
Tangan yang penuh darah itu kembali dengan penuh rasa gembira. Kedua manusia yang berada di ranjang pembaringan kembali menjadi korban kebiadaban.
Puas dengan apa yang diperbuatnya kali ini. Membuat Mr Rudy kembali berultimatum kepada kedua korban tersebut.
"Mulai saat ini, kalian berdua sudah menjadi prajuritku."
Sepasang suami istri paruh baya tidak mengerti apa-apa selain mengangguk dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Mereka berdua serempak untuk memegang bagian perutnya yang masih sakit akibat operasi. Merasa kaget setelah tahu ada bekas jahitan di bagian kanan perut mereka.
"Tinggal ikuti perintahku, maka benda yang berada di tubuh kalian tidak akan meledak."
Buliran bening dari kedua pasang mata tak bisa dibendung lagi. Sepasang manik mata kelabu seakan tak mampu untuk sekali saja melawan kehendak Mr Rudy. Seakan semua hati dan pikirannya diserahkan begitu saja kepada Iblis itu.
Mr Rudy menunjukkan sebuah headset seukuran ujung kuku kemudian ia tambatkan ke sisi luar telinga kedua orang tua tersebut. Hebatnya, headset tersebut langsung menyatu di kulit dan melekat hingga tak bisa di lepas dengan cara apa pun.
"Alat di telinga kalian adalah sebuah pesan yang aku kirimkan. Maka, berhati-hatilah, jika alat itu rusak, benda di dalam tubuhmu juga akan meledak. Jangan takut, alat itu tahan air dan jatuh, yang tak boleh ialah merusaknya dengan tangan kalian."
"Pengawal pribadiku akan mengantarkan kalian kembali ke rumah, jadi bersiaplah. Satu minggu dari sekarang. Aku akan menepati janjiku pada kalian." Sunggingan senyum penuh misteri tersirat di wajah Mr Rudy.
Kedua orang tua tersebut kemudian mulai beranjak pergi dari rumah pesakitan. Membawa beban yang baru.
Siapakah kedua orang tua itu?
Malam yang panjang dan siang yang panas akan menemani ketakutan mereka mulai dari detik ini.
Hingga tak ada lagi yang menyelamatkan mereka selain diri mereka sendiri. Sebuah kutukan yang dibuat oleh Iblis.
"Gabriel, bagaimana nasib kita sekarang?" Pria paruh baya itu mendengkus peluh. Hanya suara parau yang bisa terdengar.
"Tiada jalan lain, Ardhi. Ini demi kelanjutan hidup kita."
"Tapi, bukankah kita sudah menua, sudah sepantasnya kita memikirkan kematian. Tanpa harus membuat hal keji seperti ini."
" Aku masih merindukan anakku. Aku akan menjemputnya." Gabriel menangis tersedu, kini ia harus menempa hidupnya kembali. Impiannya selama ini adalah bertemu kembali pada sang anak. Sang anak yang terbuang selama dua puluh tahun silam.
"Kalau saja iblis itu tidak menjanjikan sesuatu yang tidak berguna kepadamu. Maka, kita bisa hidup lebih bahagia tanpa seorang anak, bukan?"
"Kuharap semua menjadi berguna di saat suatu hari aku benar-benar bisa melihat anakku."
Mobil yang penuh dengan rasa rindu dan haru tersebut harus melangkah dengan kepastian menuju rumah mereka. Ada harap dan juga rasa tanggung jawab yang mereka pikul. Terlepas dari semua alat yang tersimpan di tubuh mereka. Mereka hanya memikirkan bagaimana di saat mereka tua bertemu anak satu-satunya di dunia ini.
***
Erest terlihat sedang berada dalam ketakjuban ketika microchip serupa obat tablet bisa menghancurkan hidup seseorang. Ia memegang microchip dengan ujung telunjuk dan jempolnya kemudian melihat dengan jarak sangat dekat.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Tampaknya Sean dan Mr Chandra sudah berada di luar.
"Menakjubkan," sahut Erest, sambil kedua netranya menerawang ke seluruh sisi ruangan.
"Silahkan duduk, Sean, Mr Chandra. Ada yang harus kalian tahu. Ini perkara penting untuk memulai strategi kita ke depan."
Erest terlihat lebih serius dari biasanya. Ia tak mau bermain-main lagi.
Sebuah layar LED kembali menyala. Erest sudah siap dengan semua arsip yang ingin ia persentasikan.
"Sebelum masuk ke dalam microchip yang akan kita kenal sekarang, aku akan mengungkapkan sejarah microchip sebenarnya."
"Microchip pada awalnya adalah sebuah fiksi yang dulu dibuat oleh Kurt Vonnegut dalam salah satu cerita pendeknya berjudul "Harrison Bergeron" pada tahun 1961, Dalam kisah yang berlatar tahun 2081 itu, pemerintah Amerika Serikat menanamkan chip radio di telinga para warganya untuk mencegar berpikir kritisi terhadap pemerintah."
"Dari cerita fiksi ini, Para ilmuwan dan pengamat dalam satu dasawarsa terakhir menganalisa dan membuktikan bahwa microchip akan menjadi nyata."
"Hal ini di latar-belakangi oleh teknologi. Teknologi yang berkembang saat ini mengharuskan kita untuk berpikir praktis dan cepat. Di mulai dari bangun tidur di pagi hari kemudian terlelap di malam harinya.
"Titik terlemah dari sebuah teknologi adalah keamananya. Berulang kali peretas atau bisa di sebut 'Hacker' selalu menjadi benalu kita sehari-hari. Bukan hanya hal sepele, tetapi juga bisa berakibat fatal apabila sekuritas di bidang penting seperti keuangan dan perusahaan harus diretas dengan cara yang mudah."
"Saya akan ambil contoh Negara Swedia yang sudah lebih dulu mempraktekan kebenaran microchip ini sejak tahun 2015 silam. Ternyata sudah ada 4000 warga negaranya sudah menyematkan microchip berisi data pribadi ke dalam tubuh mereka. Microchip ini dibuat oleh Biohax Internasional. Mereka membuat microchip ini dengan tujuan melindungi data dari para peretas. Peretas akan semakin sulit mengakses data pribadi mereka, karena data itu berada di dalam tubuh."
"Akan tetapi, peretas tidak berhenti sampai di sini. Ia membuat microchip pembanding, seperti yang kita lihat sekarang. Bisa dikatakan, microchip penghancur. Membunuh dan menyebarkan isu negatif adalah cara ampuh dari peretas untuk mengambil data tersebut. Bukan hanya data, melainkan microchip ini bisa saja sebagai senjata ampuh untuk membuat pasukan layaknya korban bunuh diri di kapal beberapa waktu lalu. Begitu pula, rentetan peristiwa pembunuhan sebelumnya. Mereka yang menjadi pelaku, dipaksa untuk membunuh. "
Sean dan Mr Chandra juga kembali mengingat masa-masa sulit dalam benak mereka masing-masing di saat berada di Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu. Kalau benar, apa yang dikatakan Erest barusan. Berarti, Orin saat ini sudah dipastikan adalah pelaku sebenarnya. Orin terpaksa melakukan hal tersebut karena ada benda microchip di dalam tubuhnya. Sean membatin.
Erest mengambil sebuah benda kecil seperti sebuah tablet obat, kemudian memperlihatkannya di depan Mr Chandra dan Sean.
"Sekarang, kita beralih ke microchip ini. Tenang, microchip ini suda aku jinakkan. Komponen dari microchip ini sudah aku pelajari."
"Microchip ini terdiri dari gelombang elektromagnetik, bubuk mesiu berkapasitas ledakan tinggi, GPS dan timer. Akan tetapi, maaf, aku belum bisa mengetahui cara kerjanya. Akan aku selidiki secepatnya."
"Sementara ini saja yang bisa saya sampaikan, mungkin dari sekarang. Sementara waktu aku akan menyepi di ruangan ini. Jadi, aku tak akan ikut dalam penyelidikan kalian dalam beberapa hari. Aku harus mempelajari lebih lanjut microchip ini. Bukan tidak mungkin, kalau aku juga akan membuat microchip pembanding."
Kini Sean baru mengerti bahwa Erest benar-benar orang yang jenius. Ia mulai mengerti pula mengapa Orin selalu melarikan diri dan merubah sifatnya jadi dingin seperti ini.
Itu semua karena microchip yang tertambat di tubuh Orin. Sean membatin.
"Terima kasih atas waktu yang diberikan Profesor Erest, kemungkinan kita berdua juga tak mau berlama-lama di kediamanmu. Kami akan mencari pelaku pembunuhan itu terlebih dahulu."
Sean dan Mr Chandra meninggalkan ruangan bawah tanah dengan semangat yang baru. apalagi Sean, mau tak mau ia harus menjadi detektif juga. Mencari cara untuk segera menolong Orin.