LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Kehebohan.



Tatapan Evano begitu tajam ke arah Sasa, dan pria tengil itu seperti mati kutu di hadapan Asna dan juga Sasa.


"Dasar anjing...!" Evano memaki Sasa.


Prak...krek...bam... ' suara tubuh Evano yang di hajar oleh Sasa.'


Evano meringis kesakitan karena dibanting oleh Sasa hingga terkapar di lantai, dan guru pembimbing konseling itu terlihat kaget.


Kaget karena Sasa mampu menghajar Evano yang jauh lebih tinggi dari Sasa.


"Kalian berdua hebat, Ya. mampu menghajar Evano yang jauh lebih besar dari kalian berdua." Sasa hanya tersenyum menanggapi pujian atau sindiran dari guru konseling itu.


Lalu Sasa menatap Evano yang masih terkapar di lantai.


"Silahkan buat lapor ke polisi, aku siap meladeninya." ujar Sasa seraya bertolak pinggang.


Tapi Evano tidak bergeming dan sepertinya tidak sadarkan diri.


"Bu...! Evano sudah mati, ayo kita kubur." kata Sasa dengan sindirannya.


Ibu guru bimbingan konseling itu langsung memeriksakan keadaan Evano dan beberapa saat kemudian memanggil security untuk mengangkat tubuh Evano ke UKS ' usaha kesehatan sekolah'.


Tentunya panik karena Evano tidak sadarkan diri, berhubungan juga pria tengil itu baru keluar dari rumah sakit.


Dari ruangan bimbingan konseling, Evano di papah oleh security yang di ikuti oleh guru dan Asna serta Sasa.


Para murid lainnya sangat penasaran tentang apa yang terjadi, sehingga membuat kehebohan di sekolah.


Sesampainya di UKS dan Evano langsung dibaringkan ke ranjang.


Dokter dari UKS langsung memeriksa keadaan Evano, terlihat dokter itu menggeleng kepalanya.


"Kita bawa ke harus membawanya ke rumah sakit." Ucap dokter yang terlihat kwatir.


"Ngak usah bu, hanya pinggang ku saja yang sakit karena di banting perempuan gila itu." kata Evano yang tiba-tiba sadarkan diri.


"Kirain sudah mati, keluar yuk." Sasa mengajak Asna keluar dari UKS.


Guru pembimbing konseling, Asna dan Sasa serta dokter yang berada di ruang UKS tersebut.


Evano sudah siuman dan Sasa menarik tangan Asna untuk keluar dari ruangan.


"Eh perempuan kampung, kau apakan calon suamiku?" Dinda Anastasia melabrak Asna.


"Bukan Asna, tapi aku yang membanting pria kampret itu. mau ku banting juga?" Sasa yang menjawab pertanyaan itu.


Dinda Anastasia mundur selangkah karena sudah di ancam oleh Sasa.


Dari jarak beberapa meter, terlihat Kiara yang kwatir akan keadaan Evano dan memaksa untuk maksud.


"Apaan Lo...!" teriak Dinda kepada Kiara.


Keributan yang baru lagi, hal itu dimanfaatkan oleh Sasa untuk menarik tangan Asna agar pergi dari kerumunan tersebut.


"Ahhhhhh....! sakit anjing..." ujar Dinda yang kalah adu jotos dengan Kiara.


Mereka berdua rebutan untuk masuk ke UKS untuk melihat keadaan Evano.


"Diam....!" guru pembimbing konseling itu berteriak agar Kiara dan Dinda berhenti berantam.


Ternyata teriakan itu berhasil membuat kedua gadis modis itu berhenti berkelahi.


Rambut yang acak-acakan dan wajah yang memerah, kedua gadis modis itu saling bertatapan.


"Ikut ke ruang BK 'Bimbingan Konseling ' " ucap Bu guru yang berteriak barusan


Kiara yang dikawal geng nya dan juga Dinda Anastasia, mengikuti guru pembimbing konseling itu ke ruangannya.**


Hari ini cukup melelahkan bagi Asna dan terlihat dirinya kurang sehat dan meminta ijin untuk pulang duluan.


Asna yang tidak pernah berbuat masalah disekolah dan kali ini harus berurusan dengan Evano yang membuatnya menghadap ke ruangan bimbingan konseling.


Karena pasti akan mengurangi poin kesiswaan yang berakibat akan poin kredit dan menimalis kesempatan mendapatkan farmasi kedudukan untuk kuliah di Oxford.


Dari ruangan UKS dan Evano sudah bisa duduk di ranjang setelah di kompres oleh dokter.


"Evano...! jika masih sakit. ibu menyarankan untuk memeriksa ke rumah sakit ya." ucap bu dokter.


"Iya, Bu dokter." Jawab Evano.


Lalu mencoba untuk berdiri dan akhirnya bisa juga, dengan perlahan-lahan Evano keluar dari ruangan itu.


Evano sudah tiba di kelasnya tapi tidak melihat keberadaan Asna di kelas.


Pria tengil itu bertanya kepada sahabatnya yaitu Ramon, bertanya akan keberadaan Asna.


Ramon menjawab kalau Asna sudah pamit pulang karena sakit dan seketika itu juga Evano langsung menyusul Asna.


Walaupun Evano tidak tahu harus menyusul Asna kemana, tapi dalam pikirannya hanya ingin menemukan Asna secepatnya.


"Ah..." rintih Evano ketika hendak mengendarai motor besarnya.


"Jangan naik motor, kita pesan taksi online saja." kata Ramon yang mengikuti Evano sejak tadi.


"Ini urusan ku Ramon, jangan gara-gara aku kami tidak sekolah hari ini." sanggah Evano dengan tatapannya yang aneh.


"Ngak usah banyak bacot, ngak ada kamu ngak seru tahu." dengan bangganya Ramon berkata demikian.


Lalu memaksa Evano untuk berjalan ke arah gerbang sekolah, dengan maksud untuk kabur dari sekolah.


Kebetulan sekali ada taksi yang kosong lewat dan Ramon langsung menghentikan taksi tersebut.


Ramon yang sempat di usir oleh Evano tapi tidak berhasil dan mereka berdua masuk kedalam taksi.


"hmm...!" Evano bergumam.


Tapi Ramon hanya tersenyum menanggapi hal itu.


Evano meminta supir taksi untuk terus berjalan karena Evano lupa nama jalan atau alamat Asna.


Tapi Evano masih ingat jalan menuju rumah Asna.


Tidak butuh waktu lama, Evano bersama Evan sudah tiba di daerah pemukiman Asna dan mencoba menelusuri gang untuk menemukan rumah Asna.


Pada akhirnya Evano menemukan rumah Asna, tapi sepertinya tidak ada orang di rumah.


Rumah itu terkunci dan tidak mungkin ada orang di dalam, tapi Ramon berkata barangkali saja Asna lewat pintu belakang.


Mereka berdua berjalan menuju arah pintu belakang rumah, ternyata sama saja. rumah itu benar-benar kosong karena penghuninya pada beraktivitas.


"Asna kemana, Ya." Evano bertanya kepada dirinya sendiri.


"Apa perlu kita tanya bu Jainab?" pertanyaan dari Ramon, membuat Evano terlihat berpikir.


Tapi usulan dari Ramon tidak disetujui oleh Evano.


"Tunggu sampai sore saja, karena Asna dan adiknya akan datang ke rumah untuk mengajari ku." kata Evano.


Mereka mengakhiri pencarian dan berencana untuk nongkrong di suatu tempat yang asyik.


Ternyata Asna bersembunyi di dalam rumahnya, karena tidak ingin di ganggu oleh Evano.


Karena bagi Asna, berurusan dengan pria tengil itu hanya menyebabkan permasalah yang berkelanjutan dan tiada berkesudahan.


Asna tertidur di kala dirinya yang lelah, dan berharap masalahnya akan segera teratasi setelah tidur.


Walaupun mencoba untuk tidur, tapi Asna tidak kunjung bisa memejamkan matanya dan kemudian meraih handphone miliknya.


Kemudian Asna mengirim pesan kepada Kiara, untuk memberitahu nanti sore, dirinya akan mulai mengajari Evano secara privat.


Kemungkinan besar Kiara, sedang sibuk belajar sehingga tidak membalas pesan yang dikirimkan oleh Asna kepadanya.