
"Kak, aku mendapat surat dari pihak kepolisian. Sepertinya pelaku penculikan Kei sebenarnya sudah ditemukan."
Alba memandang Louis serius. Langkah kakinya tertuju pada ambang pintu, Louis berdiri di sana. Ia menyerahkan sepucuk surat yang terdapat stempel resmi pihak kepolisian.
"Kau sudah membacanya?"
Louis mengangguk.
"Tapi, kurasa pelaku ini hanyalah bidak lainnya."
Alba membaca dengan detail setiap kata yang diketik dalam surat. Setelah membacanya secara keseluruhan, Alba terkejut dan berusaha menampik kebenaran.
"Bukankah ini mustahil dilakukan oleh seorang remaja? Pasti ada yang menyabotasenya!"
"Dari tadi itulah yang kupikirkan, Kak Al. Semua ini belum berakhir, dia adalah pion yang dibuang. Sama seperti preman yang tubuhnya habis terbakar itu." Kata Louis dengan berat hati.
Alba menyandarkan tubuhnya ke sofa. Akhir - akhir ini banyak kejadian aneh yang menimpa keluarga mereka. Seolah ada yang ingin meneror Shceneider bersaudara.
"Apa kita harus mengurangi jumlah para pekerja mansion lagi?"
"Jangan. Kita sudah memecat banyak pekerja sebelumnya. Sekarang hanya sisa sepuluh orang, mereka sendiri sudah kewalahan mengurus pekerjaan di mansion yang seluas itu. Kalau dikurangi lagi... pokoknya tidak bisa!" Tegas Alba.
"Lalu, bagaimana jika ada penyusup di kantor?"
"Dengar, karyawan yang kupekerjakan di kantor sudah berada di jumlah minimum. Aku tak bisa memecat siapa pun lagi. Semuanya sudah mendapat porsi pekerjaan masing - masing."
Louis membenarkan dalam hatinya. Semua teror yang mengganggu mereka sejak beberapa tahun silam sudah mengusik mereka. Rencananya Alba ingin pindah dari mansion besar itu ke rumah lain yang lebih kecil dan letaknya tersembunyi.
Namun, niat Alba ditolak keras oleh Arsene. Arsene mengatakan bahwa keenam saudaranya boleh meninggalkan mansion. Tetapi semua properti di mansion tidak ada yang boleh dipindahkan satu inci pun.
"Arsene, ada kemungkinan dia tahu sesuatu. Bisa jadi dia tahu tentang dalang di balik teror - teror yang mengusik kita selama tiga tahun terakhir ini."
Alba tidak berkomentar lebih jauh. Kalau Alba boleh mengatakannya, di antara mereka bertujuh, sosok Arsene adalah yang paling dia curigai.
Dia tahu segalanya, tapi enggan berbagi.
Alba sudah pernah ingin menginterogasi Arsene. Namun Arsene dengan senang hati menolaknya. Kecurigaan Alba terhadap adiknya itu malah menjadi semakin besar.
"Sejujurnya, aku curiga dia adalah dalang dari semua teror yang ada." Cetus Alba.
"Kak Al, mungkin saja ini jebakan. Dalang ini ingin kita agar mencurigai Arsene dan membuat Shceneider terpecah belah. Jangan sampai kita mengikuti keinginannya!"
Alba diam merenung.
"Aku tidak yakin..."
...****...
Di sebuah ruangan di rumah sakit jiwa. Zero yang membawa buket bunga daisy berjalan mendekati seorang gadis yang tengah memandang kosong ke luar jendela.
Di belakang Zero, Aishia mengikuti dalam diam. Entah kenapa dia begitu saja percaya ucapan Zero dan ikut dengannya menuju rumah sakit jiwa. Aishia mulai percaya saat Zero masuk ke salah satu ruangannya.
"Selamat pagi, Anya."
Gadis dengan tatapan kosong itu adalah Anya. Aishia cukup terkejut dengan penampilannya saat ini. Dia hanya memakai piyama putih seperti pasien lainnya.
Bahkan kedua tangannya diikat dengan tali pada sisi ranjang. Aishia seolah melihat seorang kriminal yang berpenyakit mental.
"Kenapa tangannya diikat?"
Zero dengan tenang menjawab.
"Dia sering sekali mengamuk. Pagi ini juga sama, dia nyaris melukai suster yang bertugas mengirimkan sarapan untuknya. Padahal sudah lebih dari sejam kami berusaha menenangkannya. Tetapi hanya obat penenang yang dapat mengendalikannya. Akhirnya, sampai dia benar - benar terkendali, kedua tangannya akan tetap diikat."
"Bukankah itu tidak manusiawi?!" Geram Aishia.
Zero hanya terkekeh. Pria itu berjalan ke sisi tempat tidur Anya. Dia mengganti bunga di atas nakas dengan bunga daisy yang baru saja dia beli.
Sementara Aishia yang tak mampu mencerna keadaan dengan baik hanya berdiri di ambang pintu. Memandang segala hal yang ada di depannya dengan rumit.
Aishia menatap Anya dengan iba.
"Apakah ini semua karena Alba...?"
Zero lagi - lagi tertawa. Itu adalah hal terbodoh yang dia dengar dari Aishia hari ini. Jika itu memang benar, maka Zero takkan menaruh harapan untuknya.
"Kenapa malah tertawa?"
"Karena yang kau katakan itu sangat aneh. Anya sudah menjadi pasien di sini selama lima tahun. Jauh sebelum dia bertemu dan menjalin hubungan dengan Alba Shceneider."
"Jika dia pasien di sini, bagaimana bisa dia dan Alba..." Ucap Aishia kebingungan.
"Pujaan hati?"
"Itu benar. Sampai saat ini, Anya terus memikirkan Alba."
Zero mengelus kepala Anya dengan lembut. Gadis itu mendongak dan menatap Zero dengan hangat dan senyum bahagia.
"Alba, kau datang untukku?"
Apa? Apa yang Anya katakan?
Zero tersenyum tipis.
"Iya, aku Alba. Aku di sini untuk menemanimu."
Mulut Aishia terkatup sempurna. Tidak tahu harus mengatakan apa. Pemandangan di depannya ini sangat menggetarkan hatinya.
Aishia melihat punggung Zero yang begitu tegar, tidak tahu ekspresi apa yang dia buat saat ini.
Kalau seperti ini, bagaimana dengan perselingkuhan Anya terhadap Alba? Apakah semua itu hanya salah paham?
...****...
Zero berbincang lama dengan Anya sampai gadis itu pun tertidur lelap. Aishia sendiri tidak mampu untuk menggerakkan kakinya selama interaksi luar biasa antara Anya dan Zero.
"Saat tertidur, wajahnya terlihat sangat damai." Ujar Zero lembut.
Waktu yang mereka habiskan untuk berbincang adalah waktu emas bagi Zero, jika saja Anya tak menganggap dirinya sebagai Alba.
Zero membalikkan badannya, sosok Aishia masih ada di ruangan ini.
"Kupikir kau sudah pulang. Soalnya aku dan Anya cukup lama berbincang. Kau mungkin merasa bosan." Kata Zero.
Kening Aishia mengkerut.
"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan kepadamu."
"Tentang benar atau tidaknya Alba diselingkuhi? Itu tidak benar, kok."
"...."
"Sekilas, orang - orang selalu mengira bahwa aku mirip dengan kepala keluarga Shceneider yang baru. Begitu pula dengan Anya. Dia berpikir bahwa aku adalah Alba karena sedikit mirip dengannya. Ini memang terdengar jahat, tapi aku memanfaatkan wajahku yang sama dengan Alba."
"Kau menjadi Alba di depan Anya?"
Zero mengangguk.
"Alba adalah pria yang baik, Anya menyukainya dalam pandangan pertama. Sejak hari itu, Anya malah lebih sering kabur. Oh, aku mengetahui tentang Alba sejak pertama kali Anya kabur."
Aishia diam dan mendengarkan bagaimana cerita antara Alba, Anya dan Zero yang jika ditelaah kembali ternyata cukup rumit.
"Karena pada dasarnya Anya mengalami psikosis¹ dan prosopagnosia², dia benar - benar menganggapku sebagai Alba 'kedua' di rumah sakit jiwa ini."
"Dan kau memanfaatkannya?"
"Aku memang jahat, bukan?"
Aishia tertunduk, tidak tahu harus berkata apa.
Zero mencintai Anya, bahkan meski dia tahu bahwa Anya memiliki banyak kekurangan. Sedang di sisi lain, Anya mencintai Alba dengan segenap jiwanya. Bahkan dia sampai menganggap sosok Zero sebagai Alba.
Mungkin, Zero memanfaatkan penyakit prosopagnosia yang diderita Anya dan sering berpergian dengannya. Hingga Alba mengetahui hal itu dan memutuskan hubungannya dengan Anya karena berpikir bahwa Anya selingkuh darinya.
"Adik orang kaya itu bahkan memberikanku selembar cek dengan nominal luar biasa. Aku memang tidak sekaya dia, tapi perilakunya sangat membuatku jengkel." Kesal Zero, saat mengingat kembali kejadian itu.
Adik Alba yang membuatnya jengkel?
"Menyedihkan sekali karena aku tidak dianggap sebagai Alba lagi setelah Alba yang asli berdiri di depan Anya. Aku sudah dibuang."
"...."
"Sekarang psikosis Anya semakin parah. Aku akan membalasnya suatu saat nanti." Ujar Zero penuh kebencian.
Heh?
TBC
[1] Psikosis adalah kondisi ketika penderitanya mengalami kesulitan dalam membedakan kenyataan dan imajinasi.
[2] Prosopagnosia adalah kondisi yang menyebabkan penderitanya kesulitan mengenali wajah orang lain, bahkan keluarganya sendiri.