
Menyusuri kekacauan Kota London yang tak bisa dibendung lagi. Membuat semua pasang mata geram melihatnya. Mr Chandra sampai membuka pintu kacanya dan melihat semua orang histeris dan ketakutan. Tampaknya media di negeri ini terlalu membesar-besarkan berita yang ada.
Kali ini. Mau tak mau Erest dan Mr Chandra harus bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap semua pelaku. Terutama delapan pelaku yang masih berada di sini.
Erest terus memantu pergerakan titik kordinat dalam ponselnya. Masih dalam pola berpencar. Hanya ada tiga orang yang terlihat masih bersama dalam satu daerah. Lima lainnya berada di pusat kota London.
Pemindahan lokasi kantor kepolisian ke Wembley berpengaruh besar dalam sistem keamanan di London. Kepolisian belum menemukan alat yang bisa mendeteksi musuh. Setelah mereka tahu, maka bisa dipastikan semua penangkapan ini bisa segera terlaksana dengan sebaiknya.
***
Hanya butuh waktu dua jam untuk sampai di Wembley. Mr Chandra memarkir mobilnya tepat berada di depan kantor polisi. Wembley Hill Road tempatnya berada saat ini. Sudah dipenuhi banyak warga yang datang. Bahkan para wartawan juga rela datang untuk datang ke sini melihat langsung keadaan kantor kepolisian yang baru.
Mr Chandra dan Erest harus memaksa tubuhnya berdesakan melewati semua orang yang berada di lobi kantor polisi.
"Kita harus menemukan Inspektur Jones. Salah satu rekanku waktu jadi staff kepolisian dulu. Aku mengira ia sudah tiba di ruang kerjanya."
"Baiklah, aku akan menunggu di sini."
Mr Chandra menghela napas. Mencoba mempersiapkan tekad untuk berperang pada hari ini. Mungkin bisa saja ini adalah hari-hari di mana ia tak mampu lagi merasakan hawa sejuk Britania Raya. Atau sekadar menonton klub sepakbola bertanding hari minggu.
Ia merasa sangat kelelahan dengan semua itu. Bahkan dengan dirinya sendiri. Tak ada lagi ketenangan dalam hidupnya. Yang ada hanya sisa kelelahan itu.
***
Terlihat sudah begitu tua. Jones Aldibra, bisa dibilang adalah satu-satunya kepala staf kepolisian London yang berusia senja. Kewibawaannya dan sikap low profilenya terhadap bawahan membuat dirinya bisa bertahan selama sepuluh tahun.
Beberapa koridor menuju pintu utama sang komisaris sudah terhadang beberapa pengaman dan polisi yang berjaga. Semua sudah berselaraskan senjata lengkap. Erest sampai harus memberikan identitasnya berkali-kali.
Sampai di ujung lobi. Terdapat satu pintu utama yang sedari tadi terbuka lebar. Jones Aldibra sudah terbiasa untuk berada di kondisi pintu terbuka. Menurutnya, sesuatu akan terjadi dan kita tak tahu kapan kematian itu terungkap.
"Selamat datang Profesor Erest. Sudah lama tidak bertemu denganmu. Kamulah seorang yang kurindukan beberapa akhir ini. Mengapa baru muncul?"
"Aku akan muncul peling terakhir dan akan menyelamatkan semua orang. Ada banyak riset dan kejadian yang menyibukanku beberapa hari ini. Semua menjadi serba sulit."
Erest mulai menceritakan semua peristiwa tersebut. Dimulai dari bom di lepas laut Inggris, bom di kantor kepolisian dan yang terakhir pembunuhan di London Hospital.
"Bagaimana hasil risetmu. Apakah ada penemuan untuk menyelesaikan semua ini?"
"Kupikir ini akan menjadi kekuatan kita sekarang." Erest memamerkan karyanya di depan Mr Jones. Alat itu adalah Magnetic Off.
Erest mulai mempersentasikan alat tersebut di depan Mr Jones, kemudian memberi pernyataan agar bisa membantunya.
"Jadi berapa pasukan yang ingin kau minta?
"Akan lebih baik sebanyak yang akan kau berikan pada negeri ini. Sebelum pemerintah pusat turun tangan dan ini semua akan menjadi rumit. Kita bukan menghadapi orang sembarangan. Akan menjadi masalah besar jika semua orang terlibat."
"Jadi, menurutmu, kau akan mengambil kasus ini?"
Mr Jones terlihat sedih ketika lagi-lagi Erest memelas. Lima belas tahun lamanya Erest tidak bertemu dengan seseorang itu. Kini ia mulai kembali mengejarnya.
" Baiklah, aku akan mengumpulkan 50 pasukan untuk ikut serta bersamamu. Aku yakin kasus ini segera dituntaskan dan kau akan kembali pada seseorang itu secepatnya."
***
Hari itu pertarungan di mulai. Di mulai dari suara sirine dan membuka jalan bagi Truk polisi anti peluru untuk berjalan menyusuri jalan di sekitar london. Satu per satu pelaku microchip diserbu.
Pelaku pertama dan kedua berada di St. James Park. Alasan penangkapan tersebut terlihat sederhana. Kedua pelaku tersebut tampak menjauh dari pusat kota London.
Tidak ada kesulitan berarti di saat dua pelaku microchip tersebut sedang berada di alun-alun Trafalgar. Melihat beberapa pertunjukan live music. Tidak ada perlawanan. Alat bernama Magnetic Off tepat mengenai sasaran microchip yang berada di bagian perut sebelah kiri. Keduanya tak ada perlawanan.
***
Senyum tersungging dari pasang mata penuh kebencian. Aura jahatnya terpancar sempurna. Kemudian, seorang misterius bernama Zein tersebut mulai menelepon seseorang.
(Ledakkan diri kalian di empat tempat yang berbeda.)
Semua wajah-wajah penuh ketegangan itu tak mampu menutupi kekesalannya. Itu sama saja bunuh diri. Tragisnya mereka harus melupa bahwa ini semua akan jadi hari terakhir bagi mereka. Wajah sedih dan haru di masing-masing manusia tak berdosa tersebut sudah di ambang batas.
Mau tak mau mereka harus tetap menjadi sejarah bagi keluarga yang menunggu di rumah. Berharap semua akan kembali pada sedia kala. Daripada keluarga yang ada di rumah mati. Mereka memilih untuk berkorban.
Tempat pertama adalah di Haverstock Hills. Tepatnya berada di Chalk Farm. Mereka harus menyiasati bunuh diri mereka tanpa harus melukai banyak korban.
Sepasang manik kecokelatan dan bertubuh gempal itu memeluk anak gadisnya yang masih belia. Buliran tangisnya dan tubuhnya seakan terbang begitu saja. Hancur berkeping-keping.
Semua ledakan sudah disiasati oleh Erest dan Mr Chandra dengan baik. Diam-diam mereka berdua punya tugas mengikuti kemana pun si pelaku microchip pergi. menyiasati kepergian mereka tanpa ada satu pun korban berjatuhan.
Korban kelima dan keenam meledakkan dirinya di Isle Of Dogs, tidak ada korban yang tercipta karena semuanya juga sudah diungsikan dengan baik. Tanpa ada wajah menyesal, korban ketiga dan keempat hancur dengan sekejap saja.
Korban ke tujuh dan ke delapan. juga sama, tak ada kesulitan yang berarti di saat mereka meledakkan diri mereka saat terjun ke sungai Themes yang dalam. Volume suara ledakan bom tidak terasa besar ketika pelaku microchip tersebut memenuhi tugas dari Erest untuk meledakkannya di dalam air.
Bak kebaratan jenggot, Zein melampiaskan amarahnya. Melempar semua peralatan medis milik Mr Rudy. Mau tak mau ia harus menjalani misi ini sendiri. Predator yang dingin. Predator yang haus akan darah.
Lega. Itu yang bisa dirasakan oleh Mr Chandra dan Erest setelah melihat strategy mereka bisa berhasil.
Mereka berdua sengaja memancing para aparat kepolisian berpencar.
Sebelum strategy itu di mulai. Erest tampak memperhatikan dengan seksama titik kordinat para pelaku microchip tersebut, yang tak lain mereka sudah berada di titik masing-masing tanpa pergerakan. Itu artinya semua sudah dalam fase menghancurkan diri.
Maka dari itu, Erest memulai langkahnya ke tiga titik kordinat tersebut. Kemudian, Memerintahkan para penduduk untuk segera menyelamatkan diri sebelum ledakan itu terjadi. Sedangkan 50 personel polisi tersebut sengaja mengulur waktu untuk sampai ke lokasi dua orang yang selamat, agar korban ledakan tidak bertambah banyak.
Awal yang baik dari seorang Erest. Ia berhasil menang telak.