
Masih di tempat yang sama yaitu pembaringan. Jelas ini adalah waktu di mana semua akan menjadi titik terang. Anggi bisa dibilang menjadi korban sang Ayah. Bagaimana ia bisa menuntaskan ini semua dengan caranya.
Anggi punya cara yang unik. Saat ia tahu akan berada di ruang pesakitan ini. Ia sengaja menambatkan rekaman suara yang letaknya tertambat di tali BH nya. Ia tahu ayahnya lebih jenius darinya. Akan tetapi, Mr Rudy suatu saat mengakui bahwa anaknya lebih cerdik dari yang ia kira.
Mr Rudy terlihat fasih untuk memakai pakaian operasi dan juga mempersiapkan peralatannya. Ia terlihat sedang memasukkan cairan ke dalam alat suntiknya.
Anggi bergidik dan mencari cara agar ia tak terlihat tegang. Rencana ini harus berhasil ia kerjakan. Kalau tidak, maka tidak ada lagi cara untuk mengalahkan ayahnya.
"Ayah, aku selalu rindu saat-saat seperti ini. Selalu berada di sampingmu adalah hal yang menyenangkan."
Anggi terlihat menahan gugupnya, berkali kali tangan kanannya mencengkeram kuat besi ranjang.
"Saat ini aku menganggap kau prajuritku."
Anggi tahu ini jebakan. Terkadang ayahnya hanya mengujinya. Ia harus pintar untuk menyusun kata agar semua tidak terlihat mencurigakan.
"Dengan senang hati, Tuanku. Aku akan menjadi prajuritmu selamanya," sahut Anggi masih menahan gugup. Berharap ia bisa mendapat simpati ayahnya.
"Tidak ada seorang anak dalam hidupku, anakku sudah mati!"
Mr Rudy tertawa seperti orang gila. Anggi merasa terpukul mendengar perkataan ayahnya. Buru-buru ia seka buliran tangis itu sebelum ayahnya melihatnya.
"Iya, Ayah. Eh, maaf Tuanku. Kau benar, Anggi sudah mati dan saat ini aku adalah bonekamu."
Kembali ia menyeka bulir tangis itu melihat ayahnya bertambah bengis. Anggi kembali merespon dengan percaya diri.
"Jadi, bolehlah aku menjadi orang kepercayaanmu?" sahut Anggi lagi, secara tak sadar ia menggigit lidahnya sendiri untuk menahan ketegangan.
"Kau akan menjadi bagian dari hidupku. Marilah kita bermain-main sejenak untuk menambatkan microchip ini ke tubuhmu. Sekarang kau bersedia?"
"Baiklah. Akan tetapi, bolehkah aku bertanya beberapa hal? Aku berjanji aku akan menjadi prajurit paling setia diantara prajurit yang lain."
Suasana menjadi hening. Mr Rudy tampak menurunkan sedikit kacamatanya. Terlihat matanya mulai menyelidik. Perlahan, ia mulai mendekati Anggi. Memperhatikan semua tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.
Anggi merasakan sekujur tubuhnya tak bisa bergerak. Merasakan ketakutan yang luar biasa. Ini semacam deja vu, mengingat Anggi dan Mr Rudy pernah bentrok sebegitu hebatnya, lalu yang paling penting adalah sound recorder yang tertambat di dalam kutang. Tamatlah sudah apabila Mr Rudy melihatnya. Beruntung, Mr Rudy hanya memeriksa bagian luar bajunya.
"Dengan senang hati, prajuritku. Kaulah penggantiku. Aku akan membongkar semua rahasiaku. Akan aku jadikan, kau monster. lihat mahakaryaku ini. Kau tidak saja sebagai pengawal, tetapi sebagai tuan puteri yang kekuasaannya tiada batas."
Anggi sudah mengakui bahwa Ayahnya orang gila sekarang. Anggi hanya bisa melakukan semua yang diperintah ayahnya. Namun, Anggi tetap merasa senang setidaknya ayahnya tidak tahu apa yang disembunyikan di balik baju ini.
Masih menggigit lidah menahan gugup. Anggi justru berada dalam keberuntungan satelah ayahnya perlahan membuka kedoknya sendiri.
"Bawalah bintang ini." Mr Rudy memberikan lempengan kuningan emas berbentuk bintang. "Ini adalah kunci kamarku, ini yang sebenarnya kau cari, kan? Jadi, tak usah mengejarku lagi. Kaulah penerusku. Kau berhak tahu apa isi di dalam kamarku." Senyum tersungging dari bibir Mr Rudy, bergantian Anggi yang tak mampu berkata lagi.
Selanjutnya Mr Rudy terlihat mengambil sebuah kursi kemudian duduk di samping kanan Anggi.
"Aku akan menceritakan semuanya, Jadi bersiaplah untuk tetap jadi pendengar setia."
Anggi masih tidak mengerti maksud ayahnya. Ia mulai mencerna, tapi terlihat sulit. Sang Ayah seperti memiliki indera keenam. Ia tahu semua yang aku lakukan.
Jangan-jangan!
"Ayah, bolehkah aku sebentar ke kamar kecil?"
Anggi mulai beranjak dan mulai mencari sesuatu. Ia mulai takut semua akan terungkap. Ayahnya mengerikan. Ia tahu semua yang dilakukan Anggi.
Ia turun menyusuri tangga sebuah bangunan yang luas, akan tetapi gelap dan penat. Hanya ada satu ruangan yang menyala paling terang. Yaiti ruang operasi. Ruang yang lain terkunci.
Kamar kecil berada di lantai paling bawah. Anggi masih teringat ruang bawah adalah ruang di mana dirinya disekap. Ia mulai mencari buku yang ditinggalkannya di dalam lorong. Ia terpaksa menyimpan buku notenya di tempat yang aman. Beruntung kecurigaannya hanya sesaat, setelah ia benar- benar melihat benda yang dicarinya.
(Tolong Aku. Ayah menambatkan microchip ke dalam tubuhku)
(Sementara ini, aku tidak bisa membalas pesanmu. Cepatlah kemari.)
Anggi memberi pesan kepada Delph dengan sesingkat-singkatnya.
Hanya ini kesempatan terakhir yang ia bisa lakukan. Sebelum Mr Rudy menemukan kecurigaannya. Anggi punya cara lain untuk membuat semuanya baik-baik saja.
Semua ponsel sengaja ia hapus semua nama kontaknya, hingga tak ada satu pun ia menyimpan nama kontak tersebut. Aplikasi GPS ia buat dengan kode rumit hingga tak ada lagi yang bisa membukanya kecuali dirinya.
Untuk Note ia menulis secepat yang ia bisa. Tentang Kuningan menyerupai bintang ini. Perlahan tapi pasti. Semua sesuai dengan rencana
***
Ini tulisan terakhirku
Cepat bongkar kamar ayah di London menggunakan kunci ini.
Good Luck
***
Ia menaruh kuningan bintang itu tepat di sela-sela lembaran kertas. Tak berhenti sampai di situ. Ia mengambil tas miliknya yang sudah diletakkan di ruangan ini setelah Anggi pingsan. Kemudian mengambil sebuah benda tambahan agar sang ayah tidak menaruh curiga.
Di dalam tas, terdapat sepatu sport. Kemudian, Orin mengambilnya setelah itu ia berusaha menyisipkan ponsel dan buku note ke dalam sepatu sport. Biar tak ada rasa curiga, Ia langsung melempar tas tersebut ke luar gedung.
Jadilah ponsel dan buku notenya tersimpan rapih di dalam lubang sepatu.
***
Kepanikannya berubah menjadi kekuatan. Sekali lagi Anggi merasakan kemenangan yang tampaknya sudah di depan mata. Semoga saja tak ada kecurigaan pada sepatu sport tersebut.
Kembali di ruang operasi seperti melihat pembaringan yang terbuat dari panas neraka. Mr Rudy terlihat tak sabar setelah jarum suntik bius ini tertancap secara sengaja ke punggung di saat Orin baru masuk dalam ruang operasi tersebut.
Tanpa ada kabar berita dan ucap sapa. Mr Rudi dengan sifat iblisnya mulai berpesta dengan tubuh dan darah dagingnya sendiri. Benar-benar menjijikan.
Operasi itu seperti biasa lancar tanpa halangan. Mr Rudy menambatkan setidaknya lima belas microchip. Artinya Anggi bisa saja meledak saat itu juga, Akan tetapi, ledakannya bisa mencapai satu setengah kilometer.
***
Sean dan koleganya terasa lega saat sudah sampai Rusia dalam kurun wakti enam jam saja.
Saat Delph melihat isi pesan dari Anggi. Emosinya kian mencuat. Ada kepalan tangan yang tampaknya geram melihat perilaku Mr Rudy. Sudah tak sabar menangkap pria iblis itu.