MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
25. Penyesalan Kecil



Tidak ada alasan lagi bagi Mr Chandra, Sean, dan Orin untuk bertahan. Semua akan terlampau sia-sia jika mereka masih tetap berada di sini.


Waktu terasa semakin cepat berlalu. Tibalah dua orang yang dulu saling membenci yakni Orin dan Anggi saling berjabat tangan dalam balutan sedih dan pilu.


Orin bisa merasakan sakit itu. sakit melihat sesosok wanita yang harus berjuang untuk menyadarkan ayahnya. Harus bertahan menghadapi hidup yang semakin rumit.


Orin yakin, Mr Rudy tak akan pernah berubah sampai kapan pun. Malah akan semakin buas dan membabi buta. Sekarang, hanya mundur dan menyerah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Namun tidak bagi Delph dan Anggi.


"Kau yakin masih tetap bertahan, Anggi?" tanya Orin, seraya memeluk dan menepuk pundak Anggi.


"Aku masih ingin berjuang menyembuhkan ayah. walau harus mengorbankan diriku sendiri. Tidak ada cara lain untuk menghentikannya selain menjadikan aku bonekanya."


Orin tak kuasa menahan bulir tangis yang keluar. Begitu pula Anggi. Mereka berdua menyesal tidak sedekat ini dari dulu. Ilmu pengetahuan membuat mereka menjadi seperti ini.


"Jaga dirimu baik-baik, Anggi. Aku akan menunggumu di London." Orin tampak menyeka tangisan Anggi kemudian menepuk bahunya. Seakan seperti sahabat yang hanya dipertemukan sebentar.


"Mudah-mudahan aku sanggup kembali. Jika tidak, maka maafkan aku. Aku berjanji untuk menjadi sahabat terbaikmu. Jika aku berhasil pulang ke London."


Terakhir mereka berdua berjabat tangan disertai sunggingan senyum. Tidak ada yang bisa menghalangi persahabatan itu.


Anggi terlihat mengeluarkan benda berbentuk bintang yang akan menjadi kunci terakhir mengalahkan sang ayah.


"Untukmu Mr Chandra, inilah kunci kamar dan juga semua catatanku. Di sana terdapat semua bukti dan juga senjata rahasia yang mampu menghentikan laju ayah. Aku harap kalian bisa memecahkan ini. Sebelum semuanya terlambat."


Anggi memberikan semua dokumen penting menyangkut ayahnya. Yang ia simpan dengan rapih sebelum semuanya terlambat.


Beruntung sebelum ruang penelitan itu terbakar, Anggi sempat untuk menyembunyikan semua dokumen ini. Kalau tidak semuanya akan sia-sia.


***


London Airways sudah menunggu Orin, Sean, dan Mr Chandra untuk kembali ke London. Bandara Domodedovsky akan menjadi sejarah yang tak akan pernah mereka lupakan. Terlepas dari kehilangan Erest di benak mereka.


Kini hanya tinggal Delph dan Anggi yang akan menghadapi Mr Rudy. Microchip di dalam tubuhnya jadi saksi bahwa diri mereka bisa melawan Iblis itu. Mereka akan menjadikan microchip ini bumerang yang akan mencelakai Mr Rudy.


Sepasang kekasih itu akhirnya bisa merasakan menjadi pasangan yang sangat romantis. Dilihat dari waktu yang mereka habiskan bersama.


Dimulai dari indahnya 'Krasnaya Ploshchad' salah satu tempat rekreasi di pusat Kota Moskwa. Objek wisata bernuansa legenda ini menyuguhkan bangunan-bagunan tua dari negeri dongeng. Membuat mereka terhanyut akan suasana itu.


Merasa bosan akan wahana Krasnaya Ploshchad. Mereka mencari tempat romantis yang lain dan berhenti di Kafe Pushkin. Kafe terbaik di Kota Moskwa ini menjadi salah satu tempat romantis yang pernah ada. Hal itu dikarenakan Kafe Pushkin menyuguhkan suasana abad kerajaan Rusia. Di mana arsitektur bangunan ini mirip dengan suasana kerajaan abad ke-17.


"Kau suka tempat ini, Sayang?" Delph mencoba menahan rasa gugupnya sepanjang yang ia bisa.


"Tempat ini begitu romantis. Aku suka. Bahkan aku akan menjadi hari-hariku penuh warna di sini."


"Dengan senang hati, aku akan menemanimu, sayang."


Kecupam hangat mendarat di kening Anggi. Mereka berdua sudah dimabuk asmara. Mereka seakan melupakan micro chip yang tersemat di tubuh mereka.


***


Mr Rudy tampak gemas dengan perilaku anaknya yang sudah lancang. Ia tak suka Anggi mendekati Delph. Bisa saja Mr Rudy menghancurkan mereka sekarang. Ia tampak gatal dengan tombol 'Hancur' pada Remote Humanitynya. Serasa ingin menghancurkannya saat ini juga.


Secara tak sadar, Mr Rudy meluapkan amarahnya pada monitor yang dilihatnya. Baru kali ini Mr Rudy merasakan kekesalan yang begitu mendalam semenjak ditinggal istrinya. Ia tak mau Anggi menjadi pembangkang. Maka itu akan menjadikan Mr Rudy rapuh.


Terlepas dari apa yang dilihatnya, Zein tampak menghampiri Mr Rudy. Kemudian mengutarakan rencana selanjutnya.


"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Mr Rudy?" tanya Zein sembari membersihkan kaca kaca monitor yang berserakan di lantai.


"Aku akan menyerahkan kedua kurcaci itu padamu, aku akan menyaksikan kehancuran mereka berdua dengan tanganmu." Mr Rudy terlihat lebih murung. Terlepas dari semua peristiwa yang dialami oleh dirinya. Membunuh semua keluarganya ternyata tak membuat dirinya puas.


Zein berlalu begitu saja meninggalkan Mr Rudy yang terlihat mengunci diri di kamar.


Ruang penelitian Podolsk menjadi salah satu kenangan yang amat mengesankan atas arti perjuangannya selama ini. Hancur berkeping-keping dan menjadi kenangan yang merusak semua pikirannya sekarang.


Entah ini perasaan menyesal atau tidak. Mr Rudy kembali mengingat jasad kedua orang tuanya dan juga Erest.


Semua datang dengan tiba-tiba. Akan tetapi Mr Rudy tidak mampu menggerakkan hatinya lebih jauh. Dilihat dari wajahnya yang tampak mengguratkan rasa bersalahnya.


Hanya rasa dendam yang terus mengisi pikirannya sampai saat ini. Kalau saja ia mau memaafkan apa yang dilakukan Ibunya dahulu. Maka bisa dipastikan semua ini tidak akan terjadi.


Mr Rudy diam-diam masih menyimpan foto keluarganya sewaktu kecil. Membayangkan jika ia kembali pada masa kecil itu. Ia mungkin akan belajar lebih tekun tanpa harus menaruh dendam dan sakit hati seperti ini.


Ia menyeka sendiri air mata yang mulai berlinang. Pertanda bahwa ia merasa bersalah atas apa yang pernah dilakukannya.


Mr Rudy tak tahu harus berbuat apa. Tak mungkin ia bisa membawa orang tuanya begitu pula Erest untuk kembali hidup.


Terlihat saat ini Mr Rudy menjadi pengecut. Apakah dia akan menyerah? Apakah dia harus kembali menjadi manusia biasa yang hidup normal tanpa harus menyakiti lagi?


Terlebih, semua impiannya kini tercapai dengan mudah. Ia berhasil membuat dunia ini takut akan dirinya. Membunuh hampir puluhan orang bukan perkara yang mudah. Ia seakan menjadi ******* paling biadab yang pernah ada.


***


Zein tanpa sadar merekam semua titik koordinat Delph dan Anggi yang bermalam di Hotel Otskotsky. Ia tampak senang dengan keputusannya sendiri. Menjadi bengia seperti Mr Rudy adalah salah satu impiannya.


Terlebih, kehidupan lampau yang membuat dirinya menjadi seperti ini. Zein kecil adalah seorang lelaki yang sudah ditinggal orang tua. Ia yatim piatu semenjak kecil. Kesepian dan keputus-asaan menyebabkan dirinya menjadi seperti ini.


Zein mulai direkrut oleh Mr Rudy di saat ia tumbuh dengan perilaku aneh. Zein tak segan-segan mencakar semua orang yang mendekatinya. Melukai seseorang tanpa ragu adalah kegemarannya sewaktu berada di Rumah Yatim.


Seperti biasa, Mr Rudy selalu menyukai anak-anak dengan keterbelakangan mental seperti ini. Sama seperti Delph. Mr Rudy mengimingi Zein untuk bekerja sama dengannya dan akan lebih baik jika melukai seseorang itu akan menjadi kebiasaannya.


Zein tampak menikmati peran yang diberikan Mr Rudy. Menjadi penghancur dan perusak. Itulah salah satu kegemaran Zein, yang kemungkinan akan menjadi mesin pembunuh paling mengerikan suatu saat nanti.