MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
23. Rahasia Hidup Erest



Ada sunggingan senyum penuh kepuasan setelah melihat Erest mampu untuk menangkap Mr. Roen. Ini menjadikan Mr Rudy harus mempersiapkan langkah kedua untuk segera menghabisi Erest.


"Ini saatnya kalian untuk bertemu anak kalian. Bersiaplah untuk berangkat."


Ada senyum tersungging dari mulut dan kulit keriput kedua orang tua setelah mendengar celoteh dari salah satu pria yang juga menjadi bagian keluarga.


Salah satu korban dari ambisius dibalas dengan ambisius pula. Seperti itulah yang orang tua itu rasakan setelah mendengar sang anak sulung memerintahkan kedua orang tuanya sendiri untuk memuluskan semua ambisinya.


Ambisi yang sempat tertunda bertahun-tahun lamanya, yaitu menghancurkan saudara kandungnya sendiri. Inilah saatnya perjalanan terakhir seorang predator--Rudy untuk mengalahkan rasa kasih sayang persaudaraan yang mati dalam dirinya. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


***


Nun jauh di sana. Di sebuah rumah mungil di London munculah dua orang tua renta yang fasih dengan keringkihan mereka. Mencoba keluar untuk menghirup udara segar.


Hal ini sudah seharusnya mereka rasakan. Bertemu dengan anak yang sangat dibanggakannya selama bertahun-tahun sebelum semuanya berakhir dengan pengkhianatan dan balas dendam.


Gabriel dan Ardhi. Mereka berdua adalah pasangan tua renta yang terus mengabadikan rasa bersalahnya pada Rudy. Anak sulungnya. Mereka baru menyadari bahwa setiap anak ditakdirkan punya bakat yang berbeda. Kejeniusan yang berbeda.


Perselisihan demi menguras banyak impian telah menjerumuskan diri mereka sendiri. Ini terlihat bagaimana dahulu mereka pernah menjadi saksi rasa bersalah yang kini mereka terima.


***


Eresta Revolion adalah salah satu murid dengan kecerdasan luar biasa walau masih berumur 10 tahun. Terlahir dari keluarga dengan ambisi tinggi dan dibesarkan oleh Sang Ayah bernama Ardhian Bagaskara dan Ibu dari Gabriel Seyna. Mereka bertiga tak ubahnya seperti manusia paling memuja sains dan memuja pengabdian kepada konsistensi dan akuisisi.


Tak ayal bahwa prestasi Eresta Revolion menanjak drastis. Umur 12 tahun ia sudah mengantarkan namanya menjadi mahasiswa di bidang sains dan teknologi di Inggris. Oxford University tempat ia menimbu sampai menjuluki Erest sebagai 'Talenta Tanpa Batas'. Gelar kehormatan pun disematnya pada waktu itu.


Berbeda dengan nasib Rudy Revolion, ia hanyalah seorang sulung yang semakin lama semakin menyerupai iblis. Bengis dan sulit dikendalikan.


Ardhi dan Gabriel seakan tidak menginginkannya. Menyandang sebagai murid yang terlampau bodoh dan gemar bermain game ini, seakan tak punya ruang untuk sekali saja dianggap oleh kedua orang tuanya.


Beranjak dewasa, Erest yang selama ini menjadi panutan dan impian bagi orang tuanya. Menolak mentah-mentah keinginan orang tuanya untuk menjadi ilmuwan dan dosen di Oxford University.


Erest memilih mencari jalannya sendiri untuk menjadi detektif di usia muda. Ia punya rasa yang selalu bersalah kepada kakaknya. Ia ingin menghilang dari kasih sayang dan dunia yang sudah membesarkannya. Kemudian beralih menjadi pengabdi keadilan.


Karena Erest tahu, suatu saat nanti. Musuh terbesar dalam hidupnya adalah kakaknya sendiri, yaitu Mr Rudy. Diam-diam ia sedang mengejar kakaknya sendiri. Ia sangat hapal gerak-gerik kakaknya yang memang terlampau licik.


Rudy Revolion sudah mati dengan kebengisannya. Ia tak akan berubah sekali pun kedua orang tuanya memohon. Tercermin dari sikap tidak manusiawi yang tumbuh dengan sempurna di benaknya. Perlahan membunuh dan terus membunuh. Hanya karena diasingkan. Hanya karena korban ambisius kedua orang tuanya yang pada akhirnya harus kembali menepi di balik penyesalan.


Rudy Revelion akhirnya memutuskan untuk mencari luapan kesenangan itu sendiri dengan menghabisakan waktu di meja operasi demi mengajari mereka arti dari ambisi dan balas dendam.


Terakhir, ia harus melakukan hal keji ini kepada orang tuanya sendiri. Mr Rudy mengutarakan penyesalan yang tidak beralasan ketika ia menginginkan akan berhenti dari dunia ******* ini setelah bisa membunuh semua keluarganya.


Ya, ia ingin kedua orang tuanya mati bersamaan dengan jasad Erest di dalamnya.


***


Pagi hari yang sangat dingin di Distrik Podolsk. Sedingin pertemuan kedua manusia yang kali ini dapat bersua setelah hampir 10 tahun tidak bertatap muka.


"Mari hentikan semua ini, Kak." Erest memohon, ia mencoba untuk memeluk Mr Rudy dengan penuh kasih seorang adik. Namun, Mr Rudy tidak mengindahkannya. Ia justru memberikan pukulan ke arah wajah Erest. Hingga erest tersungkur ke tanah.


"Impianku belum terwujud, wahai adikku. Apa kamu tidak malu punya kakak bodoh seperti ini? Mana rasa angkuhmu yang dulu?" Mr Chandra tak kuasa menahan kepalan tangannya yang masih tegang. Dendam itu tak bisa dihilangkan dengan mudah. Malah seperti tersulut dan membakar amarah yang ada.


"Baik, jadi itu yang akan kau inginkan? Kita berdua yang terus bertengkar. Kita berdua yang harus menyamarkan diri sebagai Penjahat dan Jagoan. Kemudian bertarung sampai titik darah penghabisan?"


Dari balik kamar dan pintu terbuka pelan. Sepelan raga yang sudah lelah dan menua. Ardhi dan Gabriel muncul dengan rasa bersalah. Lagi-lagi rasa bersalah hadir.


"Hentikan! Aku mohon hentikan! Cukup sampai di sini saja. Kalian harus berjabat tangan dan memperbaiki diri."


Mr Rudy tertawa terpingkal-pingkal saat ibunya sendiri memelas dan memohon padanya. Keadaan menjadi lebih genting. Sadar bahwa ini pertanda bahaya. Erest mempersiapkan resiko terburuk datang ke tempat ini seorang diri. Ia baru menyesalinya sekarang.


Akan tetapi Erest pintar. Ia sengaja mengirimkan sandi yang tertambat di saku celananya. Semacam tombol alarm yang apabila di tekan tuasnya. Maka penginapan Bark Endey--tempat menginap teman-temannya. Akan menjadi saksi bahwa ada bahaya yang datang dari Erest. Secara otomatis. Alat tersebut langsung merekam tempat kejadian.


"Akhirnya, Ibu bisa berada di hadapanku, Nak. Maafkan ibu semua jadi terasa menakutkan seperti ini. Ibu mengaku salah."


"Begitu pula Ayah, Nak. Ayah sudah menjadi tua dan keriput kemudian lelah untuk menghadapi ini semua."


Terasa ada yang aneh. Erest menyadari itu. Ada kesan yang berbeda. Rindu kepada orang tua seakan berganti dengan cepat menjadi waspada. Terlebih, Mr Rudy menghilang entah ke mana. Semua ini menjadi terasa amat sulit.


Hal yang tidak diinginkan akhirnya terjadi. Setelah rasa pelukan rindu berubah menjadi pembunuhan tragis. Paling tragis yang pernah ada. Pengorbanan sang Ibu yang hanya ingin melihat wajah Erest. Kemudian memeluk Erest dengan sangat erat. Saking eratnya tak ada ruang untuk mengelak. Tak ada pergerakan yang bisa membuat Erest bebas.


Neraka itu akhirnya tiba tepat saat Mr Rudy menghilang dan mengambila jarak aman dua kilometer saja dari tempat semula.


Tempat yang sudah menjadi bara api. Itulah akhir yang sangat dramatis. Mr Rudy menang.


Kali ini Mr Rudy tak akan pernah menghentikan tawanya. Kebengisan bertambah bersamaan dengan berkurangnya manusiawi bahkan, bisa dikatakan ia bukan lagi menjadi manusia seutuhnya.