
Suara rentetan peluru menggema dari semua penjuru kediaman Mr Roen. Tampak dari luar, kediaman Mr Roen tak ubahnya seperti istana yang dijaga hampir empat puluh pasukan penjaga bersenjatakan pistol.
Rencana pertama dari pihak detektif adalah menerbangkan robot kamera pelacak serupa lalat yang kegunaannya untuk merekam titik kordinat pasukan musuh.
Robot ini berhasil untuk merekam titik koordinat musuh. Kemudian berhasil terbang lagi dengan selamat sampai tujuan. Kemudian Erest dengan cerdik. Membuat struktur ruangan dan juga strategi yang akan bisa dilakukan kali ini.
"Hanya ada 25 orang di dalam. Tidaklah sulit. 8 dari 25 pasukan berjaga di luar. Sisanya di dalam. Itu artinya, Mr Roen lebih memprioritaskan pasukan elitnya untuk terlubat di dalam rumah.
"Rumahnya juga tidak terlalu istimewa. Hanya ada empat gerbang yang diisi oleh dua pengaman bersenjata pistol. Menuju ke dalam rumah. Hanya ada dua koridor utama menuju satu ruangan tamu. Tidak ada ruangan lain lagi.
Uniknya, rumah ini terdiri dari lima lantai. Di lantai pertama sampai keempat, bentuknya nyaris sama."
"17 pasukan tersisa menyebar di segala penjuru lantai. Hebatnya, alat yang sudah aku gunakan sekarang. Ia bisa mendeteksi warna darah pasukan tersebut. Yang artinya dari setiap warna darah atau orang yang sudah terdeteksi, semua bisa terekam hingga membentuk titik koordinat pada layar monitor ini. Bukan hanya itu, alat ini juga bisa menampilkan layat 3D ke monitor sehingga kita bisa memperkirakan apa yang mereka perbuat di layar ini.
"Seperti sudah kita sepakati tadi. Orin dan Anggi kuharap bisa bekerja sama menuntun empat pemuda ini untuk berperang."
Orin dan semua temannya mengangguk tanda setuju. Semua sudah siap untuk bertempur. Terlihat Sean mengucurkan keringat dingin, karena walau bagaimana pun ia tak pernah ikut berperang. Kecuali Erest, Mr Chandra dan Delph. Mereka lebih berpengalaman dalam dunia kriminalitas.
Musuh bersama ini memang pada akhirnya harus ditangkap lebih dulu. Jelas bahwa nama Mr Roen adalah dalang dari semua ini. Kalau saja waktu itu ia tidak meminang dan menyukai istri dari Mr Rudy, maka tidak akan ada masalah seperti sekarang. Tidak ada lagi balas dendam.
Saat pembagian team. Mr Chandra akan bersama dengan Sean di gerbang timur sedangkan di gerbang baratnya ada Delph dan Erest akan menyusup lebih dulu.
Menariknya di sini adalah ketika Anggi dan Orin saling bahu membahu bekerja sama di belakang layar. Walau ini hanya dalam keadaan terpaksa setidaknya bisa memperbaiki hubungan mereka.
Delph, Sean, Erest dan Mr Chandra sudah siap dengan alat tempurnya berupa senapan kaliber 12, yang diberi nama Saiga-12 dan juga rompi anti peluru tidak lupa helm yang sudah dilengkapi headset.
***
"Bagian barat dan timur, mereka lengah." Anggun mulai buka suara.
"Thank you, Anggi," jawab Delph sesekali tersenyum.
Barat dan timur gerbang ini terlihat lengah dikarenakan penjaga sibuk dengan gadgetnya, tidak melihat tanda-tanda bahaya. Delph dan Erest berhasil lebih dulu menembak dua penjaga di bagian barat gerbang.
"Sean, kau harus tenang. Jangan gugup, pegang dengan erat pistolmu!" seru Mr Chandra, yang merasa geram atas ketidakbecusan Sean.
Mr Chandra dan Sean terlihat lamban. Akan tetapi, mereka lebih waspada dari Delph dan Erest.
Tersisa empat pasukan di utara dan selatan. Kali ini belum ada tanda-tanda bahaya.
"Erest, akan lebih baik jika aku dan Sean menghabisi pasukan gerbang terlebih dahulu."
"Ide bagus, Chandra. Aku akan menghabisi pasukan lantai pertama,"seru Erest, yang lebih percaya diri.
"Ada lima orang pasukan di lantai pertama. tiga orang berada di sisi kiri koridor, dua lainnya berada ada di ruangan inti." Anggi mulai merasa tegang begitu pula Orin.
Anggi dan Orin masih terlihat dingin. Saat ini mereka berdua hanya fokus untuk mengurusi pasangan masing-masing.
"Awas di belakangmu, Sean!" Satu orang penjaga terlihat sudah membidik tubuh Sean. Beruntung Mr. Chandra sudah menghabisi pasukan tersebut lebih dulu."
Pasukan gerbang sudah ditaklukan dengan mudah. Sean dan Delph mulai masuk gerbang selatan kemudian masuk ke pintu bagian timur.
Beruntung pihak belum menyadari adanya komplotan polisi ini. Semua karena senjata yang dimiliki tidak menimbulkan bunyi bising.
Erest dan Delph terlihat fasih menggunakan senjata kaliber 12 tersebut. Beruntung tidak ada kesulitan berarti saat lima orang di lantai pertama terbunuh dengan mudah.
"Di lantai dua, terdapat enam orang, enam-enamnya berada di ruang utama. Sepertinya mereka sedang makan."
Sebenarnya, Orin sudah menggeser mic lebih dulu, akan tetapi Anggi merebutnya kembali karena masih tidak sudi.
Dalam kurun waktu sepuluh detik saja. Semua benar-benar berjalan sempurna. Tidak tega sebenarnya setelah melihat mereka terbunuh saat makan.
Ini terasa menyakitkan bagi Sean. Pertama kalinya juga ia membunuh seorang. Erest, Delph dan Mr Chandra terlihat terkekeh sendiri melihat tubuh gemetar Sean.
"Lantai atas adalah lantai di mana semuanya akan berakhir, karena di sanalah tempat persembunyian Mr Roen dan istrinya berada." Erest mengeluarkan nada yang serius. Tidak ada yang lebih serius dari ini sebelumnya.
"Maka dari itu kita harus berpencar. Aku dan Delph akan menunggu di bawah sini menghajar pelaku-pelaku itu dengan cara membunyikan alarm kemanan di tembok itu. Sementara kau Chandra, kau harus bisa menangkap Mr Roen.
Chandra, Delph, dan Sean terlihat mengerti apa yang Erest rencanakan.
Seperti yang sudah diduga sebelumnya. Para pasukan terlihat mulai turun untuk melihat kejadian alarm berbunyi. Tersisa enam orang dan semuanya bisa terbunuh dengan mudah.
Erest dan Sean sudah mengepung Mr Roen di kamarnya. Keputusan yang tepat di saat Mr Roen dan istrinya hendak melarikan diri melewati jendela. Namun, semua tidak terlaksana dengan mudah, karena Mr Chandra menembak kaki Mr Roen lebih dulu.
Mr Roen tertangkap dengan mudah. Misi berhasil.
***
Tiga jam sebelumnya.
Berada di salah satu restoran bernama Europe Dine di pusat Kota Moskwa. Semua pada akhirnya menemukan Anggi. Sebuah perjalanan dan semua rencana Anggi ternyata tidak sia-sia. Biaa bertemu Delph dan pasukannya sudah membuat Anggi senang.
Anggi terlihat dipermainkan oleh ayahnya yang ternyata sudah mengetahui bahwa Delph dan teman-temannya akan datang hari ini. Ia menceritakan semua peristiwa yang terjadi antara Mr Roen dan ayahnya.
Walaupun Erest tahu yang sebenarnya. Ia menghargai keputusan Anggi untuk menceritakan semua. Memang pada dasarnya, Mr Roen juga harus ditangkap, karena dialah satu-satunya alasan Mr Rudy bersikap sepeeri iblis.
Maka dari itu, kesempatan licik ini tak mau disia-siakan oleh Mr Rudy. Tak tanggung-tanggung. Darah dagingnya sendiri harus memelas di hadapan Delph dan temannya meminta tolong untuk menangkap Mr Roen. Jika tidak, maka dipastikan hidup Anggi akan berakhir saat ini juga.
Bukan hanya Delph yang meluap emosinya. Semua tatap wajah yang baru datang dari London seakan tak kuasa menahan kebencian pada Mr Rudy.
"Baiklah pada hari ini juga. Kita harus selesaikan permintaan Mr Rudy. Menangkap Mr Roen."
"Untuk engkau para wanita." Erest menunjuk ke arah Orin dan Anggi. "Kalian berdua bertugas untuk berada di belakang layar. Menunjukkan jalan kepada kami. Kemudian memberitahukan kepada kami di mana para pasukan itu berada, kalian mengerti?"
Anggi dan Orin terlihat mencuri pandang sekilas. Mengingat keduanya masih beraitegang sampai saat ini.
Dipandu oleh Anggi yang sudah tahu letak keberadaan kediaman Mr Roen. Para detektif itu pada akhirnya menuruti semua kemauan Anggi.
***
Terlihat senyum tersungging terpancar dari wajah Mr Rudy setelah rencananya berhasil.
"Ahh, leganya. Aku menunggu saat-saat seperti ini. Ini seperti di luar kendaliku. Keberuntungan selalu ada di pihakku. Bukan begitu, Gregor?"
"Benar, kau selalu jenius, Rudy."
Gemuruh tawa membahana seisi ruangan penelitian. Seakan semua kepuasan tentang hari-hari melelahkan ini bisa terselesaikan dengan sangat baik bagi Mr Rudy.