
hari mulai gelap kembali. beberapa pegawai pun sudah kembali meninggalkan kantor tempat mereka bekerja itu, sementara alza hanya berdiam menatap pintu ruangan yang di tempati wihandra. tidak ada pergerakan atau tanda tanda pasti ia akan keluar. sedikitnya ia mulai khawatir terhadap wihandra.
"oi za mau pulang bareng gak?' tanya mia yang sedikit berteriak ketika melihat alza masih duduk di meja kerjanya itu.
"dia mah nunggu mas crush, mending gue aja yang bareng kalian kak" alih alih alza yang menjawab justru malah varen yang melihat alza tidak menghiraukan pangilan mia itu.
"yauda ayok cil, kita jajan dulu tapi yak"
"aman kak".
alza masih terdiam diri menunggu hingga wihandra mulai keluar. hingga pukul hampir 8 malam di mana sudah banyak karyawan yang meninggalkan kantor untuk pulang, wi baru membuka pintu ruangannya itu untuk pulang. ketika wi hendak pulang alih alih alza yang menghampiri kini malah wi yang menunggu alza. sudah hampir dua jam bohong jika alza tidak lelah meungggu wihandra pulang. rasa capek dan pikkiran yang menjadi satu hingga membuat wihandra pusing kini terbayarkan ketika ia melihat alza yang tertidur tentram di mejanya. ia tahu bahwa alza menunggunya. tapi ia bahkan tidak terpikirkan bahwa alza akan sekhawatir ini terhadapnya melihat bagaimana tingkah alza selama ini terhadap wi.
wi hanya semakin merasa bahwa ia belum benar benar mengenal alza. sejak kali pertama memang tingkah laku alza yang susah di tebak itu pun membuat wihandra semakin tertarik. alza yang masih pulas tertidur tanpa sadar bahwa wihandra yang ia tunggu itu datang semakiin membuat wi gemas. ia melihat bagaimana perbadaan tidur alza dan alza yang selama ini bejumpa dengannya, wjah yang benar benar tentram itu membuat wi semakin senang melihatnya. sampai pada saatnya alza terbangun dan langsung memalingkan wajahnya terhadap wi.
"kalau kata aku sih za, percuma di palingin gitu" mulai candaan wi
"diem"
"loh aku juga uda liat gimana kamu tidur kok selama 15 menit, lagi pula kok kamu so sweet gitu sih nungguin aku sampe pulang"
"gak ya, mas kan liat saya tidur , berarti saya ketiduran" masih menjawab alza dengan memalingkan wajahnya hingga tertutup oleh lengan.
"okey ya ya ya aku lagi lagi kepedean. yauda yuk aku anter kamu pulang"
alza yang melihat betapa kecewanya wi itu bukan malah empati ini malah terlihat geram. sebab bagaimana bisa ia dalam keadaan tidak baik baik saja bisa bercanda dengannya, berlagak sok kuat. setelah melihat wi berpaling dan meninggalkan nya langkah demi langkah, alza sesegra mungkin mengambil tas dan jacket yang ia taruh dimeja. ia selangkah demi langkah mengikuti langkah wi hingga dimana puncak geramnya di mulai dengan ia memukul pungggung bagaian belakang wi.
BBUKK..
"aduh sakit" keluh mengaduh kesakitan wi kepada alza setelah apa yang terjadi.
"kenapa gak keluar dari tadi pas pulang kerja?" tanya alza kepada wi sambil mereka berdua berjalan ke arah lift. "sakit gak?" lanjut tnaya alza kepada wi.
"sakit, aduh kayaknya luka nih paraah nih lukanya" sahut wi dengan meunjukan tingkah sedikit seperti anak kecil hanya untuk menjahili alza.
"wah berdebar aku, bisa gak kamu ulang barusan kamu panggil aku apa?"
"aku beneran gak bercanda ya!!" sahut kesal alza "abis anterin aku pulang kamu langsung pulang ya! kasian aca sama kak sandy nungguin kamu, atau gak langsung ke rumah kamu deh nanti aku pulang naik taksi, atau gak minta jemput bang han. pasti dia kaya pengangguran kan lagi ada di rumah kamu sama bang josh" lanjut alza.
seperti wi pada biasanya. wi yang melihat alza sudah mengomelinya pasti hanya tersenyum. tanpa bertanya ia hanya lagi lagi langsung memluk alza dari belakang. ia merasa berhak memperjuangkan wanita yang ada di hadapannya ini, ia lagi lagi merasa mampu mengahadapi alza. masalah yang harusnya jadi penentu kegelisahannya hari ini lenyap begitu saja. ia merasa aman dan tenang. malam itu menjadi momen di mana keduanya menerima satu sama lain.
...****************...
flashback:
sesaat setelah mia, vernon dan yang lainya pergi untuk pulang, terdengar dering ponsel alza yang berbunyi dan sesegera mungkin mengangkat telepon dari kakak sepupunya tersebut.
"za, lagi sama wi gak? ini kok gak kaya biasanya abang sama adeknya call ga di angkat' -hanza
"iya sama gue dia. tapi bang emang lagi ada yang ga beres sih" -alza
alza hanya menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada hanza.
"za ini kalau abis ini ada yang call angkat ya, itu sandy atau gak aca. sekarang gue tutup ya!!"
tentu saja alza sangat bingung mengapa harus sampai sandy yang meneleponya, hingga pada saat yang sama sandy menelepon.
"hallo! alza gue sandy kakaknya wi kita pernah ketemu waktu itu"
"iya hallo pak ada apa ya?"
"gue uda bilang beberapa kali sama lo buat panggil gue santai aja but its okay bukan itu yang penting sekarang, za gue minta tolong banget bisa gak lo tungguin wi sampe bener bener dia keluar nanti kalau emang dia uda keluar gue ke sana jemput dia. tolong za karena kalau gue kesana sekarang di ga akan maafin gue. tolong ya za"-sandy
"gue tau ini ga penting buat lo tahu. tapi wi begini bukan yang pertama kalinya, dia bahkan bisa buat takut aca adeknya sendiri dan keluarganya. dia nekat za, tolong yaa!!"
"iya saya paham pak, kalau gitu saya tutup ya!"
alza yang memang sudah khawatir sejak tadi kembali khawatir setelah ia mendapat teleon dari sandy, bahkan aca yang sempat ia temui dengan gaya iconiknya itu bisa terdengar sedikit khawatir pada saat sandy menelepon.