
Seseorang berwajah tampan, memakai kaca mata hitam tengah duduk sendiri di sebuah lobby bandara Internasional Soekarno-Hatta. Matanya memasang sebuah kepuasan, setelah melihat sesuatu yang menggugahnya lalu tersenyum tipis.
Seorang penuh misterius itu, tengah merogoh kantung celananya, dan menemukan dua tiket perjalanan ke london. Lagi-lagi ia mengembangkan senyumnya penuh kepuasan.
"Akhirnya... Aku, bisa pulang ke london."
Selanjutnya lelaki misterius itu, mengambil sebuah Handphone dan menghubungi seseorang.
"Habiskan Dia!"
Hanya butuh dua kata untuk menghubungi seseorang, lelaki misterius tersebut berjalan melewati kerumunan Bandara. Lalu, sampai di pemeriksaan tiket pesawat.
"Kamu sudah beli tiketnya?"
"Ya, ini dia."
"Baiklah, mari kita selesaikan semua."
Sunggingan senyum, kembali menyeruak dari seorang misterius tersebut. Dengan mudahnya ia melaju melewati petugas bandara dan masuk koridor sambil menenteng tas ransel yang ia kenakan.
Petugas bandara yang sama misteriusnya juga berjalan mengikuti koridor dan berjalan beriringan dengan teman misteriusnya.
Perjalanan ke london segera dimulai. Petualangan ini juga segera dimulai. Sebuah pesawat yang mengangkut ribuan orang tersebut telah terbang bersamaan dengan dua orang ******* di dalamnya.
>>>>>>>>>>>>>>>>
Bandara Soekarno-Hatta, tiba-tiba riuh dengan adanya korban pembunuhan yang berada di toilet laki-laki. Satu korban, terbunuh dengan sadis dengan kepala terputus dari badannya. Anehnya, sang korban terkunci di dalam toilet tersebut.
Ini tentu menggegerkan semua pihak. Termasuk pihak kepolisian yang datang terlambat. Dua orang polisi berseragam lengkap menerobos kerumunan dan bergegas melihat kondisi korban. Polisi tersebut dengan sigap membentangkan tali pembatas dan bersiap untuk menyelidiki identitas korban.
"Apa ada saksi disini yang melihat kejadian perkara?" Tanya seorang polisi dengan wajah geram akibat sang korban bisa terbunuh dengan sadis.
Manusia yang memenuhi tempat kejadian perkara tersebut, saling menolehkan kepala melihat satu sama lain. Kemudian beberapa detik berselang, seseorang pria menunjuk jari telunjuknya ke langit dengan wajah penuh ketakutan.
"Kamu, boleh ikut dengan kami?"
Pria itu mengangguk, dan salah seorang polisi merangkul tangannya menuju ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Langit di Jakarta menjadi gelap gulita. Beberapa menit berselang, hujan mengguyur sebuah mobil Polisi. Seakan sesuatu mengerikan sedang terjadi dan akan menjadi misteri yang harus dipecahkan.
Sean akan menjadi satu-satunya saksi yang melihat kejadian perkara mengerikan. Ia akan diinterogasi oleh polisi bernama Mr Chandra.
Sean tidak bisa menghilangkan kegugupannya saat duduk di ruang pesakitan. Satu ruangan yang diisi dengan meja rapat yang luas mejanya bisa diisi lima sampai sepuluh piring makanan. Satu laptop yang siap menyimpan apapun yang dikatakan Sean. Belum lagi di sudut ruangan terdapat CCTV yang siap merekam suara ataupun gerak-gerik Sean.
"Jadi siapa Namamu?"
"Sean adirama."
"Bisa diceritakan bagaimana awal mulanya melihat korban?"
"Awalnya saat masuk ke dalam ruangan. Saya hanya mencuci muka. Di ruangan tersebut terdapat dua kamar mandi yang satu pintunya terbuka dan yang satu terkunci. Saya tidak melihat ada sesuatu yang ganjal sebelumnya. Tetapi beberapa menit berselang ada suara benda terjatuh yang kedengarannya berada di kamar mandi yang terkunci tersebut. Saya kaget bukan main, disaat ada cairan kental mulai mengalir dari dalam kamar mandi tersebut. Ternyata kusadari cairan itu...Darah."
Seketika Sean merasa mual. Bahkan, tak kuasa memberikan penjelasan lagi sesudahnya. Ia merasa mual dan muntah terus menerus. Setelah objek terakhir yang dilihatnya mungkin tidak bisa membuatnya tidur nyenyak.
Kepala korban bergelinding saat pintu kamar mandi tersebut bisa dibuka oleh petugas kebersihan. Bisa dilihat bagaimana kondisi wajah korban dengan mata yang masih membelalak dan mulut yang menganga.
selang tiga puluh menit Sean akhirnya bisa menahan rasa mualnya dan kembali ke kursi pesakitan.
"Bisa kita mulai kembali".
"iya".
"Didalam tempat kejadian, Apakah ada orang lain selain kamu?".
"Saya hanya sendiri. Tidak ada orang lain lagi selain saya". Mr Chandra tampaknya melihat dengan lamat setiap gerakan tubuh sean. lalu dalam beberapa menit kemudian Mr Chandra membungkam mulutnya.
Suasana hening tercipta selama hampir dua puluh menit berselang. Yang ada hanya suara ketukan jari yang berirama yang terdengar. Mr Chandra sepertinya ingin mencari Alibi Sean mengenai peristiwa ini. Tapi dalam waktu yang ditentukan, keheningan tersebut masih mendominasi. Tak ada kata yang terlontar dari mulut Sean. Ia menduga bahwa Sean telah berkata jujur.
"Sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Terima kasih sudah bekerja sama dengan kami. Kau boleh pulang".
Dalam benak Sean, ia merasakan ada sebuah keganjalan. Tapi ia tidak mengerti kenapa keganjalan tersebut tidak bisa ia ucapkan.
" Satu lagi Sean." Mr Chandra menghentikan laju jalannya yang sudah berada di tepi pintu.
" Berhati-hatilah, dan pegang kartu nama saya".
Sean mungkin bisa mendikte apa yang diucapkan oleh Mr Chandra kepadanya. Suatu yang mengganjal dari dalam dirinya kemungkinan adalah kehati-hatian. Tidak ada yang bisa menduga bahwa sebenarnya seorang yang tengah diincar oleh pelaku adalah Sean.
"Sebentar Tuan Chandra, sebenarnya saya merasa janggal. ada satu hal yang membuat saya bingung sedari tadi".
"Maksudmu".
"Saya merasa pintu toilet utama ada yang menguncinya. Karena, pada saat saya keluar posisi pintu terkunci, tapi berselang lima detik saya mulai membuka pintu, Tidak terkunci".
Mr Chandra kembali duduk di kursi, kali ini kursi yang diduduki sengaja dibiarkan berdekatan dengan sean.
"Kalau begitu Pelaku belum jauh dari Bandara, Aku akan coba menghentikan semua penerbangan di Bandara".
"Terima kasih atas informasinya, Saya harus bergerak cepat." Tukas Mr Chandra dan mencoba melangkahkan kakinya lebih cepat ke Bandara.
>>>>>>>>>>>>>>>
Suara dering Ponsel menggema di kantor polisi tersebut. Sepertinya berasal dari Ponsel Sean.
"Peperangan baru saja dimulai, Sean. Kamu baru saja melupakan temanmu Orin?. Dia masih ada di bandara kan?".
"Orin!?, Bagaimana bisa nomor ini tahu namaku dan Orin?"
"Siapa sebenarnya kamu!?".
("Tuut...tuut...tuut")
"Sial!, Orin dalam bahaya!".
Sean berusaha mengejar Mr Chandra. Ia berlari dan berlari tapi.Sepertinya, mobil yang ditumpangi Mr Chandra sudah jauh meninggalkannya. Sean lalu memanggil taksi yang tidak jauh dari kantor polisi tersebut dan kembali ke Bandara.
>>>>>>>>>>>>>>>>>
Sesampainya di Bandara, Sean bergerak ke tempat pertemuannya dengan Orin. Tetapi ia tak menemukannya.
Orin adalah teman baik Sean. Mereka berdua berencana untuk berlibur ke london hari ini setelah hari wisuda usai. Tapi apadaya semua peristiwa ini menggagalkan semua rencana Sean.
*5 jam sebelumnya.
Orin terlihat sangat cantik, memakai kaos bermotifkan bunga matahari dan juga celana legging abu-abu menambah kesan elegan. wajahnya yang diliputi keceriaan juga menambah kesan anggun.
Hari ini, hari yang sangat ditunggu oleh Orin. Setelah bertahun-tahun memimpikan pergi ke London, Ia mendapatkan dua tiket gratis yang didapatkan dari hadiah mahasiswa teladan dari Universitas Pancasila tempatnya mengadu ilmu selama kurang dari lima tahun.
Ia mengajak pacarnya Sean untuk berlibur bersama. Awalnya Sean tak menggubris ajakan dari Orin, karena ia lebih senang kalau hanya berlibur di Bali,menurutnya lebih mengasyikkan.
Orin mengancam akan memutus hubungan Cintanya apabila Sean tidak ikut berlibur. Maka dengan terpaksa Sean mengikuti kemauan Orin.
Pada jam delapan pagi mereka berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Kedua, orang tua mereka turut menyaksikan kepergian mereka berlibur. Mereka berdua memang sudah akrab dengan keluarga masing-masing.Tapi, tentunya mereka tidak berpacaran.
Orin membenci sifat Sean yang dingin. Dan Sean juga membenci sifat Orin yang keras kepala. Setidaknya mereka bisa mempertahankan rasa cintanya hingga saat ini.
>>>>>>>>>>>>
Sepanjang perjalanan Orin berperilaku sangat aneh. itu yang Sean rasakan saat dalam perjalanan menuju bandara. Berkali-kali ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya, seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Kamu tidak apa-apa rin?"
"Rin?!"
Orin terbelalak kaget dan mulai mencari alasan.
"Hmm, iya kamu ngomong apa sean?"
"Dasar gak fokus, sebenarnya kamu kenapa? kok tiba-tiba jadi cemas? padahal saat berangkat tadi kamu ceria sekali?"
"Itu..hmm, tidak apa-apa. Oh iya makasih ya mau temenin aku ke london. Sebenarnya.."
Orin seperti menyembunyikan sesuatu. Dengan posisi cemas, Tidak terasa keringat Orin terus mengucur deras. Sean menjadi tambah curiga. Sebenarnya apa yang disembunyikan Orin.