Me And Myself

Me And Myself
BAB 4



Alea mengurungkan niatnya saat melihat siapa yang menarik tangannya."ada apa?" tanyannya pelan.


"Tumben lo mau ngomong sama gue." sindir Ray sambil menggoda Alea.Dia salah, seharusnya Ia tidak usah saja tadi bicara.


Alea menatap tangannya yang masih di pegang oleh Ray,entah apa yang ada di benak anak ini,pikirnnya.Meski sudah di tatap begitu Ray rupanya masih belum sadar,maka dari itu Alea terpaksa harus menyentak tangannya lagi.


"Kayaknya sekarang menyentak tangan kayak gini udah jadi hobi buat lo."


Alea tidak peduli, Ia kembali membuka pintu mobilnya tetapi sesaat ketika Alea ingin duduk tangannya kembali di tahan oleh Ray."ada apa lagi sih?"


"Gue pengen nebeng,boleh ya." meminta dengan wajah memlasnya.


"Ogah,,emang gue sopir lo apa." Alea masuk ke dalam mobilnya acuh tak acuh.


"Pliss la Al,,bokab gue pulangnya masih lama.Dari pada gue naik taksi,lagian tadi kan gue udah bantuin lo na.." ucapnya lagi pada Alea yang membuat Alea menarik nafas dalam-dalam.


"Masuk." dia sudah kelanjutan kata yang akan di ucapkan oleh Ray,karna itu dia buru-buru memotongnya sebelum Ray selesai bicara.


"Oke." senyuman kemenangan merekah di bibirnya,jurus jitunya berhasil juga untuk membuat Alea memberinya tumpangan.


Mereka sudah keluar dari gerbang sekolah,seperti biasa Alea hanya diam fokus menyetir.Ray nampak memerhatikan isi mobil Alea dengan seksama,tas Alea ada di bangku belakang dan tidak ada apa pun yang menghiasi mobil tersebut.Jika mobil gadis-gadis yang lain akan penuh dengan benda-benda yang tidak berguna,maka hal itu tidak berlaku pada Alea.


"Lo emang beda sendiri ya."


"Untung lo cantik,kaya lagi." sambung Ray


Ia menoleh sebentar pada Alea,namun Alea seperti tidak mendengarnya.Tidak ada ekspresi apa pun yang terpampang di wajah cantiknya itu.


"Mobil lo udah ganti aja,emang duit bokap lo sebanyak itu ya." kata-kata yang berhasil membuat Alea mengerem mendadak.


"Lo bisa diam gak sih." bentak Alea karna Ia tidak suka jika sudah membahas keluarga terutama Ayahnya.


Ray yang merasa keningnya membentur mobil lantas mengaduh.Ia mengusap keningnya yang terasa sakit kemudian menatap Al, Ia mengangguk-angguk dengan jari telunjuk yang berada di bibirnya.


Alea kembali melajukan mobilnya,tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Ray.Hanya tersisa keheningan sepanjang perjalanan.Tidak lama Alea sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Ray.


Ray yang sudah turun dari mobil sejak tadi masih berdiri di sana sambil menatap mobil Alea yang kini sudah menjauh.Saat mobil itu sudah tidak terlihat lagi barulah Ia masuk ke dalam.


Disisi lain,Nathan yang tadi menatap Alea tanpa henti sudah berada di atas motornya.Tadi sebelum pergi Ia sempat melihat Alea dan Ray yang pulang bersama.Ia kemudian mengikuti mobil Alea dari belakang,dia mengambil jarak yang cukup jauh agar tidak terlihat mereka sedang di ikuti.


Saat mobil itu berhenti mendadak,Ia hampir saja menabrak pengendara yang berada tepat di depannya.Mereka tampak berhenti sejenak sebelum mobil itu kembali melaju.


Di rumah Ray pun Ia juga melihat Ray yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya sambil menatap mobil Alea yang sudah jauh.Saat Ray masuk ke dalam rumahnya,Ia kembali melajukan motornya mengejar mobil Alea yang sudah tidak terlihat lagi.


Nathan melajukan motornya sedikit kencang sampai akhirnya Ia kembali melihat mobil Alea.Mobil itu berjalan menuju arah rumahnya,perumahan elit yang memang tempat rumah orang-orang kaya berdiri tegap.


Mobil itu tampak berhenti di depan sebuah rumah megah bergaya klasik,rumah itu hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya.Memang rumahnya tidak sebesar rumah Alea,tapi ini mungkin kesempatan besar baginya untuk bertemu dengan Alea di kemudian hari.


×××


Hari sudah menunjukkan jam tujuh malam,menandakan sudah waktunya Ia makan malam.Sejak pulang sekolah tadi sore,Alea hanya diam di kamarnya.Sampai Alea mendengar pintunya di ketuk beberapa kali.


"Sayang,kamu gak ikut makan malam bareng kita.Itu kak Aleta juga lagi mampir sama kak Fendra juga ada.Mumpung semua lagi ngumpul,kamu turun ya.." pinta mama Alea.


"Hhmm" walau bagaimana pun Alea tetap menyayangi keluarganya meskipun Ia harus sering kali merasa kecewa.


"Ya sudah mama turun dulu ya,kita semua nungguin kamu di bawah." langkah kakinya sudah berada jauh dari kamar Alea.


Alea menarik nafa lama sebelum akhirnya Ia hembuskan,entah sudah berapa kali dalam sehari ini Ia menarik nafas seperti itu.Ia keluar kamar dengan langkah gontai seperti orang yang kehabisan tenaga.


Saat Alea sudah berada di lantai bawah,Ia dapat melihat bahwa seluruh anggota keluarganya memang ada di sana.Alea menghentikan langkahnya ketika suami dari kakaknya tiba-tiba muncul dari arah dapur.Sejak pertama Ia di kenalkan dengannya Alea memang tidak menyukai pria bernama Reno itu karena sikapnya yang sok akrab sekali dengan Alea.


Alea menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum Ia kembali melangkah menuju meja makan,Ia memilih duduk di samping kak Leta dan masih ada satu bangku kosong yang memisahkan mereka.


"Karena Alea sudah disini,mama mau ngomong dulu sebentar sebelum kita makan." ucap mamanya.


Semua mata tertuju ke arahnya kecuali Alea yang masih terlihat sibuk dengan piringnya.


"Mama mungkin besok atau lusa akan ke Kalimantan untuk mengurus anak cabang perusahaan yang ada di sana,dan kemungkinannya mama akan menetap disana lebih lama.Jadi untuk itu mama meminta kepada kalian terutama bagi Alea,mama minta kamu nurut sama abang kamu selama mama di sana.Dan untuk kamu Fendra,mama minta kamu tolong jagain adek kamu ini.Kamu jangan motoran terus kesana-kemari,kamu itu sudah bukan anak kecil lagi." ujarnya.


"Kamu gak mau ngurusin kantor,oke mama biarin.Tapi tolong untuk kali ini saja kamu turutin permintaan mama." ujarnya lagi.


"Mama gak minta kamu buat stay 24 jam,mama cuman pengen kamu disini buat jagain adek kamu biar dia gak sendirian aja di rumah,itu saja gak lebih."


'Biasanya juga aku tinggal sendiri,cuman di temenin sama bibik doang' batin Alea mendengar ucapan mamanya itu.


"Ya tapi kan.."


"Mama gak mau dengar ada penolakan,selama ini mama gak pernah minta apa pun dari kamu.Jadi tolong kali ini kamu nurut apa kata mama."


"Sekarang kita makan,mama cuman mau ngomongin itu aja." lanjutnya melihat Alea yang sedari tadi tidak menoleh ke arahnya.


Sementara Fendra masih tidak terima,Ia tidak bisa tinggal disini.Bisa-bisa dia gila nanti harus ngurusin adiknya yang satu itu,di anggap aja enggak apa lagi di dengerin.Dia menyantap makanannya dengan kasar.Kenapa pula harus dia yang di mintai oleh mamanya itu,kenapa tidak Aleta saja, pikirnnya.


Sampai makan malam berakhir pun Alea tidak berbicara sedikit pun,dia bahkan tidak menoleh ke arah lain kecuali pada menu makan malam yang ada di atas piringnya.


Saat semua orang sudah menyantap makanan mereka masing-masing,suasana bahkah terasa sangat sunyi hanya menyisihkan suara gemercing dari sendok dan piring yang saling bergesekan.


Alea beranjak dari tempat duduknya, meletakkan piring kotor bekas makannya ke dapur sebelum Ia akhirnya kembali lagi ke kamarnya.Alea tidak menghiraukan suara dari mamanya yang sepertinya sedang bicara padanya.


Alea kini sudah berada di kamarnya,dia membanting pintu kamar dengan keras hingga terdengar ke lantai bawah tempat dimana semua orang masih berkumpul.


Alea melompat ke atas kasurnya,mengambil earphone yang tergeletak di atas meja dan memakainya.Alea sengaja menyetel lagu rock dengan volume tinggi berharap agar Ia dapat mengalihkan pikirannya dari kejadian di meja makan tadi.Namun nyatanya cara itu tidak berhasil,dia marah..dia marah pada dirinya sendiri.Meskipun dia sudah sering kali di tinggal sendiri,tapi mengapa Ia masih merasa baru pertama kali mengalaminya.Mengapa hatinya masih terasa sama,masih terasa sakit sama seperti 8 tahun yang lalu saat Ia harus rela di tinggalkan oleh papanya,orang yang sangat Ia cintai.


Bantal-bantal sudah berserakan di atas lantai,bahkan sepreinya pun sudah tidak berbentuk lagi.Semuanya sudah di acak-acak oleh Alea,semua benda yang berada di sekitarnya pun menjadi tempat pelampiasan kemarahan Alea.Benci,dia sangat membenci dirinya saat ini,bahkan saat marah pun air mata sialan itu masih berani untuk keluar.Mengapa Ia sangat lemah,padahal ini bukan apa-apa baginya,tapi tetap saja hal sekecil ini bisa membuatnya marah-marah tidak karuan.


×××


Alea bangun dengan mata yang masih sembab, Ia merasa sangat lelah, Ia bahkan baru bisa tertidur jam setengah lima tadi karna menangis dan marah-marah semalaman.


Dia meraih ponselnya dari laci lemani nakas di sampingya,Ia terlihat sedang mengetikkan sesuatu di sana sebelum Ia kembali meletakkan ponselnya dan bergegas untuk mandi.Ia mandi cukup lama.


Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian,Alea memunguti semua barang yang berserakan di lantai abis di lemparnya semalam.


Saat Alea benar-benar selesai merapikan kamarnya, Ia melirik jam tangannya yang jarum pendeknya sudah berada di angka delapan.Alea mengenakan celana jeans berwarna hitam dengan sobekan di kedua sisi bagian lutut celananya.Ia memadupadankannya dengan baju kaos berwana putih polos dan tidak lupa sepatu Converse berwarna hitam andalannya.


Selain pendiam Alea juga merupakan seorang gadis tomboy dengan paras yang cantik.Alea keluar kamarnya sambil tangan kirinya menenteng jaket kulit berwarna hitam pula.Ia melangkah ke arah garasi menuju mobil mustang milik pamannya dan menancap gas meninggalkan rumah besar nan megah bergaya klasik itu.


Alea tidak melajukan mobilnya ke jalanan sekolah,melainkan ke sebuah jalanan berbeton dengan pepohonan yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan.Tidak ada satu mobil lain yang melintas di sana selain mobilnya.


Mobil itu terus melaju sampai akhirnya berhenti di penghujung jalan beton tersebut.Alea turun dari mobilnya dan berjalan beberapa meter ke depan sebelum Ia berhenti di pinggir danau dengan warna air yang sangat hijau dan jernih sekali.


Danau yang tampak masih asri belum terjamah oleh tangan manusia,tidak ada satupun rumah di sekitarnya.Suasananya sangat damai sekali,hanya terdengar suara kicauan dari burung-burung yang beterbangan di atas pohon.


Alea meletakkan pantatnya di atas rumput di bawah sebuah pohon yang berukuran lumayan besar di pinggir danau.Ia bersandar pada batang pohon tersebut sambil mencabut rerumputan di sekitarnya.Kali ini tidak ada earphone atau pun novel seperti yang biasa Ia bawa dan menjadi ciri khasnya itu.


Kali ini Ia sunggub tidak membutuhkan itu semua karna tidak akan ada seorang pun yang akan mengganggunya di sana.Hanya ada kicauan burung dan angin yang menyentuh lembut permukaaan kulitnya.


Alea bahkan dapat melihat ikan-ikan kecil di dalam danau yang nampak sedang asik berenang kesana-kemari dari posisi Ia duduk sekarang.


Sebuah danau kecil yang sangat indah jauh di dalam hutan yang memang tidak banyak orang yang tahu,mungkin hanya Alea lah satu-satunya orang yang tahu mengenai danau tersebut.


Alea selalu datang ke tempat itu setiap kali Ia sedang banyak masalah,tempat itu akan menjadi tempat dimana Ia akan kembali merasa tenang dan melupakan semua masalah yang menumpuk di pikirannya.Danau yang pertama kali Ia kunjungi saat Ia ikut kemping bersama papanya dulu.


Alea berkeliling danau dan mendayung sampai ke seberang menggunakan perahu yang memang sudah ada disana.Ia kembali mendayung dan berhenti tepat di tengah-tengah danau yang memang tidak luas itu.


Alea sampai tertidur di atas perahu karna saking tenangnya suasana di sana.Saat Ia terbangun,rupanya hari sudah sore.Ia memang kerap sekali lupa waktu jika sudah berada di danau, Ia bahkan pernah tertidur di sana sampai tengah malam.


Karna hari yang sudah semakin sore, Alea memutuskan until kembali mendayung perahu ke pinggir danau.Alea mengikatkan tali dari perahu tersebut pada sebuah kayu yang memang sengaja di tancapkan di sana.


Alea berjalan ke arah dimana mobilnya tadi terparkir.Dia berhenti sejenak sambil menghembuskan nafas lega dan kemudian masuk ke dalam mobil.Alea melajukan mobil itu untuk kembali pulang ke rumah.


Jika bisa,ingin sekali rasanya Alea menetap dan bahkan tinggal saja di danau tadi.Jika begitu,maka Ia tidak perlu harus menahan rasa sakit di hatinya dan merasa kesepian meski ada banyak orang di sekitarnya.


Alea sudah sampai di rumahnya dan Adzan Maghrib pun sudah berkumandang sejak tadi,meski Ia pulang tengah malam sekali pun tetap tidak akan ada orang yang menunggunya di rumah dan mengkhawatirkannya.


TO BE CONTINUED...


Jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya PSYCHOPATH IN LOVE


Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉