MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 12 - Kei Menghilang!



"Aku pulang, semuanya!"


Dengan gayanya yang heboh, Nichol membuka pintu mansion dengan lebar. Baru saja mau menghirup udara tidak menyehatkan dari pendingin ruangan, Nichol terkejut melihat Alba dengan ekspresi khawatirnya.


"Nichol!" Panggil Alba.


"Y-ya?!"


"Apa kau melihat Kei?"


"Hng? Tidak. Dia mungkin belum pulang dari sekolahnya. Kenapa tidak Kak Al jemput saja ke sana?" Tawar Nichol.


"Sayangnya, dia pulang lebih awal dan sedang menjalani hukuman skorsing karena terlibat adu hantam dengan adik kelasnya." Jawab Alba dengan nada tajam.


Nichol terdiam.


Baru saja kembali dari pekerjaan menumpuk karena sekalian mengerjakan dokumen milik Alba. Sekarang Nichol harus menghadapi kenyataan kalau lagi - lagi Kei berurusan dengan konseling. Dan sore - sore begini ternyata dia tidak berada di mansion?


Raut wajah Nichol berubah hitam. Dia menggulung lengan kemejanya hingga siku. Berbalik menuju pintu mansion untuk kembali menghirup udara segar serta menatap sajian pemandangan matahari terbenam.


"Aku akan mencarinya hingga ke lubang tikus sekali pun." Kata Nichol dingin.


"Tidak perlu seekstrim itu, dia tidak muat di sana."


Nichol masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Alba belum beranjak dari posisi semula. Dalam hati dia meyakinkan diri sendiri kalau Kei akan kembali dan berharap anak itu hanya sedang berbelanja di supermarket.


Mungkin saja, pertengkaran mereka kemarin menyebabkan Kei tidak nyaman terus tinggal di mansion. Pasti anak itu tidak mau menemuinya. Bisa dilihat sejak kepulangan mereka dari sekolah yang mana Kei ikut dengan Aishia.


Dan sekarang, Kei malah kabur dari mansion. Ketika Aishia menghampiri kamarnya untuk mengajak Kei makan siang bersama dan ternyata anak itu tidak berada di kamarnya.


Kepanikan mulai timbul dari sana. Sekarang Aishia juga sedang mencari bersama Rio yang kebetulan baru pulang dari toko buku Louis. Louis masih bersiap menutup toko, Elvan pada tur idolnya serta Arsene yang menetap disini.


"Arsene, kenapa kau tidak ikut cari Kei?" Tanya Alba pada Arsene yang duduk di sofa ruang tamu dengan posisi nyamannya.


Arsene melirik, "Aku tidak boleh keluar dari mansion. Apa kau lupa?"


"Sama sekali tidak. Hanya saja, bukankah Kei adalah adik kita? Apa kau tidak memiliki rasa simpati kepadanya? Harusnya sekarang kau sedang cemas." Alba berbalik menatap Arsene dan menatapnya dalam.


"Cemas takkan menyelesaikan masalah." Arsene menjawab dengan tenang.


Alba menunduk kecil. Ada kalanya dia merasa Arsene sedang mengguruinya, secara tersirat mengatakan bahwa ia harus berhenti bersikap berlebihan karena adik - adiknya sudah menginjak usia dewasa terkecuali Kei seorang. Walaupun begitu, hanya tinggal menghitung bulan.


Kalimat Arsene tidaklah salah, tapi tidak benar juga. Setidaknya, Alba rasa kalau Arsene harus sedikit mencemaskan absennya Kei di mansion. Bagaimana kalau Kei kabur? Mimpi terburuk bagi Alba.


Dia adalah kakak yang gagal bila hal itu terjadi.


"Berhenti bersikap berlebihan, kau harus lebih tenang di situasi seperti ini. Mungkin dia memang sedang menyejukkan diri di supermarket depan komplek." Arsene berucap asal - asalan.


Karena ucapannya itu Arsene dihadiahi tatapan setajam elang dari Alba. Selalu saja begini. Hal yang terlihat seperti tebakan asal bagi Arsene, adalah jawaban tepat sasaran untuk Alba.


Alba mendudukkan dirinya ke atas sofa dengan gusar. Mengacak - acak rambutnya frustrasi akan keadaan. Dia tidak mengerti harus berbuat apa agar Kei tidak semakin nekat. Anak itu pasti tidak pernah absen membuat masalah setiap harinya.


"Dia hanya ingin diperhatikan."


Alba termenung, dia melirik wajah samping Arsene diam - diam.


Arsene menoleh padanya.


"Kei menyukai perhatian, makanya dia menyukai Paman Mo dan Elvan. Paham maksudku?"


Bola mata Alba melebar sempurna. Itu dia. Kei seorang pemberontak sejati di usianya yang sedang beranjak dewasa, beda dari dirinya yang sejak kecil dididik sebagai anak teladan yang harus bekerja keras belajar demi bisa mengurus perusahaan ayahnya.


Sementara itu, Kei sejak kecil selalu dikelilingi oleh kasing sayang Paman Mo. Serta Elvan yang usianya paling dekat dengan Kei, yang paling sering memanjakannya. Lagipula, Kei adalah satu - satunya adik Elvan. Tidak seperti Alba yang punya enam adik walaupun yang satu tampak dewasa lebih cepat.


Kebiasaan diperhatikan oleh orang lain ini muncul hingga Kei remaja dan sekarang berusia 18 tahun.


"Nichol memperhatikannya, tapi dengan cara yang tidak disadari Kei. Karena itu jugalah Kei tidak bisa paham bagaimana perasaan Nichol terhadapnya." Arsene kembali melanjutkan.


"Kasusnya sama sepertimu. Aku takkan menyalahkan siapa pun karena setiap orang memiliki cara berbeda untuk mencintai."


Alba semakin diam.


"Cobalah lebih lembut dan perhatian padanya."


"Omong - omong, apa kita perlu memecat Aishia karena kerjanya yang tidak benar? Harusnya dia lebih mengawasi Kei supaya anak itu tidak berulah 'kan? Padahal itu bagian dari pekerjaannya." Arsene bertanya dengan santainya.


Mulut Alba semakin tertutup rapat. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada Aishia. Semenjak pikiran negatifnya menyebar mengenai Kei yang kabur. Alba juga memikirkan tentang pemecatan Aishia secara bersamaan.


"Sigh... aku tidak tahu."


...****...


Aishia menyerahkan ice cream dengan rasa vanila dan coklat pada Rio sementara yang dipegangnya adalah rasa red velvet.


"Terima kasih." Rio menerima cup ice cream yang disodorkan Aishia.


"Hari ini cuacanya sangatlah panas. Padahal musim semi baru saja dimulai."


Rio mengangguk membenarkan. Ia mengibas - ngibaskan tangannya demi menghasilkan angin padahal itu tidak berguna juga. Masih di pertengahan musim semi dan tanda - tanda musim panas sudah sejelas ini.


"Apa kita akan melanjutkan pencarian?" Tanya Aishia.


"Tidak tahu. Kita sudah mencapai ujung komplek dan Kei belum kelihatan. Kalau dia menghilang selama 2×24 jam, barulah kita melapor polisi. Yang lain juga pasti sedang sibuk mencarinya." Kata Rio.


"Benar juga."


Aishia menatap cup ice cream miliknya di mana karena teriknya matahari membuat isinya menjadi mencair. Dengan cepat Aishia melahapnya sebelum semuanya mencair.


"Kalau begitu, kita akan pulang?"


Rio mengangguk. Merasa ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya, Rio memeriksa lockscreen dan menemukan pesan masuk dari Alba dan Louis.


"Siapa itu?" Aishia mencoba mengintip isi ponsel Rio.


"Kak Al dan Kak Louis."


Mata Aishia melebar sempurna.


Louis?


Rio mengetikkan pesan balasan kepada Alba terlebih dahulu.


[Kak Al : Apa Kei sudah ditemukan?]


[Anda : Belum. Bahkan aku dan Aishia sudah mengelilingi komplek dan batang hidungnya tak kelihatan sama sekali.]


[Kak Al : Astaga. Di mana sebenarnya anak ini?!]


[Anda : Sabar, Kak. Belum malam juga. Dan Kei belum menghilang selama dua hari penuh makanya kita belum bisa melapor polisi.]


[Kak Al : Kalian berdua pulang saja.]


Rio mengernyit.


[Anda : Tidak mau melanjutkan pencarian Kei?]


[Kak Al : Tidak perlu, jadi kau kembali saja ke mansion.]


[Anda : Baiklah.]


"Sebenarnya apa yang mau Kak Al lakukan?"


Aishia menatap bingung. Bukankah kalau hal ini terjadi dia bisa dipecat karena tugasnya tidak benar? Tugas utama Aishia adalah mengawasi Kei agar tidak membuat masalah dan sekarang Kei malah kabur. Artinya dia menimbulkan masalah.


Kalau begini terus, harus aku sendiri yang turun tangan.


Aishia mengirimkan surel pendek pada temannya di dojo untuk membantu dirinya mencari Kei. Setelah mendapat balasan 'oke' darinya, Aishia sedikit lega karena semakin banyak yang membantu.


"Mari lihat pesan dari Kak Louis." Gumam Rio di sebelahnya.


Aishia yang masih belum terbiasa dengan kehadiran Louis di mansion merasa tak enak. Ingin rasanya ia kecelakaan dan membenturkan kepalanya supaya memori lama menghilang.


[Kak Louis : Rio, apa ada kemajuan?]


[Anda : Tidak ada sama sekali, Kak.]


[Kak Louis : Apa?! Kita harus bagaimana?]


[Anda : Tidak tahu. Tapi anehnya, Kak Al memintaku dan Aishia menghentikan pencarian untuk segera pulang.]


[Kak Louis : Apa kepala Kak Al terbentur?]


[Anda : Aku juga merasa heran, Kak.]


Balasan pesan berhenti di sana karena Louis tampak sibuk kembali. Rio menghabiskan sisa ice cream pada cup lalu membuangnya ke tempat sampah yang tersedia.


Ia bangun dari kursi panjang dan mengajak Aishia kembali pulang ke mansion.


"Baiklah, ayo pulang."


TBC