada dasarnya, trauma tidak bisa disembuhkan seperti halnya luka fisik. Semua terapi yang dijalani bukan untuk menyembuhkan, tapi menjadikan luka mampu beradaptasi seiring berjalannya waktu.


Namun, jauh di lubuk hatinya. Alba mengharapkan kesembuhan Kei.


Dan juga Aishia...


"ARGH!"


Semua orang di mansion dibuat terkejut oleh teriakan Kei. Alba dan Elvan adalah yang paling cepat berlari ke kamarnya. Sedangkan Rio menyusul di belakang.


Sampai di depan kamar Kei, sudah ada Louis di sana. Serta sosok Arsene yang berdiri lumayan jauh dari mereka dengan tatapan datarnya.


Louis segera membukan pintu Kei. Alba, Elvan dan Rio pun ikut masuk meski hanya di ambang pintu. Mereka terkejut melihat apa yang ada di dalam sana.


Kei yang berada di pinggir kasur sedang memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajah penuh derai air mata disana. Seluruh tubuhnya tampak gemetar hebat.


"Itu tidak benar... tidak ada siapa pun yang meninggalkanku!"


Kei mulai meracau tidak jelas.


Ekspresi Elvan menjadi ketakutan dan cemas. Ada apa dengan semua ini? Kenapa Kei begini? Apa dia bermimpi dengan sangat buruknya? Segala macam pertanyaan bergerumul dalam pikiran Elvan.


Louis segera berlari menghampiri Kei dan memeluknya. Tapi pelukan dari Louis malah membuat teriakan Kei semakin kencang. Anak itu bahkan memukul dan menendang Louis supaya melepaskannya.


Rio juga melakukan hal yang sama agar bisa menenangkan Kei.


"Tenanglah, tidak ada siapa pun yang akan meninggalkanmu. Kami semua ada di sini untukmu." Bisik Louis dengan pilu.


Elvan yang kebingungan hendak bertanya pada Alba. Tapi, dia melihat kondisi Alba lebih buruk dari Louis dan Rio. Pria itu menggigit bibir bawahnya hingga darah mengalir darisana.


Kenapa dengan mereka? Apa yang sebenarnya terjadi disini?!


Elvan ke luar kamar Kei ingin mencari Arsene. Sayangnya, Arsene yang berdiri agak jauh dari mereka barusan kini telah menghilang entah kemana.


"Ke mana Kak Arsene?"


TBC