Love Problem

Love Problem
23| Mengungkap fakta



Setelah beberapa saat mereka pun segera pergi ke tempat makan untuk wi mengisi perutnya. Tidak seperti biasanya, wihandra menjadi makin aneh. Wihandra hanya diam dan memakan semua makanan yang ia pesan sampai alza berbicara.


"Pak, ini saya tanya beneran sebagai bawahan bapak. Tapi apa cuma saya yang ngerasa sikap bapak aneh semenjak tadi datang ke sini?" Tanya alza memulai pembicaraan yang sedikit menahan geramnya itu kepada wi.


"Iya? Saya? Enggak tuh kamu kok jadi ngerasa keganggu gitu? Apa jangan jangan kamu merhatiin saya?" Tanya wi kepada alza dengan raut wajah dan tingkah laku sedikit menggoda dan menjahili alza.


"Hah? Saya? Gak tuh, lagi pula kemana perginya sikap bapak selama ini yang nyuekin saya? Saya cuma bercanda nanya kok langsung baper, jangan jangan beneran pernah di tinggal karena status sosial!" Sahut alza geram dan sedikit jengkel


Kalimat yang alza lontarkan tentu saja membuat wajah wihandra sedikit berubah, namun tidak dengan perasaannya. Wi masih tetap tertawa dengan tingkah gemas alza ketika menggerutu tentang bagaimana dirinya menghindari alza hanya dengan kata kata yang memang fakta adanya.


"Iya" satu kata dari wi mampu membuat alza lagi lagi kembali merasa tidak enak.


Pandanganya mulai serius mereka satu sama lain memandang. Kedua mata mereka sama sama tertuju lain seraya mengerti akan perasaan satu sama lain.


"Saya memang pernah di tinggal za. Dia beneran pergi pas hari h pernikahan, saya sendiri jadinya heheh" tutur wi dan alza hanya mendengarkan. "Jadi!" Lanjutnya serius sambil menatap kedua bola mata tentunya membuat alza lagi lagi gugup depannnya.


"Jadi nanti kalau ada hal hal tak terduga atau hal hal gosip di kantor kamu jangan percaya, cukup percaya 'aku' aja" lanjut wi.


'Aku' entah mengapa kata aku yang di ucapkan wi barusan rasanya berbeda dari yang di ucapkannya sebelum sebelumnya. Ketika ia mengatakan jantung alza bahkan seperti mau meledak dan wajah yang merahnya tidak terkendali itu membuat alza lagi lagi malu.


Tapi entah mengapa dibanding wajah alza yang memerah itu justru wajah wihandra yang lain sekarang. Tatapannya seakan kosong, mata yang sedikit sayu sejak mereka membahas kegagalan pernikahan wi tahun lalu.


"Ekhem!! Jadi alasan bapak kesini tuh apa?" Lanjut tanya alza setelah mengalihkan pembicaraan.


"Jenguk chandra dong masa kamu gitu aja tanya" jawab wi tanpa rasa bersalah dan sambil tersenyum kepada alza.


"Itu coba jangan senyum dulu saya aneh banget ngeliatnya serius"


Tentu saja pernyataan itu sontak membuat wihandra tertawa kencang dan reflek alza memukul sedikit wi agar berhenti tertawa sebab ia malu.


"Aduh kamu tuh kaya aca ya suka mukul mukul"


Tentu saja alza kesal karena sedari tadi ia pergi wi tidak membicarakan apa apa, hanya memesan makanan, memakannya lalu diam sembari melihat alza sambil tersenyum. Tentu saja itu sangat aneh.


Karena wi yang biasanya tidak seperti itu. Wi yang biasanya pasti sangat angat menyebalkan. Mulai dari beberapa revisi kerjaan alza, meminta tolong dengan cara yang amat menyebalkan sampai pada survey beberapa pekerjaan harus alza juga yang pastinya sedikikit terkena marah.


Alza yang semakin kesal itu pun mulai beranjak dari kursi yang ia duduki langkahnya ingin pergi, namun wi yang melihat itu tentu saja mencegah alza untuk pergi.


Tangannya mulai menarik pergelangan tangan alza yang hendak pergi itu seraya berkata untuk tidak meninggalkanya karena masih banyak yang harus ia ungkapkan.


"Za sebentar aku belum selesai."