
Suasana dan cuaca di Rusia lebih ekstrem dari yang Delph rasakan. Merasakan suhu dingin sampai lima derajat membuat dirinya cepat kelelahan dan kedinginan. Begitu pula Anggi. Wajahnya menyiratkan kesakitan. Ia sungguh tidak terbiasa dengan benda yang tertambat di tubuhnya.
Anggi seakan tahu apa yang dirasakan Delph selama ini. Menjadikan dirinya menjadi boneka selama puluhan tahun pastilah menyisakan luka yang dalam. Anggi tak mampu menjadi Delph.
Anggi dan Delph terlihat sedang menyeruput cokelat panas di Whiyterin Bar. Salah satu Bar yang terdapat di jantung kota Moskwa.
Moskwa seakan menjadi tempat yang asing bagi Delph dan Anggi sekaligus menjadi tempat yang paling dirindukan.
Delph menatap wajah Anggi yang mulai ketakutan. Delph merasakan hal yang sama. Ia tak tahu harus berapa lama nyawa ini akan bertahan. Semua tidak pada semestinya.
"Kau takut, sayang?"
Delph masih menatap kedua jemari Anggi yang gemetar. Seolah menyisaratkan sesuatu yang lebih menyakitkan. Yaitu kematian.
"Aku tidak takut siapa pun kali ini."
Anggi berbohong. Ia tidak siap dengan pertanyaan ini, kemudian mulai menggerakkan tanganya yang terlihat tegang menuju saku jaketnya.
"Kita akan terbiasa suatu saat nanti, Sayang. Walau bagaimanapun kematian akan datang menjemput kita di mana pun kita berada. Aku sudah mempersiapkan semua dengan matang. Kita harus menyelesaikan semua ini secepatnya."
Delph merasakan gundah gulana Anggi. Seorang yang tidak tahu menahu dan tidak bersalah diharuskan untuk menjeratkan hidupnya sendiri.
Bulir air mata Anggi mulai mengucur deras membasahi wajahnya. Anggi merasakan bahwa tangisan ini adalah tangisan yang membuat semua kesakitannya luluh. Ia tak tahu harus sampai kapan dirinya akan bertahan. Hari-hari ke depan seakan begitu suram dan melelahkan.
"Mari kita akhiri ini semua Delph," sahut Anggi. Pasrah, itulah yang pada akhirnya keluar dari mulut Anggi.
Delph beranjak dan mencoba untuk memeluk Anggi dengan erat. Anggi menangis begitu pula Delph. Faktanya memang harus ada yang dikorbankan. Cara inilah yang kemudian akan mengakhiri semuanya.
"Kau sudah siap untuk semua?"
"Ya, mari kita lanjutkan perjalanan ini."
***
Tidak ada yang dirasakan Zein selain membunuh kedua pengkhianat itu. Walau sangat disayangkan, Mr Rudy tidak mengizinkannya untuk menekan tombol 'Off" pada remote kematian itu.
Ia diharuskan untuk membunuh tanpa menghancurkan raganya dan bawa pulang hidup-hidup mayat Delph dan Anggi. Salah satu resiko besar menantinya.
Terlebih, ia hanya diharuskan membunuh dengan pisau. Meski protes, Zein tidak mampu untuk mengelak dari perintah Mr Rudy. Ia diharuskan selalu menuruti apa yang dikatakan bosnya.
Zein melihat sangat jelas kedua pasangan itu. Ia menunggu di luar Bar, kemudian mengatur siasat agar bisa membunuh mereka dengan cepat.
Jalan-jalan di Moskwa tampak sangat padat. Ia harus menyiasati semua rencana pembunuhan ini agar tidak tertangkap.
Menit berikutnya, Delph dan Anggi keluar dari Bar dan melanjutkan perjalanan. Zein mengikuti dari belakang. Tentunya ini tidak akan mudah, ia harus mengatur jarak sekitar lima puluh meter agar tidak ketahuan.
Delph dan Anggi terlarut dalam perasaan mereka masing-masing. Mereka belum menyadari keberadaan Delph yang sudah ada di belakangnya. Mereka masih terus berjalan dan ini membuat situasi semakin mencekam.
Hingga akhirnya mereka sampai di Stasiun Kereta bawah tanah Lubyanka. Zein terus membuntuti Anggi dan Delph.
Sampai di dalam kereta Delph dan Anggi tetap tidak menyadari keberadaan Zein yang sudah beberapa langkah saja dengan mereka berdua.
Zein menutup kepalanya dengan kupluk hoodie yang ia kenakan. Bukan tanpa alasan, jaraknya sudah terlalu dekat. Zein sudah mempersiapkan pisau yang sudah berada di saku hoodienya. Tangan kanannya menggenggam erat pisau tersebut kemudian tangan kirinya terlihat memegang besi yang tertambat di atas kepalanya.
Anggi dan Delph tampaknya ingin melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman Mr Rudy yang berada di Verkhney Kotley. Berada di selatan hiruk pikuk Moskwa.
Perjalanan ini membutuhkan waktu lama, sebelum sampai di tujuan akhir. Zein berpikir keras untuk memuluskan rencana ini.
Sebelum berhenti beberapa menit lagi di Stasiun Paveletskaya. Zein menjalani aksinya. Pisau yang berada di genggamannya seakan tahu timing yang tepat.
Hanya butuh lima detik. Semua keadaan ini menjadi berubah. Zein berhasil menancapkan pisau tersebut ke perut bagian samping kiri Delph. Tepat dengan terbukanya pintu kereta. Zein berlari secepat yang ia bisa.
Semua orang dalam gerbong kereta tersebut seketika histeris melihat ada banyak darah yang keluar dari perut Delph. Anggi berteriak sekuat yang ia bisa.
"Tolong!"
Serbuan petugas keamanan beserta beberapa petugas kesehatan terlihat berlari menuju tempat kejadian.
***
Semua menjadi sia-sia. Perjalanan ini terasa terhambat. Anggi mengutuk perbuatan Zein.
Suara sirine ambulans mengiringi perjalanan sampai ke rumah sakit Moscow City Clinical, berada tidak jauh dari Stasiun Paveletskaya.
Beruntung, luka tusukan itu tidak terlalu dalam. Dalam beberapa menit kemudian luka tusukan tersebut berhasil diobati. Akan tetapi, Delph harus berada di rumah sakit menyembuhkan lukanya. Nahas, rencana mereka untuk menyelesaikan semua ini menjadi terhambat.
"Kau tidak apa-apa sayang?"
Delph hanya mengangguk. Menahan sakit yang masih tersisa dari luka tusukan.
"Aku akan membalaskan dendam."
Tiba tiba jemari Anggi dipegang dengan kuat. Delph tidak ingin Anggi mati sia-sia.
"Sabar sebentar sayang, mari lakukan semua ini berdua."
Anggi mengalah kemudian mengkuti semua rencana Delph. Benar juga, ia tidak mau mati sia-sia.
***
Hari pembalasan dan penentuan akhirnya tiba. Delph sudah merasa lebih baik sekarang. Beruntung semua luka ini bisa sembuh lebih cepat.
Verkhney Kotley akan menjadi kejadian bersejarah bagi Anggi dan Delph, tak terlihat lagi rona kekecewaan yang terlintas di benak mereka.
Zein sudah menunggu mereka di depan pintu sambil memegang sebuah remote yang berada di tangan kanannya.
Anggi dan Delph seakan tahu maksud dari remote tersebut. Zein ingin meledakkan tubuh Anggi dan juga Delph, tetapi ada yang aneh. Itu berarti Zein akan meledakkan dirinya sendiri.
Suara dering telepon memecah keheningan itu.
Anggi melihat nomor kontak tersebut yang berasal dari ayahnya.
"Terima kasih sudah menjadi bagian hidup dari Ayah, Anggi. Maafkan ayahmu ini yang harus melakukan ini semua."
Inikah akhir yang menyedihkan itu? Di saat tiada lagi rasa peduli. Di saat tidak ada lagi kedamaian yang tertambat di hati sang Ayah.
Anggi menangis sejadi-jadinya. Usahanya selama ini menuai kegagalan. Inikah ujung perjalanan hidupnya? Ia menyesali dirinya sendiri karena hidup di dunia ini.
Delph kemudian membangunkan Anggi yang duduk di tanah. Menatap lamat-lamat wajahnya. Meyakinkan akan satu hal. Cara terakhir. Yaitu membunuh si kerdil bodoh itu.
Zein tampak sayu saat ia tak mau beranjak. Pandangannya kosong, karena inilah hari akhirnya.
Delph dan Anggi mulai mendekati Zein. mencoba membuang remote yang ada di tangan Zein. Masih ada secercah harapan bila remote itu jatuh ke genggaman Delph. Akan tetapi, semua percuma. Langkah terakhir Delph malah justru membuat Zein tersadar akan lamunannya.
Semua terlambat.
Sungguh terlambat.
Tepat di saat Delph mulai memegang remote tersebut. Zei terlebih dahulu menekan tombol 'Off'.
Selesai.
Microchip sudah hancur berkeping-keping bersamaan dengan ketiga tubuh yang sudah terbang berlainan arah.
***
Senyum tersungging lagi-lagi tercipta dari mulut Mr Rudy.
Rencananya berhasil. Berhasil pula membunuh semua darah daging.
Tidak ada lagi yang tersisa selain kehampaan. Tidak ada lagi microchip. Tidak ada lagi pasukan. Mulai sekarang ia harus berbenah untuk menyambut hari yang baru.