
Tanpa berfikir panjang alza yang saat itu sedang bersanatai segera merapihkan pakainya dan pergi ke loby menunggu taksi yang wi pesan. Ia sangat gelisah dan takut akan kejadian yang tidak terduga menimpa adik satu satunya itu.
Sampai setelah sampai pun ia masih sedikit gelisah hingga menacari cari keberadaan wi dan chan berada hingga bertemu.
Dengan helaan nafas yang cukup panjang dan hampir terjatuh alza merasa seluruh tubuhnya menjadi mati rasa setelah menemukan chan, meski dokter bilang chan baik baik saja alza masih merasakan kegelisahan dalam dirinya setelah melihat adik satu satunya terbaring di rumah sakit.
Wi yang melihat alza lemas tentu saja segera menuntun dan membangunkan alza segera untuk menemui adiknya.
"Chandra ga kenapa napa kak beneran" Ucap chan sejelas mungkin untuk meyakinkan kakaknya seraya mencoba membuat alza tidak khawatir
"Iya yauda tidur aja chan tidur ya istirahat" Alza hanya berdiam setelah mengatakan sepatah kata tersebut.
Begitulah alza dia hanya memedam semua rasa yang ia alami sendiri, tanpa berbicara apapun ke pada siapa pun. Ia lebih suka memendam semuanya sendiri tanpa kecuali.
Dan jika memang sudah ada seseorang yang akan di ajaknya berbagi semua masalah, berarti orang tersebut mampu membuat dirinya membuka hati perlahan.
Sesaat setelah itu alza hanya berdiam di UGD, suasana atmosfer pun semakin sunyi. Wi hanya melihat alza yang sedari tadi memperhatikan lengan chan yang terluka tanpa berbicara sepatah kata pun, hingga dokter datang.
"Ini pasien chandra liansyah ya" tanya salah satu dokter
"Iya dok" jawab wi dan alza bersamaan dan membuat alza sadar sedari tadi sudah ada wi dihadapanya.
"Sebenarnya kalau dilihat dari sini uda gapapa ya mas, mba. Tapi saya khawatir ada masalah lain jadi untuk saat ini kami menyarankan untuk rawat inap dan cek keseluruhan dan dari hasil darah nya juga gak bagus, jadi harus transfusi singkatnya chandra nih anemia. Dan mungkin kalau keluarga bersedia untuk mendonorkan juga bisa nanti tinggal bilang aja ya mas,mbak. Untuk pengurusan administrasi boleh di urus sekrang lalu chan bisa di pindahkan ke ruangan".
Mendengar hal itu tentu saja tanpa basa basi, alza menitipkan adiknya terhadap wihandra dan sesegera mungkin mengurus administrasi agar adiknya sesegera mungkin bisa di rawat inap.
Wihandra yang melihat itu tentu saja sadar betapa sayang nya alza terhadap chan. Ia seakan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Alza yang terlihat cuek dan bodoamatan ketika di kantor itu kini lagi lagi wihandra yang melihat sisi lain alza, sisi dimana tidak banyak orang tahu bahkan mungkin hanya 1% dari 100% yang tau. Lagi lagi wihandra kagum terhadapnya.
Wi dan chan kembali beristirahat tentu saja canggung rasanya, karena mereka baru saja bertemu setelah kehebohan malam minggu kemarin.
"Pak wi saya mau berterima kasih sama bapak, makasih uda kenal saya tadi. Padahal saya masih bisa bangun tadi tapi di tolongin sekali lagi makasih ya pak" Ucap chan memberanikan diri untuk memulai berbicara meski memiliki rasa takut sedikit.
Alih alih di jawab justru wi kembali memeberikan pertanyaan kepadan chandra.
"Kamu panggil alza apa? Panggil bang han apa?"
"Kakak sama abang" jawab chandra yang sedikit bingung.
"Yauda panggil saya abang atau kakak ya chan, saya masih belum tua untuk di panggil bapak. Tanya deh kakak kamu, saya aja minta dia untuk panggil mas tapi tetep aja dia panggil saya bapak".
Chan hanya tertawa mendengar itu sambil menganggukan kepala nya seraya mengiyakan apa yang baru saja wihandra minta kepadanya.
"Alza sayang banget ya chan sama kamu?" Tanya kembali wi.
"Hmm gatau, tapi kakak selalu mempriotaskan hidup saya lebih dulu dibanding kehidupannya dari dulu." Jelas chan "kak wi kaget ya? Liat kakak kaya gitu? Haha dia pasti pertama kali ketemu sama kak wi pasang muka kaya mau nerkam ya kan" lanjut chan.
"Iya serem banget gue pas liat dia langsung sadar kalau dia galak" jawab wi mulai berbicara santai kepada chandra.
"gue tau kok" Ucap wi.
Tentu saja ucapan itu membuat chandra yang selama ini tahu alza hanya memiliki tiga teman dan hanza itu bingung. Bagaimana bisa? Alza tidak mungkin menangis di hadapan seseorang jika bukan diantara mereka.
chan hanya tersenyum sebab pertemuannya dengan wihandra tadi bukan pertemuan suatu kebetulan. Ia sadar bahwa ada sesuatu di antara mereka yang tanpa orang tahu.
Pasalanya, bagaimana bisa ia bertemu wihandra delat sekali dengan apartemen kakanya dan bagaimana biaa juga wi secepat itu mengenal ia ketika mereka hanya bertemu sekali.
...****************...
Sesaat setelah mereka mengobrol alza kembali datang sembari membawa beberapa berkas yang ia dapat setelah mengurusi administrasi chan.
"Uda chan nanti tinggal tunggu pindah ruang aja. Oh ya pak wi maaf banget dan terimakasih uda mau di repotin sama saya sama chandra, saya gak tau mau bilang apa lagi saya hutang budi sama bapak, sekali lagi Terimakasi pak" ucap alza
"Iya kak, makasi ya" lanjut chandra.
"Pak kalau mau pulang sekarang gapapa, takutnya ada yang perlu di urus juga kan."
Tak lama wi hanya menganggukan kepalanya lalu meninggalkan mereka berdua, alza yang melihat itu hanya berfikir bahwa wi masih sedikit canggung di hadapannya.
...----------------...
Flashback chan bertemu wi.
Waktu menunjukan pukul 18.00 dimana jam tersebut adalah jam nya para pekerja pulang ke rumah masing masing.
Wihandra yang menjaga jarak dengan alza setelah pristiwa itu, merasa sangat kosong. Ia hanya sesekali melihat alza yang sedang berbincang dengan ketiga teman nya itu. Ia tak mungkin berani mengahampiri bahkan menyapa.
Entah mengapa, ia merasa bersalah atas tindakan apa yang ia lakukan terhadap alza. Ia mulai berfikir bahwa ia salah jika tidak bicara dengan alza.
Sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan alza. Ia bingung dengan perasaannya, ia merasa khawatir sejak terakhir kali ia melihat bahwa alza tidak baik baik saja. Ia bingung bagaimana bisa ia khawatir dengan alza dan perasaan apa yang selama ini ia rasakan.
Hingga tanpa sadar ia telah sampai persis dekat lampu merah depan gedung apart alza, tentu saja hal itu membuat dirinya kaget dan bingung. Sebenarnya apa yang ia pikirkan hingga ia bisa sampai di sini.
Suara gaduh ribut ribut terdengar dari arah jalan, sesekali teriakan warga terdengar yang membuat ia penasaran akan hal itu.
Ia melihat wajah yang tak asing. Seseorang remaja yang memegang pergelangan tangannya yang mengarah jalan ke arah apart itu adalah chandra. Wihandra sangat mengingat jelas wajahnya.
Sesegera mungkin ia berlari ke arahnya.
"kamu chandra kan?" tanya wi.
"oh pak kenal sama adiknya, tolong di bawa pak. Parah tuh supir taksi" gaduh suara beberapa warga yang hendak menolong.
"ah iya mas nya siapa?"
"nanti aja ya jelasinnya kita ke rumah sakit dulu sekarang!"