
"Aku minta maaf za. Maaf, karena uda menyamakan kamu dengan mantan aku. Maaf karena aku ragu dengan perasaanku sendiri, aku tahu kamu memang kaget dan belum and belum bisa nerima aku but izinin aku untuk masuk ke duniamu ya za. Dunia yang mungkin kedepannya akan jadi tantangan besar buat ku untuk lindungi kamu, apa pun masalahnya izinin aku untuk coba terima kamu jadi bagian hidup aku"
Kata kata wihandra itu sendiri tentu saja membuat alza sedikit lupa akan dirinya. Ia sedikit kaget dan tidak menyangka, namun di satu sisi hal ini pun tentunya pernah terjadi. Alza pun pernah mendapatkan pernyataan seperti ini juga namun berujung sama. Akankah kali ini berbeda? Atau sama seperti yang lalu?
Entahlah.
Alza mendengar itu hanya tersenyum sedikit sambil menarik kursi yang tadi ia geser untuk di duduki kembali. Matanya menatap serius wihandra yang sedang berbicara.
Di sisi lain wihandra hanya berfikir bahwa alza tidak serius menanggapi hal tersebut, ia pun mengikuti alza yang menatapnya wihandra juga mulai tersenyum sambil menatap alza. Wi hanya berfikir isi di dalam mata alza itu tertera tanda tidak keseriusan sama sekali, namun entah mengapa dirinya hanya ingin meyakinkan alza untuk bersama.
"Za denger aku. Basi kalau aku bilang aku serius karena semua laki laki yang dekat dengan kamu pasti juga bilang gini ya kan? Aku ga mau meyakinkan ke kamu bahwa diri aku itu berbeda dan baik karena itu semua ga penting buat aku" jelas wihandra dengan semua keseriusan dirinya yang telah sabar menghadapi alza.
"Tapi kasih aku kesempatan untuk buat kamu serius dan luluh sama aku ya za? Bimbing aku kalau aku salah langkah sama kamu." Lanjutnya.
Alza merasa kini gilirannya untuk berbicara. Namun entah mengapa ia bahkan enggan untuk bicara setelah kejadian beberapa tahun itu kembali di bahas oleh keluarganya, rasanya alza pun mulai merasa kembali bahwa ia tidak pantas mencintai apa lagi dicintai.
"Saya ga akan larang bapak untuk kenal lebih jauh dengan saya. Tapi saya gak bisa janji kalau saya akan terima bapak sepenuhnya. Untuk status sosial yang pernah bapak bahas sebelumnya pun mungkin benar bahwa saya akan berfikir kalau saya sama bapak memang ga pantas jadi saya ga akan marah kalau pun bapak menyamakan saya dengan mantan bapak jadi mungkin saya sama dengan mantan bapak karena mungkin suatu saat pun saya akan meninggalkan bapak pada akhirnya." Lagi lagi alza memancarkan wajah yang sangat kuat. Yang membuat wihandra semakin bimbang.
"Aku ga bodoh za." Jelas wi tiba tiba. "Aku juga uda memperkirakan alasan kamu untuk nolak aku. Za kalau pun itu benar aku ga akan buat kamu ninggalin aku. Kita bisa bahas masalah ini sama sama seiringnya waktu. Kamu jelas beda za, kamu ga mungkin tidur dengan pria lain satu hari sebelum hari pernikahan dan memutuskan untuk ninggalin aku dengan alasan aku terlalu tinggi."
Pernyataan itu tentu saja membuat alza sedikit mengangkat alis dan memandang mata wi yang mulai berkaca kaca. Tangan wi gemetar geram, matanya berkaca kaca, serta wajah yang memerah telah hadir dihadapan alza sekarang. Namun bibir yang tetap tersenyum itu membuat alza iba dan menggenggam tangan wihandra yang sudah mengepal dan gemetar itu.
"Izinin aku ya za? Izinin aku masuk ke dunia kamu. Izinin aku juga melindungi kamu dari dunia kamu. Izinin aku ikut campur dalam segala urusan berat kamu. Za i love you, i really love u".
Alza hanya masih tersenyum dan menganggukan kepalanya serta masih memegang kepalan tangan wi tanpa berbicara sepatah kata pun. Bahkan sampai mereka kembali keruangan dimana chandra di rawat pun alza masih terdiam, sedangkan wi. Hanya mencoba membuat alza percaya tentang semuanya.
Ia mulai memperhatikan sedetik demi detik gerak alza, dan selalu mengkhawarirkannya. Ia merasa tanggung jawab yang seharusnya alza jaga juga ia ikut jaga. Ia merasa dengan alza semua berbeda, dan ia berharap sampai kapan pun ia akan selalu bersama alza.
...****************...
"Mohon doa restu ya adiku" ucap ledek wihandra kepada chandra ketika memasuki ruangan.
"Enggak. Gausah di pikirin" sahut alza kepada chandra yang masih kaget dan menatap wajahnya.
"Sebentar lagi. Doain ya chan" sahut kembali wihandra ketika alza berbicara. "Kasih tips dong chan biar kakak kamu luluh sama saya, kehabisan ide nih" lanjut canda wi.
"Aduh kalau itu gatau heheh" sahut chandra.
Tentu saja itu membuat chandra senang sebab sejak terakhir kali alza mengenalkan dean kepada chandra, chandra tak pernah melihat senyum alza kembali dan tidak pernah melihat laki laki untuk di kenalkan seperti ini.
Alza hanya masih terdiam sementara wihandra hanya terus berusaha agar alza tertarik kepadanya.
"Za ini beneran saya jadi pacar kamu kan sekarang?"
"Uhukk!!" Suara batuk alza yang kaget ketika ia sedang meminum dan sesegera mungkin chandra menolongnya.
"Apa sih enggak! Bapak emang denger saya terima bapak? Terus yang tadi itu bisa di sebut pernyataan ya? Hah saya baru tahu!!" Jelas alza nadanya sedikit seperti biasanya.
"Oh gitu yauda saya bakal nyatain beneran sama kam.."
Belum selesai wihandra berbicara alza buru buru menutup mulutnya dengat kedua tanganya.
"Diem!! Bapak kan emang mau kenal lebih jauh saya, yauda mending bapak kenal saya dulu aja nyatainya nanti kalau saya uda bener bener serius nerima bapak!" Lanjut alza.
"Oh semacam pdkt gitu ya hahaha!! Oke!" Jelasnya.
Tentu saja momen itu sangat menggelikan. Chandra yang tak pernah melihat kakaknya se salting itu ia hanya tersenyum ketika melihatnya. Juga alza mungkin tak sadar bahwa kini masih ada adiknya bersamanya hingga ia bisa berbicara seperti itu.
"Ekhemm!! Ada aku loh helloo!! Untung kamar ini belum di isi orang lain juga ya? Kalau tidak aku akan menanggung malu kakakuu" tutur chandra yang membuat ketiganya tertawa bersama.
"HAHAHAHAH!!!"