Me And Myself

Me And Myself
BAB 5



Keesokan harinya Alea sudah kembali ke sekolah,sekarang Ia tengah siap-siap untuk berangkat sambil mengenakan sepatunya terburu-buru.


Alea sambil berlari menuruni tangga dan samar-samar mendengar suara seseorang yang sedang memanggilnya,sepertinya itu suara abangnya.Tapi dia tidak peduli, Ia semakin mempercepat langkah kakinya menuju garasi dimana mobilnya berada.


"Alea.." suara teriakan dari abangnya dari arah belakang.


"Abang tau kamu mungkin gak suka tinggal di rumah ini,tapi setidaknya kamu tolong hargain abang sebagai kakak kamu.Abang disini juga karna diminta mama,mama minta abang buat ngasih tau ke dia setiap pergerakan kamu.Jadi kamu mulai sekarang tolong nurut sama abang,kalau bukan karna mama abang juga gak mau tinggal di sini.Mendingan abang tinggal di apartment abang,bukan kamu doang yang harus abang urusin,abang juga sibuk banyak urusan." tuturnya.


Alea sudah berada di pintu menuju garasi,dia sempat berhenti saat mendengar abangnya berteriak memanggil namanya tadi.Ia berniat untuk menoleh ke arah sumber suara tapi harus Ia urungkan saat mendengar kelanjutan kata-kata abangnya.Ia justru merasa muak karnanya.


Alea kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobil.Alea langsung tancap gas saat Ia melihat abangnya yang segera menyusulnya ke garasi.


Fendra membuang nafas kasar karna Ia tidak bisa menyusul adeknya yang super dingin itu dan bicara padanya.Ia hanya bisa menatap bagian belakang mobilnya yang sudah semakin menjauh.Ia tidak punya pilihan lain selain harus bersabar dengan sikap adeknya,padahal dulu mereka sering bermain dan tertawa bersama.Tapi sekarang Ia bahkan seperti sudah tidak mengenalnya lagi.


Fendra berbalik dan masuk ke dalam rumah.Beberapa saat kemudian Ia keluar lagi dan mengambil motornya untuk pergi dari sana.


×××


Alea sudah memasuki gerbang sekolahnya berniat untuk kemudian memarkirkan mobilnya di tempat biasa Ia parkir.Tapi Alea menghentikan mobilnya bahkan sebelum Ia berada di tempat parkir.Di depan sana,Ia melihat seseorang tengah memarkirkan motornya orang itu masih duduk di atas motornya dengan helm yang masih Ia pakai.Alea tidak mengenali motor tersebut,tetapi Ia merasa sedikit familiar dengan jaket kulit berwarna hitam yang di pakai oleh pria itu.


Alea masih diam di mobilnya memegang setir dengan arah pandangan yang tertuju ke depan,ke arah seorang pria yang telah berani memempati tempatnya.Alea melajukan mobilnya dan berhenti tepat di belakang motor pria itu,Alea keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya untuk menegurnya.


"Lo siapa?" tanya Alea kepada pria yang kini sudah berada di depannya.


Pria itu menoleh ke arah Alea dan menatapnya untuk beberapa saat sebelum Ia membuka helmnya.


Alea sedikit terkejut saat pria itu membuka helmnya,Ia mengutuk dirinya sendiri karna telah menghampirinya.Seharusnya tadi Alea sudah bisa menebaknya dan memilih untuk tidak menegurnya,tetapi Ia malah melakukan hal sebaliknya.Sekarang dia harus kembali berurusan dengan seorang pria yang sangat menjengkelkan.


"Lo,,ngapain lo berdiri disini.Kayak gak ada tempat lain aja." katanya dengan nada sewot.


Alea sangat ingin mencekiknya sekarang ini,tadi pagi dia sudah dibuat kesal oleh abangnya,dan sekarang Ia kembali dibuat kesal oleh orang di depannya ini.


Alea mengepalkan kedua tangannya membentuk sebuah tinju, Ia tuga mengeetakkan giginya karna menahan rasa marah yang sudah membeludak di dalam sana.


Alea berbalik dan mengambil tasnya yang masih berada di dalam mobil.Ia tidak ingin membuang-buang energi dan waktunya hanya untuk meladeni pria seperti dia.


Alea berlalu dari sana dan meninggalkan Nathan yang masih berdiri mematung dan berkata "tidak akan ku biarkan ada yang ke empat kalinya." kata Alea sedikit menoleh ke arah Nathan.


Sementara Nathan yang tidak mengerti maksud dari ucapan Alea malah terlihat sedang bingung seperti orang bodoh.Dia menaikan kedua alisnya sebagai tanda Ia tidak memahaminya.


"Maksud lo?" Ia tersadar dan bertanya pada Alea yang kini entah dimana,batang hidungnya pun sudah tidak terlihat lagi.


Justru hal itu membuat Nathan semakin terlihat seperti orang bodoh yang tengan celengak-celongok mencari keberadaan Alea.Menyadari semua mata dari orang yang sedang lalu lalang tertuju ke arahnya,Ia memutuskan bergi ke kelas,Ia tidak ingin terlihat seperti orang bodoh disana.


Sementara Alea sudah duduk di dalam kelas,Ia kembali ke tempat duduk ternyamannya.Ia tidak peduli jika nanti Ia harus berhadapan lagi dengan Nathan si pria paling menyebalkan yang pernah Ia temui.Toh nanti Ia hanya akan berlagak di mendengarnya dan tidak memperdulikannya,dengan begitu Ia akan berhenti dengan sendirinya nanti.Lagian bukan dia yang merebut tempat duduknya,justru Nathan lah pelakunya.Ia hanya kembali kesana.


Dan benar saja,bersamaan dengan bunyi bel,Natahn juga terlihat memasuki ruangan kelas.Ia berjalan santai ke arah Alea berniat untuk memberinya 'pelajaran'.


Alea yang sudah menduganya langsung memakai earphone nya,jurus andalannya untuk menghindari semua orang termasuk keluarganya sendiri.Tidak lupa novel ke sayangannya pun ikut Ia letakkan di atas meja dan membacanya.


"Heh lo,,minggir sana.Ini kursi gue,lo cari aja tempat duduk lain yang masih kosong disana." bentaknya menepuk meja dan menujuk meja kosong yang dua hari lalu di tempati Alea.


"Lo dengar gue gak sih,gue bilang lo minggir sana." sambungnya melihat Alea yang masih fokus pada novel di tangannya.


Alea masih diam dan tidak memperdulikannya membuat Ia semakin marah dan mengambil novel dari tangan Alea.Nathan lalu meletakkannya di atas meja yang ada di depan meja Alea, Ia berharap dengan begitu Alea akan berajak mengambil novelnya,maka di saat itulah Ia akan mengambil alih tempat duduknya.


Tetapi tidak,Alea masih duduk di tempatnya dan menatapnya sebentar lalu menatap ke arah dimana novelnya berada.Dan beberapa detik kemudian novel itu sudah kembali lagi ke tangannya.Nathan menatap murid laki-laki yang tadi memberikan novel itu kepada Alea,Ia ingin memarahinya juga tetapi itu akan percuma,novel itu sudah kembali ke tangan Alea dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Nathan kembali menggebrak meja Alea dengan keras sehingga membuat seluruh siswa yang ada di dalam kelas menoleh ke arahnya.Mereka terlihat kesal karena ulahnya, anak-anak sudah siap dengan sumpah serapah mereka masing-masing.


Nathan menarik nafas dalam-dalam dan hendak menghardik Alea,namun di gagal karena guru yang sudah masuk dan terlihat tengah memperhatikannya.


"Nathan,,kenapa kamu masih berdiri,kembali ke tempat duduk kamu!" perintah guru tersebut.


"Baik buk." jawabnya sopan dengan di selingi anggukan olehnya.


Sementara Alea yang jelas mendengar dan melihat half tersebut tampak menyunggingkan senyam tipis di wajahnya,namun hal itu tidak luput dari pandangan salah seorang murid perempuan di dekatnya.Ia sedikit terkejut di buatnya, Ia merasa seperti mendapat jackpot karna berhasil menangkap momen langka tersebut.


Saat itu mata pelajaran kimia, pelajaran yang termasuk ke dalam salah satu daftar pelajaran yang tidak disukai oleh hampir seluruh siswa SMA pada umumnya,termasuk Nathan sendiri salah satunya.


"Baiklah,,sekarang apa ada yang ingin bertanya" kata sang guru setelah menjelaskan beberapa materi.


Ia bertanya pada semua orang namun tidak ada satupun di antara mereka yang menjawabnya.Alhasil mereka harus bersiap terkejut mendengar tanya guru selanjutnya.


"Kalau tidak ada yang bertanya Ibuk anggap kalian semua sudah paham dengan materi yang Ibuk jelaskan tadi." katanya lagi.


Detik utulah semua siswa heboh dengan jantung yang berdetak kencang,mereka tidak memahami semua materi yang sudah di jelaskan,dan masalahnya lagi mereka juga tahu harus bertanya di bagian mana.Jika bisa,mereka ingin menanyakan semua materinya,tetapi itu tentu tidak mungkin sekali.


"Tidak ada?baiklah kalau tidak ada yang mau menjawab berarti Ibuk harus menunjuk salah satu dari kalian." lagi,,pertanyaan yang lagi-lagi membuat jantung mereka tidak karuan.


Mereka tidak suka bagian ini,ingin sekali mereka menghilang dari dalam kelas agar namanya tidak di tunjuk.Meski masih terlihat muda,guru mereka yang satu ini terkenal dengan mulut pedasnya.Dia tidak akan segan-segan mengeluarkan kata-kata menusuk pada muridnya.


"Hmm..biar ibuk lihat dulu ya..Mari kita panggil murid baru kita Nathan agar kita juga bisa melihat sejauh mana dia memahami materi hari ini." tersenyum ke arah Nathan.


Mereka yang tidak di panggil namanya bisa bernafas lega,mereka mengelus dada beberapa kali dan tersenyum bahagia.Mereka sudah takut setengah mati tadi kalau-kalau nama mereka yang terpanggil,dan untungnya malah nama Nathan yang terpanggil.


Sedangkan Nathan sendiri sudah tidak bisa berkata-kata lagi,dia mati kutu dan mematung di tempatnya.Mengapa pula harus namanya yang terpanggil,mau jawab apa nantinya di depan sana.Jelas-jelas tidak ada satupun yang Ia pahami,menyimak saja tidak apa lagi harus menjawab soal di depan.


"Nathan.." panggil guru sekali lagi.


"Eh I..iya buk." jawabnya gelagapan.


"Buruan di jawab,kok malah bengong aja kamu."


"Baik buk." akhirnya Ia memberanikan diri until maju ke depan.


Ia berjalan perlahan dengan berpuluh pasang mata menatapnya yang membuat Nathan sudah merasa malu bahkan sebelum Ia gagal menjawab soal-soal di papan tulis.


Saat sudah di depan papan tulis, Nathan hanya diam celengak-celongok minta bantuan entah kepada siapa.


"Nathan kenapa cuman diam aja,itu soalnya cepetan kamu jawab,biar teman-teman kamu yang lain juga pada ngerti.


"Ma..maaf buk."


"Loh emangnya ada apa, kenapa kamu malah minta maaf bukannya ngerjain itu soal."


"Maaf buk,,t..tadi saya kurang fokus buk jadi saya tidak mengerti." jawab Nathan jujur pada akhirnya.


"Kurang fokus atau memang dasarnya aja kamu bodoh?" sindir Buk guru yang kemudian di sambut oleh canda tawa murid-murid lain.


"Ha..ha..ha."


"Banyak alesan aja dia itu buk,kan emang dasar dia gak ada otaknya."


"Diam kamu Pedro,emangnya kamu bisa jawab soal Ibuk?" bentak buk Putri.


"Maaf buk,enggak buk." jawabnya lagi yang justru membuat seisi kelas makin heboh.


"Dan kamu Nathan,berdiri di pinggir sana sampai jam pelajaran Ibuk habis." Tegasnya.


"Baik buk." Nathan berjalan kesudut dekat pintu tempat yang di maksud buk Putri barusan.


"Ya sudah,Ibuk tidak ada pilihan lain.Ibuk tidak percaya sama kalian semua.Jadi Alea,tolong kamu selesaikan soal-soal berikut." pintanya pada Alea.


Nathan yang melihat Alea sudah berjalan ke depan seketika berdecak, jelas-jelas tadi Ia juga melihat Alea yang tidak fokus saat guru menerangkan di depan.Ia bahkan mengenakan earphone di telinganya dan membaca novel,jadi tidak mungkin dia bisa menyelesaikan soal tadi.


Bukan hanya satu,tapi ada tiga buah soal yang menurutnya sangat susah.Dia pasti akan berakhir sama dengannya yang di hukum berdiri di depan kelas sepanjang pelajaran kimia berlangsung.Untung dia hanya disuruh berdiri,kalau dulu dia pasti akan berdiri dengan satu kaki dan kedua tangannya di suruh memegang telinga.Dan itu pun bukan di dalam kelas,tetapi di depan kelas yang otomatis seluruh siswa bisa melihatnya,dan malunya pun akan berlipat ganda.


Di saat Nathan sibuk dengan lamunannya, Alea bahkan sudah kembali lagi ke tempat duduknya.Nathan yang sudah sadar pun menggeleng tidak percaya,tidak mungkin dia akan di izinkan duduk jika dia tidak bisa menyelesaikan soal tadi.Dan sepertinya murid yang lain juga tidak terlihat terkejut sedikit pun,Nathan tidak mau tahu,pokoknya dia harus protes.


Nathan kemudian melihat ke arah papan tulis,disana sudah terlihat ada jawaban dari soal-soal dari buk Putri,dan papan tulis pun sudah penuh oleh jawaban yang di tuliskan oleh Alea.


"Nah kalo begini kan ibuk jadi senang gak perlu marah-marah lagi,kalian itu seharusnya mencontoh Alea.Memang dia itu sedikit pendiam,tapi kalau soal pelajaran dia tidak pernah diam.Dia selalu membuat bangga ibuk dan guru-guru yang lain,tidak seperti kalian." sindirnya pada siswa yang lain namun sudut pandangnya justru mengarah pada Nathan.


"Kemampuan setiap orang tuh beda-beda buk,lagian Alea memang udah kodratnya jadi murid pintar.Ya bakalan jauh beda lah kalo di bandingin sama kita-kita ini.Ya nggak guys." ucapanya meminta persetujuan dari yang lain yang di balas anggukan oleh mereka.


"Makanya belajar,udah tau otak gak mampu malah males-malesan,ya bakalan tambah bodoh kamunya."


"Ya ibuk,,kaya gak pernah bodoh aja ibuk nya."


"Udah salah,nyaut lagi.Emang benar ya kata pepatah,Tong Kosong Nyaring Bunyinya.Sama kayak kamu,sudah bodoh banyak omong pula." kata-kata menusuk buk Putri semakin keluar.


Dan tidak ada lagi satu orang pun yang berani menjawab,mereka hanya diam sampai bel istirahat pun akhirnya berbunyi.


TO BE CONTINUED...


Jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya PSYCHOPATH IN LOVE


Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉