
Sean terlihat sangat keletihan memutari semua bandara dan Orin tetap tak bisa ditemukan. Apakah Orin sudah berangkat ke London?. Jadwal keberangkatan sebenarnya sudah dihentikan. Dan waktu keberangkatan pesawat tercatat masih tiga jam lagi. Sedangkan, tiket pesawat pun masih tersimpan di tas Orin. Hal ini menjadikan Sean berfikir macam-macam tentang Orin. Sebenarnya dimana dia?.
Para polisi terlihat masih memadati tempat kejadian perkara. Banyak juga wartawan lokal maupun mancanegara yang saling menginterogasi para polisi tentang apa yang terjadi. Terlihat juga Mr Chandra selaku badan intelegen sedang membawa barang bukti dan sepertinya berusaha mencari seseorang. Seseorang, tersebut kembali memanggil nama Sean.
Sean terlihat pucat disaat Mr Chandra lagi-lagi mendatanginya. Dibalik banyaknya manusia yang ada di Bandara, Ternyata sangat mudah untuk menemukan Sean. Ia duduk sendiri menjauhi kerumunan. Seakan ingin menghilang dari kejadian yang ia alami.
"Kau sudah disini rupanya?. Sedang mencari seseorang?". Tanya Mr Chandra. Disaat ini Sean juga dilanda kebimbangan. Apa yang harus ia jawab.
"Sebenarnya..". Selang beberapa detik kemudian Sean tetap tak bisa meneruskan.
"Sebenarnya inikah yang kau cari?". Mr Chandra mengeluarkan barang bukti berupa dua tiket pesawat yang sudah dinodai bercak darah.
Sean terbelalak dan kaget bukan main. Spontan, ia menutup mulutnya sekaligus merinding ketakutan. Hatinya bercampur bingung, takut dan sedih. Dengan segenap kekuatan yang tersisa dari mulutnya ia mengucap lirih.
"Iya."
"Tampaknya benar dugaanku, Dengan berat hati, kau harus menjadi temanku untuk beberapa hari kedepan bro, ada banyak hal yang mesti aku dan kamu tahu. Kita selesaikan ini bersama".
>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Jakarta masih diguyur hujan pada malam hari. Sesaat kesunyian meredupkan hati Sean yang tengah dilanda kebimbangan, sebenarnya mau dibawa kemana dirinya oleh Mr Chandra.
"Tepatnya sembilan tahun yang lalu, aku sama seperti yang dialami olehmu kawan". Mr Chandra memecah kesunyian. Dan Sean masih berkutat dengan kebingungannya.
Mr Chandra Sembilan tahun yang lalu.
*Bandara shanghai, China.
Mr Chandra dan kedua saudaranya ingin pulang kembali ke Indonesia. Saat-saat yang membahagiakan bisa berkumpul di China walau hanya tiga minggu berada disana.
Tapi, kejadian aneh meliputi ketiganya disaat pesawat hendak ingin berangkat. Di dalam pesawat ada sebuah bom yang meledakkan sebagian isi pesawat hingga keberangkatan akhirnya ditunda delapan jam. Kejadian yang sangat aneh. Padahal para mekanik sudah mengecek semua badan pesawat dan tidak ditemukan ada barang yang mencurigakan.
Walaupun tidak ada korban jiwa. Tapi ini tetap menjadi misteri yang tidak pernah terpecahkan sampai saat ini.
"Menurutmu, ini ada sangkutan dari kejadian yang pernah tuan alami?"
"Begitulah"
"Tapi, disetiap negara punya kapasitas untuk menentukan besar kecilnya sebuah rentetan kriminal. Di Indonesia, saya yakin akan ada banyak detektif yang bisa menyelesaikan kejahatan ini."
"Sebelum kasus ini ditutup, Saya ingin membawamu ke suatu tempat. Terlebih saya ingin membantumu mengeluarkan apa yang kamu sembunyikan dari saya." Mr Chandra menyunggingkan senyum sinis.
Dan Sean melihat adanya bahaya yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang harus ia lakukan?, Berkata jujur tentang temannya Orin. Atau tetap menyembunyikannya sampai waktunya tiba.
"Oh.. Ternyata ada yang kelelahan menyembunyikan sesuatu? Cepatlah kau jujur. atau bisa saja saya menangkapmu karena alasan pelarian?"
"Please.. Berikan saya waktu esok hari, Saya akan ceritakan semua". Sean melirik barang bukti yang sedari tadi ternyata jatuh di kakinya. Mungkin Mr Chandra tidak menyimpannya dengan baik. Ini kesempatan baginya untuk melarikan diri. Ia melirik jam yang ada di ponselnya. Masih ada waktu satu jam lagi untuk berangkat. Semoga masih bisa untuk kesana. London mungkin akan jadi pertempuran sesungguhnya. Walau Sean tahu akan sangat beresiko untuk berangkat kesana tanpa tahu tujuan yang jelas.
"Baiklah. dimana rumahmu Nak?"
"Dekat dari sini, Mungkin sampai sini saja".
Dengan cekat Sean membuka pintu mobil dan bergegas untuk pergi.Tiket yang terjatuh barusan segera ia amankan dan sekarang telah berada di saku celananya. Ia baru tersadar bahwa kopernya mungkin tertinggal di Bandara. Ia tak membawa apa-apa selain berusaha melarikan diri dan mencari Orin. Ia Yakin akan segera menemukan Orin. Tapi entah dimana.
"Anak yang malang, maafkan aku. Tapi aku harus bisa menangkap musuh ini, dengan membuatmu sebagai objek pancingan".
Mr Chandra segera menelepon Pihak Bandara untuk membuka perjalanan ke London malam ini. Satu hari ini akan menjadi sangat melelahkan. Dimana esok pun akan terus melelahkan.
Selanjutnya Mr Chandra menelepon kantor unit untuk segera menyusun rencana mengejar Sean ke London.
>>>>>>>>>>>>>
Dengan sekuat tenaga Sean berlari ke pusat pertukaran tiket. Jam keberangkatan sudah hampir mendekati telat. Lima menit lagi Sean harus sudah menukarkan tiketnya. Dan akhirnya Ia berhasil berangkat walau melupakan koper yang tertinggal di lobby bandara.
Hiruk pikuk koridor menuju pesawat membuyarkan konsentrasi Sean. Ia terkejut mendengar kabar bahwa hanya ada dua keberangkatan saja pada hari ini. Dan dua-duanya bertujuan ke London.
Sean bertanya-tanya apakah Orin memang berangkat ke London tadi pagi?. Dan siapa orang misterius yang memberinya pesan pada siang tadi?. Dua hal tersebut seakan menghantui pikirannya saat ini.
Sean merasakan sedikit kepuasan saat dirinya bisa terbang menuju tempat yang sangat asing. Ini baru kali pertama Sean mendaratkan dirinya di eropa. Dan pertama kalinya ia dikejar oleh bayang-bayang misteri selama hidupnya.
*Wisuda angkatan ke 29
Terlihat jelas kebahagiaan yang dirasakan Orin Waktu diangkat menjadi mahasiswa teladan. terlepas dari bayang-bayang kriminal yang ada di benak Sean.
Ada ratusan kandidat yang ia berhasil kalahkan, Termasuk Anggi, sang juara intelegensia terbaik se Asia-tenggara. Entah dengan apa para dosen menilai Orin menjadi pemenangnya. Kemungkinan karena Orin punya pencitraan yang bagus di depan para dosen.
Pada kesempatan yang sama Anggi juga dianugerahi sebagai mahasiswa paling aktif di kampus. Tapi sepertinya ada rasa ketidakpuasan yang dirasakan Anggi saat tahu bahwa dirinya hanya menjadi mahasiswa teraktif. Padahal Anggi sudah menyumbang gelar kehormatan bagi universitasnya.
Hal ini membuat Hubungan Anggi dan Orin memanas. Keduanya tertangkap oleh Sean sedang bertengkar serius di lobby parkir. Diujung pertengkaran tersebut Anggi mengalami luka serius di kepalanya. Sedangkan Orin hanya mengalami luka ringan di sikut dan bahunya.
Anggi terkenal sebagai anak konglomerat paling mahsyur di Indonesia juga mancanegara. Bapaknya menyandang status sebagai CEO di perusahaan aplikasi Android yang tengah digandrungi oleh kaum anak muda. Dengan kekayaan yang dimilikinya, Sang Ayah mampu membeli saham dan mempunyai satu lagi perusahaan tambang yang terkenal di London.
Sedangkan Orin, Ia hanya tercatat sebagai anak dari karyawan swasta yang tidak terlalu terkenal di mancanegara maupun di indonesia. Tapi karena Orin mempunyai kecerdasan yang bisa dibandingkan oleh Anggi. Ia mendapatkan beasiswa yang menguntungkan karirnya.
Persaingan diantara keduanya jugalah yang membuat mereka berdua mempunyai dendam sampai saat ini.