MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
10. Riwayat Hidup Anggi



Saat ini Flauden Hill terasa sangat panas hingga daun-daun berhamburan di jalan. Walau begitu, Para warga disini sangat menikmati musim ini. Anak-anak kecil mereka dibiarkan bermain di taman untuk sekedar menikmati panasnya matahari.


Terlihat seorang gadis cantik yang pernah merasa hari-hari bahagia di tengah keluarga yang begitu sederhana. Anggi Ardita. Itulah nama dari sebuah kebahagiaan sepasang suami istri yang saling mencintai. Sebelum semuanya berubah karena Harta.


Semasa kecil Anggi sudah terlihat menonjol kepintaran dan kejeniusannya. Semangatnya untuk menguasai ilmu pengetahuan sudah ada sejak umur empat tahun. Dan saat di sekolah dasar, rangkingnya terus berada di peringkat satu. Tak ada yang bisa menandinginya.


Anggi sudah terdidik menjadi orang yang ambisius dan penurut. Mr Rudy selalu memberinya tugas entah itu tugas sekolah ataupun tugas pekerjaan rumah sekalipun itu harus dilakukan oleh orang dewasa. Ini semua demi membuat anaknya menjadi mandiri dan pintar. Dan tampaknya Mr Rudy berhasil.


Sejak SMA sampai kuliah, Anggi hidup mandiri di Jakarta. Karena melihat Ibu dan ayahnya bercerai. Ia memutuskan untuk hidup sendiri tetapi segala kebutuhan masih di kontrol oleh Ibu dan Ayahnya.


Nilai akademinya pun tidak pernah menurun dan terus beranjak. Hingga ia dapat membanggakan orang tuanya. Berkat kegigihannya juga dirinya bisa maju untuk membawa nama baik universitasnya.


Tapi semua sirna saat ayahnya yang selama ini dia kagumi dan selalu ia patuhi memusnahkan semua benih-benih cinta yang mulai bermekaran di hatinya.


Anggi benar-benar mencintai Delph dengan sepenuh hati.


Selama ini Delph selalu menjadi pelindung dimanapun Anggi pergi. Walau terkadang sifat Delph yang dingin membuat cerita cinta mereka tidak seindah Romeo and Juliet, ataupun Radit and Jani. Tetapi tak terasa kisah cinta mereka sudah berjalan selama lima tahun.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Flauden Hill akan terus menjadi kenangan yang Terburuk sekaligus yang terindah bagi Anggi. Kenangan indah itu datang ketika pertama bertemu Delph Saat lulus dari SMA. Ayahnya sengaja memperkenalkannya karena Anggi sangat kesepian saat berada di Inggris sekaligus sebagai teman yang selalu menemani Anggi kemanapun ia ingin berwisata.


Anggi hanya bertemu dengan Ayah dan juga Delph tidak lebih dari dua minggu di Inggris. Itu karena Pendidikan yang Ia tempuh di Indonesia. Bagaimanapun ia sangat mencintai tempat kelahirannya. Hingga hari-hari yang ditunggu akhirnya datang. Selepas Kuliah selesai, sepertinya Anggi akan berlama-lama disini untuk menemani Delph dan juga ayahnya.


Adapun kenangan buruk itu tercipta saat Anggi benar-benar ingin dekat dengan Delph dan juga ayahnya. Cinta Anggi memang penuh dengan penantian panjang. Beberapa kali ia nyatakan cinta kepada Delph tetap saja ditolak. Walau pada akhirnya dengan penuh terpaksa Delph menerima Cinta Anggi, karena Anggi mengancam akan bunuh diri.


Tak habis disitu saja, Sejak kejadian kemarin. Anggi terlihat mengunci di kamar. Tak ada satupun makanan masuk ke dalam mulutnya. Ia merasa sangat depresi dan juga hancur. Ayahnya yang selama ini ia bela dan sayangi ternyata menghancurkan semua benih cinta yang ada di hatinya. Begitu pula Delph, Seharusnya ia bisa mengajaknya pergi kemarin dan tidak membiarkan dirinya tergeletak pingsan.


Seketika ia mulai mencari cara untuk mengancam balik ayahnya. Dan memulai untuk membuat tubuhnya ditempel oleh barang iblis bernama Microchip. Kemungkinan ayahnya bisa tersadar. Ya, barang laknat tersebut harus ada di dalam tubuhnya dan semua akan berakhir.


Siang ini ayahnya mungkin masih ada di kantor. Ini kesempatan Anggi untuk mencari sesuatu di kamar ayahnya. Hal yang pertama dilakukan olehnya mungkin adalah mencari tahu keberadaan pabrik microchip tersebut.


Dengan berat hati ia beranjak ke kamarnya. Tetapi tampaknya ia tidak bisa membohongi bahwa perutnya juga minta jatah untuk makan. Ia akan segera mencarinya setelah perutnya terisi.


Dua puluh menit berlalu tampaknya Anggi mulai beraksi. Sepanjang jalan menuju kamar Ayahnya tampak lenggang dan sepi. Kedua pembantunya sepertinya berada di ruang atas. Dan ia harus segera masuk ke ruangan ayahnya sebelum dua makhluk penjaga itu menemukan dirinya.


Kotak kubus itu terbuat dari kayu jati dan berisikan sebuah ukiran yang belum pernah dilihat oleh Anggi. Dan anehnya tidak ada sebuah kunci bahkan sebuah gembok yang tertambat di kotak itu,padahal di dalamnya ada sebuah bunyi gerakan benda lain. Yang sudah pasti berisikan Kunci kamar.


Anggi melihat ukiran berbentuk sebuah bintang di salah satu sisinya dan di sisi yang lain tidak ditemukan gambar apapun selain warna asli kayu. Ia menekan sebuah titik awal gambar tersebut menggunakan jari telunjuk kemudian mulai menyatukan satu garis dengan garis lainnya hingga membentuk sebuah bintang.


Tapi tampaknya kode itu salah. Tidak semudah itu. Tidak semudah anak SD membuat bintang di kertas gambarnya. Jika itu tidak berhasil, maka pasti ada cara lain.


Anggi hanya termenung melihat mahakarya ini. Ayahnya sungguh luar biasa. Bagaimana bisa kotak kubus yang tak berpintu dan tak ada celah terbuka, di dalamnya ada sebuah kunci sebuah kamar.


Setelah itu Anggi melihat lamat-lamat pintu kamar. Dan ternyata sama dengan pintu yang lain. Pintu biasa dengan sebuah Lever handle aluminium dan lubang kunci di dalamnya.


Tapi tunggu!, Ia melihat kejanggalan dari lubang kunci tersebut. Anggi terlihat memicingkan matanya. Dan anehnya pengelihatannya tidak tembus ke ruangan di dalamnya. Itu Artinya!.


Tuas handle ini punya kode lagi untuk membukanya!.


*Tidak mungkin!, bagaimana bisa!.


Kubus bodoh ini, Tuas handle yang juga punya kode.


Arggh*!.


Anggi gelagapan setelah mendengar suara kaki yang turun dari tangga. Tampaknya kedua pembantunya telah selesai merapikan ruangan atas. Dan gagal lah aksi Anggi untuk masuk ke dalam kamar sang ayah.


Anggi sekali lagi memuji ayahnya. Alih-alih ingin menyelesaikan ini semua dengan mudah malah hanya membawa teka-teki baru yang harus dipecahkan.


Bagaimanapun, Anggi harus bisa masuk ke dalam kamar itu. Karena itulah satu-satunya jalan agar ia bisa menghentikan ini semua.


Pantas saja ayahnya jarang sekali masuk ke dalam kamar. Ia terbiasa tidur di ruang tamu yang berisikan sofa dan televisi daripada tidur di dalam kamarnya. Dan ternyata inilah jawabannya.


Baru pada malam-malam sekali ia pindah ke kamarnya itupun sudah tidak terlihat oleh siapapun. Anggi bertanya pada dirinya sendiri. Kapan ayahnya belajar ini semua?.


Ayahnya memang terkenal sangat detail dan cermat. Semua musuhnya tidak akan mudah menangkapnya. Bahkan anaknya sendiri harus extra keras mengejarnya.