
Tanpa terasa sudah subuh, tepatnya pukul empat dini hari. biasanya keluarga Asna melaksanakan sholat subuh berjamaah.
tok...tok... tok... ' suara pintu kamar Dafa di ketuk.'
"Dafa...! bangun nak, yuk. siap-siap sholat subuh." ucap papanya.
"ahhhhhh... ahhhhhh...."
Terdengar suara teriakan Dafa dari dalam kamarnya dan seketika juga Asna dan mamaknya menghampiri papanya yang berdiri di depan pintu kamar Dafa.
Mereka bersama-sama masuk ke dalam kamar Dafa, dan seperti biasa kamar Dafa tidak pernah di kunci.
Ternyata Evano memeluk Dafa, dalam keadaan tanpa baju dan hanya mengenakan celana pendek.
Evano sudah berada seranjang dengan Dafa, hal itulah yang membuat Dafa berteriak.
"Kok, meluk Dafa. emangnya Dafa cowok apaan?" ucap Dafa yang sudah menjauhi Evano.
Evano yang baru bangun karena teriakan Dafa dan langsung mengambil sarung dan menutupi dadanya.
"Tadi malam dingin Dafa..! karena badan mu seperti boneka beruang yang cerewet, makanya ku peluk." jawab Evano.
Haha... hahahaha...hahaha...
Dafa dan kedua orangtuanya tertawa, hal itu karena ekspresi wajah Dafa yang lucu.
"Wudhu ya, habis itu. siap-siap sholat subuh." perintah bapaknya.
Lalu meninggalkan Dafa dan Evano yang masih berada di ranjang.
"Ayo, kita wudhu." Dafa mengajak Evano untuk wudhu.
Ternyata mereka wudhu di luar, tepatnya di samping rumah.
Dafa sudah hampir selesai wudhu, tapi Evano belum melakukan apapun dan hanya bengong melihat Dafa.
Lalu Dafa, menatap wajah Evano. karena belum wudhu sampai dirinya sudah selesai wudhu.
"Kak, Evano. non muslim ya?" tanya Dafa dengan pelan dan juga sopan.
Dafa takut salah dalam hal perbuatan, karena itu bisa menyinggung perasaan orang lain dan itu tentunya perbuatan yang tidak terpuji.
"Muslim, Kok!" jawab Evano dengan tegas.
"Terus, kenapa kak Evano belum wudhu juga?" tanya Dafa yang keheranan.
Karena melihat ekspresi wajah Dafa yang aneh kepadanya, akhirnya Evano membersihkan wajahnya dengan air mengalir dari kren air.
"Kak, Evano. ngapain? mau mandi ya?" tanya Dafa. sebenarnya meledek Evano.
Evano berhenti membasuh wajahnya dan kemudian berdiri dan berdiam diri.
Karena didesak oleh Dafa, akhirnya Evano mengaku
Karena didesak oleh Dafa, akhirnya Evano mengaku kalau dirinya tidak tahu cara wudhu.
Evano, mengaku tidak mengetahui cara wudhu. karena orang tuanya tidak pernah mengajarinya wudhu.
Sejak masih kecil tidak pernah di ajarkan tentang agama dan kemudian sekolah di sekolah berbasis internasional yang sangat minum ilmu agama.
Akhirnya Dafa, mengajari Evano cara wudhu. sehingga mereka selesai juga wudhu dan kemudian kembali ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar Dafa, dan kemudian pintu diketuk. ternyata itu adalah Papa nya Dafa, datang ke kamar Dafa untuk memberikan baju koko dan sarung untuk Evano.
Lagi-lagi Evano, tidak tahu cara mengenakan sarung dan Dafa yang mengajarinya dan pada akhirnya mereka sudah siap untuk sholat berjamaah.
"Papa, biar Dafa saja ya, yang jadi imam. biar belajar jadi imam." pinta Dafa.
Lalu permintaan itu, di kabulkan oleh Papanya. saat itu juga, Dafa meminta shaf untuk merapat.
"Kak, Evano. nanti lihat saja dulu cara papa sholat ya." ujar Dafa, yang bertindak sebagai imam.
"Emangnya Nak, Evano. tidak bisa sholat?" tanya papa nya Dafa.
Evano hanya mengangguk dan semuanya terdiam akan jawaban Evano barusan, kemudian Dafa menatap papanya.
Lantas perhatian para makmum mengarah kepada Dafa, demikian juga dengan Evano yang sangat kaget mendengar pertanyaan itu.
"Nak, Evano. belum sunat?" tanya papa nya Asna.
"Sudah om, kok lihat begitu amat!" ucap Evano.
"Bohong, tapi waktu Dafa lihat semalaman itu. sepertinya kak, Evano belum sunat." sanggah Dafa.
"Emangnya lihat semua? ngak kan? orang langsung aku tutup kok, karena kamu rese." jawab Evano.
hahahaha...haha... hahahaha...
Lagi-lagi mereka tertawa karena perdebatan mengenai sunat dan akhirnya di tenangkan oleh sang kepala keluarga.
Mereka akhirnya bisa sholat subuh berjamaah, dan beberapa saat kemudian mereka sudah selesai sholat subuh dan kemudian doa bersama.
"Nak, Evano. alangkah lebih baiknya, untuk belajar sholat, karena itu kebutuhan dunia akhirat.
Agar kelak bisa menjadi imam keluarga, untuk membimbing keluarga yang mawadah warahmah dan sakinah.
Sholat bukanlah beban tapi kebutuhan, ibarat kita seperti makan untuk kebutuhan tubuh dan sholat adalah kebutuhan rohani kita." nasihat dari papanya Asna.
Tapi karena kegiatan selanjutnya masih ada, maka tausiyah singkat harus diakhiri dengan segala ucapan syukur.
"Siap-siap ya, berangkat ke sekolah. setelah berpakaian dan langsung menuju meja makan.
Dafa, perhatikan peralatan sekolah mu. kak, Asna juga ya." ucap mamaknya.
Lalu bangkit berdiri dan beranjak ke dapur, yang di ikuti oleh Asna. sementara Dafa mengajak Evano masuk ke kamarnya lagi.
"Betul-betul parah, masa wudhu saja ngak bisa?" ledek Dafa seraya membereskan tas sekolahnya.
"Terus aku, harus ngapain?" tanya Evano.
Dafa menoleh Evano yang duduk di ranjangnya, karena pertanyaan darinya barusan.
"Setiap hari di mesjid yang tidak jauh dari rumah ini, ada belajar ngaji dan itu gratis. ustadz akan membimbing kak, Evano untuk bisa wudhu dan sholat." ujar Dafa dengan semangatnya.
"Malu dong, nantinya pasti semua anak-anak seumuran mu." sanggah Evano dengan lemas.
"Tenang kak, Evano. hari Jumat dan Sabtu, mulai dari pukul tiga sore. ada pengajian khusus untuk hamba Allah yang baru belajar ilmu agama.
Diajarin mulai dara cara wudhu, sholat dan juga mengaji yang paling dasar yaitu iqro.
Apakah kak, Evano. bersedia? kalau bersedia biar Dafa daftarkan nanti sore saat ngaji di mesjid." ujar Dafa.
Evano menyetujuinya dan tiba-tiba pintu kamar Dafa diketuk lagi. lalu masuklah Asna bersama mamanya.
"Nak, Evano. gimana dengan seragam mu?" tanya mama nya Asna.
"Gampang bu, nanti tinggal beli di koperasi sekolah saja." jawab Evano.
Lalu Asna, memperhatikan penampilan Evano yang masih mengenakan baju koko dan sarung.
"Ngak mungkin juga pake sarung ke sekolah," kata Asna.
"Kalau begitu, pinjamiin lah seragam kakak." sanggah Dafa dengan terkekeh.
Hal membuat mereka tertawa bersama lagi, dan Evano hanya tersenyum bahagia. mungkin karena suara tawa itu, membuat papa nya Asna menghampiri mereka seraya membawa celana panjang berbahan kain.
"Celana dan pakaian Nak, Evano. basah dan pakailah celana om, sepertinya ukuran celana kita sama.
Akhirnya Evano, tidak jadi mengenakan sarung ke sekolah dan setelah Asna dan mamanya keluar dari kamar, Evano langsung mengenakan celana tersebut.
"Yuk, sarapan!" ucap Dafa.
Dafa yang sudah bersiap-siap ke sekolah dengan tasnya di punggungnya dan...
"Apaan sih...!" ujar Dafa.
Evano menggendong Dafa seraya tersenyum, tapi Dafa tidak menyukainya dan meminta untuk di turunkan.