
Mr Chandra, Sean dan Orin merasakan kelegaan yang luar biasa di saat merayakan keberhasilan membawa pulang semua bukti.
Ini menjadi kata kunci untuk kembali ke Indonesia, terutama pada saat ini semua bukti tertuju ke negara asal dan juga Rusia.
Dalam kaitan dengan hal ini. Tentu saja Mr Rudy tidak sebodoh yang mereka kira. Mr Chandra mulai merasakan ada hal yang tidak beres. Mr Rudy pasti sudah merencanakan ini semua.
Mr Chandra tidak ingin jatuh untuk yang kedua kalinya. Bertemu dengan Mr Rudy seperti bertemu dengan kematian.
Dalam anggapan Mr Chandra, Mr Rudy adalah salah satu penjahat yang mampu memberikan sebuah jebakan.
Kali ini, semua pihak terkait harus mampu untuk terjun langsung.
***
Mr Chandra mulai melakukan siasatnya saat berkunjung ke rumah mendiang Erest.
Rumah itu terasa hampa. Bahkan lebih hampa dari sebuah makam tua. Tidak berpenghuni. Hanya ruang kosong dan semua keistimewaan yang tak berarti.
Yang jelas di sini Mr Chandra ingin menemukan sesuatu. Sebelum mengakhiri semua.
Ruangan rahasia tersebut tetap aman dari kendali siapa pun. Bahkan setiap ******* tidak akan mampu menemukan mahakarya ini. Entah siapa yang mengurus ini kelak.
"Apa yang ingin engkau rencanakan, Mr Chandra?" tanya Sean sambil berusaha mengambil sebuah remote proyektor yang berada di atas loker.
"Aku ingin memastikan bahwa alamat yang ditujukan oleh Mr Rudy adalah alamat yang benar." Sean menyeringai kemudian berusaha membaca satu per satu buku yang ada di lemari.
Tidak ada yang spesial dari buku-buku tersebut selain novel-novel detektif dan juga jurnal harian, namun ada yang paling menggugah Mr Chandra di saat melihat bingkai foto keluarga yang terselip di dalam buku jurnal milik Erest.
Empat manusia yang berada dalam foto tersebut seperti mengisyaratkan sebuah dendam, terlihat wajah ambisius yang berpendar dari wajah mereka semua.
Ayah dan ibu dari foto tersebut mengisyaratkan kesinisan dalam hidup. Tak lupa ekspresi wajah Mr Rudy yang sudah terlampau bengis semenjak kecil.
Mr Chandra mulai mencari sebuah alasan yang kuat. Sebagai detektif, semua hal yang terjadi harus ada penguatan bukti yang terkait sebelum merumuskan sebuah kesimpulan.
Mr Chandra mulai terperangah di saat melihat isi jurnal yang indah dari Erest.
***
Dari Sebuah Pengabdian
Sebuah rumah yang dihuni empat orang yang saling bertegur sapa. Memberi nilai akademia yang berujung memamerkan otak di setiap detiknya.
Akankah aku temukan lagi hari esok?
Pabrik-pabrik berhulu ledak tinggi. Kakakku memamerkan kota impiannya di Flaunden Hill kemudian berselancar menuju Distrik Lotoshino di Rusia, menambah buih demi buih dosa menguliti lagi microchip tanpa ragu. Kau bertemu dengan seseorang yang menciptakanmu menjadi Iblis. Dialah orang tua angkatmu yang kau puja tiada batas.
Gregorotsky dan Stanley
Merekalah yang harusnya ditangkap, bukan kakakku.
Kamu tidak akan mengenal lagi Anggi yang selalu kau rindukan. Tidak ada lagi ada namaku yang terlintas dalam damai. Seperti kakak dan adik yang saling merangkul tiada batas.
Kita akan berada di satu titik di mana sebuah guratan pena jadi saksi bahwa ini semua menjadi tidak mudah.
Aku hanyalah seorang detektif yang murka dengan hidupku sendiri. Seberapa banyak lagi aku harus mencari titik temu dari semua ini?
-Erestia-
***
Mr Jones sudah menyambutnya sampai dinujung pintu lobi kantor kepolisian. Menganggap ini adalah pencapaian yang luar biasa.
Mr Chandra dan kolega juga telah puas mengumpulkan bukti yang ada sebelum penangkapan dan seluruh kekuatan dikumpulkan.
"Kau terlihat lebih ceria, Mr Chandra?" tanya Mr Jones, sambil menepuk bahu Mr Chandra. Diikuti sunggingan senyum yang merekah di saat melihat kedua pemuda pemudi pemberani di belakang punggung Mr Chandra.
"Seperti itulah, Mr Jones. Kita sudah berada di babak akhir semua kejadian menggemparkan ini."
"Kalian semua luar biasa!" Mr Jones sampai memberikan lencana bintang dan berusaha menambatkan lencana tersebut di kain baju di sisi bahu.
Tidak ada lagi rasa takut yang dirasakan mereka bertiga, berganti rasa bangga yang terpatri dalam hati dan jiwa mereka. Bagaimana pun juga. Ini semua memang tak mudah.
"Terima kasih atas lencana ini, Mr Jones," seru para detektif itu sambil menyeringai.
"Kalian sudah siap untuk diinterogasi?"
"Kami siap!"
***
Mr Chandra mulai membacakan jurnal yang terhimpun dari awal mula pengejaran sampai akhir mengumpulkan bukti kepada para jajaran elit kepolisian.
"Semua berawal dari insiden pembunuhan di Bandara Soekarno Hatta. Saya bertemu salah seorang saksi bernama Sean yang mengaku melihat korban di toilet."
"Kabarnya, saksi ingin bepergian dengan kekasihnya, bernama Orin. Lantas saya menaruh curiga pada kekasih Sean. Di saat mereka sudah tiba di lokasi kejadian bersama, tiba-tiba Sean ditinggalkan begitu saja di Bandara."
"Kecurigaan ini membuat saya dan Sean, mulai mencari keberadaan Orin di Inggris. Tujuan yang semestinya mereka lakukan pada hari itu. Beruntung, Sean sempat mengecek daftar nama penumpang pesawat dan tertera nama Orin di dalamnya. Kami berdua yakin, Orin memang berada di London."
"Setelah tiba di London saya lantas mencari sahabat yang dahulu menjadi teman satu kampus, yang saat ini sudah menjadi detektif termasyhur di seantero Inggris, ia bernama Erest."
"Hal yang paling mencengangkan bagi kami berdua adalah keberadaan microchip di dalam tubuh manusia. Terdengar fakta bahwa pelaku tersebut bukan hanya satu orang, melainkan ada banyak pelaku yang mengelilingi kejadian ini, akan tetapi otak dari semua ini hanya satu, ia bernama Mr Rudy."
"Seterusnya satu per satu misteri ini kami kuak, berawal dari kejadian bom bunuh diri di lepas pantai laut inggris. Kami menemukan beberapa barang bukti berupa microchip yang masih utuh."
"Dari penemuan microchip ini, Erest denga otak cerdiknya menemukan microchip pembanding untuk menyelamatkan semua korban yang sudah ditambatkan microchip begitu pula menemukan keberadaan otak dari semua kejadian ini--tidak lain adalah Mr Rudy.
"Erest menemukan sebuah alat yang luar biasa canggih. Ia bisa menentukan di mana korban microchip itu berada kemudian alat yang bisa menghentikan microchip tersebut, walau hanya kurun waktu dua jam."
"Hasil dari mahakarya dan juga petunjuk dari Erest membuat kami berdua akhirnya bisa menemukan Orin dan salah satu temannya--Delph--yang memang dalam kondisi memperihatinkan."
"Dalam kurun waktu dua jam kami harus bisa menyelamatkan keduanya, walau pada faktanya. Kami hanya bisa menyelamatkan Orin."
"Kami merasa bersalah kepada Delph yang pada akhirnya membunuh banyak orang di rumah sakit. Sebagai pertanda bahwa sang pemilik microchip menyuruh untuk segera membunuh orang yang tidak bersalah. Beruntung, Delph mampu menyelsaikan ini."
"Dalam kurun waktu yang bersamaan kejadian bom di lepas laut Inggris dan juga kasus pembunuhan di London Hospital. Membuat publik menjadi ketakutan. Terlebih kami harus menyelamatkan bom bunuh diri di delapan titik koordinat. Kesemua korban terpaksa membunuh diri setelah diancam. Kesemua peristiwa ini menjadikan Inggris terpuruk."
"Beruntung, di saat kepanikan itu terjadi, ada titik terang di mana seorang anak dari Mr Rudy, mampu untuk mencari keberadaan ayahnya yang ternyata melarikan diri ke Rusia. Anak itu bernama Anggi."
"Bukti-bukti kuat akhirnya mulai terkumpul. Bagaimana Almarhum Anggi melihat sendiri ruang penelitian tersebut setelah melakoni akting sebagai pengikut ayahnya, kemudian dengan cerdik semua hal yang ia ketahui perihal ayahnya, ia beritahu semua pada kekasihnya, Delph. Delph juga cekatan untuk memberi informasi kepada kami. Sehingga pada akhirnya kami dapat berkumpul di Rusia, mengatur strategy penangkapan Mr Rudy."
"Nahas bagi kami, kami tidak bisa menyelamatkan teman kami. Erest terbunuh oleh masa lalunya, kemudian Delph dan Anggi terbunuh atas keputusasaan mereka. Kami frustrasi dan merasa gagal dalam misi."
"Kami tidak akan pernah bisa mengumpulkan semua bukti jika tidak dengan kecerdasan dan kecerdikan Anggi. Ia membuat kami menemukan bukti kuat yang lain yaitu pabrik pembuatan microchip yang tak hanya di Rusia melainkan juga di Indonesia."
"Mungkin sampai sini saja penjelasan dari saya."
Video recording dan juga CCTV yang berada di atas ruangan. Menjadi saksi atas apa yang akan dilakukan esok hari. Hari pembalasan dan juga penangkapan mulai tiba.