MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
19.Rencana Anggi



Di pesawat, Anggi masih saja membaca gerak-gerik ayahnya. Mr Rudy duduk di bagian depan berjarak lima kursi saja dari Anggi yang berada di belakangnya. Hingga terlihat hanya bagian kepala Mr Rudy yang terlihat oleh Anggi.


Anggi merasa sangat ketakutan saat ayahnya berdiri, kemudian berjalan ke arahnya. Sepertinya Mr Rudy ingin ke kamar kecil. Anggi buru-buru menutup wajahnya dengan kain.


Tampak senyum tersungging dari wajah Mr Rudy setelah melirik anaknya yang tertutup kain.


Mr Rudy sudah tahu.


***


Domodedovo, merupakan bandara terbesar di Moscwa. Terletak di Distrik Domodedovsky, Oblast Moskva, Rusia, berjarak 42 kilometer dari pusat kota Moskwa.


Bandara ini yang selalu dirindukan oleh Mr Rudy karena merupakan sejarah di mana ia bertemu penemu-penemu penting tentang microchip.


Perusahaan misterius milik Mr Rudy juga berada di sini, selain di Indonesia. Moskwa menjadi tempat yang paling aman untuk menyimpan senjata pemusnah itu. Terlebih, ia bisa dengan leluasa mendapatkan setidaknya beberapa pasukan di sini.


Hal yang kedua tentu ingin mencari keberadaan mantan istrinya dan Mr Roen. Inilah target utamanya. Membunuh Mr Roen kemudian membujuk mantan istrinya untuk berada di pelukannya lagi.


***


Mr Gregorovsky sudah berada di mobil Jaguar berwarna merah terparkir tepat di pintu lobi. Mr Gregor terlihat menawan memakai kacamata hitam dengan setelan jas hitam.


Tak lama Mr Rudy datang, kemudian melambaikan tangan. Pelukan hangat mendarat di antara mereka.


"Lama tidak berjumpa, Mr Rudy." Mr Gregor menyeringai, kemudian membantu Mr Rudy menaruh koper ke dalam bagasi.


"Aku selalu merindukan tempat ini, Gregor. Rusia selalu jadi tempat di mana diriku lahir. Lahir sebagai Iblis tentunya."


Tawa membahana tercipta di antara mereka berdua. Tak lama mobil Jaguar itu melaju cepat menyusuri Distrik Domodedovsky menuju Distrik Podolsk tepat di bagian selatan kota Moskwa.


Anggi melihat semuanya. Kemudian lagi-lagi mencatat ke mana dirinya akan pergi. Sebuah Aplikasi GPS ia nyalakan. Merasa bersyukur karena masih bisa melihat titik kordinat itu berjalan. Ia masih bisa mengikuti ayahnya.


***


Pukul 08.00 waktu Rusia.


Ayahku meninggalkan bandara Domodedovo dengan seorang misterius yang kudengar bernama Gregor. Aku akan mengikuti jejaknya melalui GPS.


Anggi.


***


(Aku sudah sampai di Rusia. Cepat sampai dan tolong aku!)


Anggi juga tak mau berlama di bandara. Mulai memanggil taksi dan menyusuri jalan mengikuti ayahnya.


(Baiklah, aku akan berangkat malam ini.)


Delph membalas, kemudian tak lupa ia mengabari Orin. Terlihat komunikasi dan kerjasama yang baik sampai saat ini.


Moskwa adalah ibukota Negara Rusia sekaligus pusat politik, ekonomi, budaya, dan juga sains utama di negara tersebut.


Moskwa juga termasuk kota dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Hampir 15 juta penduduk tinggal di sana. Di tambah jaringan transportasi yang juga tersebar di seluruh daerah kecil. Tercatat terdapat sembilan stasium kereta api bawah tanah begitu pula empat bandar udara internasional. Menjadikan kota ini sangat penting bagi pemerintahan Rusia.


***


Hanya membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk sampai ke Distrik Podolsk. Sekitar lima belas menit lagi Mr Rudy akan sampai di kediamannya.


"Tolong tangkap kurcaci kecil yang mengikuti kita, Gregor."


Terlihat Mr Rudy menggenggam ponsel. Diam-diam juga mengikuti gerak-gerik Anggi.


"Baik, tuanku. Akan aku kirimkan seseorang untuk menangkapnya."


Mr Rudy selalu tahu dan seakan tak bisa dikalahkan dengan mudah. Alih-alih ingin dengan cepat bertemu dengan sang Ayah. Anggi justri dikejutkan saat mobil taksi yang ditumpanginya diberhentikan oleh sebuah mobil pikap berwarna hitam.


Dua orang kawanan penjahat keluar dari mobilnya kemudian memecahkan kaca depan mobil dengan cahaya laser. Anehnya, cahaya tersebut bisa tembus dan memecahkan kaca dengan mudah.


***


Tolong aku!


Aku diculik. Entah siapa dua orang misterius ini. Ia sangat menyeramkan. Delph, tolong aku!


Anggi


***


Anggi tak berdaya saat mulutnya di bekap oleh salah satu penjahat itu. Sementara penjahat yang lain berusaha menahan kedua tangan Anggi.


Detik berikutnya Anggi tak sadarkan diri. Badannya dibopong oleh kedua penjahat tersebut dan masuk ke dalam mobil pikap.


Drama penculikan ini tetap berjalan. Anggi pintar. sebelum sang penjahat menangkapnya, ia sempat menaruh ponsel dan buku kecilnya masuk ke dalam saku celana yang sudah tertutup rapat dengan resleting terkunci.


***


Delph terlihat gusar setelah tahu titik kordinat Anggi berubah menjadi warna merah. Itu artinya, Anggi dalam bahaya. Ia mengubah jadwal keberangkatan menuju Moskwa lebih cepat. Beruntung ada jadwal keberangkatan yang pas.


Delph mengganti jadwal keberangkatannya satu jam dari sekarang.


(Kita harus berangkat sekarang.)


Delph berusaha meminta bantuan lebih cepat.


(Apa tidak terlalu cepat)


(Anggi dalam bahaya)


Beruntung Erest dan Mr Chandra sudah sigap dengan semua situasi ini.


"Tak perlu khawatir. Kami berdua sudah mempersiapkan dengan matang. Aku sudah tahu perihal itu dari awal. Anggi--seorang yang kau ceritakan kemarin pasti akan tertangkap," terang Erest yang berusaha menenangkan teman-temannya. "Sekarang juga kita akan berangkat."


Delph dan keempat detektif itu pada akhirnya bertemu di Bandara Internasional London. Mereka tidak membahas perihal kejadian beberapa hari lalu. Yang mereka fokuskan pada kali ini adalah bagaimana menangkap buronan iblis itu.


Tepat pukul 08.00, mereka terbang ke Rusia. Membawa serta perlengkapan perang mereka yang berada di dalam koper. Ini akan menjadi perang teknologi dan juga kekuatan fisik.


***


Anggi mulai tersadar dari pingsannya setelah melihat cahaya yang bersinar terang. Anehnya, tangan dan kakinya tidak terikat sama sekali. Tubuhnya masih tergeletak di atas pembaringan. Sekali ia memicingkan matanya ke sisi kanan ruangan itu. Ia melihat sosok yang sangat ia kenali. Yang tak lain adalah ayahnya.


"Wahai putriku, kau sudah siuman rupanya. Aku terkejut kau menyusulku ke sini."


Mr Rudy tertawa terbahak-bahak. Memamerkan semua giginya kepada Anggi. Beberapa detik setelahnya Mr Rudy mendekati Anggi dan menjambak rambut lurusnya.


Anggi tetap bergeming. Ia tak lagi melihat sosok ayah, melainkan sosok iblis yang sudah tidak punya peri kemanusiaan.


" Menurutmu, rencanamu akan berhasil?!"


Refleks Anggi menjerit saat rambut lurusnya dijambak dengan sangat kasar.


"Lihat peralatan yang berada di sana. Apa kau mengenalnya?"


Mr Rudy memamerkan semua peralatan operasinya kepada Anggi. Terlihat bergidik setelah melihat beberapa foto terpajang di dinding yang tak lain adalah korban penganiayaan paksa yang dilakukan oleh Mr Rudy.


"Itulah yang aku inginkan ayah, mari kita selesaikan ini semua. Aku datang untuk menjadi prajurit setiamu. Itulah mengapa aku membawa ragaku untuk menjadi pengabdimu. Tambatkan microchip itu secepatnya."


Anggi sengaja berbohong, karena inilah alasan yang sangat tepat demi memuluskan semua rencananya.


"Dengan senang hati, sayang. Mari kita mulai semua ini."


Kebiadaban lagi-lagi diperlihatkan. Kini Anggi hanya bisa pasrah.