MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
3.Microchip di tubuh Orin



London International Airport


Seorang Misterius bernama Delph sampai di bandara London. Bersamaan dengan rekannya yang misterius yang ternyata adalah Orin. Dengan tangan dan tubuh yang gemetaran, Orin berjalan dengan gontai menelusuri koridor bandara, sesekali ia memegang kepalanya yang mulai terasa pusing.


Delph sang orang asing yang tak pernah Orin lihat sebelumnya, masih berkutat dengan ponselnya. Ia tampak sangat senang bisa kembali ke negara asalnya. Tubuhnya yang tinggi semampai, berkulit putih dan sekaligus tampan mungkin jadi idola wanita-wanita. Tapi tidak bagi Orin.


Rasa sakit pada kepala Orin mulai tidak tertahankan. Mungkin akibat adanya micro chip yang ada di tubuhnya ini. Ada iblis kecil yang masuk ke dalam tubuh Orin. Ada seseorang dibalik ini semua yang ingin menghabisi nyawa Orin. Seseorang dengan nama besar.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>


*micro chip 1 minggu yang lalu.


*Suasana gelap di jakarta sangat mencekam waktu itu. Orin berjalan sendirian dan tampaknya ia diikuti oleh seseorang dari belakang. semakin lama gerakan kaki Orin semakin cepat. Kurang lebih lima ratus meter lagi ia sampai di rumahnya. Dan ia harus segera sampai dirumah.


Dengan memasang keberanian, Orin membalikan badannya. Ia melihat ada seseorang laki-laki tinggi bertubuh kurus setengah berlari menghampirinya. Dan yang membuatnya ketakutan. Lelaki itu menggenggam sebilah pisau di tangannya. Disaat yang bersamaan Orin merasakan ada hantaman yang berasal dari seseorang yang ternyata ada di depannya. Hantaman tersebut membuat Orin Pingsan.


Sorang wanita bertubuh ramping dan mengenakan blouse berwarna coklat seketika tertawa terbahak-bahak melihat Orin terjatuh.


"Semua dendam sudah terbalaskan".


Seorang pria yang mengikuti jejak Orin dari belakang mengampiri gadis misterius itu.


"Anggi, jangan ikut campur dengan urusan kami. Pulanglah, biar kami yang urus".


Seorang wanita misterius tersebut ternyata adalah Anggi. Ia membalaskan dendamnya karena peristiwa Di Wisudanya pada siang hari tadi. Diam-diam Anggi mengikuti Orin sampai ke rumahnya dan setelah itu kejadian malam ini tidak bisa terelakkan lagi.


Lelaki misterius membawa tubuh Orin ke dalam mobil Pick Up berwarna hitam. Dan dengan kecepatan maksimal, Mobil tersebut menghilang dari pandangan Anggi dan membawanya ke suatu tempat**.


**Orin terbangun dari pingsannya oleh percikan air. Ia terbangun dengan kaki dan tangan sudah terikat tali dan posisi sudah tidur terlentang. Kaki dan tangannya terikat lurus mengikuti sudut tempat tidur. Suasananya seperti di dalam ruang operasi. Disaat terbangun, Orin berusaha sekuat tenaga melepas ikatan tali. Tapi tetap tidak kuat.


Seseorang dengan baju operasi yang dikenakannya tiba-tiba mendatangi Orin. Orin terperanjat ketakutan dan semakin keras untuk berusaha membuka ikatan talinya. Terlebih Seorang misterius tersebut memegang sebuah alat suntik di tangan kanannya.


"Tolong!..Tolong!".


"Berteriaklah!. Sampai seluruh dunia mendengarmu!".


"Siapa kamu!..lepaskan ikatan ini!".


"hahaha..Tenang sayang sebentar lagi kamu akan jadi prajuritku. Dan kamu akan terbebas dari sini. Jadi tunggu dan menurutlah".


"Apa maksudmu!".


(cess).


Sebuah jarum suntik berisikan obat bius didalamnya menusuk bahu Orin. Seketika Orin pingsan kembali*.


Di sebuah meja operasi, Bagian Perut Orin di belah menggunakan pisau bedah. Seorang misterius tadi menancapkan sesuatu ke dalam perut Orin, seperti onggokan daging berwarna merah lalu kemudian dijahit kembali di sisi dalam permukaan perut. Kemudian setelah beberapa menit berlalu orang misterius tersebut kembali menjahit sisi luar perut Orin.


Onggokan daging tersebut ternyata mempunyai sebuah micro chip didalamnya. Micro chip tersebut berfungsi untuk mendeteksi keadaan dan letak si empunya tubuh melalui alat yang bernama remote humanity. Remote humanity akan mengatur semua gerak-gerik si empunya termasuk menghancurkan micro chip tersebut. Itu artinya, Tubuh Orin bisa saja hancur berkeping-keping disaat ada seseorang memencet tombol (Hancur) di bagian remote.


Ada seseorang yang ingin menggunakan tubuh dan jiwa Orin sebagai boneka. Tentunya untuk mendapatkan hal yang diinginkan. ******* paling sadis yang akan dicari semua detektif di seluruh dunia.


Orin perlahan membuka matanya, ada rasa ngilu dan sakit di bagian ulu hatinya dan juga di bagian perutnya. Tangan dan kakinya sudah bebas untuk bergerak, dan tampaknya penjahat tersebut sudah melepaskan ikatan talinya.


Seolah tak percaya dengan rasa sakit yang dideritanya, Orin memberanikan diri untuk menyentuh bagian perut yang seperti habis dijahit. Perasaan takut dan bimbang mulai menggerogoti pikirannya. Belum lagi, tempat dimana ia terbaring sekarang mengisyaratkan sesuatu yang mengerikan.


Hening. Hanya ada tatapan kosong yang bisa Orin lakukan. sunggingan senyum dan berganti tawa sang penjahat membahana seisi ruangan. Sang penjahat kemudian mendekati Orin dan membisikkan sesuatu ke telinga Orin mengenai fakta benda yang berada di balik perutnya.


Orin tersentak kaget dan berusaha mendorong sang penjahat hingga sang penjahat terpental mengenai dinding ruangan. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia takut bercampur sedih dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Dasar Iblis!, Pergilah ke neraka!". Orin menghentak dan melempar sebuah bantal ke arah sang penjahat.


"Perkenalkan nama Iblis ini sayang..Namaku Rudi kau bisa panggil aku Mr Rudi, sekali lagi selamat sudah menjadi prajuritku mulai saat ini. kemudian jangan pernah anggap sepele perintahku!".


"Bunuh saja aku sekarang!".


"Haha..Aku tak ingin membunuhmu saat ini, bukankah kau akan berlibur ke London?, bersama sahabatmu Sean?, maka akan kubiarkan kau bersenang-senang terlebih dahulu".


"Cih begaimana dia bisa tahu?".


"Tolong, Jangan pernah ganggu sean!".


"Wow romantis sekali sayang..memang apa artinya sean untukmu?, Apakah Sean adalah Pacarmu?..Atau jangan-jangan..Tunanganmu?".


"Aku akan menuruti semua perintahmu, tapi tolong jangan ganggu sean!".


Mr Rudi menepuk tangannya dengan sangat riuh hingga seisi ruangan hanya terdengar suara tepukan.


"Kalau aku jadi sean, maka kamu akan kunikahkan hari ini juga, sungguh membuat saya terharu".


"Aku serius, jangan sentuh Sean!".


Mr Rudi menghembuskan nafas dengan terpaksa, ia meninggalkan ruangan tanpa berkata-kata lagi.


Dalam ruangan yang hampa tersebut, Orin menangis sejadi-jadinya. Akankah ia bisa mengulang kembali hari-hari sebelumnya hingga tak ada lagi kejadian seperti ini.


Bagaimanapun juga, sean jangan sampai tahu tentang hal ini.


Orin diperbolehkan untuk pulang saat itu juga. sebuah ruangan kosong penuh dengan peralatan operasi akan dikenang sepanjang hidupnya. Saat ini hidupnya mungkin akan bergantung pada Iblis sialan itu. Orin harus selalu menuruti perintahnya. Sekalipun itu membunuh Sean?.


Oh tidak, Aku tidak mungkin sanggup untuk menuruti perintah itu.


Disaat Orin meninggalkan ruangan, saat pintu terbuka, ia dibuat kaget karena melihat sesuatu tergeletak dihadapan kedua kakinya.


Sebuah Kardus kecil bergambar sebuah ponsel dan di sisi kardus tersebut terdapat potongan kertas lalu ada sebuah tulisan.


"Sekarang kau harus menggunakan ponsel ini. Kalau masih ingin tetap hidup".


Orin membuka is kardus tersebut, dan ternyata memang sebuah ponsel. Ia menyalakan ponsel tersebut selanjutnya disaat layar monitor ponsel menyala. Sebuah pesan singkat muncul


Dengan tangan gemetar dan kondisi fisik yang belum sehat. Orin memberanikan diri untuk membacanya.


*Tugas pertama.


Tolong habiskan seseorang di Bandara Soekarno Hatta pada saat keberangkatan.


Semoga beruntung**!.