
Jam menunjukan pukul 9.00 malam, alza dan chandra sudah pindah ke ruang rawat inap yang berisi 3 bangsal, namun hanya ada mereka di ruangan itu. Sedangkan alza hanya berdiam diri sedari tadi tanpa bicara apapun
Alza memang seperti itu, jika terjadi kejadian mengkhawatirkan seperti ini ia hanya mencoba untuk berdiam diri padahal hatinya pun ikut merasa sakit. Ia terbiasa dengan menyediri.
Chandra pun sadar bahwa kakaknya mengkhawatirkan nya, melihat itu chandra pun memulai pembicaraan bagaimana bisa wihandra dengannya bertemu, namun tetap saja ia masih diam.
"Tadi beneran parah banget kak supir taksi nya. Dia beneran ga liat orang lagi nyebrang gitu, padahal zebra cross nya pun masih merah buat kendaraan. Tapi untungnya ketemu kak wihandra, dia rumah nya deket apart kakak ya kak? Soalnya tadi pas banget lewat gitu terus ya..." belum sempat dilanjut oleh chan alza lebih dulu memotong omongannya.
"Dari tadi chan panggil pak wi pake kak?" Tanya alza tiba tiba dengan raut wajah yang serius.
"Iya dia yang minta, katanya kakak juga di suruh panggil mas juga sama dia tapi kakak ga panggil dia mas".
"Yauda".
Tak lama itu alza menidurkan kepala nya di atas kasur untuk meistirahatkan badannya.
"Kak" panggil chan
"Kenapa? Tidur chan"
"Baru inget, gue belum makan" jawaban chan tentu saja membuat raut wajah alza berubah menjadi merah seakan mau marah dengan adiknya itu.
"Kenapa ga makan hah? Lo kebiasaan ya, gimana lo mau sembuh. Pantes aja lo kurang darah. Di rumah juga lo biasa ga makan? Apa gara gara ayah juga lo.." belum selesai alza memarhi adiknya suara ketukan pintu itu membuatnya diam.
Lelaki tinggi itu hanya berdiam diri sampai alza mempersilahkannya masuk. Benar, ia adalah wihandra. Berpakaian lebih santai di banding yang tadi, dengan membawa makanan di tangan kiri dan kanannya ia hanya berdiam diri di depan pintu sampai alza mempersilahkannya masuk.
Alza yang melihat pun kaget, ia hanya mencoba berfikir. Alhasil mereka hanya sama sama berdiam diri hingga chandra yang mempersilahkan wi itu masuk.
"Kakak kenapa diem aja dih, masuk kak sini jangan diem disitu" ucap chandra mempersilahkan wihandra masuk dan di jawab anggukan wi sambil berjalan memasuki bangsal chandra.
"Anu pak kenapa balik lagi? Kan tadi saya uda nyuruh bapak pulang" tanya alza. "Terus ini apa kenapa bawa banyak banget makanan?" Lanjutnya bertanya kembali.
"Kamu pasti kalut banget sampai ga kepikiran makan, mangkanya saya bawain makanan" jawab wi.
"Iya sih tapi ini banyak banget, yauda sini bapak ikut makan juga deh saya tau bapak ke sini juga tanpa makan dulu" sahut alza.
Ketiganya mulai makan malam bersama. tanpa bisa menolak wihandra itu juga ikut makan bersama alza dan chandra
Setelah makan malam chandra pun tertidur, wihandra dan alza itu pun pergi mencari angin malam untuk tidak mengganggu waktu istirahat chandra.
Keduanya mulai duduk bersama di taman sambil menikmati kopi panas di sana sambil berbincang bincang.
Alza yang sedari kemarin merasa tidak enak dengan apa yang dibicarakannya kepada wi merasa ini saat yang pas untuknya meminta maaf atas apa yang telah di ucapkannya. Ia berencana mulai membuka kecanggungan dengan obrolan tersebut .
"Lucu ya za. Kita selalu bertemu di saat yang tidak terduga kaya gini, dan yang lebih lucunya saya bisa lihat sisi berbeda kamu. Mungkin kamu merasa atau enggak tapi saya minta maaf atas sikap saya selama ini yang buat kita berdua canggung".
Alih alih alza yang berbica ini malah wihandra yang membuka pembicaraan dengan hal yang sama ia pikirkan. Atmosfer yang saat itu sangat mendukung danĀ angin malam yang dingin pun itu membuat keduanya sama sama terbawa suasana.
"Enggak pak justru saya yang harusnya mina maaf..."
"Saya takut za" ucap wi yang memotong omongan alza barusan.
Alza yang saat itu membesarkan kedua bola matanya seraya terkejut dengan perkataan wi barusan akhirnya hanya mendengarkan wi hingga selesai.
"Saya takut saya jatuh cinta di saat yang tidak tepat sama kamu. Semua pertanyaan yang saya tanyakan pada kamu waktu itu adalah pertanyaan kepastian za. Awalnya saya pikir saya tanya seperti itu sama kamu karena ingin memastikan bahwa pertemanan kita ga akan goyah karena status sosial di antara kita."
"Hingga akhirnya saya sadar sekarang, bahwa pertanyaan yang saya ajukan waktu itu bukan semata mata saya takut kehilangan teman. Tapi saya takut kehilangan kamu. Selama ini saya mencoba denial untuk gak berhubungan sama kamu karena saya takut jatuh cinta sama kamu za, karena terlalu cepat dan waktunya pun tidak tepat untuk saya jatuh cinta lagi sekarang".
Alza hanya kembali diam mendengar semua yang di curahkan wi, ia hanya mencoba memahami apa yang selama ini ia rasakan apakah ia juga mempunya perasaan yang sama terhadap wi.
"Tapi za saya sekarang sadar kalau saya memang jatuh hati dengan kamu".
Baru saja di pikirkan kata kata itu keluar dari mulut wi. Bukan sekali dua kali alza telah mendengar kata kata seperti ini dan bukan sekali dua kali juga alza mejawab dengan menerima atas apa yang di ucapkan, namun akhirnya tetap sama. Ia tetap tidak bisa mencintai orang tersebut.
Sampai dimana wi mencurahkan isi hatinya kepada alza,alza hanya masi terdiam tetapi juga sedikit ada rasa penasaran dengan apa yang di ucapkan wi tadi. Jatuh hati di saat yang tak tepat. Ya sebenarnya wi kenapa? Kenapa jatuh cinta bisa tak tepat apa maksud dari omongan wi.
Namun alza tetap alza. Alih alih menjawab dan bertanya dengan rasa pensarannya itu ia malah mengalihkan segalanya seakan ia tak pernah mendengar apa yang baru saja wi ucapkan tadi.
"Uda malam pak, kasian chan di bangsal sendiri. Saya balik kamar ya, bapak kalau mau pamit atau mau bicara sama chan silahkan".
Tentu saja wi sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Sedari awal dia mengenal alza pun ia sudah tahu bahwa alza memiliki sedikit masalah dalam dirinya, wi hanya ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan dan mencoba membuat alza peracaya kembali meski dirinya sendiri pun masih belum percaya cinta sepenuhnya.
...****************...
Flashback wi pulang setelah chan masuk ruang rawat inap.
"Dari mana lo kak baru pulang" tanya aca yang penasaran dengan wajah lesuh yang di tunjukan oleh wihandra.
Wi hanya berlalu tanpa menjawab satu kata pun atas pertanyaan yang di ajukan oleh adiknya itu.
Aca pun sadar jika ada masalah yang tidak beres dengan kakaknya.
Segera mungkin ia menelepon sandy untuk membicarakan keadaan wi, sebab ia tidak mau jika wihandra yang dulu kembali sekarang ini.
Setelah bersih bersih wihandra hanya menidurkan tubuhnya di atas kasur, ia membayangkan wajah alza yang begitu khawatirnya terhadap chandra. Ia perlahan pun mulai khawatir akan keadaan alza.
Sesekali ia membayangkan beberapa kenangan kenangan yang ia lakukan dengan alza, yang mana belum pernah ia menemukan orang seperti alza. Termasuk mantan kekasih wi itu.
Sesekali juga ia membayangkan kembali ingatan masa lalu, dimana nesya cinta pertama nya yang sangat baik kepadanya bisa meninggalkanya di hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk keduanya.
Anehnya di samping ingatan buruk yang ia bayangkan, selalu ada ingatan hal hal yang ia lakukan dengan alza. Wi melihat betapa bahagianya ia bersama alza, betapa ia juga bisa melupakan luka hatinya itu ketika bersama alza.
Kepala yang mulai pusing karena berfikir pun mulai kembali tertata ketika ia mulai sadar bahwa yang dilakukannya dengan alza selama ini adalah semua yang dilakukan atas dasar rasa sayang dan rasa tidak mau kehilangan.
Beberapa saat kemudian wihandra juniar basil itu pun sesegera mungkin meninggalkan rumah untuk menyusul alza ke rumah sakit.
DUGH!! Suara tabrakan lengan wi dan lengan sandy itu cukup terdengar
"Mau kemana lo kok pergi lagi" tanya sandy yang khawatir sebab aca tadi menelpon dirinya tentang keadaan wihandra.
"Ada yang harus gue lakuin sebelum nyesel nantinya bang" sahut wi buru buru sambil memakai jaketnya dan mengambil kunci motor dan helm motor untuk memanaskan motornya sesegera mungkin.
Aca dan sandy yang melihat itu pun tentu saja menatap satu sama lain.
"Katanya kambuh dia" tanya sandy kepada aca.
"Beneran kak, aca ngapain bohong dia ga jawab sama sekali pertanyaan aca tadi. Aca panik aca takut kak wi ngurung diri kaya dulu" jawab aca sembari secara tidak sadar mengeluarkan air mata.
Sandy yang melihat adiknya itu langsung sesegera mungkin memeluk dan menenangkan aca. "Enggak, wi gaakan kaya dulu aca. Uda jangan nangis".