
Orin tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Dia hanya mau kembali ke Hotelnya dan tidak ingin melanjutkan perjalanan melancongnya. Yang ada dibenaknya saat ini, ia harus segera menghindari Sean. Ia tidak ingin Sean tahu kenyataan bahwa dirinya berada dalam bahaya.
Sean sedang berada dalam situasi hati yang menyenangkan, terlebih ia memenangkan taruhan saat berhasil menebak hasil skor Manchester united melawan Manchester City. Sean terlarut dalam uforia kemenangan. Tanpa harus tahu bagaimana perasaan yang dialami Orin saat ini.
Sean masih menggandeng jemari Orin. membawanya berjalan keluar stadion. Sejenak ia membeli Ice caffe latte di salah satu toko minuman yang berada di dalam lobby stadion.
"Aku tidak haus, kau saja yang minum". Ketus Orin sambil memalingkan pandangannya ke arah luar koridor. Dan sekilas Orin melihat seseorang yang ia kenali. Tetapi objek yang dilihatnya tersebut mengumpat di balik pintu.
Sean yang sedari tadi melihat gelagat Orin segera menyentuh bahu kekasihnya.
"Hei, kau melihat siapa?".
"Oh..Bukan. Tadi aku lihat ada anak kecil yang terjatuh . Tapi ternyata anak itu sudah berdiri lagi". Orin mencari Alibi saat melihat anak kecil yang berjalan ke arahnya. Untung saja Sean percaya apa yang dikatakan Orin.
Tiba-tiba sebuah ponsel milik Orin berdering. Tampaknya ada sebuah pesan masuk.
"Jauhi Orang yang sedang bersamamu. Dan Segeralah berpacaran dengan Delph!".
Sang Iblis Rudy kembali memberikan tugas yang tidak biasa. Tega-teganya ia sampai harus memisahkan sepasang kekasih seperti ini. Melihat isi pesan tersebut, Orin seakan hancur menjadi puing-puing. Hatinya yang mulai berbunga seakan layu. Dalam benaknya, ia ingin mengakhiri hidupnya yang seakan tak berdaya melawan ini semua.
Ini semua mungkin karena Delph. Orang yang bersembunyi itu sudah pasti Delph. Entah setan apa yang merasuki dirinya. Ia mungkin melapor kepada Mr Rudy apa yang dilihatnya saat ini.
Dalam perasaan yang sedang linglung, Orin hanya bisa duduk lemas di lantai lobby Stadion. Ia juga tidak bisa memperhatikan Sean yang sedari tadi melihat tingkah lakunya. Sean juga kembali merasakan sesuatu yang mengganjal dari hatinya. Seperti ada sesuatu yang kuat yang ingin mencelakai Orin.
Tak sabar dengan perilaku kekasihnya yang menjadi aneh, Sean merebut ponsel yang berada di genggaman Orin. Hinga membuat ponselnya terjatuh di lantai.
Tanpa disadari Orin telah menampar wajah Sean. Dan buru-buru mengambil ponselnya. Tak ada lagi yang bisa Orin lakukan selain berlari dan berlari menembus para suporter yang juga ingin keluar dari Stadion ini.
Sean tak bisa mengejar kecepatan langkah Orin. Badannya yang lumayan Tinggi dan gemuk tidak bisa bergerak dengan lihai dan cepat.Dan akhirnya Semakin lama Orin berlari semakin tidak terlihat dari jangkauan mata Sean. Minuman yang sedari tadi dibelinya pun telah berhamburan ke lantai.
Seseorang yang sedari tadi mengumpat diam-diam, mengikuti Orin dari belakang. Walau tak berlari dan mengejar Orin, Pelaku tersebut bisa mendeteksi kemana arah anak itu pergi.
Delph tampaknya mulai bergerak mengikuti perintah Sang Iblis Rudy. Dirinya diberi tambahan aplikasi di ponselnya. Aplikasi tersebut bisa mengetahui dimana keberadaan Orin. Dan menjadikannya sebagai Iblis yang baru terlahir.
Secara tidak sengaja bahu Delph tampak ditabrak dari belakang, hingga membuatnya terpental dan orang yang ikut menabraknya juga ikut terpental. Seseorang yang menabrak tersebut adalah Sean. ia tampaknya masih terburu-buru mengejar Orin.
"Ma..Maaf, saya tidak sengaja".
Delph hanya membalas dengan senyum sinis. Hanya berselang beberapa detik saja Sean berdiri lagi dan berlari secepat yang ia bisa.
Sunggingan senyum merekah dari mulut Delph saat ia tahu keberadaan Orin yang sebenarnya. Orin sudah tidak jauh dari tempatnya berada sekarang. Sedangkan Sean sudah dipastikan hanya buang-buang tenaga mencari kekasihnya.
Orin Terlihat sedang berada di sebuah cafetaria di Manchester, tepatnya di Black Sheep Coffee yang berada di persimpangan antara jalan Fountain ST dan Spring Gardens sekitar dua kilometer dari Old Trafford Stadium dan berada di arah selatan kota Manchester.
Delph memastikan kembali lewat GPS yang berada di ponselnya. Dan titik GPS ini memang benar-benar sangat tepat. Akan tetapi usahanya mengejar Orin tidak semudah yang ia kira. Ia ditantang oleh perasaanya sendiri dan berperang melawan rasa takutnya saat bertemu dengan Orin.
Orin tampaknya tak sengaja menoleh ke arah Kaca depan resto dan mendapati Delph sedang melihat dirinya. Dengan terpaksa Orin melambaikan tangannya dan menyuruh Delph masuk.
"Hei,kemarilah."
"Seperti yang kau lihat, hancur dan berantakan".
Orin berada dalam kesedihan yang nyata. Ini diartikan dari wajahnya yang sembab karena ia terus-menerus menangis di sepanjang pelariannya.
"Sebentar, aku akan membelikan sesuatu untukmu".
Beberapa menit kemudian, Delph sudah membawakan dua Mocha and flat white bergambar hiasan Sebuah bentuk hati dan juga dua waffle chocolate yang menggiurkan semua yang melihatnya.
"Minum dan makanlah sedikit, kau terlihat pucat".
"Terima kasih, Siapa yang membawamu kemari Delph?".
"Kau pasti tahu. Aku hanya ingin menjalankan tugas".
"Oh tidak, Mungkin lebih baik aku akhiri ini semua".
"Dasar bodoh!. Apa kau kira disaat kau bunuh dirimu sendiri, semua akan berubah?".
Delph terlihat menyeruput mocha di depannya yang sudah mulai terlihat dingin. dan memakan lahap wafle chocolate yang sudah mulai meleleh".
Menyaksikan Delph yang makan dengan rakus, Akhirnya Orin juga melahap habis wafle chocolatenya.
"Kita harus bertarung sampai habis. Kau dan aku mungkin ditakdirkan seperti ini. Jadi berhenti mengeluh dan mulailah berfikir untuk menghentikan Iblis itu".
Orin terkesan dengan cara berfikir Delph. Perlahan semangat hidupnya mulai terangkat kembali. Delph benar, ia harus menyelesaikan semua masalah ini. Dan tentu ia tak bisa sendiri. Harus ada orang yang kuat berada di sampingnya.
" Satu lagi, Tentang kekasihmu itu, berhati-hatilah dengannya. Aku rasa ia membawa Polisi dan mulai mencari kita. Kalau kita berdua tertangkap. Semua akan menjadi sulit. Jadi mulai sekarang kita berdua harus bekerja sama".
"Aku sudah memutuskan untuk berpisah. Aku mengerti. Terima kasih atas masukannya".
Mereka berdua akhirnya sama-sama terdiam. Sambil berfikir untuk mendapatkan cara mengalahkan sang iblis tersebut.
"Kau mendapat pesan ini juga?". Orin menunjukkan sebuah pesan yang membuat dirinya shock.
"Iya begitulah, sepertinya Iblis itu sengaja ingin menyatukan kita untuk satu hal".
"Apa?"
Delph lalu menceritakan kejadian yang dialami oleh dirinya dan Anggi. Kejadian pahit yang meluluhlantahkan perasaan Anggi.
Delph menceritakan semuanya dengan tenang. Sampai kejadian dimana Anggi menyaksikan kedua orang tuanya bercerai.
"laknat!, Aku baru melihat ada orang tua sekeji dan serendah ini. Kalau saja aku punya kekuatan untuk melawannya".
"Sudah, lebih baik sekarang kau pulang dan mulai menata hidupmu kembali, dan satu lagi, biarkan aku mengantarmu pulang.
Delph melihat dengan jelas betapa pucat wajah Orin. Tanpa keberatan, orin menerima tawaran Delph.