
Mereka telah sampai di kelas, keadaan nya masih sama. Mereka semua, hening, hanya saja Johan dan Nathan masih enggan untuk beranjak dari posisi mereka masing-masing. Mereka saling melemparkan pandangan tak sukanya satu sama lain, sedangkan murid yang lain sudah mulai beranjak ke kursi mereka.
"Ada apa ini? Siapa yang berkelahi?"
Suara bariton yang di keluarkan Leon seketika membuat mereka semua menoleh pada sumber suara, terkejut? Jelas terlihat dari tampang mereka masing-masing, apa lagi posisi Alea yang tepat berada di samping sang guru.
Mereka sempat berpikir kalau Alea lah yang mengadukan perkelahian tadi kepada Leon, tapi pemikiran tersebut langsung mereka tepis dari benaknya. Tidak mungkin seorang Alea melakukan hal tersebut.
"Kenapa diam? Tadi kalian berani berkelahi, sekarang kenapa malah diam? Ayo jawab!" ucapnya setengah berteriak.
"Kamu! Apa kalian yang berkelahi?" ujarnya lagi, setelah mendekati posisi Nathan dan Johan.
"Merasa jagoan kalian disini? Pagi-pagi sudah berantem, kalian itu udah kelas tiga, seharusnya kasih contoh yang baik pada adik kelas. Ini malah berantem"
Mereka tidak berani menjawab, meskipun terkenal humble, tapi saat di kondisi seperti ini, Leon juga bisa terlihat menyeramkan. Nathan dan Johan hanya berani menunduk tanpa berniat untuk menjawab satu pertanyaan pun dari Leon.
Sementara Alea, dia sudah kembali ke tempat duduknya. Memakai earphone dan membuka lembaran novel yang tadi dia baca, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun padanya.
Murid lain yang melihat hal tersebut hanya bisa menarik nafas pelan, begitupun dengan Leon. Dia tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran muridnya yang satu itu.
Padahal keadaan bisa di bilang sedang kacau sekarang, tapi dia malah dengan santainya duduk dan membaca novel sambil memakai earphone, di hadapan guru yang lagi marah, lagi.
"Masih tidak mau menjawab? Baiklah.. kalau begitu kalian berdua ikut saya ke kantor!"
"Tapi, Pak.." potong Johan yang merasa tidak terima jika dia sampai ikut ke kantor, yang salah 'kan Nathan, bukan dia. Dia hanya berusa bersikap tegas sebagai ketua kelas, tapi dia juga harus ikut ke kantor. Ini tidak adil menurutnya.
"Apa? Kamu gak mau ikut saya ke kantor? Kalau begitu kalian ikut saya ke ruang BK sekelian!"
"Jangan, Pak, saya akan ikut bapak ke kantor"
"Bagus. Bagaimana dengan kamu, Nathan? Kamu mau ikut saya ke kantor atau mau ikut ke ruang BK?"
"Tidak, Pak"
"Tidak apanya? Tidak mau ikut saya ke kantor atau tidak mau ikut saya ke ruang BK?"
"Saya tidak mau ke ruang BK, Pak"
"Ya sudah, kalau begitu kamu ikut saya ke kantor sekarang"
"Baik, Pak"
Mereka pun pergi ke kantor. Semua orang masih belum berani membuka suara, mereka terkadang menoleh pada Alea. Mereka merasa sedikit tenang setelah melihat ekspresi Alea yang biasa saja, tidak seperti tadi. Untunglah Alea tidak marah, jika dia marah, mungkin satu kelas dan bahkan satu sekolahan akan kena imbas nantinya.
Selama ini Nathan hanya merusak benda di sekitar Alea saja, menyoret mobil, merebut tempat duduk, dan merebut tempat parkirnya. Tapi tadi, Nathan bahkan sampai membuat lutut Alea berdarah, meskipun mereka tau itu hanyalah ketidak sengajaan saja. Tetapi dia tetap bersalah, Nathan si anak baru itu benar-benar sumber masalah dan mungkin akan menjadi sumber bencana untuk kelas mereka.
Perhatian mereka teralihkan saat bel masuk akhirnya berbunyi, bersamaan dengan masuknya seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Perlahan, tidak ada lagi yang menoleh pada Alea. Mereka memilih fokus pada materi pelajaran yang tengah di ajarkan oleh sang guru.
"Kenapa ibuk merasa kalau suasana kelas saat ini mencekam, ya? Apa terjadi sesuatu?" ucap sang guru yang memang tidak mengetahui kejadian tadi pagi.
"Terus itu, ketua kelas sama anak baru kenapa tidak ada?" lanjutnya melihat ke arah dua bangku kosong milik Nathan dan Johan.
"Mereka sedang di kantor, Buk" menjawab serentak.
"Di kantor? Kenapa? Ada urusan apa mereka ke kantor?"
"Mereka tadi berantem, Buk, dan sekarang mereka lagi di hukum sama pak Leon" jelas salah satu murid.
"Berantem? Kenapa mereka berantem? Biasanya murid kelas ini tidak ada yang pernah berantem, kalian selalu menjadi kelas yang paling tenang. Ribut aja tidak pernah, apa lagi sampai berantem."
"Gara-gara si anak baru tuh, Buk. Semenjak dia masuk, kelas kita pasti ada masalah."
"Kenapa bisa begitu?"
"Ya iyalah, Buk. Dia dari awal masuk selalu bikin masalah sama Alea, yang bikin kita dan satu sekolahan ikut kena imbasnya. Tadi aja mereka berantem juga gegara dia yang mulai, Buk"
"Apa hubungannya sama Alea? Sepertinya, selama ibuk cuti, banyak hal yang telah ibuk lewatkan, ya?"
"Banyak bangat malahan, Buk. Tadi itu Johan cuman negur dia doang buk, soalnya dia duduk di meja Alea dan gangguin Alea yang lagi baca. Eh, dianya malah marah, terus main dorong-dorongan deh mereka berdua. Sampai lutut Alea aja berdarah, Buk?"
"Sudah, Buk" jawab Alea.
"Syukurlah kalau sudah di obatin. Tapi, kenapa lutut kamu yang berdarah, yang berantem kan Nathan sama Johan?"
"Tidak ada, Buk" menjawab dengan wajah datar.
"Eh?" sang guru yang mendengar jawaban Alea tidak dapat berkata-kata. Meskipun dia tau Alea adalah orang yang pendiam, bukan berarti pertanyaannya di jawab dengan jawaban yang aneh seperti itu juga 'kan?
Tidak mau ambil pusing, sang guru muda yang bernama Marissa itu hanya diam. Toh nanti dia akan tau juga kronologi lengkapnya, yang terpenting sekarang adalah belajar.
Setelah mendengar jawaban yang super tidak menyambung dari Alea tadi, kelas pun kembali melanjutkan proses belajar mengajarnya dengan hikmat, sampai jam istirahat tiba.
***
Saat jam istirahat, semua murid sudah heboh mendengar kejadian tadi pagi. Bagi mereka, apa pun yang berkaitan dengan Alea, pasti akan sangat menarik untuk di dengar. Semua hal yang terjadi dengan sang most wanted girl haruslah menjadi trending topik. Alea si gadis cantik dan pintar dengan sikap yang super dinginnya, yang membuat dia di kagumi sekaligus di takuti itu oleh murid satu sekolahan, akan rugi jika mereka tidak tau mengenai hal apa pun yang menyangkut dirinya.
Sedangkan Alea, dia tidak pernah merasa terganggu dengan hal tersebut. Buktinya sekarang dia tengah duduk anteng di kantin sambil memakan bakso pesananya. Meski semua mata tertuju padanya, dan semua orang tengah berbisik membicarakanya, semua yang harus di lakukanya hanya diam. Justru akan aneh jika dia ikut berkomentar nantinya.
"Aleaaaa... Lo terluka?" teriak Rayhan dari pintu masuk kantin, yang membuat dia menjadi objek dari tatapan semua orang yang ada di kantin.
"Berisik"
"Maaf.. abisnya gue khawatir sama lo. Mana lo yang sakit, sini biar gue obatin" ucapnya sambil memeriksa setiap jengkal dari tubuh Alea, terlihat seperti seorang ayah yang tengah mengawatirkan anaknya.
"Apaan sih, Lo. Berisik tau ngak. Gangguin orang aja"
"Ya wajarlah gue berisik, lo kan temen gue, dan lo lagi sakit."
"Ya udah gak usah pegang-pegang" menepis tangan Rayhan yang masih nampol di pundaknya.
"Hehe.. iya, maaf. Terus, mana tuh si anak baru? Bakso satu, Mang!" bertanya pada Alea yang sudah pasti tidak akan menjawab.
Alea yang melihat tingkah laku Rayhan hanya geleng-geleng kepala, 'sebagai ketua OSIS dan anak dari kepala sekolah, tidak seharusnya 'kan dia bersikap seperti itu? 'Memesan makanan dengan mulut yang terisi penuh, benar-benar bertolak belakang dengan status yang di sandangnya. Dia juga ketua Tim basket, dan termasuk sebagai most wanted boy juga di sekolah. Tapi tingkah lakunya sangat pecicilan, cerewet, dan terkadang malah terkesan seperti bencong di mata Alea.
"Gue heran deh, ama tu anak. Seneng baat kek nya dia gangguin lo. Atau jangan-jangan dia naksir kali ya, ama lo" ucapnya ngawur yang justru membuat semua orang menoleh padanya.
"Iya sih dia tuh nyebelin, apa lagi dia urusannya sama lo. Tapi menuurt gue dia lumayan ganteng kok, meskipun masih gantengan gue sih." lanjutnya lagi dalam satu helaan nafas. Yang kini justru membuat Alea tersendak di buatnya.
"Eh lo kenapa? Minum gih, minum" memberikan minum pada Alea.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari tadi. Tidak ada satu kalimat pun yang tidak di dengar olehnya. Meskipun posisnya cukup jauh dari meja tempat Alea dan Rayhan makan, namun saat itu suasana kantin cukup tenang. Mungkin karena mereka juga ingin mendengar obrolan dari kedua orang tersebut.
Dia sedikit memancarkan ekspresi tidak sukanya saat Rayhan tadi mengatakan kalau Nathan mungkin menyukai Alea, gadis yang diam-diam telah menarik perhatian nya tersebut. Dia pun hanya bisa mengepalkan tinjunya menahan emosi, kemudian pergi dari sana.
Sebenarnya tadi dia pergi ke kantin karena berniat untuk menemui Alea, namun dia mengurungkan niatnya tersebut dan malah memilih menyimak pembicaraan mereka.
Sementara itu, Alea yang sudah selesai makan pun langsung berdiri. Meninggalkan Rayhan yang masih mengoceh tidak jelas.
"Eh..eh.. Alea, lo mau kemana? Tungguin gue dong" ucapnya sambil setengah berlari, menyusul Alea tanpa menghabiskan makananya terlebih dahulu.
"Lo kok ninggalin gue sih?"
"Bacod lo!"
"Emang. Lo kesal ya?"
Menatap Alea dengan tatapan menyelidik, yang membuat Alea menaikan satu alisnya karena tidak mengerti.
"Ya wajar sih kalau lo kesal, gue aja yang cuman dengar lo di gangguin terus ama dia, udah kesal. Apa lagi lo, sebagai korban nya, pasti lo kesal bangat sama dia."
Begitulah interaksi dua sahabat tersebut, yang satu sibuk ngoceh, yang satu cuek aja. Persahabatan sepihak yang di rasakan oleh Rayhan sejak kelas sepuluh. Dan dia tidak pernah merasa kesal dengan hal tersebut, dia selalu menanggapi sikap dingin Alea dengan candaan, meskipun hanya dia sendiri yang tertawa.
TO BE CONTINUED...
Jangan lupa follow IG Author @faadelia._
Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉