
Sesampai di kamar chan alza hanya menindurkan kepalanya sebentar. Ia kacau, ia kembali berantakan. Namun semuanya tidak bisa di jadikan alasan untuk tidak bangkit, karena ia memiliki chan yang harus ia usahkan hidup dengan sebaik baiknya.
"Chan. Beresin baju sekarang, kita pergi sekarang aja yuk" ucap pelan alza kepada adiknya yang juga sedang menidurkan tubuhnya bersama alza di kasur. "Kita beangkat sore aja besok lo kan bisa langsung santai dan lihat lihat kampus nya" lanjutnya.
"Tapi ibu nanti sendiri kak" jawab chan dengan penuh kekhawatiran. Bukan alza tidak khawatir akan ibunya, meski mereka memang telah sama sama tersakiti namun ibu alza juga tetap yang melahirkan alza. Ia membuat rencana ini pun telah berfikir panjang tidak semata mata mengajak chan dan meninggalkan ibunya begitu saja. "Gue juga ga gila chan. Nanti tante ke sini, kayaknya ibu juga lebih nyaman ngobrol sama kakaknya langsung.
Karena tante juga kan sendiri jadi mungkin gaada hal yang bikin riweh, syukur syukur ibu bisa nerima dirinya sendiri dan bisa mulai usaha bangkit lagi. Gue jadi kepikiran bisa aja ibu begini karena belum sadar karena belum kehilangan kita berdua." Ucap alza serius dan chan hanya mengangguk angguk seolah mengerti dan segera membereskan barang barangnya.
Sudah dapat di prediksi bahwa hanza pun pasti tau masalah ini dari ibunya. Hanza segera menelpon alza yang sedang berkemas bersama chan.
sambungan telepon:
"Halo za, beneran gapapa?" -han
"Halo bang, iya gapapa ini gue mau jalan sama chan skrg" -alza
"Oke deh. Lo lagian ga bilang kalau mau pulang harusnya gue anter aja tadi, sekarang juga gue gabisa jemput lo. Sorry za" -han
"Iya gapapa bang, lo sibuk juga mangkanya gue ga bilang. Gue hati hati kok nanti bawa mobilnya sama chan" alza
"Yauda gue tunggu di apart lo ya" -han
Setelah suara taksi di depan datang, alza sadar bahwa ibu han sudah datang dan mereka siap untuk segera pergi. Chan dan alza segera menghampiri tante nya ke ruang tamu untuk berpamitan. Alza dan chan pun juga ikut berpamitan dengan ibu dan ayah nya yang ternyata masih ada di sini.
"Alza mau pamit balik ke jakarta aja. Chan ikut alza karena chan juga mau lihat lihat kampus di sana" ucap nya kepada ayah dan ibunya. "Tante alza titip ibu, kalau laki laki ini datang lagi, tolong tante telepon istrinya biar istrinya yang seret dia pulang". Lanjut alza tentu saja membuat ayah nya nyaris menampar ia seperti yang di lakukan ibunya.
"Kamu tuh kalau ada masalah kunci nya cuma kabur ya za bisanya, gabisa kamu hadapin masalah itu sendirian.." belum selesai ayah alza berbicara alih alih alza yang menjawan kini giliran chan yang menyuarai isi hati nya.
"Yah. Udah, Selama 20 tahun lebih kakak gak pernah kabur dari masalah kakak berani buat lindungin chan yang gak tau apa apa jadi kenal dunia yang luas bahkan sampai dunia brengsek sekali pun. Jadi tolong kita uda dewasa yah, jangan buat kita merasa ga pantes buat mencintai apa lagi di cintai"
Kata kata itu tentu saja membuat alza tak bisa menahan tangisnya yang sejak tadi ia tahan. Ia mulai meneteskan air mata sambil meraih tangan chan dan pergi bersama ke dalam mobil menuju jakarta untuk menjernihkan pikiran mereka.
Sepanjang perjalanan adik kakak itu hanya ingin melupakan semuanya. Sesaat mereka berhenti di pemberhentian rest area untuk membeli beberapa jajanan yang mereka makan sambil bernyanyi, mengobrol dan tertawa bersama.
"Chan mau ke dokter dulu apa gak? Maafin kakak ya chan, kakak bener bener ketrigger tadi. Harusnya kakak ga gitu" Ucapan alza dengan penuh penyesalan setelah melihat pergelangan tangan adiknya tegores akibat penekanan kuku di pergelangannya.
"Apaansi gapapa lah. Ini nanti juga sembuh, oh ya kak bang han ada motor kan ya? Chan boleh pinjem ga ya? Kan belum ada SIM buat mobil ga berani juga bawa mobil kakak" ucap chan
"Boleh chan, tapi jangan sering sering kita juga harus tau batasan ya. Oh ya lo beneran ga gabut kan nanti di rumah aja karena lo ga punya temen di jakarta?" Tanya alza karena ia memiliki sedikit penyesalan takut adiknya itu bosan karena ia lebih sibuk di kantor. "Gak kak. Gue juga ada rencana mau ngunjungin beberapa museum dan perpusatakaan yang di jakarta" jawabnya.
"Orang seumuran lo mah ga ke perpus chan. Pada pacaran, gue seumuran lo aja jarang ke perpus tapi nilai gue stabil aja tuh hahahah" gerutu alza sembari menggoda adiknya.
"Iya lah lo kan kerja kak waktu SMA mana pernah ke perpus, gausah ngomongin pacaran. Lo sama gue sama kak, sama sama nolak seseorang karena trauma tersendiri" sahut chan yang membuat alza kembali diam dan mereka tertawa bersama hingga sampai apart alza.
Beberapa jam telah berlalu. Tangan alza yang mulai berkeringat dan pegal itu pun akhirnya bisa segera di rentangkan. Waktu sudah mulai malam, sebab mereka berangkat dari sore jadi mereka sampai ke jakarta malam.
"Welcome apart ku wahai adikuu, uda berapa lama lo ga kesini?" Tanya alza sembari membawakan barang barang chan yang tidak seberapa itu. "Lebay deh. Tapi uda lama juga sih, kak laper ga sih? Di kulkas ada apa kak?" Tanya chan terhadap alza sambil memegang kedua perutnya itu.
"Oh iya gue lupa chan. Kan gue pikir gue bakal nginep di rumah ibu, gue juga belum belanja niatnya mau belanja pas pulang dari bandung" ucap alza juga diiringi dengan muka melas dari keduanya.
Namun sesaat mereka merautkan wajah lesu bersama datang lah pahlawan tanpa di undang, hanza pun datang mengetuk pintu untuk mengajak mereka berdua pergi.
"Tuk tuk tuk, siapa mau malam mingguan bareng aku?" Tanyanya dengan wajah yang sangat menyebalkan.
"Gila timingnya pas banget" ucap chan dan langsung memeluk hanza karena sudah lama tidak bertemu dengannya.
Mereka bertiga mulai memasuki mobil dan melaju ke beberapa warung makan, namun warung makan yang sederhana yang mana biasa mereka singgahi ramai karena malam minggu. Alhasil mereka pergi makan ke restoran, ya walaupun tidak terlalu mewah mereka bisa mengisi perutnya dengan nasi yang di sajikan.
Alza, chan dan hanza mulai menarik bangku masing masing untuk duduk dan memesan beberapa menu makanan. Namun siapa sangka, orang yang tak asing datang dari arah depan mengarah menghampiri hanza dan alza.
"Waduhh siapa nih? Bapak hanza? Malam mingguan ceritanya?" Sapa sandy dari jauh. Ya, itu adalah sandy dari keluarga basil. Tidak sendiri melainkan bertiga. Alza yang sedikit kaget melihat wi yang hadir di tengah tengah perbincanangan antara dua sahabat itu. "Aduh ada apa gerangan keluarga basil makan si resto kaya gini?" Ledek han kepada mereka bertiga seperti biasa dengan cara usilnya. "Han gue tabok ya hahaha" bisikan sandy kepada han karena takut mereka dikenali.
Wi yang melihat alza pun tentunya tidak bisa berlaga berpura pura untuk tidak melihatnya apa lagi tidak kenal. Namun ia hanya menganggukan sedikit kepala dan menyapanya. Sandy yang sadar akan itu pun kembali mencoba mencairkan suasana. "Oh ini siapa wi? Kenal juga sama lo?" Tanya sandy
"Bawahan gue di kantor" terus terang wi tanpa basa basi.
Sandy yang mendengar itu pun terlihat sedikit kaget dan mengangkat alisnya kepada wi seakan bertanya apakah ini orang yang sering ia ceritakan? Kalau iya bagaiman bisa hanza tidak memberitahunya jika ia juga mengenal alza.
"Ini sepupu gue kenalin, Alzanaya namanya, terus sama adiknya chandra" tutur hanza memperkenalkan mereka berdua. Lalu di balas kembali oleh sandy dengan memperkenalkan kedua adiknya pula.
"Oh salam kenal ya alza dan chan. Saya Sandy Chalvinio Kakak dari wihandra dan mungkin kamu kenal saya dan ini ada bontot saya a.."
"Acarifta nesia. Salam kenal kak" ucap aca melanjutkan omongan yang baru saja di ucapkan sandy. "Maaf ya emang rada ngeselin anak nya, ga galak kok" ucapan sandy itu mengarah kepada aca dan sadar akan itu aca langsung memukul punggung kakaknya.
"Yauda kalian have fun ya, gamau ganggu saya. Han gue di meja sana ya kalo butuh apa apa" ucap sandy kepada han seraya memberi tahu dan di balas dengan anggukan kepala han.
Wihandra pun sama dengan sandy berpamitan kepada alza dengan menganggukan kepalanya sambil berpamitan "saya kesana ya za" dan hanya dibalas dengan anggukan juga dengan alza. Namun mata wi tidak bisa berbohong bahwa ia terus memandangi bawah mata alza yang terlihat memang agak lain, bohong jika ia tidak khawatir.