
Alea terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,dia dengan mudah melewati beberapa mobil yang tadi berada di depannya bak seorang pembalab profesional.Alea sudah dari tadi melewati jalan ke arah rumahnya dan sekarang dia sedang menuju tempat faforitnya.Tempat dimana Ia menumpahkan seluruh perasaannya,baik itu perasaan sedih,senang, ataupun ketika dia sedang merasa kesal atau marah seperti sekarang ini.
Alea mengurangi kecepatan mobilnya saat sebuah danau sudah terlihat di depan sana.Ya,dia kembali ke danau.Padahal baru kemaren dia kesana dan sekarang pun dia harus berada disana lagi.
Alea memarkirkan mobilnya di ujung jalan berbeton tidak jauh dari danau,Ia keluar dari mobil dan membanting pintu dengan sangat keras.Dia melenggang dengan langkah kaki yang terlihat jelas sekali kalau dia sedang marah.Benar-benar tidak terlihat seperti seorang gadis remaja pada umumnya,tidak ada langkah kaki santai nan anggun saat dia berjalan.Yang ada dia malah terlihat berjalan seperti seorang laki-laki,yang begitu gentle dengan langkah kaki yang begitu lebar.
Alea sekarang tengah berdiri di tepi danau,dia menarik nafas panjang beberapa kali untuk beberapa saat. "Aaaagh.. menyebalkan,mengapa aku harus kelepasan dan bahkan masih di lokasi sekolah." Ia mengusap wajahnya kasar.
"Lagian tuh anak ngapain juga harus gangguin gue,dan seharusnya dia gak usah pindah sekalian.Dia kan bisa cari sekolah lain,gak cuman SMA GANESA aja yang ada di Bandung ini,menyebalkan." masih dengan nada suara yang sama seolah dia melihat Nathan saja,sumber dari semua masalah dan kekacauan yang di alaminya.
Alea masih mengeluarkan beberpa umpatan sebagai ungkapan dari rasa kesalnya hari ini.Dia berteriak lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya,tapi hanya teriakan singkat seperti orang kesakitan.
Dia diam sesaat,mondar mandir tidak jelas dan mengusap wajahnya entah untuk yang keberapa kali.Berbagai pemikiran aneh pun muncul di benaknya,bahkan dia sempat kepikiran untuk mencekik Nathan atau setidaknya dia harus menghilang dari hadapannya.
Dia memikirkan berbagai macam cara halus untuk membuat Nathan pergi dari hadapannya,baik pergi karna pindah ataupun karna mati.
"Tidak,tidak,tidak.Apa yang baru saja aku pikirkan, bagaimana mungkin aku memikirkan hal yang menjijikkan seperti itu.Aku pasti benar-benar sudah gila di buatnya." dia menggeleng dan menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Baiklah Alea,kau harus tenang,kau tidak boleh marah.Tahan nafas dan tahan amarahmu,kau berhasil melakukannya selama ini kan? Jadi kali ini kau pasti juga bisa,tenang,tarik nafas dan berhenti memikirkannya." ucapnya pada diri sendiri sambil menghelus dada dengan mata yang ikut terpejam.
Berdiri tegak sambil terus menarik nafas agar merasa lebih tenang,lebih tepatnya seperti seseorang yang sedang ber meditasi tetapi dengan posisi berdiri.
Setelah memejamkan mata selama lima menit,Alea akhirnya membuka matanya.Ia masih berdiri mematung di posisinya,berpikir sejenak dan Ia memilih maju beberapa langkah lebih dekat ke arah danau.
BLURB
Ia terjun ke danau tanpa melepaskan sehelai pakaian pun,dan bahkan Alea masih mengenakan sepatunya saat terjun ke danau tadi.
Sementara itu,di dalam hutan tidak jauh dari danau tempat Alea berada,terlihat seorang pria tengah memegangi senapan yang usianya mungkin tidak jauh beda dari abang Alea.Ia sedang bersembunyi di balik pohon besar dengan ujung senapan tengah mengarah ke seekor rusa jantan yang berada beberapa meter di depannya.
Ia sudah bersiap untuk melepaskan tembakan sampai Ia mendengar suara teriakan seorang wanita tidak jauh darinya.Ia terlihat kaget begitupun seekor rusa yang tadi tengah di intainya.
Dia sontak berdiri dan melihat sekeliling untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar.Ia taking kalau tadi dia mendengar suara teriakan yang sepertinya itu suara teriakan seorang gadis.
Tapi tunggu,dia sekarang tengah berada di tengah hutan dan hari sidah sore.Tidak mungkin rasanya jika ada seorang gadis di tengah hutan.Meski logikanya berkata lain tapi dia yakin dia mendengarnya tadi,dan bahkan sangat jelas,meskipun hanya sekali.
Dia melirik jam tangannya dan hari sudah menujukkan pukul lima sore,langit juga telihat sedikit gelap sepertinya akan turun hujan.
Lalu pria itu melanjutkan langkahnya berniat untuk pergi dan berusaha agar tidak memperdulikan terian yang tadi sempat Ia dengar sekali.Tiba-tiba langkahnya terhenti,tidak jauh di depan sana ada sebuah mobil hitam berjenis mustang tengah terparkir,yang menurutnya mobil tersebut pasti di kendarai oleh seorang pria.
Pikiran aneh pun kembali muncul, Ia berpikir bagaimana kalau teriakan yang tadi Ia dengar benar-benar teriakan seorang gadis, 'bagaimana kalau gadis itu ternyata dalam bahaya, bagaimana kalau ternyata dia memang sedang butuh pertolongan.' dan masih banyak pemikiran aneh lainnya yang terlintas di benak pria tersebut.
"Bagaimana ini,gue benci pikiran gue,.Tapi bagaimana kalau ternyata apa yang ada do kepala sialan ini memang benar, bagaimana kalau nanti keluar berita 'jasad seorang gadis di temukan di tengah hutan' kan gawat." Gumamnya masih berdiri di tempat.
Tidak mau apa yang di pikirkannya terjadi,dia pun memutuskan untuk mendekat ke arah di mana mobil yang Ia lihat tadi terparkir.Ia tengah mengendap-endap dengan kepala terbungkuk mendekat perlahan ke mobil, pandangan selalu siaga kalau-kalau seseorang muncul.Jika seseorang melihatnya sekarang,mereka pasti akan mengira kalau Ia adalah seorang pencuri dan berniat untuk mencuri mobil tersebut.
"Ya ampun apa yang lo lakuin sih Leon,gimana kalo bukan satu tapi ternyata ada bebrapa pria nantinya.Gimana kalo ternyata mereka adalah sekelompok mafia dan memiliki senjata,atau setidaknya mereka seorang preman bajingan yang tak kenal ampun." terus berguman sambil bersembunyi di dekat mobil dengan kaki yang terlihat sedikit gemetar karna takut.
(Dasar anak *******,terlalu banyak baca novel dan nonton film kamu bujang)
"Tapi tidak apa-apa,gue kan juga bawa senapan dan bahkan mungkin lebih besar dari milik mereka." kembali berbicara pada diri sendiri dan dengan pedenya memegang senapan lalu berdiri tegap.
"Hhm,,lo gak perlu takut Leon,percuma lo idup jadi laki kalo pengencut gini,lagian lo kan bawa senjata juga.Jadi kalo mereka nyerang lo,lo kan bisa nyerang mereka balik..."
BLURB
Ucapannya terhenti saat Ia kembali mendengar suara,dan kali ini bukan suara teriakan melainkan suara air yang sepertinya sesuatu yang besar tengah berada di dalamnya.
"Suara apa itu?" bertanya entah pada siapa.
"Danau,,sepertinya suara tadi berasal dari danau tersebut." ucapnya saat melihat ada sebuah danau disana.
Ia pun cepat berlari menuju danau yang tadi Ia maksud dan berdiri tepat di pinggiran danau tersebut.Ia meletakkan senapannya dan melompat ke dalam danau.
Sementara itu,di waktu yang bersamaan.Alea yang memang sengaja menceburkan dirinya ke dalam danau memutuskan untuk menenggelamkan dirinya untuk beberapa saat,berada di dalam danau dengan di temani ikan-ikan kecil membuatnya merasa sedikit lebih tenang.Tapi itu hanya bertahan sebentar, bahkan tidak sampai satu menit,Ia melihat ada seseorang yang berdiri di pinggir danau dan tengah menatapnya.Dan dalam hitungan detik orang tersebut ikut terjun ke dalam danau dan menarik paksa dirinya.Alea yang terkejut yang tiba-tiba di tarik paksa baru mulai memberontak saat mereka sudah berada di permukaan danau.Tapi orang tersebut bahkan tidak terpengaruh dan seperti tidak merasakan kalau orang yang di peganginya tengah memberontak agar di lepaskan.
"Lo gak apa-apa kan,lo tadi kenapa bisa kecebur sih,dan lo pasti yang tadi juga teriakkan.Terus itu mobil siapa,mana penjahatnya,apa para penjahat yang dorong lo ke danau dan sekarang mereka pergi kemana." terus menceloteh ke padanya saat mereka benar-benar sudah keluar dari dalam danau.
"Diam." teriak Alea yang tentunya membuat pria itu terdiam.
Tapi hanya untuk sesaat,Ia yang tadi bicara sambil menoleh kesana kemari berhenti bicara saat Alea meneriakinya.Ia kemudian metapap Alea, memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Lo masih SMA? dan kenapa lo bisa ada disini,di tengah hutan belantara ini,dan tadi sekalian jawab pertanyaan gue yang pertama."
"Apa-apa sih lo,gak jelas banget jadi." Alea berdiri dan meninggalkan pria yang menurutnya aneh itu.
Dia berdiri tepat di depan Alea, Ia menatapnya dan begitupun Alea yang juga tengah menatapnya balik.Mereka bersitatap sebelum Alea memutuskan pandangan mereka.
'Tampan,dan terlihat lebih dewasa.' pikirnya sebelum membuka suara.
"Nolongin kata lo? Nolongin apaan,lo justru ngerusak ke tenangan gue,dan tadi apa lo bilang? orang jahat? orang jahat mana yang lo maksud, satu-satunya orang yang terlihat jahat di mata gue tuh elo.Ngapain coba lo bawa-bawa senapan,gak usah ngomong ngawur lo."
"Senapan? Oh iya itu emang senapan gue.Tadi gue lagi berburu dan tiba-tiba dengar suara teriakan,makanya gue nyari sumber suara dan ngeliat ada mobil mustang terparkir di tengah hutan.Siapa coba yang gak bakalan berpikiran kayak apa yang gue pikirin.Secara nih ya,ada suara teriakan,mobil parkir di tengah hutan,dan hari udah hampir malem.Secara logika,orang bodoh pun bakalan berpikir kalo pasti ada sesuatu yang terjadi." Ocehnya tanpa henti yang entah bagaimana berhasil menyihir Alea agar tetap berdiri di sana meskipun Ia merasa sedikit kesal.
"Dan lo itu masih SMA,masih bocah ingusan.Ngapain coba bocah kayak lo main ke dalam hutan,sendirian lagi."
"Siapa yang lo panggil bocah,huh? dan lagian tempat ini tuh udah dari lama gue tau,bahkan gue udah sering datang kesini sejak gue masih kecil.Lo tuh yang ngapain kesini, bertahun-tahun gue tahu tempat ini gue gak pernah nemuin orang lain berada di sekitar sini selain Bokab sama Paman gue." Panjang? Yah,Alea pun heran.Ia berbicara panjang lebar menanyakan hal yang tidak penting barusan, benar-benar tidak di duga.
"Kan tadi gue udah bilang kalo gue lagi ber-bu-ru,lo gak dengar emangnya.Dan masalah baru atau lamanya gue emang baru tahu tempat ini karna gue baru pindah dari Jakarta,dan selama gue di sana gue gak pernah lagi berburu,kan gak ada hutan juga di sana..."
"Gak peduli gue." memotong pembicaraan sambil kedua tangannya yang terlipat di dada.
"Bisa gak lo itu gak usah potong pembicaraan gue?"
"Gak bisa." jawab Alea sambil berjalan ke arah kap mobil dan duduk di sana.
"Lo gak mau berterima kasih? oke fine,gue gak masalah.Tapi gue paling gak suka kalo omongan gue disela dan lo itu masih bocah SMA kemarin sore.Selain gue gak suka disela,lo itu juga gak sopan banget sama gue yang posisinya lebih tua dari lo..."
"Pantesan nyebelin." dan lagi-lagi Alea memotong pembicaraannya.
"Eh lo kok susah di bilangin nya sih,pertama gue itu udah nolongin lo,kedua gue itu lebih tua dari lo dan ketiga gue itu udah mau bersabar ngomong sama sama lo dari tadi..."
"Cihh,,bacod."
BRAK
Dia menggebrak kap mobil tepat di samping Alea dan mengejutkannya.
"Gue minta lo ngomong yang sopan sama gue." mendekatkan wajahnya ke Alea dan berbicara dengan nada kesal yang di tekankan.
Alea berdiri balik menatap tajam ke arahnya,memberikan tatapan dingin andalannya membuat pria itu menarik tangannya dari kap mobil dan sedikit mundur beberapa langkah.
"Dari awal lo yang udah ngusik ketenangan gue,dan dari awal lo yang cari gara-gara sama gue.Masih untung lo gue masih ladenin dari tadi,kalo lo gak suka omongan lo disela,makanya lo gak usah sok ikut campur dan ngomong ngawur di depan gue.Gue paling benci saat seseorang yang gak di kenal kayak lo berani gangguin ketenangan gue dan berani sok ngajarin gue sopan santun." Ucapnya tanpa ekspresi dan dengan suara yang bahkan lebih dingin lagi dari tatapan yang Ia berikan,terlihat mendominasi dan sedikit menakutkan.
"Ini adalah wilayah gue,sejak gue kecil gak ada yang datang ke sini selain orang-orang yang gue kenal.Gue gak pedulu mau lo dari Jakarta kek dari mana kek,yang jelas mulai besok dan seterusnya gue gak mau ngeliat lo kembali datang ke tempat ini.Dan masalah sopan santun lo gak perlu ngajarin gie,gue bisa bersikap sopan sama orang yang gue anggap pantas buat itu." semakin mendekat dan berhenti menatap netra hijau milik pria yang sebenarnya lebih tinggi darinya itu.
Alea berbalik dan masuk ke dalam mobilnya,Ia baru tersadar dengan kondisinya yang masih dalam keadaan basah kuyup saat Ia sudah berada di jalan raya.
Dan pria bernama Leon tadi masih berada di danau,terperangkap ke alam bawah sadarnya karna Alea.Gadis SMA yang berani bicara seperti itu padanya, Ia merasa sedang di marahi oleh Ibunya saat tadi Alea bicara padanya.
Ia kembali sadar saat suara ponsel yang berada di dalam saku jaketnya berbunyi.Sebuah panggilan telepon,dan Ia segera menjawabnya.
" Halo bang,lo dimana sih.Gue denger lo pindah tugas kesini dan tapi papa bilang lo nginap disini.Lo dimana sih?" suara dari seberang yang langsung menyambar begitu telepon darinya di angkat.
"Iya,,iya,,ini gue tadi langsung keluar pas baru nyampe,pengen jalan-jalan ngeliat suasana Bandung yang udah lama gak abang rasain selama di Jakarta."
"Ya udah lo mending balik gih bang,ni papa sama mama tadi udah nanyain juga,takutnya lo ntar katanya nyasar di Bandung."
"Ya gimana mau balik gue nya,lo masih nelfon gue."
""Ya udah iya,gue matiin dulu yah.Jangan lupa ntar malem gue mau ngajakin lo battle,udah lama gue gak battle sama lo bang."
"Yakin lo,ntar kalah lo nangis lagi,gue juga ntar yang di salahin sama nyokap lo"
"Gue udah gede Kali."
"Terserah lo aja."
Tut..tut..tut
Ia mematikan panggilan telepon dan pergi dari sana, berjalan beberapa meter menuju tempat dimana Ia tadi siang memarkirkan mobilnya.
TO BE CONTINUED...
Jangan lupa follow IG Author @faadelia._
Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉