
Malam telah berganti siang. Sang mentari pun telah lama menyapa. Kini Alea tengah berada di dalam mobil di parkiran sekolahnya, masih enggan untuk segera keluar. Dia sedang memerhatikan benda pipih bernama handphone yang kini tengah di pegangnya, menatap sebuah pesan masuk yang dari semalam di terimanya. Memikirkan maksud dari pesan tersebut, yang pengirimnya entah dari siapa, Alea tidak tahu.
Sampai seseorang mengetuk kaca jendela mobil yang membuat Alea tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Dia seketika tersadar dan menoleh, mendapati seorang pria yang beberapa hari terakhir ini tidak mengganggu nya, dan tengah tersenyum padanya.
"Ale, tumben lo gak langsung ke kelas? Barengan yuk?"
Alea keluar dari mobil nya, dan segera berjalan ke kelas tanpa menjawab pertanyaan Rayhan barusan. Sementara, Rayhan, yang sudah terbiasa dengan sikap Alea tersebut, hanya tersenyum. Dia segere menyusul Alea yang sudah sedikit juah di depannya.
"Udah dua taun lebih loh, Al. Masa lo masih cuekin gue sih? Emang segitu gak suka nya ya, lo sama gue?"
"Gak"
"Gak? Maksudnya gimana ya? Kok gue kurang paham gitu" mensejajarkan langkahnya dengan Alea.
"Diam lagi. Lo gak suka ama gue atau begimana nih?" sambungnya.
"Gue gak suka sama lo, tapi gak benci juga"
"Hah?"
"Lo gak budek 'kan?"
"Ya enggak lah. Terus?"
"Apa?"
"Berarti lo udah mau dong temenan sama gue?"
"Gak"
"Lah.. kok gitu sih? Harus mau lah"
"Lo kok maksa sih?"
"Ya harus lah, lo kira perjuangan gue gampang apa? Udah mau lulus tapi masih belum resmi temenan sama lo, kan gue mengsedih jadinya"
"Bukan urusan gue"
"Ya tapi kan.."
"Alea!"
Alea yang merasa namanya di panggil pun langsung menoleh,begitupun dengan Rayhan, yang juga ikut menoleh. Mendapati siapa yang barusan memanggilnya, sebelah alisnya pun mengernyit.
"Kamu ikut ke ruangan saya, sekarang!"
"Selamat pagi, Pak" ucap Rayhan pada sang guru.
"Pagi. Alea, ikut saya!"
"Ada apa ya, Pak?"
"Saya ada urusan sebentar sama Alea"
"Alea? Emang Alea kenapa, Pak?"
"Bukan urusan kamu, kamu masuk saja ke kelas. Saya perlunya sama Alea, bukan sama kamu"
"Ye, Bapak. Pelit amat sih, Pak"
Alea yang melihat sang guru pergi begitu saja, hanya terpaksa ikut. Sementara Rayhan hanya dapat memanyunkan bibirnya karena dia malah di tinggal begitu saja.
Sesampainya di ruang guru, Alea tanpa pikir panjang pun langsung bertanya. Hanya ada dia berdua dengan sang guru saja disana, mungkin karena hari masih pagi, makanya guru yang lain belum pada datang.
"Ada apa?"
"Aish.. saya bahkan belum sempat duduk, kamu sudah bertanya saja"
"Ngak usah basa-basi, Bapak langsung saja. Ada perlu apa bapak memanggil saya kesini"
"Ehm.. itu, lutut kamu gimana?" menunjuk lutut Alea yang di perban.
Alea yang merasa aneh di beri pertanyaan tersebut, menaikkan satu alisnya. "Kenapa?" ujarnya.
"Tidak ada, memangnya saya tidak boleh bertanya?"
"Jadi, saya di panggil kesini hanya untuk hal yang tidak penting seperti ini?"
"Siapa bilang tidak penting, kalau luka kamu ternyata infeksi, bagaimana? Saya harus bertanggung jawab, dong? Dan satu lagi, pesan saya kenapa belum kamu baca?"
"Hem? Pesan, pesan yang mana?"
"Ck.. itu, pesan yang saya kirim ke kamu lewat WA semalam, kenapa tidak kamu baca?"
"Ooh.."
"Kenapa ooh..? Saya itu sedang bertanya"
"Saya tidak menerima pesan dari nomor asing"
"Nomor asing? Itu 'kan nomor saya, guru kamu. Saya bukan orang asing"
"Saya 'kan gak tau"
"Sekarang kamu sudah tau. Mulai hari ini, kamu harus menyimpan nomor saya, biar lain kali kalau saya ada menghubungi kamu, saya ngak di kira orang asing lagi"
"Hm"
"Ya sudah, kamu silahkan ke kelas!"
"Saya permisi" menunduk hormat dan pergi.
"Ada apa ini, bertanggung jawab kenapa?" ucap salah seornag guru yang baru saja tiba dan sedang berpapasan dengan Alea.
Dia melihat ke arah Alea dan Leon secara bergantian, menunggu jawaban. Merasa penasaran dengan obrolan guru dan murid tersebut.
"Oh..itu. Itu, Buk, kemarin saya tidak sengaja menabrak Alea saat pulang. Akibatnya lutut Alea jadi terluka, makanya saya bilang kalau saya akan bertanggung jawab jika lukanya jadi semakin parah" jelas Leon yang mengerti melihat tatapan penasaran sang guru.
"Oohh.. kecelakaan. Saya kira kenapa. Ya sudah kalau begitu, Alea, kamu silahkan ke kelas gih. Jangan terlalu lama berdiri, biar lukanya tidak bertambah parah" ucapnya pada Alea setelah melihat lutut Alea yang di perban.
"Baik, Buk. Saya permisi, Buk, Pak" kembali menunduk dan segera pergi ke kelas.
**
Di ruang kelas, ternyata sudah ada beberapa murid lain yang datang. Alea langsung pergi ke tempat duduknya. Seperti biasa, dia memakai earphone dan mengeluarkan novel andalanya. Kali kini bukan novel yang biasa dia baca, melainkan novel yang kemarin baru dia beli saat pulang sekolah.
Selang beberapa menit, Alea merogoh tasnya dan mengambil ponsel miliknya. Dia lalu membuka WA dan mencari pesan yang semalam sempat dia lihat tapi tidak ia baca. Setelah menemukanya, dia kemudian menyimpan nomor sang pengirim pesan tersebut, yang di ketahui adalah nomor Leon, gurunya.
Setelah menyimpannya, Alea kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan kegiatan membacanya.
Kali ini earphone nya ia pakai bukan hanya sebagai alat untuk penanda kalau dia tidak ingin di ganggu, melainkan ia tengah mendengarkan musik dari salah satu boygroup asal Korea yang tengah ramai di bicarakan itu.
Entah mengapa, membaca sambil mendengarkan musik lebih membuat Alea merasa fokus di bandingkan dengan saat ia membaca tanpa mendengarkan musik. Menurutnya, suara dari orang-orang yang ada di sekitarnya lebih terasa mengganggu dari pada suara dari lagu yang tengah di dengarnya.
Hanya sebentar merasakan kedamaian, kini Alea kembali merasa terganggu dengan kedatangan seseorang yang tengah duduk di atas mejanya. Meskipun orang itu duduk sambil membelakanginya, namun itu tetap sangat mengganggu baginya, apalagi dengan ukurun meja yang kecil seperti itu, bahkan tas dari orang tersebut tengah berada di atas tangannya yang sedang memegangi novel bacaannnya.
"Kenapa lo? Terganggu? Pergi aja sono, cari tempat duduk yang lain" ucap orang tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Alea yang tidak suka ketenanganya di ganggu pun hanya bisa menahan emosi, apa lagi pada orang sepertinya. Rasa bencinya pada orang tersebut, membuat Alea selalu berusaha untuk bersabar. Apa lagi, dia sempat kehilangan kendali beberapa waktu yang lalu dibuatnya, yang akhirnya menjadi trending topik satu sekolahan.
"Heh, Nathan. Lo lama-lama kok makin songong ya, gue liat. Lo gak tau Alea itu siapa? Belum puas lo kemarin kena tonjok sama Alea, ampe gak masuk sekolah sehari? Malah sok kegantengan lagi" ucap Johan, si ketua kelas, yang memang dari awal sudah tidak suka pada Nathan.
"Lo siapa? Pacarnya? Apa lo suaminya? Urusan gue sama ni cewek, bukan sama lo. Pergi lo sana!" mendorong Johan dengan sebelah tangan.
"Eh cunguk, mau ngajak ribut lo? Ayo sini maju lo, lo kira gue takut sama pengecut kek lo apa!?" balik mendorong Nathan yang justru membuat Nathan tanpa sengaja membuat meja Alea sedikit terdorong, karena posisnya yang tengah duduk di atasnya dan membuat kaki Alea tersenggol oleh salah satu kaki meja tersebut.
"Bangsat, beneran ngajak ribut lo ya. Hayok sini gue ladenin" bangkit dari atas meja dan kembali mendorong Johan, dan kini justru semakin kencang sampai membuat Johan hampir terjatuh.
Keadaan kelas semakin ricuh, anak-anak yang baru saja datang langsung ikut menonton, bahkan anak-anak dari kelas sebelah pun sama. Tidak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk melerai keduanya, sampai Alea bangkit dari tempat duduknya.
Mereka yang melihat Alea bangkit, mereka pun langsung diam. Apa lagi dengan raut wajah Alea yang sudah seperti ingin memakan mereka satu-persatu, membuat mereka seketika merasakan takut berjamaah. Tidak ada satu orang pun dari mereka yang berani untuk bergerak dari tempat mereka masing-masing, terutama Johan.
"A..A.. Alea. Gu..gue gak maksud buat ganggu lo. Di.. dia yang mulai duluan tadi" ucapnya terbata, sambil menunjuk ke arah Nathan.
Nathan yang melihat sikap Johan, serta anak-anak yang lain pun ikut terdiam. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Alea yang tengah menatapnya dingin. Tanpa ekspresi dan sangat mendominasi. Membuat nafasnya seketika merasa sesak dan kakinya yang seperti menempel pada lantai, tidak bisa di gerakan.
"Ke..kenapa lo?"
Alea tidak menjawab, dia hanya berlalu begitu saja. Meninggalkan ruangan kelas yang masih saja hening selepas kepergian nya. Mereka dengan jelas melihat lutut Alea yang berdarah tadi. 'tamat riwayat lo' seperti itulah kira-kira tatapan mereka pada Nathan, sang tersangka.
Alea pergi ke ruang UKS, berniat untuk mengganti perban sekaligus mengobati lukanya.
"Alea, ada apa?" ucap Leon yang kebetulan hendak pergi ke kelas setelah mendengar ada murid kelasnya yang berantem.
"Kenapa lutut kamu bisa berdarah? Bukan kamu 'kan yang tadi berantem?" tanya nya saat melihat kondisi lutut Alea.
"Biar saya antar ke UKS" lanjutnya lagi.
"Saya bisa sendiri" menepis uluran tangan dari Leon.
"Kamu sedang terluka, Alea. Tolong lah sekali-kali sifat keras kepala kamu itu di kesampingin dulu" ucapnya lagi sambil membantu Alea berjalan ke UKS.
Sesampainya di ruang UKS, dia langsung mendudukan Alea di atas salah satu tempat tidur yang ada disana.
"Kamu duduk dulu disini, biar saya ambilkan obat"
Alea hanya diam, dia perlahan melepaskan perban di lututnya yang kini sudah penuh dengan darah itu.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan melepasnya seperti itu! Jika tidak hati-hati melepasnya, justru akan membuat luka kamu semakin parah nantinya" ucapnya dengan nada panik, kemudian membantu Alea untuk melepaskan perban tersebut.
"Kamu kenapa sangat ceroboh sekali, kamu itu sedang terluka, malah berantem. Kamu itu perempuan, bukan laki-laki. Bersikap anggun lah sedikit"
"Siapa yang berantem?"
"Kalau bukan berantem, lalu kenapa luka kamu bisa kembali berdarah. Lagian tadi saya mendapat laporan, kalau di kelas kamu ada yang berantem. Dan kamu satu-satunya orang yang keluar dengan kodisi seperti ini. Siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Terserah, Bapak. Yang jelas bukan saya"
"Ya sudah, untuk sekarang saya akan percaya dulu sama kamu. Tapi jika nanti saya tau ternyata memang kamu orangnya, saya akan menghukum kamu secara double"
"Terserah."
Tidak ada lagi perkataan yang keluar dari mulut mereka. Leon yang tengah sibuk mengobati Alea, dan Alea yang masih berusaha menahan emosinya. Saat di kelas dia sudah di buat kesal, dan sekarang pun dia juga di buat kesal. Dia yang korban, malah dia yang di tuduh sebagai pelaku.
"Sudah"
"Terima kasih"
"Hem.. sekarang kita kembali ke kelas, saya harus melihat siapa yang berantem, dan memberinya pelajaran."
"Hm"
Mereka pun kembali ke kelas. Alea yang berada di belakang, mengikuti Leon yang kini berada di depannya. Sambil perasaan yang terus merasa kesal, dan bahkan Alea tengah memukuli tubuh Leon, di dalam pikirannya.
TO BE CONTINUED...
Jangan lupa follow IG Author @faadelia._
Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉