
Suara alarm yang terdapat di kamar Erest terasa memekakakkan telinga. Mr chandra terlihat tergesa menuju kamar Erest. Sebuah benda menyerupai sirine ambulans terus menggaungkan Alarm.
"Ini pertanda bahaya." Mr Chandra terasa cemas setelah mendengar suara sirine berbunyi sangat keras dan lama.
Anggi, Delph, Orin dan Sean juga merasakan hal yang sama setelah melihat kejanggalan di benda menyerupai sirine tersebut.
Terkecuali Delph, insting detektifnya lebih tajam dari yang bisa ia rasakan. Setelah pada akhirnya ia bisa menemukan petunjuk di siaran televisi. Petunjuk membuat semua tatap mata bergejolak. Pasalnya, objek tubuh yang terindentifikasi tersebut adalah seseorang yang selama ini dekat dengan mereka. Erest benar-benar tiada.
Mr Chandra satu-satunya orang yang sangat terpukul mendengar kejadian ini. Semua harapan untuk menangkap Mr Rudy terasa sirna saat itu juga.
Delph, Sean, Orin dan Anggi melamunkan hal yang sama. Semuanya mejadi begitu mengerikan. Hal yang sama terjadi ketika semua mimpi kelam Delph dan Orin terlintas begitu saja di benak mereka membawa pesakitan yang tak akan pernah mereka lupakan.
Mr Chandra terlihat begitu kesal. Tak segan-segan ia buang semua kekesalannya pada semua objek di apartemen itu. Terlihat berkali-kali menyumpah serapah atas kematian Erest.
***
Sang Iblis--Mr Rudy datang dengan sebuah guratan senyum saat menemui semua partnernya di Ruang Penelitan Podolsk. Zein, Gregor dan Stanley mengucapkan selamat tiada henti pada Mr Rudy.
"Eureka!" Luapan kesenangan Gregor menggema ke seluruh ruangan, setelah pada akhirnya mereka berpesta untuk merayakan kemenangan ini.
"Aku sudah yakin, kau bukan manusia lagi, Tuan. Aku jadi semakin iri melihatmu. Kau selalu berhasil dalam misimu, sedangkan aku terus menerus gagal," tambah Zein, yang juga ikut larut dalam uforia kemenangan ini.
Gregor dan Stanley tak henti untuk bertepuk tangan seriuh mungkin.
"Satu hal yang paling menakjubkan bagi aku dan Stanley adalah kau bisa membunuh orang tua dan adikmu sendiri, Rudy. Kau sudah terlihat seperti Iblis sekarang."
Tawa Mr Rudy semakin membahana. Ruang penelitian tersebut tak ubahnya seperti tempat pesta malam, diiringi musik DJ yang membuat sempurna untuk hari ini.
"Zein, sekarang giliranmu. Kau bereskan semua kurcaci-kurcaci itu. Jangan kau permalukan aku lagi. Mengerti?!" Suara hentakan Mr Rudy membuat semua pasamg mata bergidik ketakutan.
"Dengan senang hati, Tuan. Kali ini, saya pastikan semua akan berjalan lancar. Aku berani jamin, tidak akan ada yang bisa memghancurkan rencana kita."
"Otak serangan juga sudah tidak ada lagi, Zein. Harusnya kau tak merasa kesulitan lagi." Timpal Gregor. Terlihat hanya Stanley yang sedari asyik dengan buku penelitiannya. Ia hanya bisa merasakan hawa pembunuh sadis pada semua lelaki ini. Stanley tetap jaga pendiriannya untuk diam. Seperti menyisaratkan sesuatu.
"Lihat dan rasakan jika sudah membuat Zein marah. Aku akan menangkap kurcaci itu layaknya menangkap tikus."
***
(Apa kabar Orin? Masih ingat dengan wajahku?)
Ponsel Orin bergetar dan menampilkan pesan yang tak asing baginya. Orin seperti melihat sang Iblis kembali menargetkan dirinya, membuat dirinya kembali ke waktu yang lalu saat masih menjadi prajurit.
Orin memperlihatkan pesan ini kepada semua temannya. Menyaksikan dengan saksama pesan demi pesan.
(Seperti yang kau lihat, aku sudah terbebas.)
(Maaf jika kematian Erest mengagektkan kalian, aku mengira bahwa adikku tumbuh sempurna. Sialnya, aku melihat dia masih seperti pecundang.)
Mr Chandra pernah mendengar kejanggalan itu. Dari awal mula bertemu Erest sampai kepada ia terbunuh saat ini.
Erest tampak mengenali Mr Rudy. Seolah mengenal sejak lama. Hal itu bisa dibuktikan sejak di awal pertemuan, Erest tampak dengan yakin bahwa Mr Rudy dalanh dari semua ini. Tanpa menampik ada pelaku yang lain. Kemudian, hal ganjil lainnya adalah Erest tampak membiarkan masalah ini tidak di publikasikan di khalayak ramai. Itu hanya karena?
Erest tidak mau menangkap Mr Rudy?
Nampak hanya satu kali Erest meminta bantuan pada pihak kepolisian. Alasan ini jelas bukan untuk menangkap Mr Rudy melainkan menangkap para pelaku microchip.
Yang terakhir, Mr Chandra baru menyadari bahwa semua persenjataan yang dimiliki oleh Erest ternyata ingin membandingkan dan mengalahkan semua teknologi yang dibuat oleh Mr Rudy. Itu berarti Erest secara gamang sudah membuat senjata ini sejak lama.
(Carilah aku di rumahku. Tangkap aku sekarang.)
Mr Rudy mengakhiri pesannya sambil memberi titik lokasi GPS. Anggi terperangah saat melihat titik GPS itu berasal dari Ruang Penelitian Podolsk.
Perlawanan ini segera di mulai. Anggi merasakan bahwa ini adalah saatnya menjadi prajurit yang membangkang. Ia menyulut emosinya sendiri di saat sang ayah ternyata tega untuk menyembunyikn fakta ini. Fakta bahwa Anggi masih mempunyai nenek dan kakek beserta paman.
Mr Chandra mau tak mau harus menjadi pengganti dari Erest. Ia tak tahu harus berbuat apa. Semua terasa mengerikan. Mengingat, ia tak punya senjata layaknya Erest dan Mr Rudy.
Ini mungkin bukan keputusan yang tepat. Apalah daya, Mr Chandra harus kembali ke London. Mengatur pasukan kembali dan bersiap untuk melakukan serangan balik.
Tiada tempat lain dan tiada cara lain selain melarikan diri.
"Lebih baik kita pergi dari sini dan kembali ke London. Tidak ada yang bisa mengalahkan Mr Rudy jika keadaannya seperti ini. Kita bisa mati tanpa perlawanan."
Semua pasang mata tertuju pada Mr Chandra. Hanya Delph dan Anggi yang tidak menyetujui saran Mr Chandra.
"Kami berdua akan tetap di sini. Melawan iblis itu, kalian kembali saja," jawab Delph dengan pasti. Seperti kepastiannya untuk mati. Bagaimana pun caranya. Ia tak akan bisa mengelak dan melarikan diri. Ia hanya bisa mengorbankan tubuhnya untuk meledak di kemudian hari.
"Aku juga akan bersama Delph, kami akan mati berdua di negeri ini."
Kata-kata yang Delph tidak duga sebelumnya.
"Jangan bilang kalau kau ...."
"Maaf mengagetkan semua. Aku sudah menjadi bagian dari prajurit Mr Rudy. Inilah waktu yang tepat untukku jujur. Khususnya padamu, Delph."
Delph tak kuasa menahan haru. Begitu pula yang lain. Ia memeluk Anggi dengan sangat erat . Bahkan lebih erat dari apa yang ia rasakan dulu
Tak pernah Anggi rasakan bisa sedekat ini dengan kekasihnya. Manusia dingin yang tak mau berbagi kasih. Saat ini malah jatuh dalam pelukan di saat semuanya berubah. Di saat tak ada lagi harapan untuk hidup.
Anggi dan Delph menangis bahagia. Bahagia karena momen ini jadi saksi kembalinya sepasang kekasih yang setia.
Sean dan Orin juga merasakan hal itu. Keduanya tampak terlihat bahagia melihat Anggi dan Delph mesra, meski dirundung luka di dalam tubuhnya.