Love Problem

Love Problem
33| Hari jadi



Sepanjang perjalanan pulang aku bisa merasakan keheningan hebat. Wihandra pun sedari tadi hanya mengulang beberapa kalimat dengan singkat. Aku pun merasakan kekhawatiran yang hebat dari raut wajah chandra. Hingga sampai di lobby hanya chandra yang kusuruh untuk turun.


"Chan, kakak bakal pulang malam banget jadi gak perlu nunggu ya." ujarku kepada chandra.


"oke kak" diiyakan dengan cepat olehnya seakan tahu.


"loh kamu ga ikut turun?" tanya wi.


"Gak! Ayo kita drive night letssgooo!!!"


"Gausah aneh aneh alza besok kita kerja"


"hmm yauda kita ke bukit yang biasanya kita kunjungi"


"uda malam"


Sempat buntu pikiranku untuk menghibur wihandra karena dengan sikap diamnnya itu juga mampu membuatku ikut diam.


"Yaudah, aku beneran ga bisa mencerna makan dengan benar deh tadi. Kita ke angkringan aja yu, makan seafood jalanan belum pernah kan kamu mas?" tanyaku kembali dengan membawa sedikit kunci harapan yang mungkin membuatnya tergoyahkan.


"Mas??" tanya wi menoleh kepadaku.


"Iya ayo mas, kalau gak bisa nyetir aku nih yang nyetir" kataku sembari memegang stir mobil serayah mengancam.


Tentu saja cara itu berhasil. Aku berhasil mengembalikan raut senyum di wajahnya walau sedikit. Ya setidaknya ia mau makan dengan benar bersama ku.


Tidak lama kemudian pun kami sampai pada akringan yang biasa aku makan bersama teman temanku, kami pun mulai memesan beberapa hidangan favorite untuk di makan.


Aku pun tidak ingin merusak suasana,jadi ku memutuskan untuk diam sejenak dan melupakan semuanya.


"Kenapa gak mau tanya apa apa ke aku?" Tanya wi tiba tiba.


"Itu kan masalah kamu. Aku ga ada hak buat tanya deh sebelum kamu sendiri yang mau cerita ke aku." kataku


"dia masala lalu aku kamu gak marah?" tanya nya kembali.


"Marah!! Tapi nanti"


"nanti?" tanyanya bertanya bingung.


"Ada yang ganjal di hatiku za"


"Aku tahu kok"


"kok kamu sering tahu aku? Apa coba?"


"Wihandra juniar basil coba tatap mata aku sebentar" Kata ku sembari memegang kedua pipinya untuk menarik wajahnya untuk sedikit lebih dekat kepadaku. "Kamu baik baik aja sekarang, dan ini bukan salah kamu. Tentang di berbicara masalah perceraiannya pun itu juga bukan salah kamu, kamu berhak bahagia tanpa harus overthingking tentang dia setiap hari atau kamu bisa kok cari kebahagiaan kamu dari sekarang contohnya depanmu ini hehe" Lanjutku kepada wi.


Jujur entah tingkat kepercayaan diri dari mana yang muncul padaku, bahkan diriku pun masih tidak percaya aku bisa berbicara seperti itu aghh.


Meskipun begitu lagi lagi aku mampu membuatnya tersipu sebentat walau harus mendengar tawaannya yang panjang dan begitu keras.


Karena sudah begitu malu aku memutuskan untuk mebayar dan pergi berjalan jalan sebentar ke taman terdekat bersama wihandra.


"Masih ngerasa aneh?" Tanya ku pelan.


"hmm iya. Apa aku ketemu terus tanya lagi ya tentang apa yang dibicarin temannya tadi"


Tentu saja mendengar pernyataan itu aku sangat tidak setuju.


"Hahh" helaan panjang nafasku diiringi dengan tatapan kebingungan wihandra. "ah gak bisa kaya gini terus pria ini harus ku kuncii!!!!" lanjutku sambil memeluknya perlahan.


"Kenapa tiba tiba meluk gini hey alza" tanya wi masih dengan pelukan hangat.


"Diem! Jangan di lepas aku gak mungkin bisa ngomong kaya gini kalau berhadapan sama kamu" kata ku.


"Hahaha okeyy" jawabnya tentu sambil tertawa.


"Dengerin ya Wihandra juniar basil. Dari pada kamu mikirin omongan yang tadi mending kamu mikirin aku, kamu tau gak sebenernya aku sayang banget sama kamu? Aku emang sempet bingung tapi sekarang gak lagi karena apa? Aku ga siap kalau kamu harus ketemu dia lagi. Iya iya aku jujur, Aku takut kamu goyahh. Jadi kalau ini cuma satu satunya cara untuk kamu ga mikirin dia, Ayo kita jalin komitmen resmi!!!!"


Wihandra hanya menyimak pembicaraanku dan terdiam kaku. Aku sangat bingung dan melepaskan secara perlahan pelukanku kepadanya.


"Kenapa diem aja ih! Jangan buat aku malu. Sekarang uda denger kan perasaan aku sebenernya? Ah ga asik banget padahal aku berharap kita jadian kamu yang confess ke aku terus dengan vibes yang lebih bagus dari ini. Masa ini karena abis ketemu mantan gin...." belum sempat selesai ocehanku kecupan itu sampai di pipiku. Bohong jika aku tidak malu, aku hanya berusaha untuk memperhatikan wajahku agar tidak meledak.


"Ayo kita jadian, aku ga peduli semesta, aku ga peduli nesia. Aku ga kenal dia, aku cuma tau satu alzanaya kayyana rizqi. Lovee u!!!" ucapnya


Hahh sangat susah untuk digambarkan, setelah pernyataan itu kami saling melekat satu sama lain. Wihandra pun sudah lebih baik dari sebelumya. Kami kembali ke rumah pun dalam keadaan yang baik baik saja.