
Sean merasa bingung saat sudah sampai di Bandara London. Ia tak mengenal siapapun disini selain tugasnya mencari Orin. Suatu hal yang niscaya ia temukan. Terlepas dari kopernya yang tertinggal di Bandara Soekarno-Hatta, Sean yakin Dengan tabungannya yang Ia punya saat ini, ia bisa bertahan Hidup di London.
Udara malam di London mulai merasa penat dan sibuk. Sama seperti kota besar di dunia. London mengalami juga adanya Traffic Jam. Terlebih, kota ini merupakan pusat Central bisnis yang dua puluh empat jam sehari tidak pernah ada jalan yang sepi.
Sean mendatangi petugas Bandara dan mencari informasi tentang kedatangan pesawat. Ada kabar baik disaat Sean tahu bahwa ada Pesawat lain dari Indonesia yang Datang lebih awal dari dirinya.
Malangnya, Ponsel Sean ikut tertinggal juga bersamaan dengan kopernya. Harapan terakhirnya saat ini adalah mencari tahu data penumpang yang berada di Pesawat pertama tersebut.
Betapa leganya Sean saat akhirnya ia tahu ada nama Orin di Pesawat yang datang pertama. Dengan penampilan apa adanya, Sean mencoba untuk memutari Kota london. Walau terkadang mustahil bisa menemukan Orin tanpa adanya bantuan orang lain maupun Ponselnya.
Sampai di ujung Lobby Bandara, Sean tampaknya kenal dengan seseorang yang telah menunggunya di Pintu.
Mr Chandra dan sebuah koper yang sepertinya Sean kenali.
"Tampaknya ada yang meninggalkan barang berharga di Indonesia, menurutmu kau bisa bertahan tanpa barang-barang ini di negeri orang?."
Seperti tertangkap basah, Sean menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang sejenak. Barulah beberapa detik kemudian Sean berani menghadapi Mr Chandra.
"Mengapa kau mengikutiku Tuan Chandra?".
"Hmm..Aku hanya mencari pelaku sebenarnya, tidak lebih. Ini kukembalikan kopermu, lain kali kau tidak usah terburu-buru. Untung saja aku bisa menemukan Koper ini. Lihat Ini.." Mr Chandra menunjukkan sesuatu berupa sebuah Template besar terpampang nama Sean Adirama tepat di tengah-tengah badan koper.
"Baguslah, Ayo cepat bertindak Tuan". Sean mengambil sebuah ponsel yang terletak di dalam koper. Bukan kebetulan, Sean Sengaja menaruh ponselnya di dalam Koper karena alasan keamanan. Ibunya pernah berkata kalau sesuatu yang berharga akan aman apabila berada di dalam tas.
Sean mencoba menghubungi Orin.
Tapi Nomornya salah.
Dan pasti ada yang salah. Berkali-kali Sean menghubungi Orin tetapi panggilan tidak terjawab. Baru kali ini selama bersama Orin, Sean merasakan adanya perubahan sikap. Orin menjadi terlalu dingin.
"Sepertinya Orin mengganti nomor ponselnya" ketus Sean, Sepertinya ia merasa sia-sia berada disini. Mencari seseorang yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat memang menyulitkan.
"Kau yakin, Ia berada di London?".
"Aku yakin, dan sudah mencari namanya di Daftar nama penumpang. Dan aku benar-benar tahu namanya. Cihh..kau membuatku pusing Orin!".
Mr Chandra mencoba merangkul bahu Sean. Membuatnya rileks.
"Sudahlah, santai saja. Kau tidak akan pernah bisa mencarinya apabila pikiranmu tertekan. Ikuti aku saja, aku akan membawamu ke suatu tempat yang bisa membuatmu Rileks".
Mr Chandra benar. Takkan mudah mencari seseorang apabila dalam perasaan kita dirundungi rasa cemas. Dengan berat hati. Sean mulai mengikuti Mr Chandra yang tampaknya sudah sangat mengenal negeri ini.
Sean dibuat Tak Berdaya saat melihat budaya malam London. Kota ini benar-benar gemerlapan. Gedung tinggi menjulang ditemani layar LED yang menampilkan semua iklan dan berjejer di sepanjang jalan. Seakan menampilkan Kota yang sangat maju di dunia.
Taxi berhenti di sebuah pemukiman di Hartington. Berada di bagian barat kota London. Mr Chandra mempunyai kenalan detektif disini. Rupanya, Ia benar-benar mengejar semua pelaku pembunuhan hingga sampai merelakan dirinya berada di negeri ini.
"Hanya orang bodoh yang mau mengikuti perintahku". Mr Chandra bergurau sambil menepuk bahu Sean.
" Shit!".
Mr Chandra menekan bell pintu. Dan beberapa menit kemudian pintu pagar terbuka. Seakan seperti rumahnya sendiri, Mr Chandra melewati koridor dengan sangat antusias, lalu si empunya rumah juga antusias menemui Mr Chandra. Mereka berdua akhirnya berpelukan.
"Sudah lama tidak bertemu Chandra, dan hei!, kenapa kamu kesini tidak memberi kabar terlebih dahulu?".
"Hei, ayolah, bukankan aku memang seperti hantu yang tak pernah diundang?. Mr Chandra dan seorang temannya tertawa sampai seisi ruangan terdengar.
Selesai melepas rindu, reflek seorang teman Mr Chandra menoleh ke arah Sean.
" Kau membawa teman rupanya, siapa namamu?".
"Sean". Jawaban singkat Sean masih mengartikan kekesalannya pada Mr Chandra.
"Perkenalkan namaku Erest, dan tidak memakai Mister, Karena aku benci menjadi tua". Lagi-lagi Erest membuat Mr Chandra mengeluarkan tawanya.
"Sepertinya di Hartington aku menemukan orang gila, dan harusnya aku tangkap sebelum ia bertambah gila".
"Kau yang mengajariku untuk menjadi gila Chandra!, Baiklah aku bersiap membuat minuman dulu, Bersantailah dimanapun itu. Tapi tidak untuk di Toilet". Erest meneruskan candanya.
Erest Dan Chandra adalah teman lama dan seperjuangan. Sama-Sama menjabat sebagai ketua Intelijen Luar Negeri. Erest menjadi ketua di Wilayah London Barat sedangkan Chandra menjadi ketua di Jakarta. Mereka berdua belajar di Universitas Massachusets di America dan Lulus Strata tiga disana. Kemudian setelah itu mereka berpencar ke tempat habitatnya masing-masing dengan menaruh janji akan sama-sama berprofesi sebagai Detektif. Dan semua berhasil mereka lakukan.
"Bolehkah Aku dan Sean menginap di rumahmu Erest?".
"Dengan senang hati Tuanku, Oh iya aku belum tahu maksud kedatanganmu kesini tuan?. Boleh diceritakan?,Sepertinya ada hal penting Hingga kau harus jauh-jauh datang kesini". Sanggah Erest sambil menaruh dua camgkir kopi di meja.
Mr Chandra merogoh sesuatu yang ada di balik jaketnya, Sebuah Foto pembunuhan sadis di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kemarin. Dan memberikannya ke Erest.
Erest melihat semua foto yang Mr Chandra bawa. Dan Tampak tidak asing baginya.
" Kejadian ini. Hampir sama pada kejadian yang berada di Bandara Manchester dan Singapura beberapa waktu yang lalu. Sama- sama terbunuh di dalam toilet dengan Kepala.yang sudah terputus dari badannya".
"Menurutmu pelakunya sama?".
"Begitulah, Aku sudah memeriksa semua barang bukti untuk membunuh korban. Ada beberapa sidik jari yang berbeda".
" Itu berarti ada banyak pelaku".
"Begitulah, Aku akan memberimu beberapa dokumen yang mungkin bisa kau pelajari esok, untuk saat ini beristirahatlah.
Di sebuah sofa yang panjang. Sean tampaknya sudah tertidur lelap. Dan mulai bersiap mengisi tenaga untuk pencarian Orin esok hari. Begitu pula Mr Chandra, Ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk mencari siapa pembunuhnya,Walau ada banyak pengorbanan yang akan terjadi selanjutnya.