Me And Myself

Me And Myself
BAB 9



"Maaf,untuk Anda yang duduk paling ujung. Apa bisa di ulang lagi perkataan kamu?!"


Alea hanya diam, dia masih betah menatap novel yang ada di tangannya. Sementara si guru baru, Leon. Dia merasa kalau dia tidak di hargai sebagai guru pun menghampiri Alea. Dan sekarang posisnya sudah berada tepat di depan meja Alea, dia mengetuk meja Alea beberapa kali agar Alea menoleh ke arah nya.


"Ehm..ehmm.. seru ceritanya?"


Alea yang menyadari sang guru kini tengah berada di hadapannya pun lantas mendongkak, tepat di detik berikutnya dia langsung terkejut di buatnya. Bagaimana tidak, pria yang memperkenalkan dirinya sebagai guru tersebut adalah pria yang sama yang sempat membuatnya kesal kemarin.


Tidak jauh berbeda dengan Alea, Leon pun ikut terkejut saat mengetahui bahwa salah satu murid nya ini ternyata adalah gadis kemarin sore yang sempat cek cok dengannya.


"Dunia ternyata memang kecil ya. Kta bertemu lagi, bocah."


"Siapa yang kau panggil bocah, Huh?"


"Jaga bicara mu, saya guru disini"


"Terserah"


"Baiklah, anak-anak. Saya tidak ingin kalian mencontoh tingah laku yang seperti ini. Tidak punya tata krama dan sopan santun sedikit pun, apalagi kepada seorang guru yang berperan sebagai orang tua kedua bagi kalian." ucapnya sambil kembali ke depan.


"Dan sekarang mari kita mulai pelajaran nya. Ketua kelas, silahkan kedepan untuk membagikan soal-soal berikut. Hari ini kita ujian" perkataan yang sontak membuat seisi kelas menjadi heboh, bagaimana tidak. Baru datang udah langsung ngasih ujian aja, mana mapel nya matematika lagi.


"Lah ujian apa ya Pak, perasaan tryout masih dua minggu lagi deh."


"Ini soal tryout lama, saya ingin kalian mempelajarinya agar saat tryout nanti kalian memahami soalnya, karna soal yang saya bagikan tidak akan jauh beda dengan soal tryout nanti. Kalian kerjakan saja yang kalian pahami, nanti yang tidak paham akan kita bahas bersama."


"Yaahhh..." seisi kelas serentak merasakan lemas mendadak, seakan-akan tulang yang ada di tubuh mereka sudah terlepas dari tempatnya.


"Ketua kelas, silahkan di bagikan. Lebih cepat mengerjakannya maka akan cepat pula selesai nya nanti."


Johan selaku ketua kelas hanya pasrah, dia berjalan dengan gontai menuju meja guru dan mengambil soal-soal yang di maksudkan tadi. Dia langsung membagikannya ke semua orang dan kembali duduk di tempatnya.


"Sebelum memulai ujian,saya mau mengambil absen terlebih dahulu."


Dia menyebutkan satu persatu nama murid IPA 1, dimulai dari huruf A dan itu berarti Alea.


"Alea Putri Winata" menyebut nama dan meneloh kedepan mencari sang pemilik nama mengangkat tangan.


Alea yang namanya di panggil mengangkat tangannya dengan malas. Dia hanya mengangkat tangannya sebentar tanpa menoleh, dan kembali mengerjakan soal-soal yang ada di hadapannya.


'Jadi namanya Alea, tidak buruk' batin Leon saat melihat Alea mengangkat tangannya.


Tidak sampai dua menit, sesi pengambilan absen pun selesai. Sekarang hanya tersisa keheningan karna para murid sudah fokus dengan lembar ujian masing-masing.


Menyadari ada satu meja yang kosong, Leon kembali bersuara.


"Itu meja di belakang apakah ada penghuninya. Apakah dia tidak masuk hari ini?"


"Oh itu, ada pak. Anak baru yang duduk di sana, mungkin dia malu makanya gak masuk pak" ujar Johan.


"Malu? Dia malu kenapa sampai tidak masuk di buatnya?"


"Itu Pak, kemarin dia abis di tonjok sama Alea ampe hidungnya berdarah." ucap si Ucup, tukang sebar gosip.


"Di tojok? Memangnya mereka ada masalah apa sampai main tonjok segala, kalian itu pelajar bukan preman."


"Ya wajar lah, Pak. Orang dia nya yang salah. Pertama nih yah, Pak. Di hari dia masuk sekolah dia udah berani nyoret-nyoret mobil Alea, terus duduk di bangku Alea. Awalnya sih Alea diam aja, dia ngak ladenin tuh bocah tengik." ucap Ucup menjelaskan.


"Terus?"


"Ya terus kemarin dia bikin ulah lagi, dia parkir di tempat Alea biasa markir mobilnya. Terus dia juga bentak-bentak Alea bilang kalau Alea ngambil tempat duduknya. Awalnya masih fine fine aja nih, Pak."


"Ya terus, kamu langsung aja ke intinya. Kenapa malah berbelit-belit, buang-buang waktu aja" ucap Leon yang sedikit kesal oleh muridnya itu.


"Hehe.. ya maap, Pak. Ya udah aye lanjutin ni ye. Puncaknya itu pas pulang sekolah, pas si Alea udah mau pulang. Ntu si bocah malah nyamperin Alea. Saya sih gak liat kejadiannya secara langsung Pak, yang jelas kata anak-anak mereka sempat cek cok dulu bentar katenye. Terus baru dah di tonjokin sama Alea ampe ntu anak hampir jatoh katenye."


"Terus?"


"Udah gitu aje, Pak. Gak ada lagi lanjutin nye"


"Ya sudah, terima kasih infonya."


"Same-same Pak"


"Terus nama anak baru itu siapa? Cewek apa cowok?"


"Cowok,Pak. Namanya Nathan, nama panjangnya saya lupa Pak " giliran Johan yang menjawab.


"Baiklah. Mungkin karna dia masih siswa baru, makanya tidak ada di absen. Kalian lanjut saja lagi ujian nya. Saya mau ke kantor sebentar mengurus absensi ini." berjalan keluar tanpa memperdulikan siswa yang kesenangan karnanya.


Setelah memastikan kepergian Leon, ruang kelas langsung heboh. Mereka berhamburan mencari contekan ke meja siswa yang di cap pintar. Tidak terkecuali Alea, beberapa siswa sudah berbaris rapi mengelilingi mejanya. Mereka menyalin soal-soal yang sudah di kerjakan Alea tanpa menimbulkan suara yang bisa mengganggu Alea.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Leon kembali ke kelas. Dia tidak curiga sedikit pun karna suasana kelas masih sama seperti sebelum dia pergi tadi. Dia duduk di bangkunya dan kembali mengawasi anak-anak yang terkadang masih sempat menyontek ke teman di sebelahnya.


"Tidak boleh mencontoh, kalian kerjakan saja mana yang kalian paham. Saya hanya ingin melihat sudah sejauh mana kalian memahami materi yang selama ini kalian pelajari. Besok di pertemukan selanjutnya kita akan membahas semua soal bersama-sama, jadi kalian tidak perlu tegang apalagi mencontek."


"Baik Pak." menjawab serentak,bagi yang merasa ketahuan telah mencontek.


Sementara itu, Alea hanya santai mengerjakan semua soal yang ada. Kalau soal Matematika, memang dia ahlinya. Jangan kan soal berulang seperti ini, soal yang belum di pelajari saja dia sudah paham.


Ketenanganya dalam mengerjakan soal lantas menarik perhatian Leon, dari tadi dia terus memperhatikan Alea yang terlihat sangat enteng sekali menjawab soal-soal tersebut. Dia menulis seperti tidak ada beban sedikit pun, dia terus memperhatikan pena Alea yang terus menari mengerjakan soal-soal tersebut.


"Bagus, ternyata kau cukup pintar. Temui saya nanti saat jam istirahat."


Alea yang terlalu sibuk menjawab soal tidak menyadari kebeeadaan Leon yang ternyata sudah berdiri di hadapannya. Dia sedikit tersentak dan menatap Leon. Ingin marah karna di kejutkan tapi tidak bisa, dia masih sadar kalau pria yang tengah berdiri di hadapannya ini adalah seorang guru.


"Kenapa?"


"Banyak yang harus saya bicarkan. Dan terlebih lagi, mulai sekarang saya yang akan menjadi wali kelas kalian."


"Kok bisa Pak, kapan gantinya?" ucap murid yang lain.


"Ya bisakah, saya kan juga guru di sekolah ini. Dan untuk kamu Alea, jangan lupa menemui saya di jam istirahat nanti"


"Hmm." menjawab tanpa menoleh.


Tidak mau ambil pusing, Leon memilih untuk kembali ke mejanya. Percuma berdebat dengan bocah ingusan seperti Alea ini, pikirnya.


***


Bel istirahat telah berbunyi, ruang kelas telah kosong. Para siswa dan siswi sudah berhamburan keluar. Dan di ruang guru juga sama, hanya beberapa guru yang tersisa. Selebihnya sudah pergi ke kanti khusus untuk para guru.


Di salah satu meja guru, sudah terdapat Alea yang kini tengah berdiri menghadap guru baru yang sekarang juga berstatus sebagai wali kelas nya itu.


"Sekarang jelaskan!"


"Apa?"


"Bagaimana bisa seorang siswi seperti kamu memukul seseorang, dan terlebih orang tersebut adalah seorang pria. Apa kamu ini preman, kamu tidak di didik sama orang tua kamu?"


"Bapak sudah mendengarnya dengan jelas tadi saat di kelas,kenapa masih bertanya. Apa bapak sudah pikun?"


"Kau! Lihatlah, kau bahkan tidak tau sopan santun saat berbicara pada seorang guru"


"..."


"Kenapa diam, apa sekarang kamu tau kesalahan kamu?"


"Saya tidak merasa bersalah"


"Lalu, kamu merasa bahwa memukul seseorang itu adalah tindakan yang benar,begitu?"


"Tidak"


"Lalu?"


"Saya hanya kelepasan. Lagi pula jika tidak di ganggu, saya juga tidak akan memukulnya"


"Jadi kalau kamu merasa bahwa saya juga mengganggu kamu, kamu akan memukul saya dan berkata kalau kamu henya kelepasan, begitu?"


"Tidak"


"Lalu?"


"Tidak ada"


"Atau jangan-jangan kamu merasa kalau diri kamu itu paling cerdas makanya kamu bertingkah sesuka mu?"


"Tidak"


"Dari tadi jawaban kamu hanya tidak,tidak, dan tidak saja. Lalu apa alasan kamu sehingga bebebuat seperti itu?"


"Saya sudah menjawabnya tadi"


"Iya..saya tau. Tapi saya masih belum puas dengan jawaban kamu. Seharusnya sebagai seorang pelajar,kamu bisa bertindak selayaknya seorang pelajar. Apa lagi kamu itu seorang siswi yang berprestasi. Jangan sampai hanya karna satu kesalahan kamu malah merusak masa depan mu nantinya. Marah boleh, tapi jangan sampai memukul. Apa kau mengerti?"


"Hmm"


"Jangan ham..hem..ham..hem.. saja. Kamu mengerti apa tidak?"


"Mengerti, Pak."


"Bagus. Sekarang pergilah. Dan jangan ulangi lagi kelakuan yang tidak pantas seperti itu."


"Baik, Pak. Saya permisi"


Alea keluar dengan raut muka masam. Entah kenapa dia merasa kesal di buatnya, padahal dia juga tau kalau tindakan nya itu salah. Tapi saat di nasehati apa lagi sampai di bilang tidak di didik oleh orang tuanya membuat Alea sangat kesal.


Tapi entah kenapa dia juga banyak bicara tadi, bahkan dia menjawab setiap perkataan yang di lontarkan oleh Leon padanya. Yang notabennya adalah guru di bidang mapel kesukaannya.


Alea memilih kembali ke kelas, dia memang jarang makan di sekolahnya. Bahkan bisa di bilang tidak pernah, palingan dia akan makan saat pagi dan pas pulang sekolah. Dan itu pun di luar,bukan di rumahnya.


Terkadang dia membawa cemilan ke sekolah. Dia hanya akan makan ke kanti jika dia sudah benar-benar merasa lapar.


TO BE CONTINUED...


Maaf kalau masih banyak typo di part sebelumnya,untuk kedepannya author usahain agar tidak typo lagi.


Jangan lupa follow IG Author @faadelia._


Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉