
Kota London serasa gempar saat ini. Kejadian terbakarnya Kantor Kepolisian Inggris menjadi perbincangan hangat media dalam dan luar negeri. Sangat menggemparkan. Ini akan menjadi perhatian serius, di mana bukan hanya di Inggris, tetapi juga di negara lainnya. Bahwa ******* belum mati.
Mr Chandra masih terlihat kecewa saat jalan Exhibition Road macet total. Hal itu wajar, mengingat jalan tersebut adalah jalur di mana berita menggemparkan itu berada.
Sean mengaburkan pandangan ke sisi kiri mobil. Melihat sebuah museum. Satu tempat yang harusnya dikunjungi Orin selain Old Trafford. Bertempat di Exhibition Road, South Kensington, London.
Bangunan tua yang didirikan tahun 1857 itu menampilkan arsitektur Inggris kuno dengan balutan kastil miniatur.
Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari bangunan itu, namun isi di dalam bangunan itulah yang membuat Orin tertarik untuk masuk ke dalamnya.
Museum itu berlalu begitu saja. Seperti halnya, perasaan yang Sean hadapi. Ia terlalu naif untuk tidak peka terhadap perasaan Orin setelah tahu bahwa Orin punya masalah yang sangat besar. Masalah itu menyangkut keberlangsungan hidupnya.
Suara dering ponsel membuat Sean terperanjat kaget. Tampaknya, itu berasal dari ponsel Mr Chandra.
"Aku menemukan pelaku itu, cepat kembali ke bawah tanah, sekarang!"
Serentak, Mr Chandra membanting stir kemudian berbalik arah menuju kediaman Erest. Merasa bersemangat, setelah pada akhirnya si manusia jenius itu kembali pada asalnya, sebagai intel terbaik di dunia.
***
Erest terlihat sedang membuat desain microchip pembanding yang akan di buatnya. Untuk sementara, ia akan menggunakan microchip penjahat ini sebagai ujicoba.
Sean dan Chandra tak butuh waktu lama untuk kembali datang ke ruang bawah tanah. Keduanya terlihat sangat bersemangat. Tentunya akan bertambah semangat jika Erest benar-benar menepati janjinya saat di telpon.
"Ini adalah mahakarya terbaruku. Mari kuperlihatkan."
Erest menunjukkan sebuah microchip yang sudah dirakit sedemikian rupa, hingga terlihat baru. Pada kenyataannya, ia hanya merakit bagian luarnya saja.
Erest menyambungkan sebuah kabel data dari laptop ke microchip tersebut. Kemudian layar LED tiba-tiba menampilkan sebuah peta GPS. Sean dan Mr Chandra seketika terperanjat ketika melihat banyak titik merah di Inggris, setidaknya ada delapan titik merah yang tersebar di dalamnya.
"Jangan bilang kalau titik merah itu adalah ...."
Erest terpaksa memotong pembicaraan Mr Chandra. Ia merasa bersemangat sekali atas penemuan yang baru ini.
"Microchip lainnya, microchip yang tertambat di tubuh orang. Ini berarti ada delapan orang di inggris yang menjadi boneka Mr Rudy."
"Luar biasa!" Sean menyeringai, bahkan ia yang sedari dulu acuh mengenai semua peristiwa ini terasa lebih semangat sekarang.
"Sekarang kita tinggal memilih di antara delapan orang ini. Di mana pelaku sebenarnya. Maaf, aku hanya terbatas untuk menampilkan titik kordinat microchip, belum bisa untuk mengungkap identitas pelaku."
"Apa kau yakin, titik kordinat ini benar-benar microchip yang tertambat itu?" tanya Mr Chanda penuh selidik, seperti detektif pada umumnya, ia harus bersikap selektif dan teliti.
"Kau meragukanku, Mr Chandra? Biar kujelaskan lebih detail. Microchip ini ternyata punya bagian yang di sebut 'Detector'. Bagian ini terhubung satu dengan lainnya. Bisa mendeteksi bahaya dan juga berkomunikasi dengan yang lain.
"Yang perlu di garis bawahi. Detector ini hanya bisa di deteksi apabila microchip masih aktif di dalam tubuh. Nah, tugasku beberapa jam yang lalu adalah mengaktifkan kembali detector ini. komponennya setel ulang, kemudian aku ganti dengan komponen pribadiku. Hasilnya? bisa kita lihat sekarang."
"Tugas kita sekarang adalah menangkap pelaku tersebut dari titik kordinat yang sudah ada. Ingat, ini akan jauh lebih berbahaya apabila kita ceroboh menangkapnya. Satu saja kesalahan, maka microchip lainnya pasti datang menghampiri dan menolong. Kita akan sulit menangkapnya."
"Maka, aku akan membawakan dua jenis alat tambahan kepada kalian."
Erest menaruh dua alat di nakas. Benda pertama seperti besi kecil berbentuk pipih. Benda kedua adalah headset tanpa kabel.
"Intinya, pelaku tersebut harus sudah terbebas dari microchip yang tertambat di tubuhnya dalam kurun waktu dua jam."
"Kita akan beralih ke alat kedua. Alat ini sudah pasti tahu manfaatnya, aku akan mengawasi dan selalu mengatur langkah kalian. Semua langkah kalian akan aku beritahu lewat headset ini. Alat ini juga di lengkapi oleh GPS, jadi titik kordinat kalian juga ada di layar LED, seperti ini contohnya."
"Saat headset kita nyalakan tombol powernya, maka akan otomatis titik kordinat berwarna biru akan muncul di layar LED." Erest menempelkan kedua headset tersebut ke telinga Mr Chandra dan Sean. Kemudian menyalakan sebuah microphone yang tertambat di meja.
Terdengar suara yang jelas dari kedua telinga itu.
Sean dan Mr Chandra mengangguk tanda mengerti. Mereka berdua seakan seperti robot yang bergerak dan Erest bertugas untuk memandu robot tersebut untuk bertarung.
"Sekarang, menurut kalian. Dari delapan microchip ini. Manakah yang kalian pilih untuk segera ditangkap dan dibebaskan?"
Dalam benak Sean, tentu saja Orin yang akan ia prioritaskan. Sean terlihat serius memperhatikan layar LED, begitu pula Mr Chandra.
Dalam kurun waktu lima belas menit. Sean tersadar satu hal. Kedua titik merah ini tertuju pada suatu tempat.
Tempat itu adalah ... Museum tua London!
"Tak salah lagi, Orin pasti berada di sana!" sahut Sean dengan percaya diri.
Ini menandai awal dari kemenangan. Sebuah perlawanan yang baru akan di mulai.
***
(Di tempat kalian berada, bunuhlah seorang di sana.)
Sean dan Orin terperanjat saat melihat pesan yang berada di ponsel mereka masing. Lagi-lagi pesan itu membunuh seorang yang tak berdosa.
"Kamu dapat pesan ini juga?" tanya Orin sambil merintih ketakutan. Ia tak mau membunuh orang tak bersalah lagi.
Delph tak menggubris. wajahnya berubah menegang dan gemetar.
Orin terlihat ketakutan saat mendengar geraham Delph bergemeletuk dan tangan yang mengepal. Orin tahu bahwa ini sulit, tak ada yang mau menjadi budak seumur hidup seperti Delph. Andai saja Delph bisa melawan, maka ia akan terbunuh dari dulu. Entah apa yang membuatnya bertahan sampai saat ini.
Orin yang melihat tubuh Delph yang gemetar, reflek tubuhnya memeluk Delph, pelukan sahabat sependeritaan. Pelukan hangat yang setidaknya bisa membuat Delph jauh lebih tenang.
Di sisi yang lain, Sean terlihat berlari kecil dan menuruti setiap komando yang diperintahkan Erest. Detik demi detik berganti seperti detakan jantung yang terus bergerak beriringan dengan deru nafasnya yang terengah-engah.
Sean akhirnya sampai pada objek yang dicarinya. Namun, tidak seperti yang diharapkan. Ia merasa kehilangan cinta sejati yang sudah lama ia tanam, setelah melihat pemandangan miris dari kedua netranya.
"Tangkap, mereka berdua, Sean!"
Teriakan di headset menggema hingga membuyarkan lamunan pesakitan Sean. Ini adalah tugas yang tak boleh ia lewatkan.
Mr Chandra datang lebih telat. Bersamaan dengan kelompok polisi lainnya, ia mengepung museum ini. seolah tak ada yang boleh keluar dari tempat ini, sebelum pelaku microchip itu tertangkap.
Sean dengan cekatan menghampiri kedua insan yang masih berpelukan kemudian menambatkan Magnetic Off di kedua punggung--Orin dan Delph. Tidak ada perlawanan, Delph dan Orin hanya bisa pasrah dengan kenyataan ini, karena inilah satu-satunya jalan terbaik.
Mereka berdua menyerah.