MICRO CHIP WITH LOVE

MICRO CHIP WITH LOVE
15. Operasi



Selama dua jam, hanya dua jam.


"Lari! masuk ke mobil itu!" Sean mengakhiri ucapannya dengan tergesa. Ia tahu ini bagian tersulit di saat ia harus mampu menyelesaikan drama penyelamatan ini hingga berhasil. Jika tidak, maka akan banyak masalah baru yang timbul.


"Aku akan menunggu kalian di London Hospital, kita harus bergerak cepat, karena waktu sudah mulai berkurang."


Sebuah mobil mini bus melaju cepat tanpa kendali menyisir Romford Road yang padat. Seolah kesal dengan traffic jam yang ada, Mr Chandra menyalakan sirine kemudian memaksa para pengguna jalan lainnya menepi ke sisi kiri.


Tanpa suara, tanpa bertegur sapa. empat orang di mobil yang sama hanya memikirkan apa yang terjadi selanjutnya, Menjadi akhir hidup ataukah ada keajaiban yang terjadi?


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke London Hospital--sebagai tempat melepaskan microchip di tubuh Delph dan Orin.


Tak ada lagi suara lain selain suara derap langkah yang melaju cepat ke ruang operasi.


Sudah ada empat orang ahli bedah dan Erest di dalam ruang operasi tersebut.


Delph baru menyadari ini. Ini sama saja melawan Mr Rudy.


"Apa-apaan ini! kalian sengaja membawaku untuk melepas microchip ini?"


Delph berusaha melarikan diri. wajahnya terlihat panik. Ia tak mau mati konyol hanya karena para dokter bedah ini tak tahu cara menghentikan pengoperasian microchip.


Di saat mulai berlari, Delph merasakan ada yang aneh dari punggungnya. Seperti tertancap benda tajam.


Sebuah suntikan berhasil menghalau pelarian yang hendak dilakukan Delph. Seketika, ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Obat bius yang terdapat di suntikan itu bekerja optimal setelah Mr Chandra berhasil mendaratkan suntikan itu tepat di bagian leher Delph. Para perawat segera menggotongnya sampai ke pembaringan.


Barulah detik-detik paling menegangkan itu terjadi. Erest yang sudah paham dengan microchip mencoba memberi komando.


"Pertama, kita harus membuka lapisan kulitnya terlebih dahulu. Hati-hati, karena kalau sampai kita sentuh microchip tersebut, semua akan berubah fatal."


"Aku akan memakai alat ini."


Erest mulai mendekati bagian tubuh yang sudah mengelupas dengan Magnetic Off yang pernah ia lakukan sebelumnya. Akan tetapi, alat ini berbeda tujuan. Ada sebuah laser yang terpancar dari alat itu dan membuat microchip di dalamnya mengeluarkan asap.


Tiga orang ahli bedah tersebut sampai terperangah melihatnya. Bukan hanya terperangah, melainkan rasa tegang juga terasa di sekujur tubuh mereka, karena mereka tahu. Sekecil apa pun kesalahan, akan membahayakan nyawa mereka juga.


Di luar ruang operasi beberapa pasang mata seolah tak kalah tegang. Termasuk Sean, melihat pasien pertama yang dioperasi adalah Orin, ia hanya bisa pasrah. Berkali-kali ia melihat jam, waktu dua jam tersisa berubah menjadi satu jam saja.


Suara ledakan kecil menggema di ruangan itu. Semua pasang mata melihat apa yang terjadi. Kepulan asap dari tubuh Orin membuat semua orang menjadi cemas. Sean sampai masuk dan bergegas menghampiri tubuh itu.


Satu menit menjelang, semua berakhir dengan sorak sorai. Kepulan asap yang sudah menyatu dengan udara ternyata memberikan jawaban, bahwa microchip yang ada di tubuh Orin sudah hancur terbelah jadi dua.


Akhirnya, selesai sudah penderitaanmu, sayang. Sean membatin.


Masih tersisa lima belas menit sebelum semuanya terlambat. Ada satu korban lagi--yaitu Sean--yang akan diselamatkan.


Para ahli bedah, yang sudah tak canggung dengan kondisi segera melakukan hal yang sama.


Awalnya, operasi dilakukan tanpa beban. Satu per satu komando Erest tetap sesekali terdengar.


Semua terasa mengerikan ketika ada banyak microchip yang tertambat di dalam tubuh Delph. Berkisar lima microchip tertambat di dalam tubuhnya. Hampir semua berada di bagian bagian perut dan kesemuanya tertutup onggokan daging.


Berbeda dengan kasus Orin, microchip yang tertambat di lapisan dalam kulit saja. Terlihat dengan jelas bagaimana microchip sebesar tablet obat tersebut tidak terisolir sama sekali dengan daging ataupun pembuluh darah.


Apakah ini sebuah kesengajaan?


Mr Rudy sengaja untuk membuat mereka berdua dekat. Ada objek yang tampaknya menjadi target di balik ini semua.


Entah itu siapa.


Sebuah suara saling bersahutan membentuk sebuah irama yang berasal dari microchip tersebut. Jelas ini menjadi pertanda buruk untuk semua orang di rumah sakit ini.


Semua pertaruhan terjadi di ruangan ini. Semua terdiam dan semua membisu. Waktu terus berlalu hingga tak terasa hanya lima menit tersisa,


Erest merasa batinya panik tak karuan. Gemetar di sekujur tubuhnya tak terkendali lagi.


Bunyi suara detakan jantung Delph juga terasa melemah di saat alat pendeteksi jantung itu berbunyi parau.


Sial!


"Cepat bungkus kembali kulitnya!" bentak Sean, tak ada waktu lagi.


"Apa tak sebaiknya, kita membunuhnya saja, Erest?!" sahut Mr Chandra, tak kalah paniknya.


"Tidak! biarkan saja di ruangan ini, tidak ada jalan lagi, selain menghadapi iblis itu. Ia ingin kita mengejarnya. Melawan dan menentangnya." jawab Erest, sambil memegang tengkuk lehernya, tanda bahwa ia menyerah.


"Bawa gadis ini keluar secepatnya, setidaknya kita sudah berhasil mencuri satu poin dari iblis itu," timpal Erest lagi.


Tidak ada yang dapat dilakukan lagi. Timer sudah berlalu selaras dengan keputus-asaan Erest. Ini di luar kendalinya. Ia tak membayangkan bahwa pasti akan terjadi banyak peristiwa setelah ini.


Pertarungan di mulai.


***


"Jadi, kurcaci itu sudah berani melawanku, Zein?"


Zein dan Mr Rudy berada di ruangan yang sangat gelap. Satu-satunya penerangan berada di layar monitor.


Layar monitor itu berisikan titik kordinat berwarna merah. Menandakan sebuah peristiwa terjadi. Ada titik kordinat berwarna hitam, bersamaan titik kordinat berwarna merah di satu tempat yang sama.


"Besok, aku akan berangkat, sudah saatnya aku melarikan diri. Ingat, musuhmu bukan hanya satu, melainkan seluruh dunia. Jika kamu membuat kesalahan sekecil apapun, semua berakhir, mengerti?"


Zein tersenyum kecut.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan Zein Albert, kau tahu itu, Bos?"


Suara tawa membahana di semua sisi ruangan gelap itu. Ruang pesakitan yang entah berada di mana.


***


Erest beserta koleganya seakan tak pernah lelah berlari. Semua panik. Taruham nyawa sudah ada di depan mata.


Lain dengan Sean. Ia justru bersyukur bahwa kekasihnya yang saat ini masih pingsan, sudah terbebas dari cengkeraman iblis itu.


Terlepas dari bahaya yang mengintai Sean, semua akan terasa berbeda, jika pada akhirnya perasaanya kembali menyatu dengan Orin, kekasihnya. Seberat apapun ujian yang akan dihadapi. Pasti akan Sean jalani. Asalkan bersama Orin, kekasihnya.


Mobil pik ap berwarna hitam kembali menyusuri kota london yang penat. Pada ujungnya mereka semua harus mengatur strategi.


Pertarungan akan segera di mulai.