Me And Myself

Me And Myself
BAB 10



Jam sekolah telah usai, kini Alea tengah berada di parkiran dan bersiap-siap untuk pulang. Sekolahan sudah mulai lengang, hanya tinggal beberapa siswa dan guru yang belum pulang.


"Alea!"


Alea yang merasa namanya di panggil pun menoleh. Dia kembali menutup pintu mobilnya dan sedikit mengernyit mendapati seorang pria yang kini tengah mengulurkan tangan padanya.


"Leon"


Yup. Pria itu adalah Leon, guru mtk sekaligus walas IPA 1. Alea tidak menyambut uluran tangannya, melainkan hanya menatapnya jenggah. Sementara Leon yang merasa diabaikan oleh muridnya yang satu ini hanya tersenyum, dia menurunkan tangannya dan memasukkan nya kedalam saku.


"Kemarin kita tidak sempat berkenalan. Saya sebenarnya sedikit terkejut saat mengetahui bahwa kamu ternyata adalah murid saya, dan juga termasuk salah satu murid yang pintar."


"..."


"Dan berhubung kamu adalah murid saya, saya hanya ingin mengingatkan. Lain kali kamu jangan berkeliaran sendirian di tengah hutan seperti itu, kamu itu seorang wanita dan hari juga sudah hampir malam.. Saya tidak tahu apa masalah kamu, tapi jika hanya untuk bermain-main adalah alasannya, sebaiknya jangan lagi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu, tidak akan ada yang tahu. Karena lokasinya sangat terpencil dan jauh di tengah hutan."


"Sudah?"


"Heh.. masih sama. Mungkin sebelumnya memang berbeda, tapi sekarang saya adalah guru kamu, dan ini masih di sekolah. Masih berani bicara tidak sopan rupanya."


"Terserah saya"


"Benarkah? Kalau begitu jangan salahkan saya jika lain kali kamu saya adukan kepada kepala sekolah!"


"Bapak mengancam saya?"


"Jika kamu menganggapnya begitu"


"Hmm.. kalau begitu coba saja adukan. Jadi guru saja sudah belagu" sedikit pelan mengucapkan kalimat terakhir, tapi masih bisa terdengar oleh Leon.


"Baiklah." dia berbalik dan meninggalkan Alea.


"Percuma pintar kalau tidak ada akhlak" lanjutnya menyindir Alea yang berhasil membuat Alea berwajah masam.


"Dasar guru nyebelin, gak jelas, sok akrab" umpatnya dalam hati sambil terus menatap punggung Leon yang kini sudah masuk ke dalam mobilnya.


Alea masuk ke dalam mobil dan hendak pulang,tapi lagi-lagi Leon membuatnya kesal.


"Kamu jangan menyesal nanti" ucapnya sambil tersenyum saat melewati mobil Alea.


Senyum yang menurut Alea menjadi poin penambah rasa kesal dan tidak sukanya pada guru mapel kesukaannya itu. Tampaknya semenjak Leon yang menjadi guru mata pelajaran mtk sekaligus wali kelasnya, akan membuat Alea beralih mapel kesukaannya ke bahasa Inggris. Meskipun gurunya sudah berumur dan membosankan saat mengajar, setidaknya tidak semenyebalkan guru baru yang satu itu, pikirnya.


Tidak mau semakin kesal di buatnya, Alea menyalakan mobil dan pergi dari sana. Selama hampir tiga tahun sekolah di sana, tidak pernah sekalipun Alea merasa se kesal itu. Murid baru, guru baru. Keduanya sama-sama menyebalkan. ' Apa mungkin mereka bersaudara?' pikirnya.


Tidak butuh waktu lama, Alea kini sudah tiba di rumahnya. Dia memasukkan mobilnya ke dalam garasi dan masuk ke dalam. Sesampainya di ruang tamu dan hendak melangkah ke lantai atas, langkahnya terhenti saat abangnya memanggil yang sebenarnya sengaja di hindari oleh Alea.


"Alea!"


"..." menoleh.


"Tadi mama menghubungi abang, katanya dia tidak jadi pulang minggu depan dan dia di sana mungkin akan lama"


"Hemm" kembali melangkah.


"Kamu kenapa berubah? Dulu kamu sangat ceria dan penurut. Sekarang kenapa jadi pendiam begitu, bahkan pada keluarga sendiri. Apa karna papa?"


"Kenapa baru nanya sekarang? Dulu kemana aja, biasanya juga gak peduli sama Ale. Mau diam, mau apa kek, abang gak pernah nanya. Pulang kerumah aja enggak pernah, malah sibuk sama cewek-cewek gak jelas yang selalu nempel sama abang" ucapnya. Tapi hanya dalam hati, Alea tidak menjawab dan terus melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua.


Sesampainya di lantai atas, Alea lantas masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Dia menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah itu ke atas kasur, yang menjadi saksi atas semua hal yang telah di alami Alea selama sepuluh tahun terakhir.


Dia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang entah kemana. Jika di pikir-pikir, kehidupannya memang berubah drastis sejak kematian papanya. Saat itu adalah hari ulang tahunnya yang ke delapan, bukannya kebahagian yang ia dapat. Malah kabar menydihkan yang ia terima, ayahnya mengalami kecelakaan mobil dan meninggal di tempat.


Sakit? Tentu saja. Dia yang selalu di manjakan oleh sang papa, dan menjadi sosok yang paling dekat dengannya, kini telah pergi. Alea kecil yang ceria, selalu tersenyum, kini berubah menjadi sosok Alea yang pendiam, dan dingin. Tidak pernah tersenyum apa lagi menangis.


Hari itu adalah hari terakhir Alea menangis. Selain papanya, hanya pamannya lah yang masih dekat dengannya, sekaligus orang yang terkadang berhasil membuat Alea tersenyum.


Lalu bagaimana dengan anggota keluarga nya yang lain? Jangan di tanya! Sejak dulu dia hanya dekat dengan ayahnya, dan kakak perempuan nya, Aleta. Tapi itu hanya sebentar, semenjak papanya meninggal, kakaknya juga harus di sibukkan dengan urusan kantor untuk membantu mamanya. Di usia kakaknya yang baru berusia tiga belas tahun, dia sudah harus belajar berbisnis. Apa lagi sekarang dia sudah berkeluarga, semakin membuatnya tidak memiliki waktu untuk Alea.


Sementara abangnya, Fendra. Sejak dulu dia tidak pernah patuh pada orang tuanya. Dia yang memiliki jiwa petualang, membuatnya ingin hidup bebas. Terlepas dari segala aturan yang dimiliki oleh keluarga nya.


Kembali pada kenyataan, Alea segera bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan ke kamar mandi untuk kembali menyegarkan tubuh dan pikirannya.


***


Kini Alea sudah selesai mandi, dan waktu menunjukkan pukul lima sore. Hari ini adalah jadwalnya untuk latihan taekwondo. Memang, jiwa tomboy nya tidak terlalu terlihat saat di sekolah. Karna orang-orang hanya tau dirinya yang pendiam dan berhati dingin saja.


Di balik wajah cantik, otak cerdas, dan sifat pendiam nya. Alea adalah seorang gadis delapan belas tahun yang sudah menyandang sabuk hitam di taekwondo. Selain piala menang hasil lomba di sekolah, koleksi pialanya di rumah juga hasil kemenangan saat bertanding di seni bela diri taekwondo. Tidak satu pun dari keluarga nya yang tau mengenai hal tersebut.


"Mau kemana lagi kamu?"


"Keluar"


"Jangan pulang terlalu malam, nanti abang ada urusan dulu, jadi pulang telat."


"Hemm."


Kali ini Alea tidak membawa mobilnya, dia memilih mengendarai sepeda motor yang di belinya tahun lalu. Motor sport model Harley Davidson berwarna hitam, yang rata-rata harganya ratusan juta.


Sekitar tiga puluh menit Alea melajukan motornya, sampailah dia di tempat tujuan. Tempat yang sudah di datanginya sejak lima tahun yang lalu.


"Alea, gue kira lo gak bakalan datang hari ini" tanya salah seorang pria yang juga latihan taekwondo di sana, namun di cuekin oleh yang punya nama.


"Sorry, Sensei. Ale ngak telat kan?" bertanya tanpa ekspresi.


"Kamu tepat waktu. Ya sudah kalau begitu, segera ganti pakaian kamu dan mulai latihan."


"Baik, Sensei." mengangguk dan pergi ke ruang ganti.


Selain untuk tempat latihan taekwondo, tempat tersebut juga tempat latihan untuk para atlet petinju. Hanya saja tempatnya berada di lantai yang berbeda.


Guru taekwondo Alea dan yang punya tempat tersebut adalah saudara. Jika yang satu altet taekwondo, maka yang satunya lagi adalah mantan petinju yang namanya cukup di kenal.


Alea kini sudah berganti pakaian dengan baju ke banggaannya. Baju dengan sabuk berwarna hitam yang menandakan tingkat kepandaiannya di ilmu bela diri taekwondo sudah cukup tinggi.


"Ale, kamu sepertinya harus sering latihan. Mengingat minggu besok kamu 'kan mau ada tanding. Kamu tidak sedang ujian 'kan?"


"Tidak, Sensei."


"Baguslah kalau begitu. Meskipun kemampuam kamu sudah tidak di ragukan lagi, tapi kamu masih harus datang untuk latihan."


"Baik, Sensei"


"Baiklah, mari latihan"


**


Hari sudah pukul delapan malam, latihan sudah selesai. Sudah waktunya pulang, pikir Alea. Tapi dia belum makan seharian ini, dia hanya minum dan makan beberapa cemilan saja tadi. Apa lagi dia baru selesai latihan yang membuatnya kehabisan tenaga, jadi tubuhnya butuh energi sekarang.


Melihat ada tukang bakso keliling langganannya, Alea segera melajukan motornya ke sana.


Dia sempat menjadi pusat perhatian karna rata-rata pengunjung di sana adalah perempuan. Mungkin karna Alea mengenakan masker dan kaca mata hitam, makanya mereka mengira kalau orang yang akan turun adalah seorang pria tampan.


Tapi nyatanya saat helm di buka, rambut panjang Alea lah yang turun. Apa lagi saat Alea menurunkan maskernya, mereka terlihat seperti baru saja di lempar ke atas dengan harapan yang tinggi, kemudian di hempaskan oleh kenyataan.


"Bakso satu, Pak"


"Eh.. Neng Lea, bungkus apa makan disini, Neng?"


"Makan disini aja, seperti biasa ya, Pak!"


"Siap" memberi hormat pada Alea.


Sementara Alea yang memang sudah akrab dengan penjualnya, hanya bisa tersenyum melihat tingah laku abang penjual yang bernama Yatmo tersebut. Meskipun Alea hanya tersenyum tipis, tetapi kesempatan langka tersebut dapat di lihat oleh seseorang yang juga tengah mengantri untuk membeli bakso.


"Bisa tersenyum juga lo?"


Alea yang merasa kalau dia orang yang dimaksud kan itu pun menoleh, mendapati seorang pria yang beberapa hari terakhir ini berhasil membuatnya merasa kesal. Seorang pria yang sangat di kenalnya. Yup, siapa lagi kalau bukan Nathan.


"Gue kira lo cuma bisa marah, melotot gak jelas sama cuekin orang doang. Ternyata lo juga bisa senyum?" duduk di samping Alea.


"Tuh.. kan, baru juga di omongin. Udah di cuekin lagi gue nya" berusaha tetap santai.


"Eh,. Lo kok songong amat sih jadi cewek? Lo kira gue takut sama lo? Jangan mentang-mentang lo itu cewek lo pikir gue gak berani ya sama lo!?" lanjutnya dengan nada yang sedikit keras.


"Di bungkus aja, Pak, bakso nya"


"Gak jadi makan disini, Neng?"


"Gak jadi. Udah gak mood makan disini, ada serangga pengganggu soalnya" menyindir ke arah Nathan.


Pak Yatmo yang melihat siapa serangga pengganggu yang di maksud hanya mengangguk paham dan tersenyum.


"Eh.. maksud lo apa?" berdiri.


"Ini, Neng"


"Makasih yah, Pak. Ambil aja kembaliannya!" menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.


"Makasih banyak, Neng"


Alea yang sudah berada di atas motor pun segera pergi dari sana, meninggalkan Nathan yang masih mengumpat tidak terima di sebut sebagai serangga pengganggu olehnya. Apa lagi di depan banyak orang, terutama cewek yang sepertinya juga seumuran dengannya.


Kembali di cuekin dan menanggung malu oleh orang yang sama.


"Awas aja lo, gue gak bakal biarin lo lepas gitu aja, Al. Jangan panggil gue Nathan kalau ngurus satu cewek kayak lo aja gue gak bisa"


TO BE CONTINUED...


Jangan lupa follow IG Author @faadelia._


Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉