MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 09 - Same But Not Same



Di mansion, Alba sedang duduk berhadapan dengan Arsene. Pagi ini Alba mendadak tidak pergi ke kantor, dan dia sudah menitipkan izin pada Nichol. Sebab, lebih dari apa pun. Insiden Kei yang tiba - tiba menangis sangat penting melebihi pekerjaannya.


"Apa kau yang memasak sarapannya, Arsene?"


"Hanya sedikit. Sebagian besarnya buatan Aishia."


Alba terhenyak.


"Tapi, rasa masakannya sama seperti Paman Mo. Itu sama persis. Aku takkan heran jika Kei sampai menangis seperti itu. Dia sangat merindukan Paman Mo." Ujar Alba.


Di sisi lain, Arsene dengan seksama mendengarkan setiap kalimat Alba. Sejujurnya dia terlalu malas untuk diwawancarai Alba, tapi karena Alba begitu menyayangi adik - adiknya. Maka inilah yang akan dia lakukan.


Harusnya Arsene tidak perlu heran.


"Apa mungkin-"


"Itu semua hanyalah kebetulan, Alba. Jangan terlalu dipikirkan. Lagipula, resep Paman Mo bukannya resep rahasia seperti krabby patty."


Mendengar penjelasan Arsene, Alba kembali berpikir keras. Bagi Arsene yang selalu memutuskan sesuatu dengan dominan menggunakan logikanya, cukup mustahil terpengaruh dengan momen emosional.


Makanya ketika Kei menangis, Arsene lebih mengurusi alasan kenapa Kei menangis dibanding menenangkannya. Arsene sangatlah payah dalam berempati.


"Kau benar. Tapi tetap saja, itu terlalu mirip."


Arsene memutar bola matanya malas.


"Alba. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak Paman Mo meninggalkan mansion ini. Apa kau pikir jika Kei selalu mengingat bagaimana rasa masakan Paman Mo? Itu mustahil." Arsene kembali berpendapat.


Selalu saja begini, Alba akan berspekulasi dan Arsene mematahkannya dengan mudah. Tidak salah apa yang dikatakan oleh Arsene. Sudah lewat sepuluh tahun sejak hari itu, seharusnya Kei sudah lupa.


"Namun, tetap saja. Dia sangat merindukan Paman Mo." Ujar Alba getir.


Ingatannya saat Kei menangis kencang tidak bisa dilupakan. Ia terlalu takut. Rasa masakan Aishia sangatlah mirip dengan Paman Mo. Tentu saja kemungkinan itu adalah kebetulan juga cukup besar.


"Tidak bisa dipercaya." Alba menggumam.


...****...


Di sebuah toko kue, Aishia menatap setiap kue yang berada di etalase dengan intens. Aishia merasa tidak enak pada diamnya Kei, makanya Aishia memutuskan membelikan Kei kue karena anak itu menyukai makanan manis.


"Ini benar - benar sulit. Apa aku tanya saja pada Alba rasa kesukaan Kei?"


Aishia segera mengurungkan niatnya. Sebab ia berpikir jika sekarang Alba pasti berada di kantornya. Ia tidak boleh menganggu. Seketika itu ada satu nama yang terlintas dalam benaknya.


Aishia mengambil ponsel dan mengirimkan surel pada Arsene.


[Anda: Aku ingin tahu rasa kue kesukaan Kei.]


Belum lama mengirim, ia langsung mendapat pesan balasan. Sudah menunjukan secara jelas betapa penganggurannya pria ini.


[Arsene: Dia tidak mempunyai rasa kesukaan. Asal jangan beli yang green tea.]


Aishia mengangguk paham, "Sip! Jangan yang green tea."


[Anda: Ok.]


Aishia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Beruntung Arsene secara cuma - cuma menawarkan nomornya kepada Aishia saat itu. Awalnya Aishia tidak mengerti, tapi ia terima saja setelah nomor Arsene tercantum di kontaknya.


Pasalnya, karena Arsene adalah pengangguran dengan dompet tebal. Aishia bisa bebas meminta bantuannya. Ditambah respon yang didapatkannya dari Arsene cukup positif. Jadi Aishia tidak begitu merasa berjarak dengannya. Berbeda dengan anggota keluarga lain yang terlampau sibuk seperti halnya Alba.


"Oh, aku lupa menanyakan rasa favorit Arsene."


"Pilih yang mana sajalah."


Aishia meminta sang pelayan toko untuk membungkus kue cokelat serta memesan satu cheese cake yang akan diambilnya saat menjemput Kei. Aishia tidak memesan untuk dirinya sendiri karena sekarang dia harus mengurangi asupan gula.


Setelah membayar, Aishia segera naik ke mobilnya dan pulang ke mansion.


...****...


"Aku pulang-"


Lagi, Aishia keceplosan lagi dan selalu mengatakannya ketika menginjakkan kaki di rumah ini. Dia juga pernah mengatakan hal ini sebelumnya.


"Selamat datang kembali."


Dan Arsene lagi - lagi ada di sana menjawabnya.


"Arsene, lihat apa yang kubawa untukmu!"


Aishia menyerahkan kotak berisi kue cokelat untuknya. Baru saja memberikannya, Alba tiba - tiba sudah berada di belakang Arsene sambil menanyakan apa yang sedang mereka berdua lakukan di depan pintu.


"Aishia memberikanku kue cokelat." Jawab Arsene lurus.


"Hee... untukku? Tidak ada?"


Alba menatap Aishia penasaran sedangkan gadis itu tampak terkejut karena berada di mansion. Biasanya Alba sudah ke kantor di jam - jam segini meskipun berangkat lebih telat dari Nichol.


"Alba tidak ke kantor? Aku pikir Alba sudah berangkat jadi tidak sekalian kubelikan untukmu. Jika Alba mau, aku bisa kembali ke sana lagi-"


"Apa? Itu tidak perlu. Kami hanya perlu berbagi."


Ketika Alba mengatakan berbagi, refleks Arsene mendelik pada kakak tertuanya itu. Lagipula, kenapa pula Alba harus seprotektif itu kepada Kei sampai tidak berangkat kerja karena kejadian sebelumnya.


"Harusnya kau tidak membolos, Kak Al." Arsene mendengus samar.


"Baiklah, kalian bisa berbagi." Aishia tertawa kecil melihat wajah Arsene yang semakin masam.


Bagi individu seperti Arsene yang jarang ke luar. Mendapatkan sesuatu tanpa melangkahkan kakinya keluar rumah adalah hal yang berharga. Mustahil bagi Arsene untuk berbagi bahkan dengan saudara - saudaranya.


Sampai saat ini, Aishia heran mengapa Arsene dan Rio yang paling rajin berada di rumah.


"Aku takkan mengambil milikmu, Arsene." Alba menoleh pada Aishia, "Bisa minta waktumu sebentar?"


"Hm? Boleh." Aishia memiringkan kepalanya sedikit heran.


Alba membawa Aishia ke halaman rumah mereka. Yang mana di sana terdapat berbagai macam jenis bunga yang sangat memikat mata. Bunga - bunga ini ditanam oleh para bibi pelayan serta Rio ketika pria itu merasa bosan.


"Indah sekali! Bahkan ada hortensia." Aishia bersiul kagum.


Ini adalah kali pertama bagi Aishia melihat halaman belakang mansion. Biasanya Aishia terlalu fokus dalam mengurus kebutuhan Kei sampai ia lupa berkeliling mansion agar lebih kenal dengan bangunan yang sangat luas ini.


"Aku ingin membicarakan soal Kei."


Kalimat Alba yang mendadak membuat aktivitas mengamati Aishia tertunda. Gadis itu berdiri berhadapan dengan Alba, sang kakak tertua.


"Oh, aku belum memberikan informasi apapun tentang Kei pada Alba, yah?" Aishia menggaruk pipinya.


"Begitulah."


"Aku belum sempat meminta nomor ponsel wali kelas Kei, mungkin saat pulang sekolah nanti atau keesokkan harinya saja aku pinta."


"Tidak perlu," Alba mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nomor kontak yang dinamai 'Wakel 12 - 4' olehnya.


"Alba mempunyainya?!"


Ingatannya tentang ia yang sudah bolak - balik ke ruang konseling karena masalah yang dibuat oleh adiknya membuat Alba bosan. Dia bahkan pernah bertemu konselor tiga kali dalam satu semester. Alba bergidik ngeri saat mengingatnya.


"Boleh kuminta nomornya?"


"Kau wajib mempunyainya."


Aishia segera menyalin nomor telepon wali kelas Kei tersebut. Meski dia berharap di semester kelima ini, Kei mengurangi dan memperbaiki segala kenakalan yang pernah diperbuatnya dulu.


"Terima kasih." Ujar Aishia.


...****...


Sambil menunggu di dalam mobilnya. Kepala Aishia berkali - kali menyembul keluar jendela untuk melihat apakah Kei sudah keluar atau belum. Pasalnya sekarang sudah pukul satu lewat. Alhasil, Aishia bertanya pada satpam yang berada di dekat gerbang.


"Permisi pak." Ucap Aishia.


"Ada apa nona? Ada yang bisa saya bantu?" Jawab sang satpam dengan ramah.


"Apakah para murid belum pulang?"


"Belum nona. Bel berbunyi pukul satu lewat seperempat, apa nona tidak tahu?"


Aishia menggeleng.


"Kalau begitu tunggu saja di sini, sebentar lagi juga mereka akan keluar."


"Iya, terima kasih."


"Sama - sama."


Aishia kembali masuk ke dalam mobil dan memutuskan menunggu sambil memainkan ponselnya. Ia ingat jika Alba memberikannya nomor dari wali kelas Kei.


Aishia belum tahu akan diapakan nomor itu. Sebab jika ada masalah, sang wali kelas pasti akan menghubungi Alba bukan dirinya. Itu hal yang pasti karena selama ini juga Alba lah yang mengurusi segala kenakalan Kei.


Waktu menunjukkan pukul satu siang lewat seperempat. Para murid berhamburan melewati gerbang. Beberapa dari mereka tampak dijemput oleh jemputan khusus dan ada pula yang ke halte bus. Tak sedikit yang menuju stasiun kereta karena jarak rumah mereka yang lumayan jauh.


Aishia menatap setiap murid yang ke luar gerbang, namun tak terlihat bahkan batang hidung Kei. Anak itu entah kelasnya pulang telat atau apa, sepertinya Aishia harus menunggu lebih lama lagi.


"Di mana dia?"


Sampai gerbang nampak sepi dan tak ada murid yang keluar lagi, Aishia menjadi heran. Yang dia lihat, para murid yang tinggal hanyalah anggota ekskul. Kei mustahil menjadi bagian dari salah satu ekstrakulikuler disini.


Akhirnya Aishia memutuskan menunggu sedikit lebih lama lagi.


Sudah lewat setengah jam tapi Kei sampai sekarang tidak terlihat. Aishia memutuskan bertanya pada satpam itu lagi dan dia menjawab bahwa dia belum melihat anak pembuat onar itu melewati gerbang.


Aishia semakin dibuat panik.


Dia memutuskan menghubungi wali kelas untuk menanyakan keberadaannya. Mungkin saja Kei membuat masalah lagi dan sekarang sedang mendekam di ruang konseling.


"Memangnya ibu ini siapanya Kei?"


"Saya wali asuhnya."


"Apa ibu yakin tidak melihat Kei ke luar gerbang?"


"Tidak, bu. Saya bertanya pada satpam sekolah, dia pun menjawab tidak melihatnya." Aishia mendadak cemas.


"Benarkah?! Apa telah terjadi sesuatu kepadanya? Sebentar, saya akan tanya pada guru periode terakhir."


"Baik, tolong."


...****...


"Kei? Tidak pulang bersama Aishia?" Arsene bertanya dengan heran pada Kei yang pulang sendirian.


"Tidak." Kei menjawab sesingkat mungkin karena dia sedang malas berdebat dengan kakaknya.


Arsene mengernyit. Namun ia berusaha untuk tidak menodong Kei dengan pertanyaan yang menyudutkannya atau adik bungsunya ini akan hilang kendali.


"Jadi, kau kesini dengan apa?"


"Bus."


"Bagaimana dengan Aishia?"


"Mana kutahu." Kini jawaban Kei terdengar ketus.


"Kau meninggalkannya di sekolah untuk terus menunggu?!"


Arsene dan Kei terkejut dengan suara melengking dari lantai dua. Di sana ada Alba yang sudah terlepas dari kemeja putih yang biasa dia pakai untuk ke kantor.


Tatapannya berubah tajam kepada Kei.


"Sudah kubilang aku tidak ingin diawasi!" Teriak Kei tak kalah tingginya dari suara Alba.


"Jika kau berhenti membuat masalah, aku juga takkan memaksamu diantar jemput atau diawasi lagi." Kata Alba, nada suaranya berubah dingin.


Kei menggertakkan giginya geram. Selalu saja dia mendapat perlakuan kekanakan ini. Dia kesal karena kakaknya yang berniat mencari pengganti bagi posisi Paman Mo. Mengapa Alba tidak membiarkan posisi berharga itu tetap kosong?


"Aku takkan membiarkan siapa pun menggantikan Paman Mo." Kei berkata dengan suara rendah.


"Apa katamu?" Alba semakin berang.


"Sudah kukatakan kalau tidak akan ada yang bisa menggantikan Paman Mo!"


Kei menghentakkan kakinya kesal, melempar tasnya ke sembarang arah dan segera naik ke kamarnya. Dia bahkan membanting pintu dengan keras sebelum Alba berhasil mengejarnya.


"Hentikan Alba. Kalian berdua sama keras kepalanya." Ujar Arsene dengan tenang.


"Kau juga, Arsene. Kenapa tidak sekali saja membantuku? Setidaknya, agar dia tak menjadi pembuat onar lagi di sekolah. Kau lupa apa yang dia lakukan terhadap teman sekolahnya?" Alba berkata dengan kesal.


"Aku ingat. Kei punya alasan untuk itu."


Alba kini terdiam.


"Kenapa kau tidak mencoba untuk mendengarkan apa yang dia inginkan sekali saja?" Usul Arsene.


Hening, Alba tak bergeming di depan pintu kamar Kei. Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat sambil menahan kekesalan. Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia dan Kei mengalami cekcok hebat seperti ini.


Alba menuruni tangga dan berjalan keluar mansion.


"Mau menjemput Aishia?"


"Seharusnya kau tidak perlu bertanya lagi."


Arsene menghela napas gusar.


"Kakak dan adik sama saja. Keras kepala. Tidak mau mendengarkan satu sama lain."


TBC