Love Problem

Love Problem
15| one problem



Sudah seminggu berlalu mereka hanya bertemu dan berinteraksi sebatas sesama rekan kerja. Tanpa ada rasa kehilangan sama sekali kedua nya sama sama mengisi kesibukan masing masing yang di milikinya.


Kembali ke wekeend pagi, dimana pagi itu adalah pagi alza untuk mengunjungi orang tua dan adik nya. Ia meninggalkan apart nya pada pukul 9.00 dini hari, membawa mobil nya sendiri dan sampai pada pukul 10.30.


Sambungan telepon mia dan alza berlangsung ketika alza sedang menyetir.


"Holaa. Hari ini ke sana ya? Jangan ribut ajak adek lo jalan jalan" -mia


"Gue kerumah nyokap mi ga akan berantem" -alza


"Terus kalo lo ke rumah bokap lo berantem gitu?" -mia


"Gatau, uda ganggu aja lo. Gue tutup ya" -alza


"Owkey bestie" -mia


Tidak lama alza mematikan ponsel nya, ia langsung memarkirkan mobil di depan rumah nya itu dan turun menemui ibu dan adik nya.


"Alza pulang" ucapan alza itu yang terdengar keras membuat seisi rumah sadar akan kehadiran alza di dekatnya.


"Uda berapa lama ga pulang? Kaya ga punya rumah aja kamu lama lama za" tentu saja ucapan ibu dari alza itu telah alza prediksi akan berkata seperti itu. Namun rasa nya masih tetap tidak mengenakan di hati alza. "Iya maaf, sibuk" sepatah kata alza itu cukup manjawab pertanyaan dari sang ibu.


Selang beberapa menit alza menidurkan tubuh nya di sofa ruang tamu sambil menonton televi dan menyemil beberapa makanan ringan yang sempat ia beli tadi di jalan. Hingga tidak lama kemudian adik laki laki alza, yaitu satu satu nya harapan alza Chandra liansyah pun datang. "Wiihh kakak datang kapan?" Tanya chandra sambil mencium tangan dan memeluk kakaknya yang sudah lama tidak bertemu.


"Sekolah gimana? Uda ada pengumuman buat ujian masuk kampus belum chan?" Setiap ia datang dan bertemu adik nya pertanyaan yang ia tanyai adalah tentang bagaimana adiknya bersekolah.


"Minggu depan chan seleksi kak, beneran kalo chan dapet kampus yang jauh, chan boleh pindah kan kak?" Begitu juga dengan chan ia akan mempertanyakan hal yang sama tentang perpindahan nya itu kepada alza seraya meminta izin atas persetujuan nya tersebut. "Iya suka suka lo. Mangkanya belajar yang bener biar bisa keluar dari sini hahaha" lanjut jawaban alza untuk meledeki adik satu satunya.


Setelah hampir 3 bulan alza tidak mengunjungi adik dan orang tua nya itu tentu alza butuh waktu untuk berbincang bersama keluarga nya khususnya chandra adik semata wayang nya. "Kak chan minggu depan kan seleksi ya, jadi kalau chan misalkan ga lulus sama seleksi undangan ini chan kan harus ujian lagi. Kebetulan kakak di sini chan ikut kakak ya ke jakarta" tanya chan kepada alza dan tanpa basa basi di jawab dengan anggukan alza seraya setuju karena alza paham betul dengan jalur seleksi tersebut.


Pada awalnya sebelum perpisahan kedua orang tua alza ia adalah sosok ibu penyayang. Namun setelah perpisahan itu terjadi ia menjadi sensitif, rasa penyesalan atas perpisahan itu membuat alza dan adiknya menderita selama ini.


Menurut alza, Chandralah  yang paling menderita, saat saat harmonis berasama keluarga nya tidak berlangsung lama, itu alasan mengapa alza beberapa kali mempertaruhkan hidupnya untuk chan.


Mendengar hal hal yang sudah biasa di ucapkan oleh ibu alza pun sudah biasa untuknya. Alza hanya mengaggap ibunya kesepian. Jadi omongan ibu nya itu pun di anggap angin lalu olehnya.


Seteleah beberapa saat terdengar suara ketukan dari arah luar. Alza yang mendengar pun langsung menyuruh adiknya chan untuk membukakan pintu tersebut. Tak lama chan pun membuka pintu. Namun, seketika semua diam ketika pintu itu di buka.


Siapa sangka sang ayah dari mereka berdua datang. Ya, ia adalah ayah dari alza dan chan. Namun, chan dan alza yang melihat itu pun tidak terlalu kaget.


Tanpa di suruh masuk pun ayah dari mereka masuk dan disambut baik oleh sang ibu dari kedua anak itu. Seperti suami yang datang ke rumah ibu alza selalu menyediakan apa yang ayah mereka butuhkan. Justru itu membuat alza dan chan muak.


"Selama gue gaada uda berapa kali dia ke sini? Uda berapa kali juga lo kabur dari rumah" tanya alza ketika ayah mereka datang dan alza langsung menyeret adiknya itu ke dalam sambil memegang kencang pergelangan tangan chan. "Sering. Gue ga pernah kabur" jawab chan sambil memegang tangan alza yang sedang memegang pergelangan tangan nya itu dengan keras dan membuatnya mengaduh ke sakitan.


"Bohong, jawab yang jujur chan lo tau gue ga suka kalo lo bohong kan" tegas alza sekarang sambil memegang pergelangan tangan chan dengan kedua tangan nya.


Melihat kegaduhan itu ayah mereka menghampiri dan memisahkan alza yang terlihat mengeluarkan emosi nya itu. "Kalau mau marah sama ayah za! Jangan malah adik kamu di jadiin bantalan kaya gini. Apa jangan jangan selama ini kamu kalo marah begini? Mangkanya dean sampe ninggalin kamu? Bikin malu aja."


Pernyataan ayah alza barusana tentu saja membuat suasana rumah semakin panas. Chan yang sudah tau ini akan terjadi dan melihat kakak nya itu semakin tak terkendali pun langsung menarik kakaknya untuk keluar dari ruangan itu. Namun belum sempat ia menarik, alza sudah tak terkendali ia mulai membalas ucapan yang baru saja ayah nya katakan. "Dean? Cihh Tau kenapa dean ninggalin alza? Karena dia malu yah. Dia malu kalau harus ketemu ayah mertua yang ga jelas kaya ayah gini. Dia malu alza berantakan. Dia juga malu ngeliat keluarga alza kaya gini, alza gabisa menyalahkan kehendaknya buat ninggalin alza" chan yang mulai melihat kakaknya mulai kembali hancur ia langsung memeluk kakaknya dan berusaha menarik kakaknya keluar.


Ibu alza yang melihat alza seperti ini malah kembali menimpali alza dengan penyataan yang tidak seharusnya di tumpahkan di sini. "Alah harus nya kalau dia baik dia bisa terima semua kekurangan kamu dan keluarga kamu. Buktinya kita biar pun sudah pisah masih bisa bersahabat dan ayah kamu masih sering mengunjungi ibu. Berantakan dari mana nya, memang kamu aja yang lebay za".


Bagaikan petir di siang bolong alza hanya menahan semuanya kembali berkali kali merapihkan rambutnya yang berantakan sambil berkali kali mencoba diam agar air matanya tidak keluar. "Ibu sama ayah harusnya tau diri. Kalau masih mau sama sama kenapa harus pisah? karena Salah paham? Ga mungkin salah paham bisa sampai buat ayah punya anak dari wanita lain. Dengan ibu bertingkah kaya gini sama aja bu. Sama aja ibu gaada beda nya sama ayah dan selingkuhan nya dulu. Orang orang pun pasti ngiranya kalau ibu itu istri tua.." belum sempat melanjutkan kalimatnya.


Tamparan kerasa meluncur dari tangan ibu alza kepada wajah alza. Alza hanya tertawa, ia tau ini akan terjadi. Ia tahu bahwa ini pasti terjadi. "hidup kamu kalo cuma buat mikirin orang aja gimana bisa maju alza! Sadar kamu" lanjut ibu alza.


"Kalo kehadiran saya aja ga di terima sama anak sendiri mending saya pulang aja kalo gitu" bagai tiada salah sama sekali ayah alza justru malah hendak pergi begitu saja. Ibu alza yang mendengar itu segera memberhentikan nya untuk singgah sebentar untuk meminum minuman teh yang sudah di suguhkan. Namun ayah alza berusaha untuk menolak. "Alza minta maaf kamu ke ibu dan ayah!" Pinta sang ibu. Alih alih alza malah chan yang memohon meminta maaf lalu segera membawa kakaknya itu kembali ke kamar.