
Udara Pagi London sungguh sangat berbeda dengan di Jakarta. Suhu Udara disini mungkin bisa lebih dingin karena dekat sekali dengan kutub Utara. Empat musim yang silih berganti di negeri ini membuat sebuah kenyataan bahwa Orin harus segera menyesuaikan dirinya pada semua musim.Terlebih,kemungkinan ia akan tinggal lebih lama dinegeri ini.
Pesawat milik Maskapai Penerbangan Indonesia telah tiba di Bandara Internasional London. Bandara London termasuk yang paling besar di Inggris. Orin Senang melihat semua orang dibandara ini, karena satu persatu memamerkan kebahagiaan. Tidak seperti dirinya yang harus menjadi boneka kemanapun ia pergi.
Letih selama perjalanan terbangnya, Dirinya mulai tenang dan duduk di Lobby utama Bandara ini.
Dengan sangat terpaksa, ia membuka sebuah ponsel yang harus sering ia bawa mulai hari ini. Karena Ponsel ini akan membawa pesan dari Mr Rudy. Dan tampaknya tidak ada lagi tugas yang diberikan.
Orin mulai bergidik ketakutan ketika mengingat tangannya bersimbah darah saat berada di bandara Soekarno-Hatta. Hal yang paling mengerikan dan dosa besar yang Orin perbuat mungkin tidak akan bisa termaafkan. Terlebih, Ia membunuh orang yang tak bersalah.
Orin terbangun dari lamunannya satelah ada yang menempelkan benda yang sangat dingin ke bagian pipinya. Dan itu adalah softdrink yang diberikan oleh Delph. Seseorang misterius yang ikut dengannya ke London.
"Jadi, kamu mau pergi kemana?, Inggris sangatlah luas".
"Manchester, berkeliling london, menikmati pertandingan sepakbola agar hidupku yang singkat ini tidak membosankan".
"Bagitukah, Berbicara tentang sepakbola, club apa yang kau sukai".
"Tentu saja Manchester United". jawab Orin singkat, tampaknya Delph mulai berusaha mendekati Orin.
"Wah sepertinya kita sama, Manchester United punya pemain yang hebat!".
"Sebenarnya, apa maksud Mr Rudy meninggalkanku begitu saja bersamamu?, Selanjutnya apalagi yang harus saya lakukan". Orin tampak mengganti topik pembahasan, Ia mulai menggertak Delph dengan pertanyaan menohoknya.
Delph bergeming. Mungkin, ia pura-pura tidak mendengarnya.
Dengan baju yang setengah lusuh. Sudah waktunya Orin pergi ke Hotel tempat menginap. Tetapi sedari tadi Delph menyuruhnya untuk tetap di Bandara. Katanya ada seseorang yang akan menjemput mereka berdua.
Sudah hampir satu jam lamanya mereka berdua di Bandara. Orin sudah merasakan mual dan pusing yang tidak tertahankan. Kemungkinan karena efek belum makan saat sampai di bandara.
Orin mengajak Delph untuk makan siang sejenak, dan berhenti di sebuah Cafe Hills Town. Cafe ini sangat elegant dengan konsep cowboy Bar. Tata ruang yang didominasi oleh kayu-kayu, dan penjaga Bar yang mengenakan baju Cowboy era delapan puluhan.
" Pesankan aku sebuah roti keju dan coffe" Delph menyuruh Orin saat sudah duduk di kursi kayu. Beberapa menit kemudian Orin duduk di hadapannya mambawakan dua buah roti dan coffe.
"Apa seleramu sama?".Delph merespon pesanan Orin yang ternyata sama dengannya.
"Aku kelaparan, tidak bisa berfikir jernih. lagian semua makanan sama saja. bisa mengeyangkan sudah bagus buatku".
Delph Tersenyum, Pandangannya terhadap Orin sedikit berbeda dari sebelumnya. Kali ini, Delph lebih santai. Apalagi saat melihat Orin menyantap Rotinya dengan sangat lahap.
"Dan juga bisa bagus juga untuk kerongkonganmu". Lanjut Delph dengan tetap menyunggingkan senyum, beberapa detik kemudian tanggapan Delph ternyata membuat Orin tersedak dan kesulitan bernafas.
"Dasar bodoh, cepat minum air".
"Maaf, aku sungguh kelaparan. Jadi berhentilah mengejekku".Orin tersenyum malu. Entah mengapa dirinya bisa tersedak disaat ada orang asing yang baru ia kenal berada di hadapannya.
Kamu lucu juga Orin, baru kali ini aku menemukan wanita sepertimu di dunia ini.
Orin sepertinya sudah terlepas dari rasa malu dan bergegas menuju toilet, sedangkan Delph masih menunggu di Lobby bandara.
Sementara di sudut lobby ada wajah yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka berdua. Walau dari jauh, wanita itu bisa jelas melihatnya. Jelas wanita ini sedang menyimpan rasa cemburunya dilihat dari tangannya yang mengepal.
Wanita itu tidak lain adalah Anggi. Yang bertugas menjemput Orin dan Delph.
Tubuh yang sangat molek, Sebuah hak tinggi yang membuat dirinya elegan dan juga sebuah kaus putih bermotif polos siap menyambut kedatangan kekasihnya--Delph. Anggi siap menyimpan rasa cemburunya saat bertemu dengan Kekasihnya nanti. Karena pada saat ini, rasa cemburu akan membuat dirinya lemah dihadapan Orin.
"Hai Delph". Anggi menepuk bahu Delph yang tampaknya sedang melamun.
"Anggi, Kau baru datang, sebenarnya dari mana saja kamu?".
"Ayo kita pergi, Sepertinya kamu sudah siap meninggalkan bandara". ketus Anggi lagi.
"Bagimana dengan Orin?".
"Kamu peduli dengannya?".
Delph tampak sedikit kesal dengan ucapan Anggi. Mau tak mau Delph menuruti perintahnya. Anggi dan Delph tidak menghiraukan lagi keberadaan Orin yang ternyata ada di belakang mereka berdua.
Jadi, Delph adalah kekasih Anggi?.
>>>>>>>>>>>>>>
Orin Bisa merasakan menjadi manusia yang bebas setelah hampir seminggu terakhir merasakan penderitaan Dan menjadikannya sebagai buronan. Sekarang waktunya menelusuri Kota London yang menurutnya paling cantik di dunia.
Dimulai dari Jam dinding Bigben beserta udara segar sungai Themes. Ia berjalan kaki dan sejenak duduk di tepi sungai themes yang jernih. Mungkin ada sedikit waktu untuk berselfie. walau hanya sendiri tapi sepertinya ia menikmati hasil Selfienya.
Berlanjut menikmati serunya melihat skate boarding yang berada di Taman Arcbishop, Mungkin ia hanya sedikit tahu tentang Toni Hawk bermain skate board daripada melihat orang asing di depannya bermain skate. Disaat game tahun dua ribuan itu muncul dalam kepalanya, Orin berfantasi sendiri melihat alur gerakan skate yang berputar-putar tanpa terjatuh hingga mendapatkan rating atau score yang besar di akhir waktu game berakhir.
Lama kelamaan Orin merasakan letih Dan pada akhirnya ia beranjak menuju kamar hotelnya. Ia bergegas memanggil taxi lalu bersiap menjemput kopernya yang masih berada di bandara dan berlanjut untuk beristirahat di Hotel Westminster.
>>>>>>>>>>>>>>>
"Kamu tampak sangat keletihan sayang?." Anggi membawa laju mobil sport Lamborghini miliknya tak terbendung kecepatannya di jalanan.
"Begitulah, apalagi ditambah gaya menyetirmu yang tak karuan, bisakah pelan saja?."
"Baiklah, Aku hanya tidak ingin berlama-lama di jalanan. Membuatku muak".
Ini yang membuat Delph tidak menyukai sifat Anggi yang begitu Posesif dan pemarah. Sifat Anggi sama seperti ayahnya Mr Rudy. Itu yang bisa Delph Nilai selama ia mengenali keduanya.
Mobil Lamborghini milik Anggi telah sampai di kota Watford hanya berkisar dua jam saja dari London. Ini merupakan pencapaian luar biasa menurut Delph. Dirinya saja harus mencapai waktu tiga jam untuk sampai.
"Ayahmu ada di rumah?."
Anggi terlihat sibuk menata rambutnya yang tengah kusut.
"Sepertinya ada, Aku tak melihatnya sejak kemarin, mungkin ia sibuk dengan kerjanya. Mana peduli ia denganku?."
"Baiklah, aku akan mengunjungi keluargaku dulu."
Flaunden Hill menjadi tempat kenangan Delph dan keluarganya. Anggi adalah tetangga dekatnya dan jarak rumahnya hanya seratus meter dari rumah Delph. Anggi adalah satu-satunya keturunan Indonesia yang tinggal di sana.
Flaunden Hill juga menjadi rumah kedua bagi Anggi. Biasanya ia hanya tinggal beberapa minggu saja disini, dan lebih betah untuk tinggal di Indonesia. Baginya menyelesaikan sekolah di Indonesia lebih terhormat dari apapun.
Anggi pun tidak punya kolega dan orang yang ia kenal di pemukimannya. Hanya Delph satu-satunya yang ia kenal. Itupun karena Delph orang suruhan ayahnya.
Delph juga berasal dari keluarga menengah kebawah sebelumnya. Ia ditemukan oleh Mr Rudy saat menjumpai Carnaval Hari Ibu. Yang dimana saat itu, Delph masih sangat kecil. Umurnya masih enam tahun.
Mr Rudy terkesan oleh kedewasaan Delph saat itu. Ia sama sekali tidak pernah merasakan kesedihan. Padahal Sang ibu meninggal dunia tepat disaat Carnaval.
Saat itu, Delph berada pada sebuah taman Arcbishop. Ia merenung sendiri dan duduk menepi sambil melihat carnaval itu berlangsung. Dan ternyata Mr Rudy memperhatikan gerak-gerik anak tersebut.
Seorang anak kecil berumur Dua tahun mendekati Delph tanpa pengawasan orang tua. Delph mendekati anak tersebut kemudian mencekik lehernya hingga anak itu menangis dan kesulitan bernafas, beruntung ada orang lain yang melihat kejadian tersebut dan segera menyelamatkan anak kecil yang bisa saja akan mati dicekik oleh Delph.
Mr Rudy tetap memperhatikan semuanya. Hingga Delph ditangkap oleh seorang polisi dan masuk ke penjara. Mr Rudy semakin senang dengan anak itu. Baginya, Ia membutuhkan seorang penjahat yang bengis dan tidak takut apapun.
Mr Rudy akhirnya melakukan kontak langsung dengan Delph di sebuah Penjara Hometown. Saat masuk penjara tersebut, Mr Rudy berniat untuk membebaskan Delph dari semua kejahatannya. Dan membayar denda sebesar lima ratus ribu Pound. Tentu akan menjadi sangat mudah bagi konglomerat seperti Mr Rudy.