Me And Myself

Me And Myself
BAB 11



Alea melajukan motornya dengan sedikit ngebut, memecah gelapnya malam yang masih ramai di lalui oleh kendaraan. Tepat di depan sana sudah terlihat persimpangan ke arah ruamhnya.


Ciitt... Brak


Alea terpaksa mengerem motornya secara mendadak, yang membuatnya justru hilang keseimbangan. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja sebuah BMW berwana hitam muncul di hadapannya.


Alea yang sudah merasa kesal karena tadi sempat bertemu dengan Nathan kini justru bertambah kesal di buatnya. Tetapi dia masih bisa menahan rasa kesalnya, dia segera bangkit dan kemudian menegakan motornya. Sedikit menepuk celana yang kotor akibat terjatuh.


"Maaf, Mas. Apa anda baik-baik saja? Tidak ada yang luka 'kan? Apa perlu kita ke dokter? Atau saya ganti rugi deh, Mas, motornya kalau ada yang rusak. Saya lupa menyalakan lampu sen mobil saya tadi" ucap si pengendara mobil yang tadi membuat Alea terjatuh.


"Hemm.." Alea membuka helm nya dan berbalik menghadap si pengendara yang tengah berdiri di belakang nya.


"Eh.. kamu perempuan?" ucapnya lagi saat Alea membuka helm nya.


"Kau.!?" Alea terkejut saat mengetahui siapa orang yang telah membuatnya kecelakaan.


"I..iya. Apakah kita saling kenal?"


Alea lantas membuka masker dan kaca matanya. Yang justru kini malah dia yang membuat orang tersebut terkejut.


"Alea.!? Kau benar Alea 'kan?"


"Hemm."


"Ya ampun, kenapa kau sekarang justru mengendarai sepeda motor? Apa kau itu sungguh perempuan? Dan lihatlah penampilanmu, sangat tidak cocok dengan mu." ucapnya lagi sambil menatap Alea dari atas sampai bawah.


"Mau saya bawa motor kek, mau saya pakai baju apa kek. Itu gak ada hubungannya sama bapak"


"Memang tidak ada hubungannya, tapi sebagai guru kamu, saya sedikit terkejut saja. Tidak menyangka seorang Alea, siswi terpintar di SMA GANESA, ternyata seorang preman"


"Siapa yang bapak maksud preman!?"


"Ya kamu lah, emang ada orang lain di sekitar sini? Tidak 'kan?"


"Bapak tidak mengenal saya, jadi jangan sembarangan menilai saya"


"Saya memang tidak mengenal kamu, tapi setau saya, kamu itu sangat di sukai oleh semua guru di sekolah. Katanya kamu itu selain pintar, kamu juga tidak pernah neko-neko. Selalu membuat satu sekolah bangga, murid baik-baik lah pokoknya. Tapi nyatanya, kamu gak jauh beda dari yang lain. Di sekolah doang yang baik, di luar? Malah kayak preman"


"Terserah bapak, mau bilang saya preman kek, mau bilang saya gak ada akhlak kek. Saya gak peduli. Percuma juga saya jelasin ke bapak, kalau menurut bapak saya itu bukan anak baik-baik, ya sudah. Teruslah berpikir seperti itu, saya malas berdebat sama orang seperti bapak." mengalihkan pandangan.


"Saya tidak bilang kalau kamu bukan anak baik-baik. Tapi ya sudahlah. Saya juga tidak mau berdebat dengan kamu." Sedikit menoleh ke arah Alea, dan turun ke lutut.


"Kamu terluka?"


"Bukan apa-apa"


"Bukan apa-apa gimana? Lutut kamu berdarah itu" mulai panik sendiri dan justru menunduk untuk menyentuh luka di lutut Alea.


Alea yang merasa lututnya tengah di sentuh pun langsung mundur, dia tidak suka di sentuh. Apa lagi oleh seorang pria yang notabennya adalah seorang guru tersebut.


"Saya bilang bukan apa-apa, kenapa malah ngeyel sih. Pakai pegang-pegang segala"


"Meskipun kamu bilang bukan apa-apa, dan kamu mungkin juga tidak merasakan sakit. Tapi sebagai guru dan orang yang lebih dewasa dari kamu, sekaligus orang yang udah bikin kamu kecelakaan sampai berdarah seperti ini, saya tetap harus bertanggung jawab. Luka kecil pun kalau tidak di obati juga bisa bikin infeksi."


"Bacod"


"Aish.. ya sudah, kamu duduk dulu disini. Saya akan ambilakan obat" menyentuh kedua pundak Alea dan sedikit menekannya dengan paksa agar Alea mau duduk di atas motornya.


Kemudian dia berbalik dan berjalan ke arah mobilnya. Mengambil sebuah kotak P3K dan kembali ke arah Alea.


Dia tanpa aba-aba langsung mengoleskan obat merah ke luka Alea, yang membuat Alea sedikit menarik kakinya.


"Katanya bukan apa-apa, tapi kok tetap mundur nih kaki. Gak sakit kok, kamu tenang aja, saya akan pelan-pelan" menarik kaki Alea dan kembali mengoleskan obat merah.


Setelah memberi obat merah, kini dia menempelkan pembalut luka atau hansaplas di sana. Sedikit meniupnya sebelum kembali berdiri.


Alea yang di perlakukan seperti itu oleh Leon, hatinya sedikit menghangat. Sudah lama sekali dia tidak di perhatikan seperti ini. Selama ini, jika dia mengalami luka, dia sendiri yang mengobaginya. Keluarganya tidak ada yang peduli, mereka bahkan tidak tau kalau dia terluka.


"Ada apa dengan ekspresi mu itu? Perasaan saya sudah pelan-pelan tadi mengobati kamu"


Menyadari kebodohannya yang terlihat jelas oleh Leon, Alea malah jadi salah tingkah. 'Dia tidak tersenyum 'kan tadi? Pipinya tidak memerah 'kan? Bisa gawat kalau itu sampai terjadi. Mau di tarok dimana mukanya, masa iya Alea yang terkenal karena sifatnya yang dingin, di perhatiin sedikit, udah senang.'


Udah kayak anak yang kurang perhatian aja, meskipun dia memang kurang perhatian sih sebenarnya.


Tidak mau berlama-lama terjebak dalam posisi yang canggung seperti ini, Alea lansgsung bangkit dari duduknya dan hendak pergi. Tapi lagi-lagi dia terhenti, tangannya justru di tahan oleh Leon.


"Sudah mau pergi? Tidak ada terima kasih gitu? Udah mau cabut aja"


"Buat apa? 'Kan yang bikin saya luka begini tuh, Bapak? Buat apa saya berterima kasih. Yang ngotot mau ngobatin saya juga bapak 'kan, tadi?"


"Iya..iya.. Berdebat dengan kamu memang tidak ada habisnya."


"Siapa juga yang berdebat"


"Ya sudah, kamu pulang saja lagi. Nanti malah semakin malam kalau lama-lama disini" menepuk pundak Alea pelan.


"Aneh, dia yang nahan, malah dia bilang kelamaan disana." ucap Alea saat dia sudah pergi dari tempat itu.


***


Sementara itu, Leon yang masih berdiri di tempat kejadian, hanya tersenyum. Dia geleng-geleng kepala melihat muridnya yang satu itu. Dia dengan jelas melihat gerak-gerik tubuh Alea di atas motor, 'gadis itu pasti tengah mengumpat sekarang' pikirnya.


Dia pun segera melajukan mobilnya untuk kembali pulang. Awal pertemuan yang cukup menarik, dan sepertinya dia akan menyukai gadis bernama Alea tersebut.


Sesampainya di rumah, Leon langsung pergi ke kamarnya. Di Bandung, dia memang tidak memiliki rumah sendiri. Dia memilih tinggal di rumah kakaknya.


"Lo? Ngapain di kamar gue? Kok bisa masuk?"


"Ya elah, Bang. Gak ngapa-ngapain gue juga. Lagian tu pintu gak di kunci, makanya gue bisa masuk"


"Enak aja kalau ngomong, lo kira gue yang ganteng ini suka nyolong apa? Gak ada cerita orang ganteng nyolong, apa lagi orang nya gue. Kan gak mungkin banget."


"Ya Kali aja 'kan?"


"Lagian ini rumah ortu gue, lu cuman numpang. N-u-m-p-a-n-g" ucapnya memperjelas sambil menyondongkan tubuhnya ke arah Leon.


"Kalau gak di paksa gue juga ogah tinggal satu rumah sama orang kek lo, mending gue beli apartement sendiri mah."


"Ya udah sono, beli gih!"


Dia tidak menghiraukan ucapan ponakannya itu. Memang kalau seharusnya dia itu di panggil paman, tapi dengan alasan usia yang terpaut tidak terlalu jauh, makanya dia ngotot agar di panggil abang saja dari pada om.


"Gue perhatiin kek nya lo dari tadi ada aura yang beda deh, Bang"


"Maksud, Lo?"


"Ya beda aja gitu. Kek lebih bersemangat aja dari tadi pagi, padahal 'kan lo baru pulang"


"Biasa aja gue mah"


"Yakin lo?"


"Ya yakin lah. Lagian loh gak jelas banget orang nya. Emang kenapa kalau gue lebih semangat? Gak boleh gitu?"


"Ya boleh-boleh aja sih, tapi gue penasaran jadinya."


"Penasaran kenapa pula, Lo?"


"Jangan-jangan lo nyembunyiin sesuatu ya?"


"Hah? Nyembunyiin apa coba?"


"Ya apa aja gitu, mungkin lo udah punya cewek atau lo abis menang lotre?"


"Sejak kapan gue main lotre? Orang duit gue udah berlimpah, ngapain lagi ngarepin lotre."


"Songong"


"Kenyataan nya kek gitu, mau apa lagi? Kalau urusan cewek mah, biasa lah"


"Biasa begimana maksud lo?"


"Gak tau juga sih gue nya, tapi kek nya gue bakalan suka deh ama tu anak"


"Anak? Kok lo panggil anak? Emangnya dia masih bocah?"


"Ngak sih, tapi emang beda jauh usianya dari gue. Seumuran lo kek nya"


"Eh buset, pedofil lo anjir"


"Pedofil pala bapak lo. Gue bilang dia seumuran lo, lo 'kan udah gede anying. Lo kira gue udah tua apa?"


"Emang"


"Enak aja lo kalau ngomong, masih dua puluan gue ini. Masih fress dan ganteng."


"Idih, narsis. Ngaku ganteng segala, masih di bawah gue aja bangga"


"Gantengan gue dari pada lo"


"Gantengan gue lah, lo 'kan udah tuwir"


"Aahh.. berisik lo. Keluar lo sana dari kamar gue"


"Ya.. orang tua marah. Ati-ati lo, ntar malah nambah tua, makin gak suka tu anak sama lo"


"Udah diam lo, keluar ya keluar aja, gak usah banyak bacod"


Begitulah interaksi kedua orang yang sama-sama narsis itu, om dan ponakan sama aja. Eh salah, abang sama adek sama aja.


Meskipun perbedaan usia mereka itu tujuh tahun, tapi tingkah lakunya udah kayak anak kembar saja. Setiap hari pasti ada ributnya, meskipun hanya ribut masalah sepele seperti tadi. Kadang akrab, kadang ribut kayak kucing dan anjing.


Sepeninggal ponakannya, Leon memilih untuk segera mandi. Sudah hampir jam sembilan malam,dia baru pulang ke rumah. Karena tadi dia abis ketemuan sama salah satu teman SMA nya dulu.


"Alea Putri Winata, nama yang bagus. Cantik,pintar, namun agak jutek, tapi menarik" racaunya di bawah guyuran air dari shower.


Sekitar sepuluh menit dia mandi, sekarang dia sudah keluar dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya. Menampakkan perut six-pack nya, dengan bulu-bulu tipis di sekitar pusar. Dia berjalan menuju lemari sambil satu tangan masih mengusap-ngusap rambut yang basah dengan handuk.


Dia mengambil calana bokser kotak-kotak berwarna hitam dan baju kaos putih lengan pendek. Semakin menambah pesona dan aura dewasanya yang kharismatik. 'Jika saja author ada disana, pasti author udah gak kuat bediri, hehe..'


Selesai mengenakan pakaian, dia meraih ponselnya dan duduk di tepian ranjang. Membuka salah satu aplikasi berwarna hijau dengan logo seperti telepon, lalu membuka salah satu ruang chat group.


Ruang chat group yang baru saja dia buat tadi siang, mencari nama seseorang disana. "Dapat" dia tersenyum saat sudah menemukan nomor dari orang tersebut.


Dia lalu mengetikkan sesuatu disana,, dan mengirimnya pada kontak yang baru saja di simpannya itu. Setelah memastikan pesannya terkirim, dia kemudian keluar dari aplikasi tersebut. Meletakkan ponsel ke atas nakas, dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Ting..


Sementara di seberang sana, mendengar ada notifikasi pesan masuk di ponselnya. Dia meraih benda pipih berbentuk persegi panjang tersebut dengan malas.


Mengetahui siapa yang baru saja mengirimnya pesan, dia kembali meletakkan ponselnya. Dan melanjutkan kegiatan membacanya, sebelum ia pergi tidur.


TO BE CONTINUED...


Jangan lupa follow IG Author @faadelia._


Give me a LIKE and always support me.. I'll do my best. 😉