
Hujan deras tiba-tiba membasahi kota Winchester. Orin berada di sebuah Bar di dalam hotel tempat ia menginap bersama dengan Delph. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Tentang apa yang akan direncanakan esok hari dan seterusnya. Kali ini mereka benar-benar harus bekerja sama untuk mencari jalan keluar.
Melihat kejadian di Laut Inggris dan Kantor kepolisian dalam waktu yang bersamaan membuat Orin dan Delph bersiaga. Cepat atau lambat kepolisian akan mencari mereka juga.
Orin dan Delph Seperti terkungkung dalam waktu. Mereka harus berkejar-kejaran dengan tubuh mereka sendiri. Menyiapkan mental sebaik-baiknya saat semua berubah menjadi kondisi yang paling buruk. Seperti saat Kejadian bom bunuh diri di Laut Inggris. Suatu saat mereka akan menghadapi itu semua.
Orin bergidik ketakutan saat menyaksikan kapal yang meledak tersebut. Semudah itukah Bunuh diri?. Dalam lubuk hati yang paling dalam,Orin bahkan tidak siap dengan kondisi menyedihkan seperti itu.
Iblis Itu harus segera dihabisi. Dan semua akan berakhir. Dua kata yang sepertinya terngiang dari otak mereka berdua.
"Jadi apa rencanamu melihat semua ini?" tanya Orin, ia melihat manik mata kelabu sudah tergambar juga di benak Delph.
Serentak, Delph membuang manik mata itu untuk melihat derasnya hujan yang membasahi jalanan. Seketika ada banyak kerumunan orang yang berada di dinding sebuah bangunan, sesekali meneduh sejenak dari terpaan air hujan.
"Hei!" sentak Orin, alih-alih ingin bicara dengan sopan, ia malah menggerutu kesal pada Delph setelah ujarnya tidak di gubris.
Delph terkesiap, kemudian manik mata tersebut mulai memandangi Orin dengan serius.
"Kamu lihat orang di luar sana. Mereka berlindung di sebuah bangunan agar tidak basah terkena hujan. Itu artinya, kita harus berbuat demikian."
"Maksudmu?" tanya Orin, semakin penasaran.
"Kita harus berlindung, mencari bantuan dan mulai menyerang Mr Rudy dengan berbagai cara."
"Jadi maksudmu, kita harus menyerah?"
"Begitulah, tidak ada cara lain lagi."
Detik berikutnya, Orin tersadar. Tak seharusnya ia pergi meninggalkan Sean tempo hari. Jelas ini akan membuat dirinya tambah kesulitan. Kali ini Delph benar. Ini masalah serius, semua nyawa di pertaruhkan. Bukan hanya nyawa dirinya dan juga Delph, melainkan nyawa orang-orang terdekat.
***
Mr Chandra beserta koleganya bermalam di Birmingham sambil bersantai sejenak di cafe Locanta Italian, berada tidak jauh dari pusat kota Birmingham. Membeli beberapa potong Garlic Bread beserta panasnya Americano Black Coffe.
Tidak ada pilihan lain bagi Sean untuk mengikuti menu makan malam yang sama, begitu pula Erest. Tak satu pun dari mereka bisa menutupi ketegangan. Kejadian yang menimpa mereka kemarin menjadi cambuk, setidaknya ada lima korban jiwa pada peristiwa kemarin.
"Apa rencana selanjutnya, Erest?"
Erest bergeming, hanya menatap cangkir gelas yang masih terisi penuh dengan kopi. Sedang Sean hanya bisa memijit keningnya seolah frustasi dengan semua ini.
Menit selanjutnya, Mr Chandra tak sengaja menumpahkan gelas kopi hingga mengenai pakaian Erest. Seketika Erest terbangun dari lamunannya kemudian dengan cekatan membersihkan semua cairan kopi yang menempel di bajunya.
Refleks Mr Chanda dan Sean juga ikut membersihkan noda di pakaian Erest.
Erest jadi ingat suatu hal. Bahwa ia harus menggunakan cara ini. Mungkin saja ini akan bisa menjadi kelinci percobaan.
Sudah merasa tenang. Erest dan koleganya kembali duduk. Kali ini sunggingan senyum merekah dari mulut Erest. Seolah menemukan Ide brillian.
"Harus ada yang di korbankan. Itu salah satu cara ampuh untuk mengalahkan Mr Rudy."
"Ini sangat berbahaya, berteman dengan pengawal setianya mungkin akan menjadi bumerang bagi kita."
"Setidaknya Sean harus jujur," sahut Erest.
"Mengapa jadi aku?" timpal Sean.
Erest menatap lekat manik mata kecokelatan milik Sean, seraya menghakimi bahwa Sean punya sesuatu yang dirahasiakan.
"Karena hanya kamu yang bisa menjawab semua, Sean. Bukan begitu, Mr Chandra?" Erest meminta persetujuan dari Mr Chandra dan berharap bahwa Mr Chandra bisa mengerti apa yang dipikirkan olehnya.
Mr Chandra juga ikut menatap lekat manik mata itu. Kali ini, ia mengerti apa yang di maksud pengorbanan bagi Erest. Kemungkinan itu satu-satunya jalan yang harus ditempuh.
"Siapa Orin sebenarnya? kau bisa jelaskan kepada kami. Ini satu-satunya jalan agar kita bisa keluar dari masalah ini."
Tegang dan takut, itu yang bisa dirasakan oleh Sean saat ini. walau ia tahu, ini masih dugaan. Tak mungkin kekasihnya itu melakukan hal biadab seperti ini.
Fakta memang belum terungkap, tapi bukti menguatkan bahwa Orin memang adalah tersangka utama dari pembunuhan di Bandara Soekarno-Hatta tempo lalu. Analisa Sean mengungkapkan bahwa dirinya meyakini itu.
Dimulai dari perubahan sikap yang ditunjukkan Orin, Ponsel yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Berlanjut perjalanan Orin hingga bisa menerobos masuk ke pesawat dan lebih anehnya, Orin seperti sudah menganalisa waktu berangkatnya.
Ia menjalankan aksinya tepat pada saat keberangkatannya menuju London. Kemudian pertemuan pertamanya di Old Trafford kemarin, sikap dingin dan usaha melarikan diri dari Sean. Semuanya menunjukkan bahwa Orin adalah satu-satunya terdakwa di balik semua rencana pembunuhan ini.
Tidak ada pilihan lain bagi Sean untuk menceritakan peristiwa tersebut. Ia harus berkata jujur.
"Baiklah, demi menyelesaikan semua mimpi buruk ini. Aku bersedia jujur."
Sean menceritakan semua hal mengenai Orin, di mulai dari semua keanehan yang terjadi pada diri Orin sampai ia bertemu kembali di Old Trafford.
"Terima kasih infonya, Sean. Kamu hebat. Tidak ada seorang kekasih yang mampu untuk membuka aib pasangannya sendiri kepada polisi."
"Aku akan pasrah jika memang Orin pelaku pembunuhan itu. Aku serahkan pada kalian, tapi jika itu hanya ancaman. Maka, aku tak akan segan membunuh kalian berdua dengam tanganku sendiri."
"Kau mengancam kami!" Erest tersulut emosinya kemudian beranjak memegang kedua kerah kemeja Sean.
"Tenang, Erest. Kurasa Sean benar, ia berhak tahu penyebab kekasihnya menjadi pembunuh. Suasana semakin mencekam saja, mari kita pulang."
Tidak ada lagi pertengkaran. Hanya ada suara derap langkah kaki yang terdengar sampai di ujung pintu bar. Cafe Locanta Italian akan menjadi saksi bahwa mulai saat ini Sean, Mr Chandra dan Erest akan menemukan semua pelaku yang mulai terungkap identitasnya.
Sebelum beranjak menuju mobil, Erest mendapatkan telepon penting dari Kantor Kepolisian Inggris.
Kabar gembira lagi-lagi datang. Satu per satu bukti sudah di pecahkan. Terutama Micro Chip itu. Sebuah maha karya luar biasa yang entah siapa yang membuatnya.
"Mari kita pulang, saat di rumah nanti akan aku tunjukkan sesuatu yang membuat kalian takjub."
Mr Chandra dan Sean hanya terdiam. Mengaburkan pandangan ke kaca mobil masing-masing. Melihat gemerlapnya kota Birmingham serta jalan Ludgate Hill yang padat.