
Orin masih berada di pembaringan dengan mata terpejam. Di temani oleh alunan musik classic membuat hati menjadi lebih tenang. Sean berada di mana kenyamanan itu tercipta. Ada segurat kepuasan yang menelusup sanubarinya.
Sean berkali-kali menatap lamat wajah Orin. Terasa melihat semua peluh itu memancar dari wajahnya. Orin tampak terlihat keletihan. Tubuhnya tampak terlihat kurus.
Orin sama sekali tidak menghubungi keluarganya begitu pula Sean. Bagi Sean, ini akan menjadi masalah baru apabila hal itu terjadi.
Lebih baik untuk mencari dan menyelesaikan semuanya bersama orang terkasih. Hidup akan terasa bermakna. Apalagi semua sudah berjalan normal seperti biasa.
Sean dibuyarkan oleh suara ketukan pintu. Tampak rona keletihan terpancar dari Mr Chandra dan Erest. Mereka membawa sebuah berita yang tampaknya serius.
Delph tiba-tiba menghilang dari London Hospital. Ia diduga kabur di saat malam tanpa pengawasan petugas keamanan.
"Anak itu, harus segera bangun dan menceritakan semuanya, Sean," sahut Mr Chandra dengan memamerkan kedua mata panda akibat kurang istirahat.
Tak berapa lama tampak suara langkah kaki keluar dari kamar. Orin sudah tersadarkan diri. Memegang keningnya yang masih pusing.
"Aku sudah siap, mari selesaikan semua ini."
"Tapi, kondisi perutmu apa tak masalah?" tanya Sean sambil memegang perut kekasihnya.
"Tidak apa-apa Sean, aku akan semakin membaik."
Mr Chandra dan Erest bergeming. Hanya memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari kungkungan masalah ini.
***
Orin menceritakan semua yang dialami pada beberapa waktu silam. Ia menjadi lebih rileks setelah melewati masa-masa sulit. Merasakan kebebasan menjadi manusia sejati tanpa harus membunuh lagi.
Kembali di ruang bawah tanah semua misteri ini kembali terkuak.
Seperti halnya ruang persidangan. Semua disulap sedemikian rupa menyerupai ruangan itu. Orin berada di tengah duduk sendiri dengan di hadapkan tiga orang detektif yang bergantian bertanya.
"Kau kenal dengan Mr Rudy," tanya Mr Chandra.
"Sangat mengenalnya," jawab Orin, menahan gugup.
"Mr Rudy yang menambatkan microchip ke tubuhmu?"Bergantian Erest berganti tanya. Sudah final, memang benar Mr Rudy dalang dari semua kasus ini.
"Iya."
"Jadi, bagaimana bisa Mr Rudy bertemu denganmu?" Kali ini berganti Sean yang menginterogasinya.
Orin menceritakan semua pengalaman pahit itu. Di saat semua berawal dari sebuah pukulan di malam hari saat menuju pulang ke rumah. Kemudian berganti ke ranjang pesakitan, di mana benda iblis itu tertambat dengan mudahnya di tubuh.
Raut wajah Mr Chandra, Erest dan Sean berubah seketika. Ada rasa dendam yang memuncah saat setiap inci cerita bergulir dengan haru.
"Sekarang, kita akan beralih ke skenario pembunuhan." Erest mulai mengganti topik. Suasana menjadi tambah menegangkan.
"Satu hari sebelum hari keberangkatanku. Ada sebuah pesan masuk di ponselku dan menyuruhku datang ke sebuah tempat."
"Aku menelusuri lorong yang sangat dingin. Seperti ada di bawah tanah. Ada beberapa pintu di sana yang harus dibuka. Namun, ada yang aneh. Setelah pintu terakhir terbuka, aku merasakan suara tawa menggelegar di sana."
"Sungguh aku tak mengenali semua ada yang di sana pada awalnya. Hingga mereka memperkenalkan diri masing-masing. Mereka bernama Zein, Delph dan Ferguson."
"Yang paling kukenal ialah Delph--seorang yang tertangkap bersamaku kemarin."
"Kemudian Mr Rudy datang dengan membawa sebuah peralatan. Alat itu bernama Micro Laser. Alat itu sangat-sangat mengerikan. Mr Rudy mempraktekannya di depan mataku. Ia membunuh Ferguson dengan cara menyedihkan. Laser itu bisa bersinar dan membuat kulit korban melepuh. Kemudian lama-kelamaan kulit Ferguson seperti meleleh dan lebih parahnya tangannya buntung seketika."
"Jika aku tak memandang microchip ini telah tertambat di tubuhku. Maka akan kubunuh iblis itu saat itu juga."
Mr Chandra, Erest dan Sean sampai dibuat terperangah di saat mengetahui bahwa ada alat sesadis itu.
"Tak hanya itu. Micro Laser jugalah yang membuat tanganku menjadi pembunuh di keesokan harinya. Aku tak mampu lagi untuk mengelak." Air mata terus berjatuhan di saat ia mengingat betapa kelamnya peristiwa itu.
"Mr Rudy menyuruhku untuk membunuh seorang lelaki pada keesokan harinya menggunakan laser itu. Aku sangat ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa. Ditambah, Mr Rudy mengancamku saat itu juga, apabila aku tidak membunuh orang, maka pada saat itu juga. Tubuhku akan hancur berkeping-keping."
"Keesokan harinya, aku bersikap seperti biasa di saat keberangkatan. Aku tak ingin Sean menaruh curiga terhadapku. Ditambah, aku harus membuang ponselku dan harus memakai ponsel yang Mr Rudy beri. Alhasil, aku hanya meninggalkan jejak Sean pada kedua tiket ke London yang kutitipkan pada seseorang yang tak aku kenali. Kebetulan pada saat itu Sean ingin ke kamar kecil. Maka, aku mencari sembarang orang dengan tujuan ke kamar kecil juga dan menitipkan tiket pesawat itu padanya dengan harapan Sean bisa mengenali kodeku."
"Aku menekan tuas micro laser itu kemudian aku arahkan ke sembarang tubuh. Aku tak tahu kalau sepertinya aku membunuh seseorang dengan keji. Kulihat di sebuah berita. seorang itu tewas dengan leher terputus."
Orin tak mungkin bisa melanjutkan lagi persidangan ini setelah ia lagi-lagi pingsan. Tampaknya trauma pada saat pembunuhan itu yang menjadi penyebabnya.
Sean dengan cekatan membopong tubuh Orin dan kembali membawanya ke kamar.
Sudah sangat jelas apa yang sudah Orin terangkan. Mr Chandra dan Erest kembali menemukan titik terang setelah mendengar pernyataan tersebut.
***
Lagi-lagi insiden kembali menuai korban. Terdapat setidaknya lima pasien di London Hospital tewas secara mengenaskan. Para wartawan lokal tampak langsung mengerubungi London Hospital tersebut.
Lebih anehnya, korban terlihat terbunuh secara bersamaan. Ini ditandai dengan adanya luka bakar di leher dan punggung. Sebagian korban lagi ada yang terbunuh secara mengenaskan yaitu kepala yang pada akhirnya terpenggal.
"Jadi ini ulahmu, Delph?!"
Erest dan Mr Chandra terlihat mengepalkan jemari. Mereka lagi-lagi kecolongan dan tanpa tahu harus melakukan apa. Seolah kehabisan ide untuk melawan semua ini.
"Sean! Chandra! sepertinya kita harus segera bertindak. Aku tak mau beri ampun lagi pada semua pelaku microchip ini."
"Apa yang harus kita lakukan Erest?"
"Kepolisian inggris harus tahu alat yang kubuat. Mau tak mau mereka harus mengetahuinya. Kita butuh banyak pasukan."
"Baiklah, bagus juga idemu, Erest."
"Sudahlah, jangan memujiku, kita harus bergerak cepat. Untukmu Sean, sepertinya kamu tidak perlu ikut. Jaga saja kekasihmu itu,"
ujar Erest sambil mengedipkan satu matanya genit.