MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
7. Pertandingan Sepak Bola



Orin berada di tempat ternyaman dalam hidupnya setelah menginap di hotel berbintang lima. Hotel Westminster. Pagi ini Orin berencana untuk mengelilingi kota Manchester dan berniat untuk membeli tiket sepak bola. Hari ini ada jadwal tanding Manchester United yang akan menghadapi kota serivalnya Manchester City dalam lanjutan Liga Premier Inggris.


Sayangnya Ia hanya menonton sendirian. Tapi ia yakin Sean akan menyusulnya ke Manchester. Karena Sean Tahu benar bahwa Orin Mencintai kota Manchester dan bermimpi melihat langsung club kesayangannya bertanding di stadion.


*Aku yakin Sean akan mencariku di Manchester.


Tiket itu...Pasti Sean melihatnya dan berupaya mencariku.


Aku menunggumu Sean*.


Seragam Club Manchester united sudah Orin kenakan bersamaan dengan Shallnya yang ia tambatkan di leher. Tidak seperti wanita lainnya, Orin memakai make up seadanya, rambut panjangnya ia biarkan tergerai lurus dan memakai celana jeans pensil. Itu sudah cukup untuk membawanya berteriak-Teriak mendukung tim kesayangannya.


Ia harus bergerak cepat karena Timnya akan bertanding pada pukul dua siang. Sekarang pukul sembilan pagi. Jarak dari London ke Manchester sekitar dua ratus mil. Dan kira-kira akan sampai dalam empat jam.


Orin akhirnya mendapatkan Taxi Online Tepat saat ia sudah mengemasi barang-barangnya di tas. Ia berdoa sejenak agar Timnya menang hari ini. Dan dirinya bisa sampai tepat waktu.


Jalanan tampak lenggang karena hari ini tepat di hari minggu. Dan waktu yang tepat untuk berlibur bersama. Para Remaja lelaki di Negeri ini biasanya juga sudah siap untuk berlibur melihat Club Sepakbola mereka masing-masing. Berapapun jauh milnya pasti mereka akan datang. Karena Atmosfer sepakbola di Inggris adalah yang terbaik di dunia.


>>>>>>>>>>>>>


Sean juga merasakan getaran itu. Getaran hati yang mencari dimana pasangannya berada. Dimana hari ini tepat di hari minggu ia mulai mencari jadwal club sepakbola Inggris bertanding. Ia mempunyai Feeling kalau Orin akan berada di Manchester hari ini. Karena tepat jam dua siang, Manchester United akan bertanding melawan Manchester City.


"Mr Chandra dan Erest sepertinya masih tertidur. Waktunya untuk berangkat".


Sean berangkat memakai pakaian seadanya. Ia tak mungkin meminjam pakaian bola milik Erest disaat genting seperti ini. Yang terpenting ia bisa cepat bertemu Orin.


* Getaran Hati Dua Tahun Yang Lalu*


Sean takkan lupa hari itu. Hari dimana ia berani untuk ungkapkan rasa sayang. Hari dimana hatinya tak bisa sendiri dan menemukan belahan hati yang lain.


Wanita itu sangat cantik. Wanita yang Sean kenal tidak pernah seperti ini sebelumnya. Seorang yang dikenal sedikit tomboy berubah menjadi mahadewi yang turun dari langit.


Gaun hitam yang berkilauan. Perhiasan yang tertambat di bagian lengan dan lehernya menjadi pelengkap kecantikan alaminya.


Hari itu Sean mengajaknya ke suatu tempat yang paling romantis. Sebuah panorama pesisir pantai ditambah suara angin laut yang semilir membuat ia bergairah untuk menyambut Orin.


Sean dan Orin duduk di sebuah meja yang sudah dipersiapkan oleh panitia restoran. Tidak ada seorangpun disana melainkan hanya mereka berdua.


"Orin kau tampak cantik hari ini"


"Gombal!, Kalau aku jelek berarti aku gak boleh duduk disini begitu?". jawab Orin yang sedari tadi menahan kegugupannya.


Sean berusaha memberanikan diri untuk memegang kedua jemari Orin. Ini saatnya untuk mengungkapkan semua. Semua rasa, Semua kebahagiaan, Semua duka, tangis dan tawa menjadi satu dengan apa yang namanya Cinta.


"Orin, maukah kamu jadi pacar aku?". Jantung Sean berdegup cepat seketika. Aliran darah terasa cepat mengalir di sekujur tubuhnya. Nafasnya menjadi tak menentu untuk berhembus.


Orin tersenyum simpul penuh arti. Matanya berbinar seolah ada cahaya yang muncul dari kelopak matanya. Ia menggenggam jemari Sean dengan sangat erat Dan seakan tak mau melepasnya barang sejenak.


"Iya , aku mau, aku mau jadi pacar kamu Sean".


Suara terompet bergemuruh pada seisi restoran. Ditambah ada Suara kembang api yang menggetarkan langit memberi cahaya baru di malam itu. Menyambut dua sejoli yang tengah dimabuk Asmara.


>>>>>>>>>>>>>


Machester United bisa berbangga masih mempunyai fans club yang luar biasa. Old Trafford tidak pernah sepi dari fans. Inilah yang bisa Orin Rasakan saat pertama kali menginjakkan kakinya di stadium berkapasitas tujuh puluh enam ribu kursi. Sebuah sorak sorai yang tak pernah berhenti. Semangat para suporter yang tak pernah lelah untuk mendukung clubnya. Semoga ini bisa mengalir dan meresap ke dalam hati Orin. Bahwa dirinya harus terus Semangat menjalani hidupnya yang penuh dengan rintangan.


Orin masih terlihat berdiri di depan Lobby utama seraya membeli dua tiket. Orin punya keyakinan yang kuat bahwa satu tiket yang ia beli masih milik Sean. Tapi selama ini hatinya tak pernah salah memilih Sean. Ia pasti akan benar-benar berada disini.


Kick off akan dimulai beberapa menit lagi dan pintu masuk ke dalam stadiom akan segera terkunci. Karena apabila sudah terlambat maka Orin tidak bisa melihat club kesayangannya bermain.


Orin berada pada detik terakhir penukaran tiket. Dan ia harus masuk ke dalam stadion. Dan ketika Orin melangkah masuk, Detak jantungnya serasa berdetak kencang seolah merasakan kehadiran Sean.


Kekasih itu datang.


Tak ada yang bisa Sean dan Orin rasakan, selain rasa rindu. Dan akhirnya Pelukan hangat memecah rasa rindu mereka saat ini.


Tidak lama sang petugas mulai mengunci pintu masuk stadion. Orin dan Sean mulai berlari sambil berpegangan tangan menerobos petugas tersebut. Betapa bahagianya Orin akhirnya bisa sampai di kursi tempat duduk fans.


Mereka berdua Mulai berteriak.


*Ole...Ole...Ole


Give me a winner Now.


United won....United Won*.


Mereka terlarut dalam semangat, kebahagiaan dan Kepercayaan.


Bahwa mereka akan terus seperti ini. Bersama sampai mati.


"Ramai sekali disini sayang". Orin bersandar di bahu Sean. Setelah lelah bernyanyi dan berteriak.


"iya benar..Aku baru merasakan Semangat lagi. Apalagi sudah bertemu denganmu".


"Apa kau bahagia Sean?".


" Bahagia sekali".


Orin tersenyum simpul. Ada perasaan dimana ia juga merasa bahagia sekaligus merasakan sedih. Ia akan merasa sedih apabila Sean tahu yang sebenarnya. Perlahan-lahan Orin harus bisa melepasnya. Walau itu sulit. Waktu serasa ingin ia hentikan. Agar bisa terus bersama, di suasana ini, di pertemuan ini.


Sean merasa bahwa dirinya manusia paling beruntung di dunia. Bahwa Cinta sejati memang berada di tempat ini tepat di sampingnya. Tapi wajah polos Sean akan merasakan sakit yang luar biasa setelah hari demi hari ia lewati esok. Tanpa tahu bagaimana cara mengobatinya.


"Menurutmu siapa yang akan menang hari ini Sean?".


"Sudah pasti Manchester United sayang".


"Aku akan berjanji jika Manchester United menang hari ini, aku akan menikah denganmu". Orin berkata dengan nada yang pesimis, saat skor sebenarnya Manchester United sudah tertinggal 2-0.


"Benarkah?. Baiklah akan kupegang janjimu, lihat saja marcus Rashford pasti akan menyamakan kedudukan sebentar lagi. Tenang saja, Manchester United bukan club kacang-kacang".


"Kau tidak bertanya kepadaku apa jadinya nasibmu kalau Manchester united kalah?".


"Sudah pasti aku akan menikahimu juga sayang".


Orin memandang serius ucapannya kali ini. Hingga ia merubah posisi duduknya dan bisa menatap wajah Sean dengan jelas.


"Tidak sayang, kau harus pergi. Kalau Manchester United kalah kau harus pergi dari sini dan pulanglah kerumahmu".


Seketika Sean berubah menjadi lebih serius. wajahnya kembali merasakan cemas.


" Sebenarnya ada apa denganmu Rin!, kau tak senang aku berada disini?!. Dan satu lagi, ada apa dengan ponselmu?! kau ganti nomor lagi?".


Degap jantung Orin seketika berdetak semakin cepat. Ia merasa takut bahwa sebenarnya ia diperintah oleh Mr Rudy hanya memakai satu ponsel saja. Dan nomor ponsel yang Orin pakai saat ini, Sean belum mengetahuinya.


" Ma..Maaf,kemarin aku matikan ponselku. Aku tidak ingin ada yang mengganggu tidurku" Alasan Orin yang masuk akal ternyata bisa meredam kemarahan Sean. Ia tidak akan pernah tahu sampai kapan ia terus berbohong seperti ini. Kebohongan ini terasa menyakitkan baginya. Lama- kelamaan Sean pasti akan tahu. Dan Orin harus mencari jalan keluarnya sendiri.


Sekali lagi, Sean tidak bisa mencerna apa yang terjadi pada Orin. Dia semakin aneh menurut Sean. Untungnya Sean percaya apa yang dikatakan Orin barusan dan kembali fokus pada pertandingan.


Keajaiban akhirnya terjadi. Markus Rashford dan koleganya ternyata berhasil membalikkan keadaan menjadi 3-2. Dan berubah menjadi kemenangan Manchester United.


Sean terlihat kembali sumringah, tapi tidak untuk Orin.