Me And Myself

Me And Myself
BAB 3



Alea sudah sampai di sebuah bengkel langganannya,bengkel yang berdiri di sebidang tanah yang cukup luas.Pemilik bengkel tersebut merupakan seorang teman lama Ayahnya yang bernama Anton.Alea sudah menganggap pria itu seperti Ayah kandungnya,namun Alea hanya memanggilnya dengan sebutan paman.


Bengkel tersebut juga menyediakan jasa perombakan mobil balab,memang bukan mobil balap dengan skala internasional seperti F1.Namun bengkelnya sangat terkenal terutama di kalangan tuan muda kaya yang memang menyukai balap mobil,tetapi balap liar.Melihat mobil hitam yang sudah sangat di hafalnya memasuki bengkel miliknya membuat Anton langsung berdiri.


"Ale,,tumben kamu kesini.Seingat paman sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali kamu ke bengkel paman ini." ucap Anton menyambut kedatangan Alea yang baru keluar dari mobilnya.


"Kan aku gak ada keperluan juga datang kesini, paman juga tidak sakit.Jadi aku tidak punya alasan untuk datang kesini."


"Kamu itu,memangnya paman harus sakit dulu apa agar kamu datang mengunjungi paman." jawabnya sambil mengacak-acak rambut Alea.


"Tidak juga sih..Oh ya paman,tolong bersihin mobil aku dong.Udah jelek itu habis di coret-coret sama orang gak jelas." sambung Alea dengan nada malas.


"Mobil,, coret-coret..emangnya siapa yang sudah berani nyoret-nyoret mobil keponakan paman tersayang ini?"


"Gak tau tuh,,gak jelas orangnya." jawab Alea sudah duduk di salah satu kursi panjang disana dengan permen yang tadi Ia ambil dari meja pamannya itu.


Anton terlihat sedang mengitari mobil berwarna hitam milik Alea."melihat kondisinya sih setidaknya memakan waktu 2-3 hari baru selesai sayang."


"Terserah saja,,yang penting mobil itu bisa kembali ke kondisi seperti semula."


"Hmm..baiklah.." kemudian Ia menunjuk beberapa anak buahnya untuk memulai membersihkan mobil Alea.


"Paman."


"Iya.."


"Aku pinjam mobil yang itu yah,,lagian mobil aku kan selesainya masih lama.Jadi aku butuh mobil untuk ke sekolah." tunjuk Alea ke arah mobil yang tampak terselimuti kain putih di pojok bengkel tersebut.Ia juga memohon dengan tampang memelas.


Pamannya mengikuti arah telunjuk Alea,setelah melihat objek yang di tunjuknya,Ia terlihat sedikit ragu-ragu."kamu yakin mau mobil yang itu?" tanyanya.


"Hmm." hanya di balas dengan anggukan oleh Alea.


"Ya sudah kalau begitu,kamu nanti hati-hati ya saat menyetir."


Alea hanya memberi sebuah jempol dan sebuah senyuman tipis terpampang di wajahnya.Alea memang sangat menginginkan mobil tersebut,sebuah mobil merek mustang yang turut menjadi saksi bisu atas kebahagiaan yang sempat di rasakan oleh Alea saat Ia masih kecil dulu.


Dulu,Ia sering mengendarai mobil tersebut dengan duduk di kursi penumpang.Sedangkan yang menyetir adalah pamannya dan Ayahnya duduk di sebelah pamannya itu.Karna itulah Alea tidak pernah bersikap dingin di hadapan pamannya,Ia bahkan tidak akan segan untuk bermanja layaknya seorang gadis kecil.Benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang di lakukannya di hadapan semua orang.


Alea menarik kain yang menutupi mobil itu,saat kain itu ditarik debu-debu yang menempel juga ikut beterbangan menandakan kalau Ia tidak pernah di sentuh dalam jangka waktu yang lama.Mungkin terakhir kali Ia melihat pamannya mengendarai mobil tersebut adalah sekitar 5 tahun yang lalu.


"Kuncinya." pintanya Alea tanpa menoleh ke arah tempat pamannya berdiri.Dia hanya menjulurkan tangannya sementara matanya subuk menatap mobil tersebut.


"Here you go." suara khas dari pamannya yang terdengar bersamaan dengan gemercing kunci melayang di udara dan mendarat tepat di telapak tangan Alea.


Tidak pikir panjang,Alea langsung masuk ke dalam mobil tersebut dan hendak melajukan mobil yang sudah lama Ia impikan tersebut.Ingin rasanya Ia langsung melajukan mobil itu ke jalan raya di depan sana.


Sebelum benar-benar pergi,Alea tidak lupa untuk berpamitan kepada pria paruh baya yang Ia panggil paman itu.Alea membuka kaca mobilnya dan menjulurkan kepalanya keluar dengan tangan yang ikut melambai."sampai jumpa paman."


Sekarang Alea sudah berada di bangku kemudi sambil menepuk-nepuk setirnya.Kenangan masa kecilnya kembali terlintas di benak Alea,Ia ingat dengan jelas dulu saat Ia masih kecil akan duduk diam di kursi belakang sambil mendengarkan Ayah dan pamannya bercengkrama di depan.Ia akan ikut tertawa meskipun Ia tidak mengerti mereka sedang meneetawakan apa.


×××


Sementara di sekolah,murid-murid tampak sudah kembali ke kelas mereka masing-masing.Rapat sudah selesai dan bel masuk pun sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.


Di kelas IPA 1 masih ribut seperti suasana di pasar,mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.Bahkan ada yang mengobrol sambil duduk di atas meja.


Kelas seketika hening dalam sekejap saat salah seorang murid mengisyaratkan seorang guru sedang menuju ke kelas mereka.Guru yang masuk adalah seorang wanita yang sudah cukup berumur dan juga merupakan wali kelas mereka.Namun bukan hal itu yang membuat mereka tidak memutus pandangannya dari sang guru,melainkan seseorang yang berjalan tidak jauh dari arahnya.


Seorang murid laki-laki yang tadi sempat membuat satu srkolahan heboh karna tindakannya yang sudah berani mencoret-coret mobil Alea.Sebenarnaya mereka sudah mengiranya dari tadi kalau pria tersebut merupakan seorang murid baru,hanya saja mereka tidak pernah mengira kalau dia juga akan di tempatkan di kelas mereka,kelas yang sama dengan Alea.


"Sebelum ibuk memulai pembelajaran,ibuk ingin memperkenalkan seorang teman baru yang nantinya akan menjadi keluarga IPA 1.Mohon bantuannya untuk waktu yang akan datang." ucap guru tersebut.


"Emang bisa ya buk pindah sekolah padahal tryout dan ujian nasional sebentar lagi loh." tanya Johan selaku ketua kelas.


"Sebenarnya memang tidak bisa,tetapi dalam beberapa hal membuatnya bisa pindah sekolah ke sekolah kita yang tercinta ini." jelas buk Ratna.


"Dia terpaksa pindah kesini karna memang keadaan yang mengharuskannya." lanjutnya.


Johan dan murid yang lain hanya manggut-manggut mengiyakan pejelasan dari sang guru.


"Baiklah,jika tidak ada yang mau bertanya lagi,Ibuk minta kamu sebagai anggota baru memperkenalkan diri kepada teman-teman kamu." pintanya kepada siswa itu yang hanya di balas dengan anggukan olehnya.


"Hai..kenalin nama gue Nathaniel Alexander Graham,kalian bisa panggil gue Nathan." ucapnya singkat yang membuat murid-murid berdecak tidak puas.


"Hooh..pelit amat sama kata-kata." murid-murid sudah mulai heboh untuk protes.


"Iya..iya..gue hobi tidur,warna kesukaan gue adalah warna merah.Kalau dulu di sekolah yang lama gue sangan disegani dan di kagumi oleh murid cewek.Tapi lo pada tenang aja,gue masih jomblo kok." ucapnya dengan sangat percaya diri.


Murid-murid yang mendengarnya langsung tertawa,bahkan buk Ratna selaku wali kelas pun ikut tertawa dibuatnya.Murid lain terutama Johan memandangnya dengan tatapan tak suka,menurutnya pantad saja Ia berani mencoret-coret mobil Alea karnah sepertinya dia juga tidak memiliki urat malu.


Setelah memperkenalkan diri Ia di psrsilahkan duduk di beberapa bangku kosong yang masih tersisa.Dengan santainya siswa yang bernama Nathan tersebut malah memilih duduk tempat dimana Alea biasanya duduk.Ia bahkan melempar tas Alea ke meja yang berada di sampingya.


Beberpa siswa yang melihatnya ingin menegur,tetapi Johan menahan mereka.Ia ingin melihat kemarahan Alea setelah dua kali berani mengusiknya.Mmang sudah terpampang jelas bahwa Johan tidak menyukainya,selain sikapnya sombong dan tidak tahu malu itu,Johan juga tidak suka melihatnya tebar pesona dengan murid perempuan di kelasnya.Termasuk pada Viona yang merupakan gadis yang di taksirnya sejak kelas satu.


×××


Di tempat lain, Alea tampak sedang memarkirkan mobilnya di tempat tadi Ia juga memarkirkan mobil yang menjadi korban orang yang tidak bertanggung jawab.Alea keluar dari mobilnya sambil melihat arloji berwarna hitam yang melekat erat di tangan kirinya.


Melihat keadaan yang sudah sepi membuatnya yakin bahwa bel masuk pasti sudah berbunyi sejak dari tadi,dia hanya melihat beberapa murid di lapangan yang sepertinya sedang olahraga.


Tidak mau terlambat lebih lama,Alea langsung bergegas menuju kelasnya yang berada di lantai dua.Ia sampai di depan kelas dengan nafas yang ngos-ngosan,tepapi tidak terlihat karna Ia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya seperti biasa.


"Maaf buk saya telat." ucapnya sopan sambil mengetuk pintu.


"Alea..darimana kamu,tumben telat." tanya buk Ratna penasaran karna Ia tidak pernah melihat muridnya itu terlambat masuk kelas.


"Maaf buk,saya ada urusan mendadak tadi."


"Ya sudah..kamu langsung duduk kalau begitu.Jangan lupa tugas yang ibuk kasih kemaren kamu kumpul ya."


"Baik buk."


Alea menunduk hormat sebelum kembali ke tempat duduknya.Ia sedikit terkejut melihat kondisi bangkunya sudah ada yang menempati.Pria yang tadi sempat membuat amarahnya hampir meledak dan dia jugalah yang menjadi alasan atas keterlambatan Alea hari ini.Namun lihatlah sekarang,dia bahkan berani duduk di tempatnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.Ia bahkan asik mencoret-coret bukunya tanpa menyadari bahwa Ia telah membuat seseorang marah.


Alea menghampirinya dan menatapnya dingin sedingin Es di kutub sana.Orang yang di tatap masih belum sadar sampai Ia melihat sepasang kaki putih mulus dengan sepatu Converse berwarna hitam tengah berdiri di dekatnya.


Di pikirannya Ia mengira kalau gadis pemilik kaki indah tersebut tentunya berwajah cantik,dan mungkin saja sedang tersenyum ke arahnya.Untuk itu dia sedikit mendongkak until melihat wajah gadis tersebut.Namun bukan senyuman yang Ia dapat,melainkan tatapan dingin dengan ekspresi datar tanpa tersenyum lah yang tengah dilihatnya.


Dia memang tidak salah mengenai satu hal,yaitu parasnya.Gadis itu memang memiliki paras yang cantik,sebagai lelaki normal Ia tidak bisa memungkiri fakta tersebut.


"Kau..sedang apa kau disini?" tanyanya tanpa memdapat respon dari Alea.


"Apa kau kesini untuk minta maaf,atau kau ingin nomor telfonku." sambungnya lagi yang membuat Alea semakin muak.


Dia sudah bersiap untuk kalimat selanjutnya,tetapi sebelum Ia kembali berbicara Alea sudah lebih dulu pergi dari hadapannya.Alea sama sekali tidak suka pengganggu seperti itu,Ia akan memilih mengalah dari pada harus meladeninya.


Alea duduk di bangku tempat dimana tasnya berada,Ia mengeluarkan beberapa buku-bukunya dan mengambil salah satu buku untuk kemudian di letakkannya di meja guru.


Melihat Alea yang kembali tidak menghiraukannya membuat Nathan merasa kesal.Tidak pernah ada seorangpun yang tidak menghiraukannya,apa lagi seorang gadis.Ini adalah pertama kalinya Ia merasa harga dirinya di injak-injak oleh seseorang.


Ia hanya memerhatikan Alea yang sudah sibuk dengan bukunya,bukan buku pelajaran.Melainkan buku novel yang biasa Ia baca.Melihat hal tersebut membuatnya menyeringai karna Ia mengira kalau Alea sama dengannya.Sama-sama murid badung yang pemalas.


Ia tersenyum meremehkan Alea,baginya Alea hanya menang tampang dan kebetulan juga kaya.Mungkin karna itulah tidak ada murid yang berani mengganggunya,bahkan terlihat takut kepadanya.


Awalnya tadi Ia mencoret-coret mobil Alea karna dia mengira bahwa pemilik mobil tersebut adalah seorang pria,dengan bigitu Ia akan dengan senang hati menghajarnya until membuktikan bahwa dia yang akan berkuasa di sana.Tapi jauh di luar dugaannya,pemilik mobil itu justru seorang wanita yang bahkan sudah mempermalukannya di hari pertama Ia sekolah.


Murid-murid bahkan menertawakannya karna Ia telah kalah dari seorang gadis dan membuatnya mengumpat tidak jelas karna merasa kesal.


Mungkin kali ini akan berbeda,kali ini bukan seorang pria, melainkan seseorang wanita yang akan menjadi musuhnya.Ini adalah tantangan baru baginya.Melihat Alea yang duduk acuh tak acuh di tempatnya membuat Ia semakin penasaran,Ia malahan ingin mengenal Alea lebih jauh lagi.


Hanya dialah satu-satunya gadis yang berani menatapnya seperti itu,dan bahkan Ia merasa tidak di anggap olehnya.Semakin lama Ia melihat Alea semakin Ia merasa tertantang untuk mendekatinya.Ia bahkan bersumpah pada dirinya sendiri agar dapat memenangkan hati gadis tersebut,jangan memanggilnya Jonathan jika Ia tidak bisa meluluhkan hati seorang gadis seperti Alea.


Sampai bel pulangpun berbunyi dan Ia masih menatap Alea.Semua murid telah beranjak dari bangkunya masing-masing,dan bahkan Alea pun juga sudah berada di ambang pintu.


Alea menyadari kalau dia sedang di perhatikan oleh seseorang,namun seperti biasa Ia tidak memperdulikannya.Ia hanyan berjalan santai keluar kelas seolah tidak tahu ada orang yang terus menatapnya.


Sesampainya di area parkir,Alea berniat langsung pulang sesaat sebelum Ia merasa ada seseorang yang menarik tangannya.Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar sebelum Ia berbalik dan melihat siapa yang berani menyentuhnya.


TO BE CONTINUED...


Jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya


Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉