MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
18. Pengejaran



Flaunden Hill menjadi satu-satunya kediaman paling tak aman bagi Anggi. Mau tak mau, ia harus melacak keberadaan ayahnya. Bahaya akan mengintai keselamatannya sekarang.


Melihat sekilas kegagalan pasukan microchip. Membuatnya yakin sang ayah akan berada di bandara saat ini juga. Ia pasti melarikan diri.


Ponselnya sudah ia tambatkan Aplikasi GPS data. Ia mulai masukan semua data pribadinya dan data pribadi Delph.


(Tunggu aku di Rusia)


Tidak ada balasan dari Delph. Ia mulai mencari jam keberangkatan di Rusia. Dalam waktu beberapa menit saja. Ia temukan hasilnya, tepat jam delapan malam nanti. Perjalanan ke Rusia akan segera di mulai.


Masih ada waktu sekitar empat jam untuk mengemasi semua barang-barang. Terutama buku note ini. Mulai sekarang ia mulai mencatat semua detail tempat dan waktu. Dan juga rahasia-rahasia kelam sang ayah.


(Jam berapa keberangkatanmu?)


(Jam delapan malam, lebih baik kamu berangkat untuk penerbangan esok hari.)


(Yah, aku mengerti)


Delph dan Anggi sama-sama berada di ruang yang hampa. Terutama Delph. Rasa sakit akibat dibedah masih terasa amat sakit. Wajah pucatnya tak lagi bisa disembunyikan.


Delph juga pintar, ia sebenarnya ingin menolong semua detektif itu. Ini salah satu caranya. Ia juga mulai memasang aplikasi GPS data dan memulai untuk memasangkannya dengan ponsel Orin.


(Orin, besok aku akan berangkat ke Rusia. Cepat beritahu yang lain. Ikuti aku. Ini akan menjadi kesempatan kita untuk melawan Mr Rudy.)


(Baiklah)


Pada beberapa menit saja. Semua paham akan berbuat apa esok hari. Misi pengejaran pun akan segera dimulai.


***


"Kau membuat kesalahan besar, Zein!" ketus Mr Rudy, sambil membanting semua peralatan microchip yang berada di atas meja.


Zein hanya bisa merunduk. Malu dengan kegagalan yang disematnya. Ia sadar, kesombongan yang di pamerkan beberapa hari lalu berbuah kegagalan.


"Hari ini juga, persiapkan keberangkatanku ke Rusia! Urus semua kurcaci itu sendiri!"


Zein dengan sigap mematuhi perintah Mr Rudy. Ia tak ingin keadaan berubah menjadi tambah buruk.


Mr Rudy juga kembali bergegas untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Rusia. Sambil menata kembali beberapa pasukan yang dapat ia temui di sana. Yang terpenting, misi terakhirnya harus terbalaskan. Yaitu, membunuh Mr Roen beserta mantan istrinya.


***


Belum ada waktu satu menit setelah mendengar pesan dari Delph. Orin bergegas memberitahu semua detektif itu.


Ekspresi senang terpancar dari wajah para detektif setelah mendengar kabar tersebut. Ini merupakan berita bagus, mengingat kondisi ini semakin memperihatinkan. Bukan hanya di London tetapi akan tercium sampai seluruh dunia.


"Bagaimana menurutmu, Erest?"


"Ini misi rahasia, jadi aku tak ingin membawa banyak pasukan. Rusia adalah negara di luar kendali kita. Membawa banyak pasukan juga akan terlihat percuma."


Erest dan Mr Chanda melihat Sean dan Orin dengan seksama.


"Bagaimana dengan kalian? Apa masih ingin tetap di London?"


Orin tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa mendengkus, begitu pula Sean. Ia sudah lelah dengan semua ini.


Sejenak, Orin berpikir apa yang dirasakan Delph. Orin merasakan penderitaannya. Apalagi Delph sudah berusaha memberitahu rencana Mr Rudy untuk kabur.


"Aku akan pastikan, bahwa aku akan ikut misi penangkapan ini."


Sean tersentak. Tidak mungkin bagi seorang wanita mau melakukan tindakan bahaya seperti ini.


"Mati? Sejak microchip itu tertambat di tubuhku. Aku tak merasakan ketakutan lagi. Aku akan berpikir bahwa kita harus membantu Mr Chandra dan Erest, jangan khawatirkan aku."


Orin menangkap wajah Sean yang tegang. Bahkan dirinya yakin, Sean akan takut bahwa dirinya akan mati.


"Jadi, kesimpulan kalian berdua. Kalian akan bergabung bersama kami?"


"Tenang, kalian tetap berada di belakang layar. Biar aku dan Mr Chandra yang akan bertugas untuk menangkap penjahat itu, bagaimana?"


Sean dan Orin hanya bisa menangguk tanda setuju.


Alhasil, Pada akhirnya semua akan bersatu. untuk menjadi kesatuan tim.


Delph, Anggi, Sean, Orin, Mr Chandra dan Erest.


Mereka berenam melakukan hal yang sama. Anggi akan menjadi pemandu dan menyelidiki ke mana pun ayahnya pergi. Delph menjadi pelindung Anggi dan pembawa berita. Tim kesatuan Sean, Orin, Mr Chandra dan Erest akan menjadi penggerak dan menangkap Mr Rudy.


***


Bandara Internasional London akan menjadi kenangan tersendiri bagi Anggi. Ini merupakan sejarah kelam hubungan Ayah dan Anak yang sudah terjalin dari kecil. Harus berakhir menjadi musuh seperti ini.


Melihat empat tahun yang lalu. Bagaimana sang ayah selalu menunggu di Kafe St. Stewart sebelum menungguku datang dari Indonesia.


Ia mengharap sang Ayah akan berada di sini. Itu berarti ia mengingat semua kenangan ini. Kenangan menjadi seorang anak yang sesungguhnya.


Masih ada dua jam lagi untuk take off. Anggi masih duduk tersudut paling ujung sambil sesekali memegang koran. Menunggu sang Ayah datang. Ini satu-satunya cara yang harus Anggi lakukan.


Tepat pukul 19.00 seorang pria dengan jaket beludru mendatangi kafe ini. Melihat sosok tersebut membuat Anggi tak bisa berkedip.


Eureka! Itulah yang bisa dirasakan seorang Anggi. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencatat.


***


note 1.


Tepat pada jam 19.00. Ayahku tiba di Kafe St. Stewart. Mengenakan jas beludru berwarna cokelat. Menggenggam koper dan tas selempang. Target sudah dipastikan berangkat ke Rusia malam ini.


-Anggi-


***


(Target sudah berada di dekatku. Esok, kau harus benar-benar berangkat.)


Anggi masih terlihat menggunakan koran sebagai tempat berlindung dari pandangan ayahnya. Hanya sesekali Anggi melihat ayahnya, melihat sosok yang sangat disayanginya.


Bagi Anggi, sosok ayahnya adalah istimewa. Tidak ada sifat cerdik dan pintar bila tak ada sosok ayah dibelakangnya. Ini akan menjadi titik awal di mana Anggi harus melupakan kenangan masa kecilnya kemudian berharap esok ia benar-benar membenci sosok tersebut.


(Aku akan berangkat besok. Jaga dirimu baik-baik.)


Sebuah balasan pesan singkat dari Delph membuang semua ragu tentangnya. Akhirnya kekasih yang selama inu menjadi pujaannya mau menurutinya sampai detik ini.


Tepat di pukul 19.45 Anggi mulai menguntit Ayahnya. Mr Rudy terlihat sudah menyusuri koridor bandara terlebih dahulu. Anggi hanya mengamati dari jauh. Jarak antara dirinya dan ayahnya juga terpantau jauh.


Pukul 19.55 adalah waktu di mana para penumpang pesawat sudah berada pada pengecekan barang dan sudah diperbolehkan masuk ke dalam pesawat.


Orin memberanikan untuk masuk ke pesawat setelah Ayahnya masuk terlebih dahulu. Tidak ada rasa curiga sama sekali. Anggi pada akhirnya bisa terenyum puas. Ketika semua rencananya berhasil pada hari ini


Semua akan berakhir menjadi peperangan pada esok hari. Anggi harus segera bersiap.